Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 60


__ADS_3

Suasana makan siang terasa sangat hangat. Selain menu makanan yang melimpah dan lezat, kehadiran Reva telah menambah keceriaan di antara mereka.


“Waduhh, perutku bisa meledak nih kekenyangan gini.” Ungkap Edho seraya mengusap perutnya yang terasa penuh.


“Jangankan kamu dho, seumur hidup rasanya baru ini makan siang paling nikmat.” Timpal Indra yang ikut menyandarkan tubuhnya ke kursi makannya.


“Makanya kamu cepet nikah dho, biar tiap hari ada yang masakin ada yang ngurusin. Lagian kamu udah mau kepala 3 kan?” nasihat Nida terasa seperti irisan pisau yang menyayat hati Edho. Kalau bukan di tanya kapan nikah yang pernyataan seperti ini yang membuat kaum jomblo berumur merasa ngilu.


“Yah, tante jangan turunin pasaran edho depan anak gadis dong.” Cetus Edho seraya melirik Reva.


Nida dan Indra ikut melirik Reva yang tengah asyik menghabiskan sisa supnya.


“Reva sama edho?” tanya Nida menggantung.


Reva yang namanya di sebut, segera mengakhiri kegiatannya. Kali ini semua pandangan tertuju padanya.


“Heheh, nggak kok tan. Edho itu udah punya gebetan. Kalo reva cuma temanan aja sama edho.” Terang Reva yang terlihat salah tingkah.


Mulut Indra dan Nida sama-sama membentuk huruf O tanpa suara. Edho menyentuh tengkuknya yang sedikit merinding mendengar ucapan Reva. Reva benar-benar tidak menyadari setiap perhatian yang Edho berikan padanya.


“Re, kak edho tuh suka sama lo, Cuma dia gag berani ngomong!” ujar Alea tiba-tiiba membuat jantung Edho melorot begitu saja ke dasar perutnya.


“Astaga lea, mulut lo yaa…”


Edho berusaha menarik tangan Alea namun secepat mungkin Alea berlari ke belakang Nida.


“Wleek gag kenaa!!!” ledek Alea dengan girang. “Ya udah sih kak , lo ngomong aja mumpung ada mamih sama papih. Noh bilang sama Reva kalo lo beneran suka. Jangan cuma kode-kode doang, cowok aja gag suka di kodein doang apalagi cewek iya kan re?” lanjut Alea dengan senyum penuh kemenangan.


“Astaga aleaaaaa….”


Edho benar-benar frustrasi , Alea sudah membongkar semuanya. Dan Reva wajahnya tampak memerah menahan malu. Ia tahu benar perasaan malu Edho saat ini.


“Udah dong alea sayang, kasian edho… Emang kamu mau kalo nanti kamu balas di kerjain sama edho?” lerai Nida dengan lembut.


Alea hanya menggelengkan kepala. Ia duduk dengan patuh di samping Nida dan mata yang waspada kalau sewaktu-waktu Edho membalasnya.


“Ngomong-ngomong, gimana kabar Raka? Mamih udah lama gag ketemu dia…” tanya Nida tiba-tiba.

__ADS_1


Jantung Reva berdetak dengan cepat secara tiba-tiba, saat ia mendengar Nida menyebut nama laki-laki yang dicintainya.


“Dia lagi sibuk mih. Lea beberapa kali ngajak raka jalan, alesannya selalu aja sibuk. Dia juga dingin banget lagi sama lea padahal dia tau kalo lea suka.” Tutur Alea tanpa ragu.


“Uhuk-uhuk!” Reva tersedak ludahnya sendiri saat mendengar kata Alea menyukai Raka.


Dengan cepat Edho memberikan Reva segelas air dan Reva meneguknya hingga tandas. Pandangan yang tertuju pada Reva kini, ia sambut dengan senyuman tipisnya.


Alea bermanja di lengan Nida dan Nida mengusap rambutnya dengan lembut. Ada perasaan tidak menentu di hati Reva saat melihat kedekatan Nida dan Alea. Iapun merindukan hal yang sama dengan yang dilakukan ibunya saat ia pulang.


****


Warna langit jakarta mulai menguning. Reva segera pamit pulang walau dari tadi Nida terus melarangnya dan memintanya untuk menginap. Dengan alasan harus menghadiri pernikahan sahabatnya akhirnya dengan berat hati Nida mengizinkan Reva pulang asalkan Reva mau berjanji kelak ia akan sering main ke rumah ini.


Dalam perjalanan pulang, Edho terlihat salah tingkah. Ia tidak nyaman dengan posisi duduknya.


“Re, soal omongan alea tadi, gue….”


Suara Edho membuat Reva menolehkan wajahnya. Mata mereka kini saling bertatapan dan Edho memalingkan wajahnya terlebih dahulu.


“Kalo lo ngerasa gag nyaman, lo bisa anggap gue gag denger apa-apa ko dho…” ujar Reva dengan lengkungan senyum di bibirnya.


“Tapi yang alea omongin emang bener. Cewek yang gue suka itu lo.” Tegas Edho tanpa mengalihkan pandangannya.


Reva hanya terpaku, ia tidak tau harus merespon seperti apa ucapan Edho.


“Lo gag perlu jawab sekarang. Tapi lo harus tau, seperti yang gue bilang, gue bakal ngejar lo re…” ujar Edho dengan penuh keyakinan.


Nafas Reva terasa tercekat. Sejenak ia menoleh Edho lalu menunduk menatap jemarinya yang saling bercengkraman. Ia harus memberikan kepastian, ia tidak ingin Edho mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin ia berikan, yaitu hatinya.


