Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 102


__ADS_3

Pagi menjelang, Reva sudah berpakaian rapi dan segera menuju meja makan tempat keluarganya berkumpul. Reva sedikit ragu, ia melihat suasana dingin dan hening yang mendominasi pagi ini. Tapi tidak ada pilihan lain, ia harus memperbaiki suasana ini, dimulai dari memperbaiki perasaannya pada kondisi mood yang stabil.


“Pagi pih, mih , kak alea…” sapa Reva dengan senyuman hangatnya. Ia memilih seolah tidak tau apa-apa tentang kejadian kemarin dan dari sini lah ia ingin mulai memperbaiki semuanya.


“Pagi sayang.. ayo sarapan dulu..” sahut Nida yang tampak tidak terlalu ceria seperti biasanya.


Reva mengambil tempat di samping Nida. Alea masih tertunduk dengan sarapan yang masih ia coba nikmati, sementara Indra berusaha terseneyum seolah semuanya baik-baik saja.


“Kamu mau sarapan apa sayang? Mamih udah masak nasi kok.” Tawar Nida yang mendekatkan beberapa menu sarapan pada Reva.


“Gag pa-pa mih, aku mau ngambil sendiri aja.” Ujar Reva dengan sedikit canggung.


Reva kembali melirik Alea yang masih tertunduk dengan sarapan dan handphone yang mulai ia mainkan. Ternyata bersikap seolah tidak terjadi apa-apa itu sangat sulit bagi Reva. Reva mengambil beberapa lembar roti, lalu mengisinya dengan scramble egg, sayuran, sedikit mayonaise dan saus. Tidak lupa potongan daging. Ia melipat rotinya dan mulai menikmati sarapannya.


“Boleh buatkan 1 buat papi nak?” ujar Indra yang tampak tergiur dengan cara Reva menikmati sarapannya.


“Emm.. boleh pih. Mamih sama kak lea mau?” Tawar Reva dengan sumeringah.


“Gag usah.” Jawab Alea singkat.


“Mamih mau 1 sayang…” Nida seolah berusaha mencairkan suasana. Ia tau jawaban Alea mulai memantik rasa tak nyaman sarapan pagi ini.


Reva terangguk. Ia mulai meramu makanannya dan menyodorkan satu per satu roti isi yang biasa ia buat. Indra dan Nida tampak menikmati makananya.


“Ini enak sayang…” puji Indra dengan penuh kesungguhan.


“Iya mamih juga suka…” Nida seolah mengamini perkataan Indra.


Reva hanya tersenyum. Ia bisa melihat ekspresi malas di wajah Alea. Mungkin ia sebal mendengar setiap pujian yang di berikan oleh Indra dan Nida pada Reva.


Alea segera meneguk minumannya. “ Aku duluan…” ujarnya seraya mengambil tas tangan dan blazer yang ada di sandaran kursinya.


“Bentar kak, kita barengan yaaa…” ujar Reva yang segera menghabiskan sisa roti isinya lalu minum dengan cepat. Ia tidak ingin melewatkan kesempatannya bersama Alea.


“Sayang, pelan-pelan… Nanti kamu bisa kesedak..” ujar Nida seraya mengusap punggung Reva.


Namun Reva hanya tersenyum. Ia menelan bulat-bulat makananya. “Pih, mih, aku duluan yaa…” Reva bergegas menyusul sang kakak yang sudah sampai di depan pintu. Ia bahkan memakai sepatunya sambil berlari.


Nida melirik Indra yang memandangi putrinya dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. Ia harus membicarakan masalah kemarin, namun Indra selalu menghindar bahkan semalam ia memilih untuk tidur di ruang bacanya. Ia tidak pernah menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.


****


“Kak kita gag jemput kak edho dulu?” Reva berusaha mencairkan suasana hening di antara mereka.


“Gag usah…” cetus Alea yang seolah tidak ingin berbicara lebih panjang.

__ADS_1


Reva menggigit bibirnya sendiri, jarinya saling memilin dan sesekali ia melirik Alea yang tampak fokus mengendalikan kemudinya. Reva terus berfikir pembahasan tentang apa yang bisa mencairkan suasana.


Hingga tiba di kantor Wijaya group tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Alea memarkirkan mobilnya di parkiran eksklusif. Tidak biasanya kali ini ia memarkir mobilnya sendiri.


Turun dari mobil, Alea berjalan dengan cepat menuju lift. Reva berusaha mengimbangi langkah jenjang Alea. Saat Alea meliriknya Reva berusaha tersenyum walau ia kerepotan dengan langkahnya. Mereka naik lift menuju ruangan divisi pengembangan.


Lift terus berjalan naik. Dari pantulan dinding lift terlihat Alea yang sedang asyik dengan handphonenya. Saat Alea menoleh, Reva terhenyak melihat tatapan Alea yang terlihat dingin.


“Pulang kantor, temenin gue ketemu temen.” Ujar Alea dengan singkat.


“Kemana kak?”


Alea tidak menjawab. Begitu pintu lift terbuka ia bergegas meninggalkan Reva yang masih kebingungan.


Reva menarik nafas dalam-dalam. Untuk meraih hati sang kakak, ia memang harus ekstra sabar. Padahal ia tidak terbiasa memaksakan diri untuk mendekat dengan seseorang siapapun itu.


****


Dimeja kerja Reva sudah tertumpuk beberapa berkas yang dikirimkan oleh Alea. Alea meminta Reva untuk mereview semua rencana pembangunan dari para arsitektur yang di tugaskan untuk merancang semuanya.


Nyali Reva menciut, mana bisa ia mengomentari gambar arsitek yang berjuta kali lipat lebih baik dari gambar anak TK miliknya. Tapi rasanya ia tidak bisa menolak, demi apapun ia akan bekerja keras dengan proyek ini.


