Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 34


__ADS_3

Suasana kampus ramai seperti biasanya. Beberapa “kumbang” menyapa Reva yang lama tidak dilihatnya. Reva hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Langkahnya terlihat cepat menuju ruang dosen.


“Selamat pagi bu..” sapa Reva pada Intan yang tengah merapikan jilbabnya.


“Oh Reva, selamat pagi.” Sahutnya dengan senyum ramah.


“Prof Armand masuk gag bu?”


“O beliau ada seminar hari ini. Mungkin baru kembali lusa.” Sahut intan sambil mempersilakan Reva duduk. “Ada apa?”


“Ini bu, saya mau konsul skripsi. Prof Armand dosen pembimbing utama saya.” Terang Reva sambil memperlihatkan berkas skripsi yang sudah ia bundle.


“Kamu sudah coba kirim lewat email?”


Intan membuka halaman demi halaman skripsi Reva.


“Sudah bu, beliau sih udah acc sampe bab 2. Cuma ada beberapa yang perlu saya konsulin secara langsung.”


“Ya udah, kamu simpan dulu di sini skripsinya, nanti kalo ada prof armand, saya bantu sampaikan juga. Jangan lupa untuk konfirmasi lewat email.”


“Baik bu, terima kasih banyak.”


Reva segera pergi setelah selesai dengan urusannya. Ia mampir sejenak ke kelasnya, karena ia merasa rindu dengan kelasnya.


Dari kejauhan, sayup-sayup Reva mendengar suara tangisan. Reva sedikit mengintip ke dalam kelasnya. Ia melihat Riana yang sedang duduk sendirian sambil memegangi perutnya. Reva berjalan perlahan mendekati Riana. Ia merasa tidak tega membiarkan Riana sendirian. Bagaimanapun, Riana lah yang menemaninya saat pertama kali ia kebingungan sampai di Jakarta.


“Ri…” sapa Reva yang duduk di hadapan Riana.


Riana tersentak melihat Reva yang tiba-tiba ada di hadapannya. Ia memalingkan wajahnya dan mengusap sisa air mata yang masih membasahi wajahnya.


“Gimana kabar lo?” Reva menatap Riana dengan lekat.


Riana menoleh dan menatap Reva dengan tajam. “Lo seneng kan liat gue kayak gini?!” cetus Riana seraya beranjak dari duduknya.


“Ri, lo ngomong apa? Mana ada gue seneng liat lo kayak gini?” Reva berusaha meraih tangan Riana.


“Cukup! Waktu lo bilang, Ri lo gag akan ngerti perasaan gue, karena lo gag pernah ngalamin yang gue rasain, itu do’a lo buat gue kan? Do’a yang lo minta supaya gue ngerasain rasanya di sia-siain sama orang yang gue sayang. Iya kan re?!” teriak Riana dengan tangis yang tidak tertahan.


“Ri, gue gag pernah ngedo’ain lo ngalamin yang gue alamin. Cukup gue yang ngerasain sakitnya di sia-siain.”


“Aarrghh bullshit!” Teriak Riana sambil mendorong tubuh Reva dan pergi begitu saja.


“Ri, dengerin gue dulu ri…” bujuk Reva yang berlari mengejar Riana tapi Riana tidak peduli.


Reva hanya bisa pasrah, mungkin Riana memang perlu waktu untuk dirinya sendiri.


****


 


“Eh neng Reva, apa kabar?” sapa pelayan kantin saat melihat Reva yang baru di lihatnya.

__ADS_1


“Baik bu, ibu apa kabar?”


“Ibu juga baik. Ayo neng, mau pesen apa? Ibu punya menu baru, nasi ayam gila.” Cetus Bu Tini yang sangat familiar dengan menu wajib Reva,ya itu nasi.


“Wah boleh tuh bu, 1 ya. Minumnya air mineral aja.  Saya duduk di sana.” Tunjuk Reva pada tempat favoritnya.


“Iya neng, tunggu sebentar ya, ibu bikinin.”


Reva hanya mengangguk seraya tersenyum. Ia berjalan menuju mejanya.


“Grap!” tiba-tiba sebuah tangan meraih tangan Reva. Dengan segera Reva memutarnya dan menekannya di meja.


“AAwwwww!!” teriak Jeremy yang sejak tadi menelungkupkan wajahnya di meja.


“Becanda lo gag lucu!”


Reva segera melepaskan tangan Jeremy yang kesakitan.


“Re, tunggu. Kita perlu bicara.”


Jeremy segera bangkit dan mengejar Reva ke mejanya. Reva sudah terduduk di sana dengan wajah kesalnya. Jeremy duduk di hadapan Reva dengan mata merah dan tercium bau alkohol.


