
Niken menghampiri Wira yang sedang duduk sendirian di teras belakang rumahnya. Ia tampak asyik menikmati secangkir teh hijau dan cookies di hadapannya. Raut wajahnya terlihat senang memandangi dedaunan yang meliuk tertiup angin. Entah apa yang ia pikirkan tapi sepertinya sesuatu yang menyenangkan.
“Papah ngeteh sendirian aja…” sapa Niken seraya mengusap punggung sang suami.
“Eh mamah, ayo duduk sini. Cuaca sore ini cerah banget, enak buat nongkrong kayak abege.” Sahut Wira seraya menepuk bangku di sampingnya.
Sejak acara peresmian perkenalan Raka sebagai penerus perusahaan, mood Wira memang membaik. Ia begitu menikmati setiap suasana yang tercipta.
“Mamah liat, perasaan papah seneng terus deh akhir-akhir ini…”
Niken ikut menikmati secangkir teh yang sama dengan yang Wira minum.
“Gimana gag seneng mah, raka sudah berani menunjukkan dirinya sebagai penerus papah. Bahkan dalam waktu yang singkat, ia bisa mengembalikan kestabilan perusahaan dan meraih kembali kepercayaan direksi. Dia memang anak papah…” puji Wira dengan bangga.
“Iya, mamah denger juga hal itu dari rudy. Katanya raka semakin fokus untuk masa depan perusahaan.” Timpal Niken yang diangguki Wira. “Oh iya pah, waktu acara kemaren, papah ketemu sama reva gag?” lanjut Niken dengan hati-hati.
Kali ini pandangan Wira tampak serius menatap Niken membuat Niken tak enak hati.
“Iya, dia membawa baki pin yang akan papah sematkan pada raka. Dan raka, dia bangga banget nyebut gadis itu calon mantu papah.” Ujar Wira sambil terkekeh.
“Terus apa pendapat papah?”
Wira tampak berfikir. “Gag tau kenapa ya mah, kalo ngeliat gadis itu rasanya papah gag asing. Sebelum papah tau itu pacarnya raka, dia malah sempat nganter papah ke ruang tunggu tamu direktur soalnya dia pikir papah tamu.” Kenang Wira kemudian yang diikuti tawa Niken. “Ya , sejauh ini sih, asalkan dia gadis baik-baik, papah gag ada masalah. Tapi tetep, papah penasaran, papah yakin papah pernah ketemu gadis ini sebelum sekarang tapi gag tau dimana…” Wira tetap bersikukuh dengan ingatannya.
“Ya udah, raka rencana mau ngajak kita makan malam sama reva. Coba nanti papah tanya, kalian pernah ketemu dimana sebelum ini.” Usul Niken yang diangguki setuju oleh Wira.
Niken bisa bernafas lega, sedikit demi sedikit Wira mulai menurunkan standar calon menantunya. Bagaimanapun ia merasa senang karena Niken sendiripun sudah jatuh hati pada kepribadian gadis berwajah cantik tersebut.
****
Hari-hari berlalu dengan cepat, ini adalah hari terakhir Reva magang di Adiyaksa corp. Ia mulai membereskan barang-barangnya dan mengirimkan semua file pekerjaannya pada Tika. Tika yang memperhatikan Reva dan kedua rekannya membereskan barang-barang, yakin akan merasa sangat kesepian karena ia tidak bisa lagi mendengar celoteh konyol dan tawa renyah mereka.
Tika menghampiri ketiga anak muda tersebut dengan tiga buah map di di tangannya.
“Yah, saya bakalan kesepian deh gag ada kalian…” tutur Tika seraya menatap satu per satu mahasiswa magang tersebut.
“Tenang aja bu, kalo ibu butuh temen makan siang, tinggal telpon saya aja, saya siap nemenin.” Sahut Dimas dengan gelagat konyolnya.
“Ya kali bu tika mau ngajak lo makan siang, makan lo kan banyak, maunya gratisan mulu lagi.” Cetus Tita sambil menyenggol Dimas dengan sengaja.
“Hahaha ini yang akan saya rindukan dari kalian. O iya, ini surat rekomendasi dan penilaian selama kalian magang di sini. Saya harap kalian akan kembali ke tempat ini sebagai karyawan di sini.” Tika menyerahkan tiga map tersebut pada masing-masing orang.
