
Menikmati kota Bali tentu belum lengkap kalau belum menikmati semilir angin di tepi pantai. Seperti yang dua pasang kekasih ini lakukan. Alea dan Fery duduk-duduk di tepi pantai dengan segelas minuman hangat di masing-masing genggamannya sementara Reva memilih berjalan bersama Raka menyusuri bibir pantai. Ia membiarkan kaki telanjangnya tersentuh buih air laut yang sesekali mendekat lalu kembali menjauh menuju samudra yang luas.
Raka menggenggam tangan Reva dengan erat, sesekali mereka mengayunnya atau Raka mengecupnya dengan lembut. Sejak bertemu Raka, hingga saat ini Reva masih selalu merasakan debaran tak menentu di dadanya dan ia sangat menyukainya.
“Re, seperti halnya kamu yang menyukai pegunungan dan dataran tinggi, pantai menjadi salah satu tempat yang paling aku sukai.” Tutur Raka seraya memandangi kilauan air yang sesekali saling menggulung.
“Oh ya, kenapa?” Reva menghentikan langkahnya, menatap Raka penuh dengan penasaran.
Raka ikut menghentikan langkahnya. Ia menghadapkan tubuhnya memandangi lautan yang begitu lepas menurutnya.
“Karena dari pantai, aku belajar untuk tidak menyerah.” Tutur Raka seraya tersenyum. “Kamu tau, aku selalu merasa takut saat aku akan melakukan sesuatu dan malah gagal karena terbawa arus tidak bisa aku duga. Tapi saat mengingat bahwa setiap percikan air akan sampai di tepi pantai, itu membuat aku yakin kalau suatu saat aku pasti akan sampai di titik itu. Aku hanya perlu terus berusaha dan aku akan tiba pada saat yang tepat.” Raka menjeda kalimatnya dengan mengalihkan pandangannya pada Reva.
“Di pantai ini juga, kamu bilang kalau kelak kamu akan menikah dengan ku dan terlihat cantik di atas pelaminan di tepi pantai.” Kenang Raka dengan senyum kecil di bibirnnya.
Ia ingat, saat Reva yang begitu kagum melihat sosok pengantin cantik dan berharap bisa berdiri di sana seraya menggenggam tangan Raka.
Reva terkekeh, ia pun mengingat hal yang sama.
“Maaf karena aku gag bisa wujudin mimpi kamu yang satu itu.” Imbuh Raka yang memiliki sesal di dadanya.
“Aku seneng kamu selalu mengingat semuanya.”Reva menyandarkan kepalanya di bahu Raka. Rasanya sangat nyaman. “Menikah dimanapun, asalkan sama kamu, itu udah kebahagiaan terbesar.” Lanjut Reva dengan senyum tipis di bibirnya.
Raka ikut tersenyum, ia mengecup pucuk kepala Reva dengan lembut.
“Emm.. gini deh, kamu punya tempat yang mau kamu kunjungi gag? Kali ini aku pasti menuhin permintaan kamu.” Ujar Raka dengan yakin.
“Emmm kemana yaa?” Reva tampak berfikir keras membuat Raka menunggu jawabannya dengan tak sabar. Ia memandangi wajah yang kini terlihat sangat cantik di bawah cahaya langit malam dengan gemintangnya. “Venesia mungkin.” Cetus Reva tiba-tiba.
“Venesia?” Raka mengernyitkan dahinya.
“Iya. Aku mau menikmati perjalanan dengan menggunakan gondola sama kamu mas. Menyusuri kanal sambil melihat keindahan kota Venesia. Dan kamu ngelukis aku di sana saat langit mulai menguning. Pasti siluetenya bagus.” Ungkap Reva dengan binar mata penuh semangat.
Lagi, Raka terhanyut dalam sepasang telaga bening yang kini menatapnya lekat. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. Perlahan Raka menyentuh rambut Reva yang bergerai seirama hembusan angin. Ia menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah puti bersemu kemerahan tersebut.
“Aku sangat suka saat melihat kamu tersenyum.” Lirih Raka seraya mengusap bibir tipis Reva.
Reva bisa merasakan hembusan hangat nafas Raka yang menerpa wajahnya. Kini Raka mencium mata kanan Reva yang selalu membuatnya tenggelam, kemudian turun secara perlahan ke hidung, bibir, dagu, dan berakhir di mata kiri. Terasa begitu hangat dan mendalam. Hingga berakhir pada gigitan kecil di bibir Reva yang ia balas dengan ritme yang sama. Perlahan dan lembut, seolah mereka memiliki banyak waktu untuk menikmatinya tanpa harus tergesa-gesa. Cahaya bulan dan bintang menjadi saksi mereka menikmati kemesraan dengan perasaan yang bergejolak.
__ADS_1
****
Hari semakin tenggelam di telan malam. Raka masih setia menggenggam tangan Reva yang masih tersipu mengingat kejadian di pinggir pantai. Raka menyenggol lengan Reva dengan sengaja, ia memang sangat menyukai menggoda Reva yang masih selalu malu-malu. Dan Reva hanya tersenyum seraya menempatkan kepalanya bersandar di lengan Raka.