“Lo gag kira-kira ya, ke kamus dalam kondisi gini?!”


Reva sudah tau kebiasaan jeremy. Setiap ada masalah yang menurutnya berat, ia akan datang ke diskotik dan minum minuman keras hingga mabuk. Jika dulu bisa di tangani karena Reva menemaninya, kali ini sepertinya Jeremy lepas kendali.


“Re, hidup gue hancur. Bokap nyokap gue maksa gue nikahin Riana. Gue gag bisa, gue gag cinta sama Dia.” Ujar Jeremy dengan penuh penekanan.


Matanya berkaca-kaca dan rambutnya sangat berantakan.


Tanpa sadar Reva menceramahi Jeremy dengan suara cukup keras. Hingga beberapa pasang mata tertuju padanya. Tapi ia tidak memperdulikannya. Kekesalannya pada Jeremy yang memperlakukan Riana seenaknya sudah mencapai puncaknya.


Jeremy hanya tertunduk, ia menelan ludahnya sendiri yang terasa kering. Ia seolah kehabisan kata-kata untuk melawan setiap kata yang keluar dari mulut Reva.


“Riana sahabat gue, gue gag mau dia terus sedih dan menanggung bebannya sendirian. Dan lo juga sahabat gue, gue gag mau lo nyesel suatu hari nanti Jer.” Tukas Reva seraya menepuk bahu Jeremy.


Jeremy mengangkat wajahnya, lalu menatap Reva dengan sendu.


“Harusnya, kalo gue gag bisa ngedapetin lo, gue gag jadiin Riana sebagai pelampiasan. Karena mungkin suatu hari lo akan ngejauh dari gue dan nganggap gue gag pernah ada. Itu lebih menyakitkan buat gue re…” tutur Jeremy yang kembali tertunduk.


Reva memalingkan wajahnya dan menatap ke sembarang tempat. Amarahnya masih bergejolak, ia tidak ingin kata-kata yang seharusnya tidak terucap, malah menyakiti Jeremy. Bagaimana pun, Jeremy sudah ia anggap sebagai sahabat.


“Re, Riana re!” teriak seorang laki-laki yang berlari ke hadapan Reva.


“Riana? Kenapa Riana?!”


Reva sontak berdiri. Laki-laki itu hanya menunjuk ke atas gedung tanpa berkata apapun. Nafasnya nyaris habis.


Reva mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjuk laki-laki tersebut. Terlihat seorang wanita sedang berdiri di sana dengan sebilah pisau di tangannya.


“Astaga, Riana!” teriak Reva yang segera berlari menuju lantai 5 gedung kampus.

__ADS_1


Ia lari terbirit-birit, khawatir Riana melakukan hal yang tidak-tidak. Sementara pikiran Jeremy benar-benar kacau. Ia tidak tau apa yang harus dilakukannya.


Reva memijit tombol lift tapi lift tidak juga terbuka. Ia segera menuju tangga darurat dan berlari secepat mungkin. Kakinya terasa lebih kuat dari biasanya. Nafasnya memburu tidak karuan.


“Ri! Berhenti!” teriak Reva. Nafasnya masih terengah-engah dan dadanya terasa mau meledak.


Riana menoleh pada Reva. Terlihat wajahnya yang pucat pasi. Sorot matanya seperti kehilangan harapan untuk hidup. Sudut bibirnya menyeringaikan senyuman penuh kesakitan.


“Lo gag usah peduliin gue re, setelah ini hidup gue dan anak gue akan lebih baik. Tanpa rasa sakit tanpa rasa disia-siakan dan tanpa rasa malu buat siapapun yang pernah mengenal gue.” Ujar Riana dengan terbata-bata.


Tidak ada lagi air mata di wajahnya.


Reva berjalan mendekat dengan perlahan. Ia menatap Riana dengan perasaan yang tidak menentu.


“Ri, gue pernah ngerasain rasanya di sia-siakan. Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali. Lo mengandung anak yang kelak akan membuat hidup lo lebih baik, percaya sama gue. Sementara gue, sampe saat ini gag pernah tau siapa orang-orang yang menyia-nyiakan gue dan ninggalin gue sendirian. Mereka gag pernah peduli gue hidup atau mati. Mereka juga gag peduli gue senang atau sedih. Mereka gag pernah mencari gue, karena gue mungkin gag punya arti apa-apa buat mereka.” Reva menghembuskan nafasnya dengan kasar. Rasa sakit di hati dan kepalanya datang bersamaan. Penglihatannya mulai tidak jelas, tapi Reva terus berjalan ke arah Riana mencoba menguatkan dirinya sendiri.


