
“Kerja yang bagus.” Seseorang menepuk bahu Raka yang sedang serius menatap layar komputernya.
“Papah..” Raka segera berbalik saat menyadari Wira yang berdiri di sampingnya.
“Lanjutkan pekerjaanmu, papah cuma datang buat berkunjung.” Tutur Wira seraya melihat-lihat ruangan kerjanya yang sudah banyak perubahan.
Selera Raka dan dirinya memang berbeda. Namun perubahan saat ini, Wira pun menyukainya.
“Papah bukannya jadwal konsul dokter hari ini?”
“Iya, ini papah pulang dari rumah sakit dan mampir sebentar ke sini. Gimana, semuanya lancar?”
Wira membuka berkas-berkas yang ada di meja kerja Raka.
“Semuanya lancar pah, berkat bimbingan om rudy.”
“Lalu kapan papah boleh memperkenalkan kamu ke semua pekerja di sini?”
Wira duduk di hadapan Raka dan menatapnya dengan serius. Raka menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah.
“Tunggu Raka benar-benar mampu mimpin perusahaan ini ya pah. Lagi pula, tesis Raka belum selesai, harus selesai dulu baru bisa tenang.” Terang Raka seraya menerawang memandangi langit-langit ruangannya yang luas.
“Okey... Tapi ingat, papah gag bisa nunggu lama-lama.”
Wira menepuk bahu Raka dan berlalu meninggalkan ruangan tempatnya dulu memimpin Adiyaksa Corp. Raka hanya terangguk, kepalanya terasa pening mempelajari semua tentang perusahannya yang saat ini banyak kemunduran sejak di serahkan ke manajemen profesional.
Wira memang tidak semuda dulu, kondisi kesehatannya pun terganggu. Saat Raka melihat lebih dalam kondisi perusahaannya, ternyata banyak sekali tertinggal di banding perusahaan lain. Manajemen hanya menjalankan roda perusahaan seadanya tanpa ada pembaharuan apapun untuk mengembangkan perusahaannya. Itulah yang selama ini mengganggu pikiran Raka. Tidak mungkin ia membiarkan perusahaan yang susah payah didirikan oleh mendiang kakeknya, hancur begitu saja.
****
Lembayung sore mulai menghibar membuat langit berwarna jingga. Sebagian rekan kerja Reva sudah pulang lebih dulu dan pekerjaan Revapun hampir selesai. Ia melihat komputer di meja Raka masih menyala tapi sejak tadi Raka tidak pernah kembali ke mejanya.
Reva mengambil selembar kertas sticky note dan mulai menuliskan sesuatu di sana.
“Gue pulang duluan.” Tulis Reva yang ia tempel di pinggir monitor Raka.
Reva pun melihat handphonenya, tidak ada pesan satupun dari Raka. Hanya beberapa pesan dari para kumbang yang mengajaknya bertemu, namun Reva mengabaikannya. Reva menghembuskan nafasnya dengan kasar, lelah sekali hari ini bagi Reva dengan setumpuk tugas yang baru ia selesaikan.
Reva membereskan meja kerjanya dan bergegas pulang. Ia memandangi meja kerja Raka yang tetap rapi dan sesaat kemudian ia memutuskan untuk pulang.
Di halte yang tidak jauh dari kantornya Reva menunggu bis kota yang akan mengantarnya pulang. Ia segera berdiri saat bis berwarna biru itu berhenti di hadapannya. Penumpangnya cukup banyak, namun syukurlah ia masih bisa duduk. Untuk mengusir rasa sepinya, Reva memakai headset dan memutar kembali banyolan Raditya Dika.
Sementara telinga terisi suara Raditya Dika, pikiran Reva menerawang entah kemana. Ia menoleh kursi kosong di sampingnya lalu tersenyum. Entah mengapa ia merasakan sepi padahal biasanyapun ia sendiri. Pikirannya kembali mengingat Raka yang tadi ia tinggalkan dan tiba-tiba kepalanya terasa sakit.
“Haiisshh.. pusing banget sih..” gumam Reva seraya memegangi kepalanya.