“Dho, gue jatuh cinta sama seseorang dan sekarang gue lagi ngejalanin hubungan sama dia. Gue harap, lo bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari gue.” Tutur Reva dengan tatapan penuh keyakinan pada Edho.


Edho hanya terdiam. Ia masih belum bisa menerima penolakan Reva. Tapi dalam hatinya ia yakin, akan selalu ada kesempatan untuknya mengejar Reva.


****


Di bawah lampu malam yang menyala dengan terang, menerangi seisi ruangan rumah Riana yang sudah di tata dengan indah, mereka duduk bersama-sama mengamini setiap do’a yang dilantunkan oleh seorang pemuka agama.

__ADS_1


Suasana haru menyelimuti hati mereka dengan beberapa isakan penuh kebahagiaan dari Ibu Riana dan keluarga yang turut berbahagia atas pernikahan putri bungsunya. Mereka saling berangkulan melepas setiap kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.


“Ri, selamat yaa… Akhirnya lo bisa sama-sama dengan orang yang lo cinta. Inget, setelah ini gue harap gue akan selalu mendengar kabar-kabar bahagia lainnya dari lo sama jeremy.” Ungkap Reva dengan tulus.


Reva melepaskan pelukannya, mengusap air mata yang menetes di pipi Riana.


“Makasih re, gue bahagia banget. Dan lo juga harus bahagia, lebih bahagia dari gue rasain sekarang.” Sahut Riana yang masih terisak.


“Heemm… udah dong. Yang mulia jangan menangis lagi. Lihatlah, ini eyerliner akan berubah menjadi laut hitam yang mengalir disini kalau yang mulia tidak berhenti menangis.” Ejek Reva yang kembali mengusap air mata di sudut mata Riana.


“Baik Nona, tolong usap dengan lembut. Jangan sampe make up saya rusak.”


“Tentu yang mulia…”


Keduanya terkekeh geli mendengar jawaban masing-masing tak terkecuali Jeremy dan Raka. Selesai dengan dramanya, perhatian Reva beralih pada Jeremy. Laki-laki yang dulu mengejarnya dan kini akan ia percaya untuk menjaga satu-satunya sahabat baiknya.


“Jer, gue nitip riana sama lo yaa… kalo anak lo kan gag mungkin lo sakitin tapi kalo riana sampe kenapa-napa, lo yang gue cari. Jangan bengal lagi lo jer, urus keluarga lo yang bener dan inget bentar lagi lo jadi bapak.” Ujar Reva dengan santai, membuat Raka tidak tahan ingin tertawa mendengar ucapannya. Ternyata pacarnya sepreman itu.


“Ah elah, iya preman pasar cipanas, gue pasti jaga anak sama bini gue baik-baik. Ada do’a gag buat gue, jangan cuma ngomel doang.”


“Ada dong, do’a gue cukup gue dan yang di atas yang tau. Lo berdua harus hidup bahagia okey…” tukas Reva yang membuat kedua sahabat dan kekasihnya menggeleng tidak percaya.


“Aaminn re, makasih banyak….” Tutur Riana.


Inilah Reva yang sering tidak bisa ia tebak. Tapi untuk saat ini, Ia sengaja berbicara seperti ini agar tidak ada lagi tetesan air mata di malam pernikahan Riana dan Jeremy. Kebahagiaan Riana dan Jeremy selalu menjadi salah satu do’a Reva karena keduanya adalah orang-orang berarti dalam hidup Reva. Sepulang dari sini, mungkin ia akan menangis sendirian karena rasa haru yang ia coba sembunyikan.


“Okey, sekarang kita foto dulu yaa…” Jeremy mengacungkan tangannya ke arah fotographer dan memintanya untuk mengambil beberapa foto bersama Reva dan Raka.


Berbagai pose diarahkan oleh foto grapher, Reva yang kaku terkadang membuat Riana gemas sendiri. Setelah cukup puas dengan foto-foto yang di ambilnya, ia memberikan kesempatan pada tamu lain untuk memberikan selamat dan do’a.


Disinilah Reva saat ini, berdiri di kejauhan melihat Riana dan jeremy yang tengah tersenyum bahagia. Riana tampak cantik dengan gaun pernikahannya dan Jeremy tanpak gagah dengan tuxedonya. Ia bisa bernafas lega, karena Riana kini telah memulai hidup barunya dengan penuh kebahagiaan.


Raka yang berdiri di samping Reva dan mengenggam tangannya dengan erat. Ia bisa melihat Reva yang tersenyum bahagia. Raka ikut memandangi pasangan pengantin di hadapannya, pikirannya untuk merasakan kebahagian yang kini di rasakan Jeremy muncul begitu saja.


“Kak raka…” Raka merasakan sebuah tangan kecil menggenggam jemarinya dan suara yang tidak asing terdengar di telinganya. Raka menoleh, ia merasa melihat bayangan Lana berdiri di sampingnya menatap pasangan pengantin itu. “Nanti kalo kak Raka nikah, kak raka gag akan lupa sama Lana kan?” lanjut gadis kecil tersebut dalam imajinasi Raka.


Raka terhenyak. Ia merasa tidak asing dengan situasi saat ini. Saat mengedipkan matanya, bayangan Lanapun menghilang dari hadapannya. Ia teringat, kata-kata itu pernah dilontarkan Lana saat menghadiri pesta pernikahan salah satu putri kolega Wira. Sudah sangat lama, tapi Raka masih mengingatnya. Ya, semua tentang Lana, akan selalu ia ingat karena hanya dengan mengenang Lana, ia bisa melanjutkan hidupnya hingga saat ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2