
Raka memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menyusul ambulance yang membawa Reva. Pikirannya kalut dan rasanya ia seperti kesetanan melajukan mobilnya tanpa memikirkan sama sekali keselamatannya. Yang terpikir dalam benaknya, Reva harus baik-baik saja dan Reva harus selamat.
“MINGGIR B***K!!!!” teriak Raka saat salah satu mobil mengabaikan lampu hazard dan klaksonnya.
Fery ikut gusar melihat pemandangan di depannya. Mobil yang membawa Indra dan Wira pun berlarian mengejar waktu yang semakin sempit bagi Reva.
Tepat di depan UGD beberapa petugas medis segera menurunkan Reva dari ambulance dan membawanya masuk. Mereka terus memberikan nafas bantuan dari sebuah amoebag yang menutupi mulut dan hidung Reva, mereka berlari secepat mungkin.
Ruangan bernama triage itu tampak sibuk. Mereka memasangkan segala alat ke tubuh Reva yang masih belum memberikan respon apapun.
Raka bisa melihat dengan jelas, kekasihnya tengah berjuang antara hidup dan mati. Dari pintu kaca itu, ia membayangkan sakit yang tidak terperi tengah di tanggung Reva. Raka mengacak rambutnya frustasi sementara kedua orang tua Reva dan dirinya hanya terdiam di bangku tunggu rumah sakit dengan sekelumit perasaan yang tidak bisa mereka jelaskan. Mereka terisak dalam tangis yang dalam. Bayangan tentang hal buruk bertebaran mengisi rongga kepala mereka.
Wira dengan sisa detak jantungnya ia berusaha menguatkan dirinya sendiri. Untuk alasan apapun ia harus kuat demi melihat kembali putri kesayangannya.
“Aaarrggghhh!!!” Raka berteriak kesal memukul tembokan rumah sakit menumpahkan semua kekesalannya. Ia sangat takut, ya ia takut jika ternyata Reva pergi meninggalkannya.
Dengan langkah gontai, Fery mencoba menghampiri Raka. Ia menepuk-nepuk bahu Raka, berusaha menenangkan Raka padahal dirinya sendiri tak karuan.
Di kejauhan, ia pun melihat Alea yang terduduk sendirian memandangi tangannya yang berlumuran darah. Ada rasa iba dalam diri Fery namun lebih besar rasa sakit melihat penderitaan jiwa Alea.
****
Para dokter terus berusaha menyelamatkan nyawa Reva yang kehilangan banyak darah. Berbagai tindakan terbaik mereka lakukan. Setelah lebih dari 2 jam di ruang tindakan, akhirnya mereka menemui keluarga Reva.
Terdengar helaan nafas panjang dari dokter bernama Wisnu tersebut. Ia membuka maskernya dan raut wajah yang tak bisa dijelaskan itu kini tengah menatap Raka.
“Pasien masih bertahan, hanya saja ia kehilangan banyak darah dan tubuhnya diipenuhi luka. Dan pasien juga menderita cedera kepala ringan. Sementara tidak perlu dilakukan operasi untuk kepalanya. Kita akan menunggu respon pasien, dan saat ini masih dalam pengaruh obat yang kami berikan. Semoga besok pasien bisa sadarkan diri.” Terang Wisnu seraya mengangguk untuk pamit.
__ADS_1
“Terima kasih dok..” hanya itu yang bisa Raka ucapkan selain rasa syukur yang teramat dalam di hatinya.
Menjelang tengah malam, Reva di bawa ke ruang ICU untuk memantau kondisinya. Kekhawatiran adanya perdarahan di kepala menjadi alasan kondisi kesehatan Reva harus di pantau dengan ketat. Bagaimanapun pukulan di kepalanya sangat keras dan bisa menjadi ancaman bagi keselamatan Reva.
“PLAK!!!!” sebuah tamparan terdengar jelas oleh Raka dan Fery.
Adalah Indra yang kini tengah menatap tajam sang putri dengan mata berapi-api. Dengan ketakutan, Alea telah mengakui semua perbuatannya. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa sakit. Ia masih bisa berdiri tegak sudah lebih dari cukup untuk Alea. Ia siap menerima semua konsekuensi dari semua perbuatannya.
“Apa yang ada dipikiran kamu Alea?! Apa kamu tidak punya perasaan sedikitpun di hati kamu?!” teriak Indra yang seolah tidak peduli pada tatapan para penunggu pasien yang tengah memandanginya.
Alea berusaha mengangkat wajahnya menatap laki-laki yang ada di hadapannya.
“Apa sekarang papih mulai peduli dengan pikiran dan perasaan aku? Apa papih mulai sadar kalau aku bukan hanya manusia yang hidup dengan otak tapi juga memiliki hati? Apa papih tau kalau aku merasa selama ini papih gag pernah memikirkan perasaan aku?”
Indra hanya terpaku mendengar pertanyaan Alea. Bibirnya kelu saat akan menjawab pertanyaan putri sulungnya.
