
Tiba di rumah sakit, Theo langsung di bawa ke ruang resusitasi. Ia mendapat pertolongan dengan cepat. Dan Reva hanya bisa terkulai bersandar di daun pintu ruang UGD dengan tangisnya yang dalam. Tangannya masih berlumuran darah, darah Theo yang telah mengorbankan hidupnya untuk Reva.
“Reva!” seru Raka yang berlari dengan kencang menghampiri Reva. Ia datang bersama Alea dan Edho.
Raka memeluk Reva dengan erat. Ia tak ingin membiarkan wanita yang dicintainya terisak sendirian.
“Mas, aku takut….” Lirih Reva dengan terbata-bata. Ia menangis sejadinya di pelukan Raka.
Raka semakin mengeratkan pelukannya. “Tenanglah sayang, aku ada di sini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu lagi.” Janji Raka dengan sepenuh hati.
Alea mengguyar rambutnya kasar. Ia hanya bisa memandangi Reva seraya mengusap kepalanya. Sungguh, rasanya jantungnya hampir saja copot saat ia mendapat kabar kondisi Reva.
Reva terangguk sebagai respon. Raka membawanya untuk duduk. Untuk beberapa saat, ia membiarkan Reva hingga ia menjadi lebih tenang.
Di salah satu ruang perawatan kini Theo berada. Ia mulai sadarkan diri dan rasa sakit di pinggang kanannya terasa berdenyut ngilu. Efek anestesinya perlahan menghilang berganti rasa perih saat ia bergerak mengubah posisi tubuhnya.
Dari jendela kaca pintu ruang perawatannya, Theo bisa melihat Reva yang tengah modar mandir dengan wajah cemasnya. Ia mengigiti jemarinya sebagai ekspresi kecemasan.
“Sayang, kita pulang. Kamu harus memperhatikan juga kondisi tubuh kamu dan anak kita.” Bujuk Raka yang dapat di dengar jelas oleh Theo.
“Aku gag bisa pulang sekarang mas. Aku gag bia ninggalin theo.” Tolak Reva seraya menatap sepasang manik hitam milik Raka.
“Tapi re…”
“Mas! Aku mohon sekali ini aja kamu percaya sama aku.” Reva menyatukan kedua tangannya di depan dada. Ia memohon pengertian Raka. “Dia yang sudah menyelamatkan aku dan anak kita. Aku pernah merasakan kesakitan yang sama, aku juga pernah merasakan ketakutan dan kesepian yang sama, Aku gag bisa setega itu membiarkan dia sendirian melewatinya.” Lirih Reva kemudian dengan tangisnya.
Raka menatap tak percaya pada wanita di hadapannya. Setelah semua yang mereka lewati, apa lagi yang harus Raka ragukan? Bukankah memandang Reva dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah sesuatu yang lebih penting saat ini? Ralat, bagi Raka, Reva tidak memiliki kekurangan apapun.
Raka tak menimpali. Ia hanya bisa memeluk Reva dengan erat. Mengecup pucuk kepalanya dengan lembut. Ia sangat mengerti dengan keputusan yang Reva buat dan ia menghargainya.
__ADS_1
Air mata Theo menetes begitu saja. ia berusaha menengadahkan wajahnya untuk menghentikan tetesan air mata itu. Ya, ia kesakitan, ia pun kesepian. Ia terbiasa melewati semuanya sendirian. Tapi rasanya, mendengar kalimat Reva, ia bisa kembali bertahan tanpa harus merasa sendirian.
*****
Reva masuk ke ruang perawatan Theo. Ia membuka tirai ruangan karena hari sudah menjelang pagi. Reva melihat Theo yang masih terlelap dengan wajah tenang, seolah ia tidak merasakan kesakitan apapun. Hatinya berdenyut ngilu, tatkala membayangkan beratnya beban yang harus Theo tanggung saat ini. Ia harus kehilangan 2 pondasi dalam hidupnya dengan cara yang tidak bisa di duga.
Reva menaruh bubur di meja samping tempat tidur Theo. Perlahan Theo mengerjap dan membuka kedua matanya. Terlihat jelas mata kebiruan yang kini tengah menatap Reva dengan segaris senyum di bibirnya.
“The most incredible feeling I've ever felt was when I opened my eyes and your face was the first I saw. Good morning sweetheart.” Lirihnya dengan suara serak khas bangun tidur, ia berusaha untuk bangkit dan bersandar pada tempat tidurnya. Ia tersenyum menatap wajah Reva yang saat terlelappun ada di mimpinya. Reva membalas senyuman Theo.
“Pagi theo…. Gimana perasaanmu hari ini?” tanya Reva seraya duduk di kursi sebelah tempat tidur Theo.
“Perasaanku?” tanya Theo seraya tersenyum. Reva terangguk. “Emmm….” Theo tampak mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. “Bagaimana denganmu, bagaimana perasaanmu hari ini?”
Theo balik bertanya pada Reva. Perasaan Reva rasanya lebih penting baginya saat ini.
“Aku senang melihat kamu baik-baik saja.” ungkap Reva dengan penuh kesungguhan. Theo tertegun.
“Lumayan..” jawab Reva acuh. Theo terkekeh mendengar jawaban Reva yang seadanya. “Kamu tau theo, aku berfikir setiap orang selalu punya alasan untuk melakukan apapun yang mereka inginkan. Hanya terkadang, tidak semua hal tidak bisa kita dapatkan. Tapi di balik itu, semua yang kita butuhkan sebenarnya sudah ada di sekitar kita.” Ujar Reva membalas tatapan Theo.
Sejujurnya, kalimat itu bukan Reva tujukan untuk Theo tapi untuk dirinya sendiri.