“Makasih bu, saya gag nyangka bisa dapet surat rekomendasi bagus dari perusahaan sebesar adiyaksa corp.” seru Tita dengan senang karena mendapat penilaian memuaskan selama magang.
“Tentu saja, kalian selalu bekerja keras di setiap tugas yang saya berikan jadi penilaian saya pun objektif untuk kalian.” Terang tika seraya menepuk bahu Dimas dengan bangga.
“Terima kasih banyak bu…” sahut ketiganya bersamaan.
__ADS_1
“Kelak, dimanapun kalian bekerja, pertahankan kinerja bagus kalian ini. Saya yakin kalian akan menjadi orang-orang sukses ke depannya.” Lanjut Tika dengan penuh keharuan.
“Ammin.. Saya juga mengucapkan terima kasih untuk semua bimbingan bu tika. Saya secara pribadi mohon maaf kalo selama ini banyak merepotkan dan ada pekerjaan yang tidak sesuai harapan.” Reva menimpali dengan raut sendu.
“Ya ampun re, selama kamu bergabung di divisi ini banyak pencapaian yang di dapat perusahaan. Kami yang seharusnya berterima kasih pada kalian terutama kamu re…” pungkas Tika seraya mengusap punggung Reva. “Okey, sebagai pesta perpisahan kita, ayo kita makan di kantin. Kali ini saya yang traktir. Kalian boleh makan apapun sesuka kalian.”
“Wah beneran bu?” Dimas yang paling bersemangat di antara ketiganya.
Tika mengangguk yakin seraya tersenyum. Dengan gembira mereka menuju kantin untuk makan siang bersama.
****
“Re, lo tau gag, waktu pertama gue makan siang di sini sama dimas, dimas nabrak kaca tau. Norak banget! Dia gag liat kalo itu kaca, saking beningnya!” kenang Tita seraya tertawa renyah mengingat kebodohan Dimas.
Ketiganya tertawa renyah mendengar cerita Tita.
“Wah lo buka kartu gue. Nantangin nih!” sahut Dimas yang merasa harga dirinya mulai turun. Tapi ketiganya tidak mengindahkan, mereka malah terus asyik tertawa. “kalian tau gag, si tita lebih dongo dari gue. Masa tempat ngambil sauce dia kira keran cuci tangan. Malu-maluin gag tuh!” dengan puas Dimas menertawakan kebodohan Tita kala itu.
“Hahahaha kalian sebenarnya tinggal di planet mana kok bisa agak norak gitu yaa?” Tika ikut berkomentar. Untuk saat ini ia membebaskan mahasiswa magangnya untuk berbicara dengan santai dan melupakan kalau ia adalah atasannya.
“Kita tinggal di planet yang sama bu, tapi karena masalah uang saku, kami jarang make barang-barang canggih, iya kan ta?” kilah Dimas.
“Lo aja kali, gue nggak!” timpal Tita sambil bergidik.
Lagi-lagi tawa renyah terdengar di antara mereka. Suasana makanpun begitu menyenangkan hingga mereka merasa kekenyangan.
“Ya elah re, kalo lo kangen gue lo tinggal telpon. Kapanpun lo minta gue pasti dateng.” Sahut Dimas dengan percaya diri.
“Wah nyari mati nih anak. Lo mau mati di tangan orang-orangnya pak presdir apa?!” hardik Tita yang mengingatkan Dimas status Reva.
“Waduh ampun nyi ratu, hamba cuma becanda.” Sahut Dimas seraya memberikan sembahnya pada Reva membuat mereka kembali tertawa dengan renyah.
Benar , waktu 3 bulan berlalu begitu saja. Selalu ada perpisahan setelah sebuah pertemuan. Tawa riang teman-temannya, tentu akan sangat dirindukan Reva.
****
Reva pulang lebih awal dengan membawa barang-barang yang sekitar 3 bulan mengisi meja kerjanya. Ia sudah pamit lebih dulu pada Raka yang masih disibukkan dengan pekerjaannya.
Di depan kantor, Reva menunggu naksi yang melintas untuk membawanya pulang. Tapi siapa sangka, sebuah mobil sedan mewah melaju di hadapannya.
“Re, mau kemana?” tanya seorang gadis yang menurunkan kacanya untuk melihat Reva dengan lebih jelas.
“Alea?” ujar Reva seraya tersenyum. “Gue mau pulang..” sahut Reva kemudian.
“Ya udah, ayo naik!” ajak Alea.