Reva mulai mencocokan setiap gambar dengan deskripsi bangunan. Ada beberapa yang ia tandai untuk dikonfirmasi karena menurutnya kurang cocok dengan yang ia inginkan. Beberapa kali Reva tampak mengernyitkan dahinya saat beberapa pola belum bisa ia mengerti.


Reva benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya. Beberapa kali Raka menelponnya dan mengirimkan pesan, tidak ada satupun yang ia jawab. Waktu makan siangpun ia lewatkan begitu saja. Rasanya tidak ada yang peduli dengan perasaan nyaris gila yang Reva rasakan.


Sore menjelang, asisten Alea menghampiri Reva di ruangannya. Ia diminta Alea untuk melihat hasil pekerjaan Reva.


“Ini mba, sudah saya selesaikan.” Ujar Reva dengan penampilan yang berantakan.


Lipstik merah muda yang pagi tadi menyegarkan wajahnya kini sudah terhapus. Rambutnya diikat asal-asalan membuat wanita bernama Ira tersebut tersenyum geli.


Ira melihat sedikit hasil kerja Reva. Terlihat senyuman tipis di bibir Ira dengan tatapan seperti merendahkan pada Reva.


“Kenapa, ada yang salah?” Reva mempertanyakan pekerjaannya yang tengah dilihat Ira.


“Em nggak mba.. Cuma mba Alea biasanya bikin review lebih baik dari ini.” Ujar Ira yang secara terang-terangan memperbandingkan Reva dan Alea.


Reva tersenyum pilu. Kalau di bandingkan dengan Alea, tentu pekerjaannya sangat jauh berbeda. Alea lulusan luar negri dengan pekerjaan yang sudah lama ia geluti sementara dirinya siapa.


Reva menarik nafas dalam-dalam, ia tidak ingin terpancing oleh ucapan asisten Alea. Ia hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan mengisi perutnya yang keroncongan.


“Saya minta tolong untuk serahkan dulu pekerjaan saya sama kak alea. Kekurangannya akan saya jelaskan secara langsung.” Ujar Reva yang berusaha tetap tersenyum dan mendapat anggukan pamit dari Ira.


Setelah Ira berlalu, Reva menyandarkan tubuhnya pada kursi. Tubuhnya terasa kaku dengan leher yang rasanya akan segera patah.

__ADS_1


“Astagaaaa, gue gag sanggup…” gerutu Reva yang menyadari ketidak mampuannya.


****


Di ruangan Raka, ia terus mondar mandir tidak karuan. Beberapa staf yang melakukan kesalahan sepele pun mendapat teguran keras dari Raka. Pikirannya benar-benar tidak menentu karena sedari tadi Reva tidak bisa di hubungi. Rapat yang berjalan sengitpun ia tinggalkan begitu saja dan meminta semua bawahannya memperbaiki pekerjaannya dan menyerahkan padanya besok pagi.


“Lo kenapa sih? Dari tadi marah-marah mulu.” Fery menyodorkan sebotol minuman dingin untuk menenangkan Raka yang di landa keresahan.


Raka segera menerima botol tersebut dan meneguk isinya hingga hampir tandas.


“Reva kemana sih dari tadi gag bisa di hubungi?”


Raka kembali fokus pada smartphone yang ada di tangannya. Ia kembali mencoba menghubungi Reva. Sekarang Fery paham apa yang membuat bosnya ini marah-marah. Ia hanya menggelengkan kepala lalu duduk di samping Raka.


“Iya mas…” jawab Reva dengan lemah.


“Sayang, kamu kenapa? Kok suaranya lemes banget? Kamu sakit? Mau aku jemput?” pertanyaan bertubi-tubi Raka menarik perhatian Fery.


“Ya ampun mas… kamu banyak banget nanyanyaa…. Aku sampe pusing gini…” Reva menelungkupkan wajahnya di atas meja, tenaganya benar-benar habis.


“Ya habis dari tadi kamu gag bisa di hubungin,,,” Raka mulai bisa mengendalikan dirinya.


“Tadi kerjaan aku banyak bangett. Ini juga baru selesai.”


“Kamu udah makan?” Raka bisa memahami kesibukan yang Reva hadapi saat ini.


“Lagi nunggu di anter… paling bentar lagi dateng…”


“Astaga, kamu baru makan? Ini jam berapa re?”


“Gag pa-pa, aku masih bisa nahan kok…” rengek Reva dengan manja. Membuat sudut hati Raka terrenyuh. Antara cemas dan lucu mendengar Reva merengek.


“Ya udah, nanti aku jemput ya.. Aku kangen kamu…”


“Jangaann… aku ada janji sama kak alea. Nanti kita video call aja.”


Kali ini Raka menoleh Fery. Sepertinya perkataan Fery tidak terbukti kalau Alea sedang menabuh genderang perang dengan Reva.


“Ya udah, nanti kamu kabarin yaa pergi kemana. Kalo kamu gag pulang malem, nanti aku ke rumah. Love you…”


Raka mengakhiri panggilannya dengan gembira. Ia menoleh Fery yang berdecak sebal mendengar perbincangan sepasang insan yang sedang jatuh cinta.


Raka menghela nafasnya dengan lega. Setelah mendengar cerita Fery tentang Alea, jujur Raka merasa tidak karuan. Ia khawatir Alea melakukan hal yang tidak-tidak pada Reva. Raka mengenal benar Alea yang ambisius dan tidak mau kalah. Tapi mendengar Reva akan pergi dengan Alea, ia berharap ini awal membaiknya hubungan kakak beradik


***

__ADS_1


__ADS_2