
Suasana riuh terdengar jelas dari tempat diberlangsungkannya pernikahan Raka dan Reva. Rasa haru jelas terasa saat kata “SAH” diucapkan oleh penghulu. Alunan do’a berkumandang mengiringi babak baru perjalanan hidup Raka dan Reva.
Setelah proses akad selesai, Reva dengan diiringi tiga orang ibu dan para sahabatnya melangkah dengan anggun di antara para tetamu yang hadir. Semua berdecak kagum saat melihat sosok cantik yang berbalut kebaya putih dengan riasan yang semakin memancarkan aura kecantikannya.
Reva berjalan dengan gugup. Satu tangannya memegang bunga dan satu tangan lainnya berpegangan pada tangan Nida. Ia tidak bisa membendung perasaan bahagia yang kini mengisi relung hatinya. Dari kejauhan ia melihat sosok Raka yang tengah berdiri menunggunya dengan butiran air mata yang terlihat jelas menetes di pipinya.
Ya, Raka merasa sangat bersyukur. Gadis yang melenggang anggun ke arahnya, kini sudah menjadi miliknya seutuhnya. Nikmat mana lagi yang ia dustakan.
Kini Raka dan Reva berdiri berhadapan. Mereka saling melempar senyum sebagai tanda kebahagiaan yang mengisi hati keduanya. Reva meraih tangan Raka dan mengecupnya dengan lembut, hari ini ia resmi menjadi istri dari seorang Raka Adiyaksa Putra.
Mereka berpesta menyambut dua hati yang kini menjadi satu. Walau ada rasa hampa karena Alea tidak hadir di tengah-tengah mereka tapi ia teringat pesan Alea kala itu.
“Lo pengantinnya, lo gag boleh nangis. Ada ato nggak ada gue di sana, lo harus percaya do’a yang sama akan gue panjatkan buat kebahagian lo sama raka. Jadi, nikmatilah hari lo resmi menjadi milik raka satu-satunya.” Ujar Alea seraya memeluk Reva dengan erat.
Semua tetamu terlarut ikut merasakan kebahagiaan menjadi saksi bagi dua insan yang memulai gerbang baru kehidupannya.
****
Pesta pernikahanpun di gelar. Reva terlihat cantik dengan gaun pengantin berwarna champagne yang terlihat serasi dengan jas yang di pakai Raka. Bunga-bunga pengantin mewangi di seisi ruangan. Alunan musik lembut menambah suasana romantis seisi ball room yang di tata dengan indah.
Para tetamu bergantian memberikan selamat pada kedua mempelai dan mereka tampak begitu menikmati jamuan yang telah di sediakan.
Dikejauhan Reva melihat beberapa orang yang dikenalnya turut hadir. Adalah Intan yang kini berjalan dengan cepat menghampiri Reva.
“Revaaaa… canttikkkk, selamat yaaa mahasiswiku yang cerdas. Ibu do’akan semoga kalian selalu bahagia, sehidup, semati, sesurga.” Tutur Intan dengan tulus. “Raka you look so, eemmmm… hahaha” imbuh intan seraya mengacungkan 2 jempolnya pada Raka.
“Terima kasih bu, sudah meluangkan waktunya untuk hadir…” sahut Reva yang menerima jabatan tangan Intan.
Intan pun dengan semangat berdiri di antara Raka dan Reva lalu mengambil beberapa foto mereka bertiga. Selepas itu, sudah pasti foto Raka dan Reva akan tersebar luas di akun media sosial Intan.
Yang tak kalah mengejutkan pun datang. Adalah sosok Adrian dan Arini yang bergandengan tangan dengan jagoan kecilnya Kean.
“Tante rere…” seru Kean yang segera berlari pada Reva. Reva segera berjongkok dan menyambut Kean ke dalam pelukannya.
“Hay jagoan apa kabar?” sambut Reva seraya mengecup kedua pipi Kean.
“Baik tante.” Sahutnya. “Tante rere cantik, iya kan dady?” lanjut Kean yang membuat suasana menjadi sedikit canggung.
__ADS_1
Adrian hanya tersenyum, tentu saja ia akan di sebut buta kalau menjawab tidak dan pastinya akan semakin canggung saat menjawab iya. Akhirnya hanya senyuman tadi yang menjawab kalimat Kean.
“Selamat ya reva, raka… semoga kalian selalu bahagia.” Ungkap Adrian dengan tulus.
“Terima kasih pak, bu arini..” sahut Reva yang membalas uluran tangan Adrian dan Arini bergantian.
“Boleh saya minta foto yaa… kalian terlihat sangat serasi.” Ujar Arini tanpa bisa di duga.
“Tentu bu…” sahut Reva dengan segera. Ia menyambut hangat cara Arini mencairkan suasana.
Beberapa foto pun di ambil. Pada akhirnya, Adrian benar-benar harus merelakan semuanya termasuk kenangan yang pernah ia ukir bersama Reva. Ya, ia rela. Ia yakin mereka akan semakin bahagia bersama pasangannya masing-masing.
Selepas Adrian pergi, Reva menatap Raka penuh tanya, sementara yang di tatap celingukan tidak jelas.
“Kenapa sayang?” Raka berpura-pura tidak mengerti arti tatapan Reva.
“Kamu yang ngundang ya mas?” tanya Reva yang tentu saja jelas tertuju pada siapa.
