
“Aaaa… bunda rere, sakiiitttt..” rengek Tania saat mendapati kakinya yang terluka karena terjatuh.
“Loh sayang, tania kenapa nak?” dengan segera Reva membantu Tania untuk bangun. Ia melihat luka kemerahan di lutut Tania.
“Aku di dorong kak sasa bundaaa… sakit…” Tania mengadu dan memeluk Reva dengan erat. Ia sesegukan di pelukan Reva.
“Aku gag dorong kok bunda, tadi tania jatoh sendiri dari ayunan padahal udah aku bilangin jangan naik, tapi tanianya gag nurut.” Kilah Sasa yang terlihat ketakutan.
“Udah, coba bunda liat lukanya nak…” Reva melihat luka tipis di lutut Tania. Memang tipis tapi pasti terasa sangat perih.
“Aku gag sengaja bunda, aku gag ada niat dorong tania…” Sasa mulai menangis karena takut di marahi.
“Loh, kok sasa nangis… Bunda kan gag marah sama sasa…” Reva meraih tangan sasa dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung Sasa dengan lembut, agar gadis berambut keriting itu tenang. “Gini aja, sasa tolong ambilin obat buat tania ya… kita pasang plester di sini. Bisa?”
Sasa mengangguk dengan cepat. Ia mengambil kotak obat yang ada di kamarnya. Mereka duduk di kursi yang berderet rapi. Reva meniup perlahan luka Tania dan Tania tampak meringis.
“Itu sakit banget de? Kakak minta maaf yaa, kaka gag bermaksud dorong ade..” terlihat raut bersalah di wajah Sasa.
“Iya sakitt…” rengek Tania.
“Lukanya sih pasti agak sakit, tapi bunda yakin tania anak yang kuat. Apalagi kalo kak sasa bantuin bunda obatin tania, mau?” Reva memandangi Tania dan Sasa bergantian.
Keduanya kompak terangguk. Sasa mulai membersihkan luka Tania dengan hati-hati. Ia pun memberikan sedikit obat antiseptic dan menutupnya dengan plester.
“Masih sakit nak?” Tanya Reva dengan lembut. Tania menggeleng dengan senyum tipis di bibirnya. “Hem.. kesayangan bunda emang kuat…” Reva mengusap pucuk kepala Tania dengan sayang. “Dan kak sasa, makasih yaaa udah ngobatin adenya…” sambung Reva yang juga mengusap kepala Sasa.
“Iya bunda. Yuk de, main lagi!” ajak Sasa dengan semangat. Tania pun mengangguk setuju. Tak lama kedua anak tersebut pun kembali bermain dengan anak lainnya.
Selalu seperti ini, pemandangan yang sama di setiap panti yang Reva dirikan untuk menjaga anak-anak kurang beruntung yang hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua. Sejak menikah dengan Raka, Reva memang memutuskan untuk mengelola beberapa panti asuhan. Ia ingin anak-anak kurang beruntung itu tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang. Ia selalu ingat saat Ratna menjaga dan mendidiknya dengan penuh kasih, hingga Reva tidak pernah merasakan kekurangan apapun. Itu pula lah yang ingin Reva berikan kepada anak-anak itu.
Tanpa Reva sadari, dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikannya. Ia tersenyum melihat apa yang dilakukan Reva dengan kedua anak tadi. Ia di dampingi perempuan paruh baya yang tak lain adalah Ratna.
“Re… para tamu udah datang nak…” Ujar Ratna yang datang bersama laki-laki yang Reva kenal, yaitu Theo.
Sejenak Reva terpaku saat melihat Theo yang begitu rapi dengan penampilan formalnya.
__ADS_1
“Re, ada yang mau ketemu kamu.” Ujar Ratna seraya mengusap lengan Reva.
Reva menyambut Theo dengan sebuah senyuman hangat. Senyuman yang selalu membuat hati Theo berdesir.
“Re, ini pak theo. Beliau datang untuk memberikan santunan buat anak-anak.” Terang Ratna.
Reva ber”O” tanpa suara.
“Hay re, apa kabar?” sapa Theo seraya mengulurkan tangannya.
“Kabar baik. Pak Theo apa kabar?” Reva menyambut uluran tangan Theo yang beberapa saat terasa erat. Reva berusaha melepaskan tangannya dari Theo dengan senyum yang tetap ia kembangkan.
“Kabar saya baik.” Theo mulai melepaskan genggaman tangannya. Untuk beberapa saat Theo memandangi tangannya seraya tersenyum. Menggenggam tangan Reva membuat jantungnya serasa dialiri sengatan-sengatan kecil dan ia menyukainya.
“Terima kasih atas kebaikan pak theo. Hanya tuhan yang bisa membalas kebaikan bapak.” Tutur Reva. Theo hanya terangguk.
