
Menjelang dini hari, Reva tidur dengan tidak nyenyak. Tubuhnya berkeringat dan wajahnya terlihat ketakutan. Tangannya mencengkram kuat selimut yang menutup setengah tubuhnya.
Dalam mimpinya, ia melihat seorang gadis tengah berjalan di bawah guyuran hujan. Kedua tangannya memeluk tubuhnya menggigil kedinginan. Wajahnya pucat pasi dan ia berjalan tidak tentu arah. Sebagian tubuhnya penuh luka dan ia coba tahan dengan sesekali meringis.
Kedua kakinya terasa berat, entah sudah seberapa sejauh mana ia berjalan. Karena sudah tidak kuat lagi berjalan, ia jatuh terkulai tak sadarkan diri.
“Neng... bangun neng...” suara seorang wanita berbisik merdu di telinga gadis tersebut.
Matanya mengerjap dan perlahan terbuka. Ia merasa asing dengan semua yang dilihatnya. Seorang wanita paruh baya, duduk di hadapannya dan tersenyum lebar saat melihat gadis itu terbangun.
“Ibu!!!!” teriak Reva yang terjaga dari tidurnya.
Ia terduduk dengan suara nafas yang terengah-engah. Lagi-lagi, mimpi yang sama kembali terulang belakangan ini. Reva mengusap rambutnya yang basah karena keringat. Matanya yang bulat menatap sekeliling dengan raut wajah penuh ketakutan. Reva membenamkan kepalanya di sela kedua lututnya dengan dada yang berdebar sangat kencang. Ia memeluk kedua lututnya dengan erat.
Cukup lama ia terdiam sampai akhirnya kembali tersadar. Ia meraih segelas air yang berada di atas meja dekat tempat tidurnya. Ia meneguknya hingga tandas.
Diliriknya jam tertempel di dinding, baru jam setengah 4 pagi. Reva memilih untuk bangun dan membersihkan dirinya dan bersiap menunaikan ibadah sunahnya.
Setelah menunaikan solat malamnya, perasaan Reva selalu merasa lebih tenang. Ia mulai menyiapkan keperluanya untuk bekerja sekaligus menyiapkan makanan untuk ia sarapan.
Sambil menunggu pagi, Reva membuka laptopnya dan mengecek email balasan dari dosen pembimbingnya. Segelas susu hangat menemani Reva memperbaiki skripsinya yang sudah di koreksi oleh Prof Armand. Ia kembali terlarut dalam kesibukannya, hingga sesaat bisa melupakan mimpi buruknya.
****
Pagi ini lagi-lagi Raka terlihat sangat buru-buru. Sarapannya belum ia sentuh sama sekali. Telponnya terus berdering dan Rudy sudah melaporkan hal-hal yang tidak menyenangkan tentang perusahaannya.
“Shit!” dengus Raka yang segera keluar dari apartemennya dan menuju kost-an Reva.
Setibanya di kost-an Reva, suasana sudah terlihat sepi. Raka mengetuk pintu Reva berkali-kali, tapi tidak ada sahutan.
“Reva-nya udah berangkat deh kayaknya.” Tutur seorang gadis yang tinggal di sebelah kamar kost Reva.
Raka hanya mengangguk, terlihat raut kecewa di wajahnya. Ia mencoba menghubungi nomor Reva tapi tidak juga di jawab. Akhirnya ia memutuskan untuk segera menyusul Reva ke kantor.
Di kantor, Reva sudah duduk di depan komputernya dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang kemarin tersisa. Berkali-kali ia melirik meja Raka, tempat ia menaruh sekotak makanan untuk Raka sarapan dan segelas kopi yang masih mengepulkan asapnya.
Jemari lentiknya kembali menari di atas barisan alfabet dan menyusun kalimat untuk ia laporkan pada atasannya.
“Pagi Re…. udah mulai kerja aja..” tutur Dimas dengan wajah penuh semangatnya.
“Pagi Dim… iya nih, biar hari ini gag pulang malem.” Sahut Reva yang tidak kalah semangat.
__ADS_1
“Re, lo tau gag, semalem bu Lenna wa gue, katanya sabtu ini kita gag lembur soalnya beberapa proyek yang kita laporin, udah dapet acc. Jadi tinggal nunggu perintah selanjutnya.” Seru Dimas yang menyandar pada meja kerja Reva.
“Syukurlaahh, akhirnya kita ngerasain hari sabtu juga..” Reva merasa ikut senang karena sudah 2 minggu berturut-turut, hari sabtu mereka disibukkan dengan berbagai tugas.
“Iyaa.. tapi ngomong-ngomong, kita jalan yuk! Mumpung ketemu sama hari sabtu.” Ujar Dimas dengan penuh harap.
“Emm… sory, minggu ini gue harus pulang ke rumah jadi kayaknya gag bisa jalan…” tolak Reva dengan halus.
Sejak mimpi buruknya beberapa malam ini, Reva memang berfikir akan pulang menjenguk ibu dan adik-adik pantinya. Mimpi buruk yang ia lewati, ia anggap sebagai pertanda kalau dia sangat merindukan orang-orang terkasihnya.
“Yah, sayang banget yaa… tapi lain kali, lo mau kan jalan bareng gue?” Dimas tidak pantang menyerah.
“Boleh, tapi bareng Tita juga ya…” timpal Reva yang di sambut ekspresi kecewa Dimas.
Reva berusaha tersenyum dan menatap Dimas yang hanya mengangguk-angguk.
Tak lama, terlihat Raka datang dengan langkah cepatnya. Reva terlihat antusias melihat kedatangan Raka. Namun wajah Raka terlihat sangat kusut, tidak seperti biasanya.
“Pagi bro!” sapa Dimas seraya melambaikan tangan.
