
Di kostan nya saat ini, Reva tengah mematut dirinya di depan cermin. Sesuai janji, ia akan makan malam bersama keluarga Raka di sebuah restoran terkenal. Ia memakai dres berwarna hitam dengan motif bunga kecil dan aksesoris belt yang melingkar di pinggang rampingnya. Sementara rambutnya ia kepang menyamping benar-benar terlihat sangat manis.
Reva kembali melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya. Sebuah ketukan di pintu terdengar tepat sesuai janji Raka akan menjemput. Dengan segera Reva membukakan pintu untuk Raka.
“Hay mas, aku udah siap.” Ujar Reva saat melihat Raka yang tengah berdiri dihadapannya dengan tampilan santai namun tetap terlihat keren.
Berulang kali Raka mengerjapkan matanya, ia masih belum sadar yang di lihatnya benar-benar manusia ataukah bidadari.
“Mas, kok diem aja sih?” Reva mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Raka.
“Hah iya re?” Raka baru tersadar dari lamunannya.
“Ish mas raka malah ngelamun sih…” Reva melipat tanganya di dada dengan kesal. Sementara Raka masih gelagapan.
“Aku kirain tadi bidadari, ternyata pacar aku…” puji Raka sambil mengusap lembut pipi Reva.
“Gombal!” timpalnya sambil tersipu malu.
Raka hanya terkekeh. Penampilan Reva malam ini benar-benar menghipnotisnya.
“Jadi berangkat gag nih?”
“Tentu dong…” Raka mengulurkan tangannya pada Reva dan dengan segera Reva menyambutnya. Mereka berjalan beriringan menuju tempat Raka memarkir mobilnya.
Raka melajukan mobilnya dengan santai. Ia tidak peduli kedua orang tuanya sudah menunggu dengan tak sabar. Raka ingin menikmati perjalanannya bersama Reva. Ia tak lepas mengenggam tangan Reva dengan erat dan sesekali mengecupnya dengan lembut.
Tiba di sebuah restoran bintang 5, Niken menyambut Reva dengan gembira.
“Selamat malam om, tante…” sapa Reva dengan sungkan.
“Selamat malam sayang, aduh cantik banget sih calon mantu mamah.” Puji Niken seraya memeluk Reva, membuat Raka iri saja.
Reva hanya tersipu. Ia pun meraih tangan Wira dan mengecupnya sebagai tanda hormat. Wira hanya mengangguk seraya tersenyum.
“Ayo sini re, duduk di sini…” Niken menarik tangan Reva dengan lembut.
Reva duduk di samping Raka sementara Niken duduk di hadapannya berdampingan dengan Wira.
Suasana makan malam berlangsung dengan hangat. Sesekali raka melempar lelucon agar suasana tidak terlalu tegang untuk Reva.
“Oh iya re, om wira tuh penasaran katanya dia pernah ketemu kamu sebelum ketemu di perusahaan. Mungkin kamu inget dimana?” tanya Niken mengingatkan pertanyaan Wira.
“Emmm dimana ya tante? Reva sih pertama ketemu om di loby kantor. Reva kira om tamu, jadi Reva anter ke ruang tunggu direktur.” Kenang Reva sambil menyentuh tengkuknya sendiri karena malu.
“Hahaha iya om ingat. Tapi rasanya sebelum itu om pernah ketemu juga…” timpal Wira yang masih coba mengingat.
“Mungkin papah pernah ketemu seseorang yang mirip reva mah… “ ledek Raka yang mendapat tatapan tajam dari Wira.
“Haish kamu ini, mana pernah papah liat perempuan lain selain mamah.” Wira mencari aman sendiri dari tatapan mengancam Niken.
“Iya mamah tau, mamah udah gag muda lagi. Udah banyak kerutan dan wajar kalo papah lirik kiri kanan. Asal jangan pake hati aja.” Niken berpura-pura sedih mendengar ujaran Wira.
“Kata siapa, menurut papah, mamah lah yang paling cantik. Gag ada tandingannya.” Kilah Wira seraya menyentuh dagu lancip Niken yang memang terlihat cantik walau usianya tidak muda lagi.
“Jiaahh si papah, jangan gitu lah. Aku kan jadi pengen cepet-cepet nikah.” Cetus Raka sambil melirik Reva yang berada di sampingnya.
“Loh ya menikah saja. Lagian papah sama mamah juga udah pengen punya cucu.” Sahut Wira tanpa beban.
__ADS_1
Lagi-lagi Raka melirik Reva yang tampak merona karena malu mendengar perbincangan ayah dan anak ini.
“Gimana re…” tanya Raka sambil menyenggol Reva. Sontak Reva tersedak saat mendengar pertanyaan Raka yang tanpa basa basi.
“Astaga raka, kok malah di senggol sih reva nya…” gerutu Niken yang segera mengambilkan minum untuk Reva.
