Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 62


__ADS_3

Reva berjalan dengan santai membawa dua buah kopi dalam sebuah kertas karton di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya baru mengakhiri panggilan telpon dari Raka yang mengajaknya untuk minum kopi bersama di taman kantor.


Dari kejauhan Reva melihat Raka menuruni tangga dan berjalan ke arahnya. Ia tersenyum dengan lebar seraya melambaikan tangan. Reva tersipu sendiri melihat tingkat Raka yang selalu manis menurutnya.


Gila, ia tidak ragu memperlihatkan kedekatannya dengan Reva.


Dalam beberapa langkah, seseorang berlari melewati Reva. Ia menuju Raka yang tengah berjalan ke arahnya.


Sebuah pelukan mendarat begitu saja di tubuh Raka yang hanya bisa terdiam dengan wajah bingungnya. Reva mengenal benar sosok yang menghampiri Raka, tiada lain dia adalah Alea.


Reva menghentikan langkahnya. Untuk beberapa saat ia terdiam menyaksikan Alea berbicara dan tersenyum pada Raka bahkan ia mengalungkan tangannya di lengan Raka dan bergelendot manja.


Reva memilik untuk berbalik, ia tidak mau melihat adegan yang membuat jantungnya terasa mau pecah. Matanya sudah berkaca-kaca dengan wajah pucat pasi. Reva berjalan dengan cepat meninggalkan Raka tapi sebuah tangan menghentikan langkah Reva.


Adalah Edho yang kini berdiri di hadapan Reva dan memegang tangannya dengan erat.


“Apa laki-laki itu raka?” tanya Edho dengan penuh penasaran.


Reva tidak menjawab, terlalu menyedihkan jika ia harus menjawab iya. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Edho dan pergi begitu saja.


****


“Alea lepasin gue!” Raka menepis tangan Alea yang masih melingkar di lengannya tapi Alea semakin mengeratkan.


“Ih kenapa sih raka?! Gue kangen kali sama lo.” Sahut Alea. Di kejauhan ia melihat Reva yang berjalan pergi meninggalkan Raka dengan pandangan panuh kekecewaan. Seringai tipis terlihat jelas di wajah Alea.


“Gag lucu ya lea!” gertak Raka yang mengibaskan tangan Alea dengan paksa.


“Awww!!”


Alea mengaduh saat kibasan tangan Raka hampir membuatnya terjatuh. Raka segera menarik kembali tubuh Alea yang mengaduh karena kakinya yang terasa sakit karena keseleo.


“Aduh Raka, kaki gue…”


Raka segera melihat kaki Alea. Ia menekan-nekan kaki Alea yang tampak bengkak.


“Lo sih aneh-aneh aja! Ayo keruangan gue dulu.” Akhirnya Raka menyerah. Ia memapah Alea menuju ruangannya. Meski kesakitan, bisa terlihat jelas senyum penuh kemenangan tergambar di wajah Alea.


“Wah kenapa nih?” Fery dengan sigap menghampiri saat melihat Raka yang memapah Alea.


Raka tidak menjawab sepatah katapun. Ia segera mendudukan Alea  di salah satu kursi dan membungkuk melepas sepatu high heels milik gadis ini. Ia berdecik kesal saat teringat Reva yang mungkin sudah salah paham.


“Fer, tolong panggilin dokter ato tukang urut!” perintah Raka dengan ketus.

__ADS_1


“Hah? Oh iya!” dengan segera Fery menekan nomor salah satu rekan kerjanya dan memberinya perintah.


“Lo bisa gag sih gag bersikap kekanak-kanakan kayak tadi!” ujar Raka dengan tatapan dingin pada Alea.


Alea memalingkan wajahnya. “Kenapa, lo takut Reva salah paham?” sebuah senyuman ketir terlihat jelas di wajah Alea. “Sepenting itu perasaan reva buat lo?” Kini Alea kembali menatap Raka.


“Bukan cuma reva yang bisa salah paham, tapi semua karyawan di sini.” Raka mengguyar rambutnya dengan frustasi. Tatapannya masih terlihat dingin dan tertuju pada Alea.