Tanpa ragu, Reva masuk ke mobil mewah tersebut dan duduk di samping Alea yang berada di belakang kemudi.
__ADS_1
Alea mulai melajukan mobilnya dengan santai. Ia melihat cukup banyak barang yang di bawa Reva.
“Lo kok bawa barang banyak banget?” tanya Alea yang penasaran.
“Iya hari ini gue selesai magang di adiyaksa corp. Jadi barang-barangnya gue bawa pulang. Gag nyangka juga bisa sebanyak ini.” Terang Reva dengan santai.
“Ooo… berapa lama lo magang di sini?”
“Sekitar 3 bulan lea.”
Alea terangguk-angguk paham.
“Re, soal kejadian kemaren, gue minta maaf ya… Gue gag tau kalo lo pacaran sama raka.” Alea kembali mengingatkan Reva pada kejadian tidak mengenakkan beberapa hari lalu.
“Gag pa-pa lea. Lo juga kan gag sengaja.” Reva tetap berusaha tenang.
“Em… sebenernya gue sama raka udah berteman dari kecil re. Semua tentang Raka gue tau. Dan Raka juga tau apa yang gue suka dan gue gag suka. Termasuk masalah perasaan suka gue sama dia.” Sampai pada titik ini, Alea membuat Reva mulai merasa tidak nyaman.
Reva menoleh Alea yang masih bersikap santai mengakui perasaannya.
“O iya, lo udah pernah ketemu sama tante niken dan om wira?” Lagi, Alea memancing Reva dengan pertanyaannya.
“Gue pernah beberapa kali ketemu tante niken tapi kalo om wira baru kemaren pas peresmian penerus adiyaksa corp.” terang Reva yang masih berusaha tenang.
“Iya, tante niken itu orang yang baik. Tapi kalo om wira, dia orang yang sangat selektif terutama masalah masa depan anaknya. Tapi mereka udah tau kan latar belakang lo?” pertanyaan Alea terdengar sederhana tapi membuat Reva merasa sesak.
“Maksud lo lea?” Reva ingin memperjelas pertanyaan Alea.
“Ya sory nih re, track record lo sama para cowok kan kurang baik ya… Gue cuma gag mau aja sampe ada yang nyampein ke om wira dan tante niken tentang gelar **** girl lo. Mereka pasti bakalan kecewa banget. Jadi saran gue, lo pikirin lagi baik-baik masalah hubungan lo sama Raka. Karena om wira pasti gag bakalan terima tuh.” Ujar Alea yang terdengar seperti sebuah ancaman pada Reva.
Reva berusaha tersenyum walau berat. Ia mengerti benar maksud Alea. Gadis cantik di sampingnya memang benar-benar cerdas, bisa mengemas sebuah ancaman menjadi sebuah perhatian yang sekilas terlihat peduli.
“Makasih udah ingetin gue lea. Tapi gue harap, bukan lo kan yang bakal nyampein hal itu sama keluarganya raka?”
Alea hanya mengendik. “Ya kalo mereka nanya, gue cuma bisa jawab re.” timpal Alea dengan senyuman penuh kepalsuan. Detik ini, Reva mulai menyadari siapa yang di hadapinya. Pikiran dan mulutnya mungkin tidak secantik wajahnya. “Lo bisa pertimbangkan kakak gue, kak Edho. Dia suka banget sama lo, dan gue rasa gue bisa tutup mulut masalah track record lo ke keluarganya kalo lo mau kerjasama sama gue.” Imbuh Alea dengan santai.
Lagi-lagi Reva hanya tersenyum ketir. Selalu ada harga yang harus ia bayar untuk sebuah rahasia.
“Lea, gue kayaknya berhenti di depan aja. Makasih buat tumpangannya.” Ujar Reva yang tidak ingin berlama-lama bersama gadis berbahaya ini.
“Oh okey, gag masalah.” Alea menepikan mobilnya. Tanpa basa basi lagi, Reva pun segera turun dari mobil mewah itu. Dan Alea berlalu begitu saja dengan perasaan puas karena sudah memukul mental Reva dengan kata-kata mengancamnya.
Alea masih memperhatikan Reva yang berdiri di trotoar dari spion kirinya.
“Kalo aja lo gag berusaha ngambil semua yang seharusnya milik gue, mungkin kita bisa berteman re..” gumam Alea dengan senyuman sarkas di sudut bibirnya.
****
__ADS_1