Reva meneguk minumannya hingga tandas , bukan karena tersedak saja tapi untuk mengusir rasa gugupnya atas pertanyana Raka yang tiba-tiba. Untungnya, Wira kembali membahas masalah perusahaan dengan Raka di sela makan malamnya. Reva bisa bernafas lega karena tidak jadi pusat perhatian keluarga bahagia ini.
****.
Dibawah cahaya rembulan, Reva dan Raka berjalan bergandengan tangan menuju kost-an Reva. Mereka begitu menikmati setiap detik waktu yang mereka lewati bersama. Tiba di depan kamar Reva, Raka masih enggan untuk beranjak. Rasanya ia ingin lebih lama memandangi wajah cantik yang selalu membuatnya merasa damai.
“Mas, makasih untuk hari ini ya… Aku seneng banget.” Ungkap Reva dengan penuh kesungguhan.
“Aku yang makasih re, karena kamu udah hadir di hidup aku dan memberi warna yang indah. Aku berharap, kita akan selalu bahagia seperti ini selamanya.” Timpal Raka seraya mengecup punggung tangan Reva dengan lembut.
Mendengar kata selamanya, pikiran Reva kembali terusik dengan ancaman Alea siang tadi. Ia sangat tidak ingin semuanya berakhir begitu saja. Ia tidak ingin kehilangan Raka dan kebahagiaan yang selama ini mengisi hatinya.
“Mas, apa orang tua kamu bisa nerima aku?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Reva.
Raka mengernyitkan dahinya, seolah tidak paham dengan maksud pertanyaan Reva.
“Loh, tadi kan mamah sama papah suka banget sama kamu. Kenapa masih takut mereka gag bisa nerima kamu?”
Reva menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar ingin menghilangkan kegundahannya.
“Mas, mereka belum tau latar belakang aku seperti apa. Mereka juga gag tau kehidupan aku sebelum kenal sama kamu. Mungkin mereka gag akan nerima aku seperti kamu nerima aku saat ini. Aku hanya takut, kalo suatu waktu mereka berbalik menentang hubungan kita.”
“Sayang…” Raka menangkup wajah Reva dengan kedua tangannya. “Aku gag peduli masa lalu kamu seperti apa, yang penting kamu ada di masa ini dan kelak bersamaku di masa depan. Dan tentang masa lalu kamu jika suatu hari papah dan mamah tau, aku akan menegaskan bahwa aku gag ada masalah dengan masa lalu kamu. Mereka bisa apa kalau nyatanya aku bahagia sama kamu. Bukannya itu satu-satunya harapan setiap orang tua?”
“Re, jangan berpikir terlalu banyak. Kita nikmati waktu kita saat ini, dan tentang masa depan kita, aku udah mempersiapkan semuanya. Kamu penting buat aku dan akan selalu menjadi hal terpenting di masa depan.” Tegas Raka tanpa ragu. Ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Reva dan pelukan hangat yang selalu membuat Reva merasa lebih tenang.
Reva ingin sekali mempercayai semua ucapan Raka. Tapi ancaman Alea begitu mengusiknya. Ia hanya bisa berharap semua ancaman Alea tidak pernah terjadi.
****
Reva sudah terlelap dalam pelukan malam yang memberi hawa dingin pada lingkungan sekelilingnya. Tubuhnya tampak menggeliat dalam pelukan selimut yang membalut tubuhnya saat suara nyaring terdengar dari ponselnya.
Masih dengan mata tertutup ia meraba-raba mencari sumber suara. Saat ia menemukan benda pipih itu, matanya sedikit terbuka melihat nama yang tertera.
“Bi asri? Semalem ini?” Reva mengernyitkan dahinya sambil mengerjap berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk.
“Halo bi…” sapa Reva dengan suara serak.
“Mba rere, maaaf bibi ganggu malem-malem. Ini mba, den kean…” ujar bi Asri dengan suara bergetar dan ketakutan.
“Hah? Kean kenapa bi?” Reva segera terbangun dan menyadarkan dirinya.
“Ini, dia dari tadi nangis terus. Sekarang malah guling-guling katanya perutnya sakit badannya juga demam. Mana tuan lagi keluar kota, tolong saya mba rere…” tutur bi Asri yang cemas bukan kepalang.
“Ya udah, bi asri kirim alamat rumahnnya, saya ke sana sekarang.”
Tanpa menunggu lama, panggilan pun terputus. Reva bergegas mengambil jaket dan dompetnya dalam keadaan sesadar-sadarnya ia segera mencari ojek online di tengah malam buta.
Seperti naik jetcoster, Reva sampai dengan cepat di depan sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi. Seorang penjaga keamanan membukakan gerbang untuk Reva yang segera masuk tanpa permisi lagi.
Di kamarnya, Kean tengah menangis kesakitan dan bi Asri terlihat bingung. Dengan segera Reva menghampiri anak kecil yang berguling-guling tersebut.