Ia mengambil air di dalam tasnya lalu meneguknya beberapa kali. Terasa lebih segar dan sedikit mengurangi rasa pusingnya.
****
Bis berhenti tepat di depan kostan Reva. Ia segera masuk dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Ia terlentang di atas kasur dengan sepatu yang masih membungkus kakinya.
__ADS_1
“Aduh lemes banget sih...” keluh Reva yang berusaha menegakkan tubuhnya.
Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan lalu memijit bahunya yang terasa pegal. Tak lama, ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tidak banyak waktu yang Reva gunakan untuk membersihkan tubuhnya. Sebuah piyama membungkus tubuh Reva yang ramping, rambut basahnya digulung di dalam handuk. Ia duduk bersila di depan meja rias sekaligus meja kerjanya, wajahnya benar-benar terlihat lelah.
Reva memandangi wajahnya yang terpantul di cermin dalam sekejap bayangan Raka muncul di hadapannya. Entah mengapa ia merasa begitu kehilangan Raka hari ini. Reva menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir Raka dari pikirannya.
“Terus lo ngobrolin apa, kok sampe gag tau tentang dia?”
Pertanyaan Tita siang tadi kembali berputar di kepala Reva. Ya, apa yang mereka bicarakan saat berdua? Reva mulai menyadari, kali ini ia lebih banyak bercerita dan malah tidak tau apa-apa tentang lawan bicaranya. Yang ada dipikiran Reva saat ini, Raka selalu ada di sampingnya belakangan ini, tapi tentang Raka, tidak ada satupun yang ia tau selain sebagai mahasiswa pindahan dari luar negri.
“Gue kok jadi kayak gini?!! Kenapa gue harus mikirin si Raka? Kenapa juga gue harus ngerasa kehilangan?”
Reva merutuki dirinya sendiri sambil mengacak rambutnya yang setengah kering. Ia merasa benar-benar tidak mengenali dirinya sendiri.
****
Larut malam, Raka baru sampai di apartemennya. Badannya terasa remuk redam. Ia melemparkan jaketnya sembarang dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Wajahnya menegadah dengan mata terpejam. Berapa berat hari yang ia lewati.
Raka mengambil segelas air dari lemari es. Jakunnya bergerak naik turun saat aliran dingin air membasuh tenggorokannya. Badannya sudah benar-benar minta istirahat. Dengan langkah gontai, ia pergi ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Matanya menatap foto yang ada di hadapannya. Foto ia bersama seorang gadis kecil yang biasa ia panggil Lana.
“Hay, gimana kabar kamu hari ini?” tutur Raka yang mulai bangkit dan berdiri menghadap foto tersebut. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman penuh arti.
Entah sudah berapa lama ia tidak berbincang dengan gadis berponi yang selalu ia rindukan.
“Kak Rakaaa.... Kakak udah pulang?!” seru Lana yang menyambutnya di depan pintu.
“Lana nunggu kakak pulang. Kata mamah kak Raka pulangnya agak malem jadi Lana tungguin.” Sahut gadis itu dengan senyuman lebar yang memperlihatkan gigi ompongnya.
“Ya udah, ayo kita masuk! Kakak udah laper, mau makan.” Tutur Raka seraya menarik tangan Lana.
“Okey, ayo kita makan. Hari ini Lana masak bareng mamah loh.” Seru Lana yang meloncat-loncat kecil menuju meja makan dengan girangnya.
“Oh ya, ayo kita coba makananya.” Sahut Raka.
Keduanya mulai duduk di meja makan. Raka dan Lana membalik piringnya dengan semangat.
“Kak Raka mau makan sama apa?”
“Ini, ini dan itu.” Raka menunjuki makanan yang dipilihnya.
“Okey!”
Dengan semangat Lana mengambilkan makanan yang dipilih Raka. Raka mulai melahap makananya dengan cepat. Sementara Lana hanya memandanginya.
“Lana gag makan?” perhatian Raka beralih pada gadis kecil yang sedang memandanginya sambil tersenyum. Kali ini ia mengangguk. “Mau ayam goreng?” Raka menyuapkan ayam goreng miliknya pada Lana.