Alea kembali tersenyum dengan sinis. “Lo gag peduli sama gue yang jelas kesakitan tapi lo lebih peduli sama reva yang mungkin lagi menikmati waktunya sama abang gue.” Ucapan Alea ibarat pemantik yang menyulut emosi Raka.


Benar, saat ini Reva sedang bersama Edho yang sudah jelas sedang mendekati kekasihnya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


“Fer, titip alea. Pastiin kakinya sembuh!” seru Raka tiba-tiba. Ia tidak mau memberi Edho kesempatan untuk mendekati gadisnya, hingga ia memilih berlalu tanpa sepatah katapun pada Alea.


“Cih!” Alea berdecik kesal melihat Raka yang berlari meninggalkannya.


Fery segera mendekat dan duduk di samping Alea. Di tatapnya gadis yang sedang menahan geramnya ini. Fery bisa merasakan kekesalan Alea. Bertahun-tahun mereka saling mengenal, tapi rupanya Alea tidak pernah mengenali seperti apa Raka.


“Lo harusnya gag kayak gitu lea. Lo tau raka gag suka cewek yang agresif dan terlalu terang-terangan.” Ujar Fery yang masih menatap wajah cantik di hadapannya. Terlihat Alea semakin kesal dengan ucapannya dan memilih tidak bertatapan dengan Fery.


“Dia lebih suka f*ck girl dari pada cewek yang jelas berjalan menuju dia.” Lirih Alea dengan rasa kesal yang masih ia coba tahan.


“Lo gag kenal reva… Lo gag akan ngerti seberapa gila raka ngejar reva.” Batin Fery yang masih setia menemani gadis yang sejak dulu selalu ia bela di hadapan Raka meski ia salah. Entahlah, melihat Alea, satu sudut hatinya selalu tersenyum tapi rasanya jarak mereka terlalu jauh. Seperti yang pernah Alea ucapkan saat dulu ia memberikan perhatian lebih pada Alea, “Lo gag akan pernah sebanding sama raka. Buat gue lo bukan siapa-siapa. Jadi berhenti untuk terlalu peduli sama gue.” Ucapan itu masih terekam jelas di ingatannya.


Di salah satu bangku di taman kantor, Reva termenung sendirian. Ia memandangi dua gelas kopi di tangannya. Air matanya turun begitu saja seirama kerlipan matanya. Ia melihat sepasang sepatu hitam berkilauan yang berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya yang sendu terangkat, memandang sosok yang kini tersenyum di hadapannya, ya dialah Edho.


Edho, kini ia duduk di samping Reva yang masih terdiam. Reva mengusap air matanya dengan segera, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun.


“Kalo hati lo bisa goyah karena ngeliat kejadian tadi, gue beneran bakal berusaha keras buat ngejar lo re….” tutur Edho dengan senyum tipisnya.


Reva menoleh sedikit lalu kembali menunduk menatap 2 gelas kopi di hadapannya.


Melihat sikap Alea tadi pada Raka,  ia sadar saingannya bukan lah gadis sembarangan. Secara status sosial, ia kalah jauh dari Alea. Namun di hati kecilnya, ia tidak siap kalau harus berhenti di sini dan melepaskan Raka seperti saat ia melepaskan Adrian.


Ia benci mengalah pada keadaan. Ia ingin berjuang, meski mungkin jalannya sulit, namun apa boleh buat, ia terlanjur jatuh terlalu dalam dan tidak siap harus merelakan Raka untuk orang lain.


“Gue tau, merubah perasaan gadis seperti lo pasti  butuh waktu tapi gue yakin, suatu hari lo bakal berbalik dan ngeliat gue re…” lanjut Edho yang juga memutuskan untuk tidak berhenti di sini.


Sejak pertama memperkenalkan Reva sebagai kekasihnya pada teman-temannya, ia tidak pernah menyangka bahwa ia bisa merasa begitu nyaman dalam kebohongan itu. Tidak ada satupun kebersamaannya bersama Reva yang lekang dari ingatannya. Pernah saat itu,  seorang temannya menumpahkan minuman di bajunya, Reva dengan sigap mengelap bajunya seolah mereka benar-benar pasangan yang saling memperhatikan satu sama lain.