“Pagi!” sahutnya dengan senyum yang terlihat di paksakan.
Raka melihat meja kerjanya, ada sekotak makanan yang ia yakini sebagai pemberian Reva. Namun ia hanya meneguk kopi saja dan mengambil beberapa berkas dari mejanya.
“Raka, sarapan dulu.” Ujar Reva sambil menunjuk kotak makanan miliknya.
Reva hanya saling bertatapan dengan Dimas. Lalu kembali menatap Raka yang berjalan dengan cepat menuju lift.
“Kayaknya dia di kasih tugas lebih banyak dari kita deh. Tapi masa magang sampe segitunya.” Gumam Reva yang masih bisa di dengar oleh Dimas.
“Gue denger, dia lulusan dari luar negri dan sekarang lagi pasca sarjana, pantes kali Re kalo kerjaan dia kepake banget.” Timpal Dimas yang ikut mengikuti arah tatap Reva hingga Raka tidak lagi terlihat.
Reva hanya terdiam, ucapan Dimas memang ada benarnya. Tapi ia menyayangkan, Raka yang terlihat selalu kusut dan banyak pikiran. Wajahnyapun terlihat sangat lelah.
“Udah, gue yakin dia bisa ngelewatin masa magangnya dengan baik.” Lanjut Dimas seraya menyentuh pundak Reva.
Reva hanya mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
****
“Om, ini anak perusahaan milik Wijaya group kan?” tanya Raka seraya membuka berkas kontrak kerjasama untuk pembangunan Mall.
__ADS_1
“Iya, saat ini dipimpin oleh temanmu, Edho.” Terang rudy dengan santai. “Wijaya group berkembang semakin pesat setelah edho memutuskan untuk memimpin salah satu anak perusahaannya. Di tambah direktur utamanya sudah pulang ke indonesia dan mulai memimpin kembali induk perusahaan lepas dari manajemen profesional. Ini akan meningkatkan nilai kontrak kita kalau kerja samanya berjalan dengan baik.” Lanjut Rudy dengan penuh keyakinan.
Raka hanya terdiam. Ia teringat saat Edho datang ke pameran dan setuju untuk kerjasama dengan Adiyaksa Corp atas tawaran Reva. Hatinya masih kesal, tapi bagaimanapun ia tidak bisa mencampur adukan perasaan pribadinya dengan urusan perusahaan.
“Om, kapan Fery masuk kantor dan bantu kita?” Raka terlihat sangat lelah dengan segudang pekerjaan di hadapannya.
“Kenapa, sekarang lo butuh gue?” sahut Fery yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
Terkembang senyum lebar di bibir Raka. “Lo kemana aja, buruan kerja!” cetus Raka sambil menghampiri sahabatnya.
“Gue masih harus laporin thesis gue lah. Emang elo, pura-pura magang di sini cuma buat deketin cewek.” Ledek Fery dengan tawa jenakanya.
“Cewek? Siapa itu, kok om gag tau?” Rudy ikut pensaran dengan yang diucapkan Fery.
“Haiisshh lo kalo ngomong emang gag kayak knalpot mikrolet, bikin polusi pikiran orang!” timpal Raka seraya mengalungkan tangannya di leher Fery dan memaksanya untuk duduk.
“Sialan lo, lepasin gue dong!” sahut Fery yang berusaha berontak.
Raka melepaskan rangkulan kasarnya dan duduk di sofa yang kemudian diikuti oleh Fery dan Rudy.
“Jadi itu alasan kamu belum mau publish sebagai penerus Adiyaksa?” cetus Rudy dengan tatapan tajamnya.
“Bukan gitu om, Raka emang belum siap, dan….” Ucapannya terhenti, ia bingung harus menjelaskannya seperti apa.
Ia kembali teringat saat wawancara untuk magang, tim yang mewawancarainya mengenali Raka. Dan saat itu juga, Raka memerintahkan semua karyawan yang mengenalnya, untuk pura-pura tidak mengenalnya. Bagi mereka yang melanggarnya, ia memberi ancaman pemecatan. Tentu saja, semua karyawannya hanya bisa menurut dan pura-pura tidak mengenal Raka dan memperlakukannya seperti anak magang biasa.
“Ya udah, apa nih yang bisa gue bantu?”
Fery kembali mencairkan suasana. Ia tau sahabatnya sedang terpojok dengan tatapan kepo papahnya.
“Lo temuin si Edho dan pastiin kontrak kerjasama ini berjalan.” Sahut Raka sambil memberikan kontrak ke hadapan Fery.
“Okey. Gue pergi dulu.” Sahut Fery seraya menepuk lengan Raka dengan berkas di tangannya. Tak lama ia berlalu pergi.
Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Perut Raka sudah sangat keroncongan. Rudy mengajaknya untuk makan siang tapi Raka menolaknya.
Dengan langkah cepat, Raka menuju ruangan Reva untuk mengajaknya makan siang. Namun Reva sudah tidak di tempatnya. Raka segera mengejar Reva ke kantin.
Dari kejauhan ia melihat Reva yang sedang menikmati makan siangnya bersama Dimas dan Tita. Sesekali mereka tertawa ringan saat Dimas mengeluarkan banyolannya. Raka mengurungkan niatnya untuk mendekat, ia lebih memilih memperhatikan Reva dari kejauhan. Tawa lepas Reva, seolah menjadi semangat baru baginya.
Puas memandangi Reva, Raka kembali ke ruang kerja Reva. Ia mengambil roti isi yang ada di kotak makan dan segera melahapnya. Sudah dingin tapi sangat enak di lidah Raka. Ia membayangkan Reva membuatkan makanan ini dengan sepenuh hati. Setelah menelan habis makananya, ia kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda agar cepat selesai.
****
__ADS_1