“Ya udah, kamu temenin pak theo sebentar, ibu siapin dulu makanan buat para tamu dan anak-anak ya…” ujar Ratna yang tidak pernah tahu seperti apa hubungan Reva dan Theo di sama lalu. “Mari pak, saya tinggal sebentar.” Sambung Ratna yang bergegas pergi.
Theo terangguk mengiyakan. Tinggal lah kini Reva dan Theo yang saling membisu. Theo tak pelak memandangi Reva sementara Reva berusaha mengalihkan pandangannya ke sudut lain.
****
Theo meminta Reva untuk membawanya berkeliling melihat-lihat kondisi panti. Ternyata berbicara tentang panti dan anak-anak membuat obrolan mereka sedikit mencair namun Reva tetap memberi batas yang tegas untuk Theo.
“Re, soal kejadian waktu itu…” Theo menggaruk kepalanya walau tidak gatal.
“Maaf kejadian apa maksud pak theo?” tanya Reva yang hanya sekedar basa basi. Terang saja Reva mengingat kejadian saat mulut Theo mengeluarkan kata-kata yang cukup menyakitkan hatinya. Tapi rasanya mengingat kata-kata itu tidak akan membawa kebaikan pada dirinya.
Theo mengerti benar maksud Reva yang tidak ingin membahas masa lalu. Ya, masa lalu yang selalu membuat Theo menyesal.
“Em… bukan apa-apa.. Tapi ya saya hanya ingin minta maaf sama kamu re…” ujar Theo dengan penuh kesungguhan.
Reva terangguk paham. “Tentu, bukannya sesama manusia kita memang harus saling memaafkan?” tutur Reva dengan ringan.
Lagi, dengan cara apa pun Reva selalu membuat Theo merasa terpesona. Theo hanya bisa tersenyum dan menahan perasaannya yang bergejolak.
__ADS_1
“O iya, gimana kabar raka? Udah lama saya gag ketemu dia.” Theo mulai mengalihkan pembicaraannya.
“Alhamdulillah mas raka kabar baik.” Sahut Reva dengan segera. Entah mengapa ia sangat ingin menunjukkan hubungannya dengan Raka.
“Emm saya gag tau kalo kalian sudah menikah. Kalo saya tau, mungkin saya akan hadir. Tapi selamat ya…” lagi-lagi Theo mengulurkan tangannya. Bibirnya tersenyum tapi hatinya remuk redam.
“Terima kasih.” Timpal Reva.
Mereka kembali berjalan dalam keheningan. Sesekali Theo masih menoleh Reva yang matanya berpedar entah ke arah mana. Semakin lama menatap Reva, hati Theo semakin tak karuan.
“Bunda rere… main sama aku yuukk…” Seorang anak bernama Fadil tiba-tiba menarik tangan Reva.
Reva segera berjongkok untuk mengimbangi tinggi anak usia 6 tahun tersebut.
“Fadil sayang, bunda masih ada tamu.. Fadil main sama tania dan kak sasa ya…” ujar Reva dengan lembut. Fadil tampak merengut dan menatap Theo dengan tidak suka. Ia merasa ada saingan di dekatnya selain ayah Raka yang tidak pernah mau berbagi Reva dengan dirinya.
“Hey, fadill.. kok ngeliatnya gitu sih… itu namanya gag sopan nak..” lanjut Reva setengah berbisik untuk memperingatkan Fadil.
“Om ini siapa sih bunda? Kok bunda gag sama ayah raka?” protes Fadil yang hanya di balas senyuman oleh Reva. Ia merasa tidak enak juga pada Theo, tapi ya namanya juga anak-anak. Tapi apa jadinya kalau yang bertemu om ini adalah ayah Raka? Selintas pikiran itu masuk di pikiran Reva.
“Sayang, fadil main sama temen-temen yang lain yaa… nanti bunda nyusul okey?” Fadil hanya terdiam, ia memandangi Theo dengan tidak suka. Tapi setelah itu ia segera berlari menghampiri teman-temannya.
Reva kembali berdiri dan menyelipkan anak rambutnya dengan gusar.
“Maaf pak theo, anak-anak memang kadang-kadang…”
“Gag pa-pa. Namanya juga anak-anak kan?” Theo berusaha mengakhiri kecanggungan Reva. Reva hanya terangguk-angguk. “Sepertinya kamu sangat suka anak-anak?” Theo kembali bertanya, namun Reva hanya tersenyum. Ia tak berniat menjelaskan itu, toh Theo sudah bisa melihatnya.
****
hay.. hay.. hay... masih pada baca kan?
makasih ya untuk kesediaan waktunya. sebenarnya pengen nih, ngaish ilustrasi untuk sosok Reva, Raka dan kawan-kawan. Tapi sepertinya masing-masing punya ekspektasi sendiri ya tentang sosok di novel ini, hehehe...
__ADS_1
Anyway, tetep happy reading yaaakk.. jangan lupa like dan komennya serta tambahkan sebagai favorit. makasih