Hati Edho tergerak, melihat sikap Reva yang ia rasa selalu tulus. Walaupun hanya bersandiwara, perhatian Reva pada setiap kumbangnya tidak pernah palsu dan itu yang membuat Edho terbawa perasaan.


Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk meninggalkan kebiasaannya berganti-ganti pasangan dan menetapkan hatinya untuk mengejar Reva. Bersama Reva, ia tidak hanya merasa bahagia lebih dari itu ia sudah merasa nyaman walau jantungnya berloncatan tidak menentu.

__ADS_1


“Gue bukan cuma suka sama lo re, gue jatuh cinta.” Lirih Edho dengan tatapan lekat pada Reva.


“Edho, tolong berhenti sampe di sini, gue gag bisa.” Reva berusaha menyadarkan Edho dengan keadaannya yang sebenarnya. Bahwa hatinya sudah di tempati oleh Raka dan tidak ada tempat untuknya.


“Tapi re, gue akan terus nunggu lo. Dan kalo raka nyakitin lo, gue orang pertama yang dengan senang hati nerima lo. Semua tentang lo.”


“BUK!”


Sebuah hantaman keras mendarat di wajah Edho membuatnya terjatuh dari bangku dengan seketika. Tidak puas melihat Edho terjatuh, Raka kembali memukulnya membabi buta. Ia tidak terima gadisnya di rayu laki-laki lain sekalipun itu teman lama sekaligus rekan bisnisnya.


“Raka, stop!” Teriak Reva saat melihat Raka akan kembali menghantamkan kepalannya ke wajah Edho.


Reva berusaha melerai keduanya tapi Raka tidak peduli. Ia semakin beringas saat melihat Edho jatuh tersungkur.  Reva mendorong tubuh Raka cukup kuat agar menjauh dari Edho lalu segera membantu Edho untuk bangun.


“Bangun dho, lo gag pa-pa kan?”


Terlihat seringai kesal di wajah Edho. Ia mengusap tetesan darah segar mengucur dari sudut bibirnya. Tangannya ikut mengepal kuat ingin membalas pukulan Raka. Tak ingin kalah, Raka segera mendekat dan bersiap melawan Edho.


Dengan segera Reva menghampiri Raka dan memeluknya, sementara satu tangannya menahan kepalan Edho yang sudah hampir mengenai kepalanya.


“Berhenti, ato kita sama-sama terluka.” Ujar Reva dengan penuh penekanan.


Orang-orang di sekitar taman melihat dengan jelas perkelahian kedua laki-laki tersebut. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang memfoto dan memvideokannya.


Reva bisa mendengar, hembusan nafas Raka yang memburu perlahan mulai tenang. Tapi ia bisa memastikan, Raka masih menatap Edho dengan tatapan tidak suka. Reva pun bisa merasakan kepalan Edho yang mulai turun dan tenang. Reva bisa bernafas dengan lega, baku hantam ini tidak berlanjut.


Tak ingin menjadi tontonan lebih lama lagi, Reva segera melepaskan pelukannya pada Raka. Ia berbalik menatap Edho yang meringis kesakitan dengan darah segar yang masih menetes. Ia tidak menyangka, akan melihat dua laki-laki ini baku hantam di hadapannya.


Reva benar-benar tidak habis pikir melihat tingkah kekanakan dua laki-laki di hadapannya. Ia menatap Raka dan Edho bergantian, ia benar-benar merasa kecewa.


“Dho, lo pulang dulu. Kompres lukanya pake es. Jangan lupa kasih antiseptik.” Tutur Reva dengan tatapan dinginnya.


Tanpa memperdulikan lagi keduanya, Reva segera pergi meninggalkan dua laki-laki tersebut.


Raka dan Edho masih bersitatap dengan tegang. Dari mata keduanya, masih terlihat kilatan petir saling menyambar. Mereka sudah melupakan pertemanan lama yang mereka jalin karena seorang gadis yang sudah mengisi hatinya masing-masing.


Edho segera memalingkan wajahnya dan meninggalkan Raka yang masih mematung dengan rasa kesal di dadanya.


****


 


Cemburu niihhh Rakaaa... :p

__ADS_1


__ADS_2