“Ri, anak dalam perut lo masih punya kesempatan untuk tidak merasakan apa yang gue rasakan. Dia masih punya hak untuk melihat dan hidup bersama ibunya yang kuat. Dengan atau tanpa Jeremy, lo adalah Riana yang gue kenal, Riana yang kuat dan baik hati. Gue mohon jangan berhenti di sini. Kepergian lo hanya akan jadi kesedihan terdalam buat keluarga lo. Mereka menunggu lo, mengharapkan lo hidup bahagia, bukan seperti ini.” Lanjut Reva dengan suaranya yang mulai parau.


Reva menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir rasa sakit di kepalanya yang tidak tertahan. Berbagai macam suara dan ingatan berkelebat di rongga kepalanya. Keringat dingin bercucuran entah sejak kapan. Ia menguatkan diri karena iapun harus menguatkan Riana yang semakin berada di ujung gedung.


“Re, gue gag sekuat lo. Gue gag bisa!!” teriak Riana sambil mengangkat pisau ke udara.


Dalam sekejap, Reva melempar handphonenya ke udara dan menendangnya tepat ke tangan Riana hingga pisaunya terjatuh. Namun tubuh Riana oleng dan hampir terjatuh. Dengan sekuat tenaga Reva berlari ke arah Riana, meraih tangan Riana dan menariknya. Karena pijakannya yang tidak kuat, Riana berhasil menjauh dari pinggiran gedung dan berganti Reva yang tergantung memegangi besi pinggiran gedung.


“Re!!!” teriak Riana yang segera bangkit dan menghampiri Reva. “Re, pegang tangan gue, jangan lo lepasin. Ayo re…” lanjut Riana sambil mengulurkan tangannya pada Reva.


“Ri, jauh-jauh dari gue. Jangan sampe perut lo keteken. Lo dan anak lo harus baik-baik aja.” Seru Reva yang berusaha mengangkat tubuhnya agar bisa melewati besi pembatas.


Reva melihat ke bawah, kerumunan orang terlihat seperti semut di ujung kakinya.


“Lo mikirin gue sama anak gue terus! Lo harus ke sini dulu baru bisa nasehatin gue!” teriak Riana dengan air mata yang tidak bisa di tahannya. “Gue gag peduli ada Jeremy atau nggak di samping gue, tapi lo harus temenin gue jagain anak gue. Lo harus ada di samping gue!”


Lagi-lagi Riana berteriak dengan suara yang mulai serak. Ia begitu takut kalau harus kehilangan Reva. Rasa sesalnya karena bersikap buruk pada Reva semakin membuatnya merasakan kegetiran jika harus kehilangan Reva.


Di belakangnya, Jeremy hanya bisa terdiam melihat kejadian tersebut. Ia kalut dan tidak bisa memikirkan apa yang harus ia lakukan. Tanganya gemetar dengan mata yang semakin merah karena menahan amarah di dadanya.


“Kenapa gue harus selemah ini?” dengus Jeremy.


Reva menguatkan genggamannya pada besi. Ia menghentakan kakinya beberapa kali pada tembokan dan berusaha berayun. Tapi terlalu sulit. Tangannya sudah mulai kebas. Terpaksa ia meraih tangan kanan Riana dan dalam sekali hentak ia mengangkat tubuhnya hingga terjatuh dan terguling di samping Riana.


“Re!!!”


Riana segera menghampiri Reva yang telentang tidak berdaya. Ia memeluk Reva dengan erat dengan tangis yang meledak-ledak.


Cukup lama mereka berangkulan. Reva tersenyum melihat Riana yang baik-baik saja. Ia mengusap air mata Riana dengan lembut.


“Re, untuk alasan apapun, jangan pernah lupain kejadian ini. Lo alasan gue dan anak gue hidup.” Ujar Riana dengan terbata-bata.


Reva hanya mengangguk. Ia menatap Riana dengan rasa syukur yang tak bisa ia jelaskan.


Riana membantu Reva untuk berdiri. Pinggang dan kakinya masih terasa nyeri. Namun rasa sakit di kepalanya hilang begitu saja. Mereka berjalan saling memapah, melewati Jeremy yang seolah tidak mereka lihat. Lebih tepatnya, mereka tidak peduli ada atau tidaknya Jeremy.

__ADS_1


Jeremy hanya bisa terdiam, membiarkan dua wanita tersebut pergi dari hadapannya. Menyesal, ya sangat menyesal.


*****


__ADS_2