Di kejauhan terlihat Fery yang tampak asyik berbincang dengan Alea. Fery terlihat sedang menggenggam tangan Alea namun tiba-tiba melepaskannya karena Raka dan Reva datang.
“Santai aja kali, kayak baru pertama kali megang tangan cewek aja.” Ujar Raka dengan santai.
“Apaan sih lo. Ganggu aja.” Tutur Fery yang memelankan suaranya di akhir kalimat. Tapi Raka jelas tidak peduli.
“Untung kita yang datang ya sayang, bukan papih kamu.” Lanjut Raka yang membuat pandangan Alea dan Fery tertuju padanya. “Kenapa? Kentang gorengnya enak kok.” Imbuh Raka seraya menggigit salah satu kentang goreng di hadapan Fery.
Fery hanya bisa mengeram kesal dalam hati. Ia meralat kalau ia lebih memilih ada 1000 Raka di dekatnya, karena ternyata satu saja sudah sangat menyebalkan, menurutnya.
Raka mengambil tempat di sebelah Alea untuk sang istri dan ia duduk di samping Fery. Gayanya masih santai dengan perasaan senang bisa mengganggu sahabat dan kakak iparnya.
“Udah lah, lo tinggal datang baik-baik sama papih, terus lo bilang, om saya cinta sama alea dan ingin menikahinya. Udah, beres! Dan kalian pun hidup bahagia selamanya.” Celoteh Raka dengan kedua tangan yang ikut terentang.
Fery hanya bisa berdecik sebal, andai saja bisa semudah itu, tentu ia akan segera melakukannya.
Mata Reva membulat mendengar ucapan sang kakak yang sangat enteng tanpa tendensi apapun.
“Ya iyalah, ngapain lagi datang ke sini kalo gag gue habisin buat senang-senang.” Sahut Raka yang seolah tidak mau kalah. “Makanya lo cepetan minta tuh bocah halalin lo, biar gag kelamaan..” sambung Raka dengan senyuman konyolnya.
“Ih mas raka, jail banget sih.” Protes Reva yang merasa kasian melihat Fery terpojok, namun Raka hanya terkekeh.
“Udah ah, yuk kita masuk. Kita penuhin permintaan kakak ipar.” Timpal Raka seraya terangguk pada Fery dan Alea.
Reva segera menarik tangan Raka, ia tidak ingin suami konyolnya ini semakin melantur.
Alea dan Fery kompak menggelengkan kepala melihat kelakuan Raka. Saat akan melangkah meninggalkan Alea dan Fery, terlihat seorang wanita yang menghampiri Raka.
“Raka ya?” tanya wanita tersebut.
Raka sedikit mengernyitkan dahinya. Rasanya ia belum pernah melihat wanita di hadapannya.
“Hay gue laras. Kita emang baru ketemu sekarang, tapi lo terkenal banget di kalangan pebisnis muda, makanya gue tau.” Ujar Laras seraya melirik Reva.
__ADS_1
Reva berusaha tersenyum dan mengangguk. Ia menoleh Raka yang memang sepertinya tidak mengenal sosok Laras ini.
“Oh, gitu ya.” Hanya itu sahutan Raka yang membuat Laras semangat mengangguk.
Ia terlihat acuh saja seraya mengangkat bahunya saat tatapan Reva tertuju padanya.
“Hay fer!” lanjut Laras seraya melambaikan tangannya pada Fery yang sejak tadi terdiam.
“Oh hay…” sahut Fery yang beranjak seraya tersenyum kaku pada Laras.
Sejenak Alea menatap Fery yang tiba-tiba begitu kaku.
“Lama ya kita gag ketemu. Terakhir ketemu 2 tahun lalu kalo gag salah.” Laras seolah memancing Fery untuk mengingatnya.
“Iya, 2 tahun lebih kayaknya.” Timpal Fery. “Kenalin juga, ini alea dan itu reva.” Imbuh Fery masih dengan canggung.
“Oh I see… “ timpal Laras yang kali ini mengulurkan tangannya pada Alea dan Reva. Keduanya membalas uluran tangan Laras seraya tersenyum tipis.
“Lo lagi ada acara di sini?” Fery berusaha mencairkan suasana.
“Ya! Kebetulan gue ada pertemuan sama klien di sekitar sini.” Terang Laras yang sebenarnya tidak penting juga bagi Fery. “Okey, kalo gitu gue duluan, selamat malam semuanya.” Sambung Laras yang kemudian pergi meninggalkan orang-orang yang masih terpaku melihat kedatangannya hingga ia pergi.
“Lo kenal sama dia?” kali ini Raka yang merasa penasaran.
Fery hanya mengangkat bahunya. “Temen lama.” Jawabnya santai.
“Tapi perasaan gue pernah liat dia deh. Tapi dimana ya?” Alea mencoba mengingat sosok tersebut.
“Yaa di seluruh dunia kan tiap orang punya 7 kembaran. Mungkin salah satunya yang kamu liat.” Fery berusaha mengakhiri pikiran Alea.
Alea hanya terangguk-angguk. Mungkin benar yang di ucapkan Fery.
****
Hayoloh siapa tuh Laras?!! Cuma numpang lewat ato bakal numpang cerita nih? xoxoxo
__ADS_1