Raka hanya tersenyum tipis seraya mengangguk. “Gag cuma dia yang aku undang. Semua yang pernah mengharapkan kamu aku undang. Supaya mereka sadar, sekarang kamu udah jadi milik aku.” Terang Raka yang berbisik di akhir kalimatnya.
“Aku udah gag mau ada laki-laki lain yang memikirkan kamu di imajinasinya. Cukup aku yang memikirkan kamu.” Sambung Raka yang membuat Reva menelan ludahnya kasar-kasar.
Tak berselang lama, Riana datang bersama Jeremy dan tentu saja jagoan kecil mereka, Edgar. Perbincanganpun teralihkan begitu saja.
“Pengantin, selamat yaaa… bahagia selalu…” ujar Riana dengan penuh haru.
“Thanks ri, jer… “ sahut Reva seraya memeluk Riana.
Jeremy begitu bersyukur, akhirnya Reva memilih laki-laki yang tepat. Laki-laki yang kini ia jabat tangannya dengan erat.
“Gue harap lo selalu mencintai dan menyayangi reva.” Ujar Jeremy seraya merangkul Raka.
“Tentu. Makasih untuk selalu menjadi sahabat istri gue yang baik.” Timpal Raka.
Dan tentu saja, orang-orang penting bahkan beberapa kumbang pun menyalami Reva dan Raka. Raka memang sangat ingin menyadarkan siapapun yang pernah mengharapkan istrinya bahwa mulai saat ini Reva adalah miliknya seorang.
*****
__ADS_1
Pesta telah berakhir, semua tetamu dan keluarga telah pulang tanpa terkecuali Reva dan Raka. Namun mereka memilih untuk pulang ke apartemen Raka dan menolak untuk menginap di hotel.
Raka sudah menyulap apartemennya dengan berbagai hiasan khas pengantin. Bunga-bunga di tata dengan indah dan lilin aromateraphy menyala remang-remang. Reva masih dengan gaun pengantinnya, berjalan hati-hati menuju kamar sebelah kamar Raka.
“Mas, aku mandi duluan ya, gag enak banget badan lengket.” Keluh Reva yang membuat Raka terpaku. “Kenapa mas, kok malah ngelamun sih?” imbuh Reva sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Raka.
“Kenapa kamu masuk ke kamar itu? Kan kamar pengantinnya di sini.” Tunjuk Raka pada kamar yang sudah ia hias dengan indah.
Reva menggaruk kepalanya walau tidak gatal. “Hehehe… sayang banget kamarnya udah di hias pake bunga gitu. Aku gag tega nidurinnya.” Ungkap Reva dengan wajah polosnya.
Dalam seketika tawa Raka terdengar nyaring. “Sayang, kamar itu kan emang buat kamu. Jangan-jangan kamu gag mau nginep di hotel juga gara-gara di kasurnya banyak bunga?” terka Raka dan ternyata tepat, Reva mengangguk.
“Mas coba kamu pikirin berapa lama pak soleh menanam bunga itu dengan hati-hati tapi ujung-ujungnya kita injek-injek dan kita buang. Sayang banget…” ungkap Reva
“Astaga, siapa lagi pak soleh?” gumam Raka seraya mengguyar rambutnya dengan tawa tertahan. Ia memegangi kedua bahu Reva dan menatapnya dengan lekat. “Sayang, kita udah beli bunganya. Pak soleh juga udah ikhlas bunganya kita pake. Bukannya dia bakal lebih sedih kalau bunganya kering gitu aja tanpa bermanfaat apa-apa?” terang Raka yang membuat Reva tertunduk.
Reva tak bergeming sedikitpun, membuat Raka semakin bingung.
“Gini deh, biar kamu tenang, nanti aku minta tolong ibu buat minta izin ke pak soleh supaya dia ikhlasin bungannya keinjek sama kamu atau nanti kita buang kalo kamu bersih-bersih kamar, okey?” Raka berusaha meyakinkan istrinya yang begitu menggemaskan.
Reva terangguk, lalu masuk ke kamar Raka sambil berjinjit agar tidak menginjak bunga yang berserakan dengan indah sebenarnya.
Raka hanya bisa menggelengkan kepala. Istrinya benar-benar unik.
Reva meraih handuk yang sudah di siapkan di atas tempat tidur. Ia masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat.
“Astaga, pak soleh maaf yaaa…” ujar Reva saat melihat bath tube yang juga terisi penuh kelopak bunga.
Ia segera membuka gaun pengantinnya dan menggantungnya di hanger. Ia mengumpulkan kelopak bunga tersebut dan dan menaruhnya di atass wastafel. Ia tidak bisa membayangkan kalau kelopak bunga itu nanti akan menempel di tubuhnya.
Selesai dengan urusan bunga, ia mulai merendam tubuhnya di bath tube. Ia begitu menikmati wewangian yang bercampur dengan busa sabunnya. Samar-samar ia mendengar Raka yang sepertinya sedang bertelpon dengan seseorang. Nama pak Solehpun di sebutnya. Ia yakin Raka sedang meminta izin. Tapi Reva tidak tau kalau Ratna dan Nida tertawa kencang mendengar cerita Raka. Merekapun tidak habis pikir.
****
Pak soleh, mohon izin yaaa ;P
__ADS_1