__ADS_1
“Mamihh,, sakit mih... dady sakit....” gumam Kean dengan mata terpejam.
“Kean, ini tante rere nak, mana yang sakit?” ujar Reva sambil meraih tubuh kecil Kean.
“Sakit tante rere, sakit…” rengek Kean yang sudah keringatan menahan sakit. Ia menunjuk perutnya yang sedikit kembung.
“Bi, tolong ambilin air hangat dulu di baskom sama kain buat kompres.”
Tanpa komentar apapun, bi Asri segera pergi untu mengambil yang diminta Reva.
Reva memeriksa perut Kean seadanya. Ia merasa perutnya memang kembung. Di bagian tertentu Kean meringis saat Reva menekan perutnya dengan lembut.
“Kean, Kean denger tante rere ya, kean boboan dulu jangan guling-guling. Kalo guling-guling nanti tambah sakit. Liat nih, tangan tante rere bisa sihir, nanti sakit perut kean hilang.” Bujuk Reva agar Kean bisa tenang.
Kean kecil hanya mengangguk. Ia terbaring lemas dengan titik-titik keringat membasahi wajah dan tubuhnya.
Bi asri sudah datang dengan sebaskom air hangat sesuai permintaan Reva. Reva mulai mengompres perut Kean perlahan lalu melakukan pemijatan di area perutnya seperti biasa ia lakukan saat adik-adik kecil di pantinya sakit perut karena kembung atau salah makan. Kean tampak meringis tapi sepertinya tidak terlalu sakit. Reva menatap Kean dengan hangat sambil tersenyum agar Kean tidak lagi menangis.
“Bi, tadi kean makan ato minum sesuatu gag?” tanya Reva yang mulai bisa mengendalikan situasi.
“Saya kurang tau mba rere. Tadi di rumah sih dia makan kayak biasanya tapi seharian ini den kean main di rumah sebelah jadi saya gag tau dia makan apa aja.” Terang Bi asri dengan kebingungan.
Reva hanya terangguk.
“Kean masih sakit nak?” Reva menatap lekat jagoan pemilik mata kecoklatan itu.
“Sedikit tante rere…” sahutnya yang masih meringis.
Reva membalurkan minyak angin khusus anak ke sekujur tubuh Kean. Perlahan mata bulatnya mulai terpejam, mungkin ia merasa lebih nyaman dan ngantuknya pun segera datang.
“Bi, kak arini kemana, kok saya gag liat?” Reva memberanikan diri untuk bertanya. Sejak awal ia bertemu Adrian, ia selalu penasaran dengan sosok Arini yang tidak pernah di lihatnya.
Bi Asri terlihat kikuk tapi ia tetap mencoba menjawab pertanyaan Reva dengan setengah berbisik.
“Sejak den kean berumur satu tahun, tuan dan nyonya udah gag tinggal serumah. Nyonya lebih memilih tinggal di apartemennya sementara tuan bersama den kean di rumah. Hanya sesekali nyonya menemui den kean. Dan sejak kami pindah ke sini, belum sekalipun nyonya menemui den kean atau tuan. Paling dia cuma nelpon atau video call.”
Mendengar penuturan Bi Asri, hati Reva berdesir. Sesulit ini masalah yang dihadapi oleh malaikat kecil di hadapannya. Reva mengusap kepala Kean yang mulai terlelap, sepertinya rasa sakitnya benar-benar hilang.
Terdengar dering telpon bi Asri dan dengan sigap bi Asri mengangkatnya. Setengah berbisik ia menjawab telponnya.
“Iya tuan, den kean udah baikan. Ini masih sama mba rere…” terang bi Asri pada orang di sebrang sana yang tak lain adalah Adrian.
Adrian menghembuskan nafasnya dengan lega. Jika saja ia tidak berjarak ratusan kilometer dengan sang putra, mungkin ia akan berlari sekencang-kencangnya. Tapi mendengar ada Reva di samping Kean saat ini, ia merasa lebih tenang.
Setelah mendengar kondisi Kean yang membaik, panggilan pun terputus.
“Bi, kean udah di kasih obat demamnya?”
“Udah mba rere, dua jam lalu.”
“Oh tapi ini masih belum turun. Gini aja, bibi tolong matikan ac nya. Dan bibi istirahat saja. Kean biar saya yang urus.” Terang Reva. Ia tau, wanita paruh baya ini sudah sangat kelelahan mengurus Kean seharian di tambah rasa cemas yang muncul tiba-tiba tentu bukanlah hal mudah baginya.
Bi Asri hanya mengangguk, ia pun pamit undur diri.
Reka membuka semua baju Kean dan hanya menyisakan pakaian dalamnya. Ia memeluk Kean dengan erat, sesuai teori ia melakukan skin to skin untuk menurunkan demam Kean. Dalam beberapa saat, ia terlelap bersamaan dengan Kean.
****
__ADS_1