“Nice word!” puji Theo seraya tersenyum. “Saat aku merasa hampir mati, aku dengar kamu ingin memakiku. Sekarang aku sudah bangun, keluarkanlah semua makianmu, aku akan mendengarnya.” Tutur Theo kemudian.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Theo terus berjuang agar ia tak kehilangan kesadarannya. Ia ingin selalu memastikan bahwa Reva baik-baik saja tanpa kurang satu apapun. Genggaman tangan Reva, tatapan penuh kecemasannya, air mata yang ia tujukan untuknya dan makian yang katanya ingin ia lontarkan, seolah menjadi alasan untuk Theo bertahan hidup. Untuk pertama kalinya ia merasa Reva ada untuk dirinya.
Theo sudah menyadari semua yang Reva lakukan. Saat Reva memutuskan datang menemuinya, tentu itu bukan karena Reva menyerah. Ia hanya ingin melindungi orang-orang yang di sayanginya. Theo membiarkannya, Theo pura-pura tidak tahu. Ada Reva di sampingnya sudah lebih dari cukup. Terkadang ia merasa sangat serakah, ia berharap suatu saat ia menjadi salah satu orang yang ingin Reva lindungi. Dan perdebatan antara Raka dan Reva semalam, sudah membuat Theo merasa kalau Reva pun ingin melindunginya. Melindunginya dari rasa sepi yang selama ini ia rasakan.
“Kamu menyebalkan.” Reva memulai makiannya. “Terkadang kamu membuatku sangat marah. Ingin sekali rasanya aku menamparmu atau menjambak rambutmu. Dan panggilan sweetheart itu membuatku tahu bahwa di dunia ini ada kata yang begitu menjijikan selain kata jijik itu sendiri.” Theo tersenyum mendengar ucapan Reva.
__ADS_1
“Tapi aku sadar, kamu memiliki hati yang hangat.” Kali ini Reva menatap Theo dengan lekat. Tatapan yang selama ini sangat di harapkan Theo.“Kelak, akan ada wanita yang sangat beruntung karena mendapat kasih sayang yang begitu besar dari kamu. Kelak kamu akan merasa sangat syukur hanya karena melihat dia begitu bahagia. Kelak kamu pun akan mendapat kasih sayang yang begitu besar dari dia yang tulus menyayangimu. Tapi bukan aku, theo.” Ungkap Reva yang tersenyum di akhir kalimatnya.
Theo terangguk. Benar, sebesar apapun perasaannya untuk Reva, saat ia malah membuat Reva terluka dan bersedih tentu itu tidak akan menjadi sebuah kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Seperti halnya pasir yang berkilauan di tepi pantai, ia baru akan terlihat indah dan membuat kita tersenyum, karena ia berada di tempatnya. Bukan dalam genggaman erat kita yang perlahan akan berjatuhan tanpa bisa kita lihat kemilaunya.
“That’s the most beautiful phrase I’ve ever heard.” Ungkap Theo dengan penuh perasaan. “Pinjamkan sebentar tanganmu, agar aku bisa melepasmu dengan tenang.” Pinta Theo seraya mengulurkan tangannya. Reva hanya terpaku.
“Oh shit, aku lupa. Itu bagian dari kontak fisik.” Dengus Theo seraya terkekeh.
Tanpa di duga, Reva membalas uluran tangan Theo. Ia menjabat tangan Theo dengan erat. “Terima kasih karena telah menjagaku dan bayiku. Terima kasih untuk tetap kuat. Kelak, saat dia lahir, aku akan memberitahunya kalau dia memiliki seorang paman yang hebat.” Tutur Reva dengan mata berkaca-kaca.
Theo tak menimpali. Ia tertunduk lesu di hadapan Reva. Buliran air mata menetes begitu saja seirama bahunya yang bergerak naik turun. Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu di cintai. Hal tersebar yang tidak pernah Theo dapatkan selama ini.
****
Reva melenggang dengan yakin meninggalkan ruang perawatan Theo. Dibibirnya terkembang sebuah senyuman yang sangat indah.
“I let you go, be happy with him…” kalimat terakhir yang terucap dari mulut Theo seolah kalimat paling indah yang pernah ia dengar selama ini.
Seperti halnya Theo yang memilih bahagia dengan melepaskannya, ia pun memilih untuk meraih kebahagiaannya, berada di samping Raka untuk selamanya. Ia berlari menuju Raka yang tengah berada di salah satu bangku dan menunggunya.
Melihat Reva yang berlari dengan senyum di bibirnya, Raka segera berdiri. Ia merentangkan tangannya menyambut Reva. Dalam beberapa saat Reva berhambur memeluknya dengan erat, sangat erat seolah ia telah sampai di rumahnya. Ya, Raka adalah rumah bagi Reva dan Reva adalah sumber kehidupan di rumah Raka. Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan, melepaskan semua kerinduan yang selama ini tertahan.
Perlahan Reva melepaskan pelukannya. Ia menatap lekat wajah laki-laki yang ada di hadapannya. Ia tersenyum dengan sangat manis seraya mengusap wajah Raka dan dalam beberapa saat bibirnya mengecup bibir Raka dengan lembut. Raka tak bisa hanya terpaku, ia membalas kecupan Reva seraya bersembunyi di dalam jas yang ia lepas dan ia gunakan untuk menutupi wajahnya dan wajah Reva.
Mereka begitu menikmatinya. Saat Raka mengingit lembut bibir manis Reva dan Reva membalasnya dengan gigitan yang sama, sangat mengandung gairah.
Ah sudahlah, biarkan mereka seperti ini untuk 15 detik kedepan, sebelum berhenti karena kehabisan nafas.
****
__ADS_1
Give me your thump, give me your comment, and i'll give you best surprise, Laafff...