Kalimat Alea kali ini seolah menjadi tamparan keras bagi Indra. Ia tidak pernah menyangka, putri yang selalu ia banggakan akan menderita sakit batin yang begitu dalam.
Tak ada yang salah dengan keinginan Indra, ia hanya ingin putrinya menjadi anak yang sukses, mandiri dan bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Kesalahannya adalah, ia tidak pernah bertanya apa putrinya sanggup untuk mengikuti semua keinginan Indra.
Alea jatuh terduduk. Setelah mengatakan semua perasaannya rasanya sebagian bebannya hilang. Sudah tidak ada alasan baginya untuk menentang apapun di kemudian hari. Keinginannya hanya satu, bisa hidup seperti Lana, yang bebas tertawa, bercerita, bermain dan di sayangi banyak orang.
Tapi semua tidak pernah bisa terulang. Menyesalpun tidak ada artinya. Ia hanya bisa berharap kelak saat Lana terbangun, ia masih punya keberanian untuk menatapnya.
****
Pagi menjelang namun tidak ada bedanya dengan kondisi semalam. Raka masih belum bisa memejamkan mata ia terus berdiri dari jendela kaca dan memandangi sang kekasih yang masih enggan untuk terbangun.
__ADS_1
Dokter Wisnu datang untuk melakukan pemeriksaan pagi, ia hanya mengangguk saat berpapasan dengan Raka. Suster di sampingnya terus mencatat dan memberikan laporan perkembangan kondisi kesehatan Reva. Ia meminta Raka untuk masuk agar bisa menjelaskan kondisi terbaru Reva.
Raka berdiri di samping dokter Wisnu memandangi Reva yang masih tertidur dengan wajah pucatnya. Tetesan darah itu telah berganti tetesan infus biasa namun kondisi Reva masih terlihat sama.
Raka meraih tangan Reva yang terasa sangat dingin dan menggenggamnya dengan erat. Ia tidak lagi merasakan kehangatan sentuhan tangan Reva saat jemarinya saling bertautan.
Batin Raka menjerit, entah pada siapa ia harus menumpahkan kemarahannya.
“Pak Raka, “ suara dokter Wisnu mulai mengembalikan Raka dari lamunannya. “Kondisi pasien sudah lebih membaik. Kondisi luka-luka pun tidak mengalami infeksi. Hanya saja hingga saat ini pasien masih belum sadarkan diri.” Dokter Wisnu menjeda kalimatnya dengan mengarahkan monitor pada Raka. “Dari sini kita bisa melihat, kondisi tanda-tanda vital pasien tidak stabil namun ini bukan di karena kondisi fisiologisnya tapi lebih pada kondisi psikologisnya. Ibaratnya, pasien seperti terjebak dalam mimpinya dan mengalami ketakutan. Hal ini bisa di lihat dari tekanan darah dan detak jantung yang terus berubah. Saya sarankan, dekatkan dia dengan orang-orang yang bisa menenangkannya. Sering-sering panggil namanya dan pastikan ia merasa tenang.” Terang dokter Wisnu dengan gamblang.
Raka terangguk paham. Ia mulai memikirkan cara terbaik untuk kesembuhan Reva.
Sepeninggal dokter Wisnu, Raka meminta waktu untuk menemani Reva. Ia ingin selalu berada di samping Reva melewati masa tersulitnya. Raka menahan semua tangis di dadanya, ia harus kuat demi kesembuhan Reva. Raka meraih tangan Reva lalu menggenggamnya dengan erat, seperti biasa ia lakukan.
“Selamat pagi sayang….” Sapa Raka seraya mengecup lembut tangan Reva. “Seperti biasa kamu selalu terlihat cantik bahkan saat tertidur.” Tangan Raka mengusap lembut pipi Reva yang tidak tertutup masker oksigen. “Kamu tau sayang, aku ingin sekali mengajak kamu jalan-jalan lagi ke taman seperti tempo hari. Kita duduk-duduk di sana menikmati udara malam, makan jagung bakar dan tertawa melihat tingkah anak-anak kecil itu. Aku merindukanmu sayang… bangunlah…”
Detik ini, Raka tidak bisa menahan laju air matanya. Ia menekan sudut matanya agar tangisnya tidak pecah. Tapi ia hanya manusia biasa yang bisa merasakan sakit saat melihat orang yang begitu di sayanginya menderita.
Bayangan Reva datang silih berganti di rongga kepalanya. Dadanya benar-benar sesak menahan kesedihan yang mengisi batinnya. Bagaimana bisa ia kembali membiarkan Reva terluka. Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada separuh jiwanya.
Diluar jendela, ada 2 orang ibu yang sedang berangkulan menahan isak dan sesak di dadanya. Andai saja bisa, mereka bersedia menggantikan kesakitan yang saat ini dihadapi Reva.
****
Hay reaader yang budiman, kok aku nulisnya sambil nyesek yaaa...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan jadikan favorit yaa... Terima kasih semuanyaa...