“Apapun, yang penting pake nasi.” Tukas Lana. Raka hanya tersenyum. Ia menyuapi Lana dengan senang hati.
Sejenak pikirannya melayang pada sosok Reva. Ia menggaruk kepalanya walau tidak gatal. Jantungnya berdebar tidak menentu.
__ADS_1
****
“Ting tong!”
Lamunan Raka buyar seketika saat terdengar bunyi bell apartemennya. Dengan malas ia membukakan pintu untuk tamunya.
“Yo bro!” seru Fery dengan senyum jenakanya.
Raka tidak menjawabnya, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa.
“Kenapa lo kusut banget?”
Fery duduk di sebrang Raka dan mengambil beberapa kacang polong dari dalam toples.
“Pusing gue!” dengus Raka sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
“Kerjaan?”
“Hem.. Kondisi perusahaan gag terlalu bagus. Gue sama bokap lo mulai kewalahan. Harus nyari investor buat beberapa proyek.” Terang Raka sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa penat.
“Iya, bokap gue juga bilang, kalo beberapa proyek cluster perumahan harus mulai di jalanin, soalnya yang minat lumayan banyak.”
Terlihat senyum tipis di bibir Raka saat mendengar cluster perumahan.
“Kenapa lo senyum-senyum?”
“Itu kerja kerasnya Reva. Dia berhasil masarin 8 rumah di cluster 1 dan 13 rumah di cluster 2.” Kenang Raka sambil tersenyum.
“Sumpah lo? Gila keren banget!” seru Ferry dengan mata membulat.
“Lo tau, dia nawarin rumah udah kayak nawarin makanan. Seolah dia tau banget rasa tuh makanan, cocok nya di kasih apa, buat siapa , pokoknya lengkap. Gag pernah gue bayangin sebelumnya dia bisa kayak gitu. Cara ngomongnya, beeeuhhh... menarik banget” Terang Raka dengan bangga.
Fery ikut tersenyum. Baru kali ini Raka begitu antusias menceritakan seorang wanita.
“Lo, bener-bener ada rasa sama dia?” tanya Fery tiba-tiba. Raka hanya menoleh, kemudian terdiam. “Gue tau, gag ada cewek yang bisa bikin lo seseneng ini selain, Lana. Tapi lo juga keliatan seneng kalo ngebahas Reva.” Tutur Fery dengan senyum simpul.
Raka hanya terdiam, pertanyaan Fery terasa begitu menggelitik hatinya.
“Nyokap lo nelpon gue. Dia minta tolong gue nyari toko emas yang mungkin nerima seseorang ngejual ini.”
Fery memperlihatkan selembar foto. Raka melirik foto tersebut. Raut wajahnya berubah seketika saat melihat foto sebuah cincin dengan batu ruby di tengahnya. Ia mengenal betul cincin itu milik siapa.
“Lo nemuin orangnya?” tanya Raka dengan segera.
Fery mengangguk. “Yang jual seorang pemulung sekitar 15 tahun lalu. Tapi gue cari ke rumahnya, beliau udah meninggal” terang Fery dengan penuh sesal.
Raka menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia memandangi foto dan jemari kecil tempat cincin itu tersemat.
“Udah beberapa hari ini, nyokap gue sering ngelamun sendirian sambil ngeliatin foto Lana. Kadang dia juga sampe nangis. Gue pikir, mungkin dia lagi kangen sama Lana tapi gue gag nyangka kalo dia masih berharap Lana masih hidup.” Ujar Raka dengan suara berat.
“Nyokap lo bilang, dia akan selalu nganggap Lana masih hidup, sebelum dia berhasil nemuin jasad atau nisannya Lana.” Terang Fery dengan penuh penekanan.
Raka hanya tertunduk. Kepergian gadis yang begitu di sayangi Niken, ternyata tidak bisa mereka lupakan begitu saja. Kepergian Lana benar-benar mengubah hidup mereka.
__ADS_1
****