
Pernikahan bukan hanya sekedar transaksi hak dan kewajiban antar 2 orang, lebih dari itu pernikahan harus memiliki keselarasan berfikir dan keinginan yang sama untuk menjaga komitmen satu sama lain. Hal itu yang saat ini menjadi pondasi dasar bagi Raka dan Reva. Setiap pasangan mungkin memiliki pandangannya masing-masing tentang sebuah pernikahan, selama itu bisa menguatkan cinta yang ada di antara mereka, mengapa tidak hal itu di jadikan pondasi bagi keduanya.
Saat membuka mata dan Reva berada di sampingnya, selalu menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi Raka. Reva sangat menyukai terlelap dalam pelukan Raka hingga pagi menjelang. Dan Raka sangat menyukai ketika terlelap dan terbangun, ia melingkarkan tangannya di pinggang Reva. Memeluknya dengan erat, seolah dalam mimpi pun mereka tidak ingin terpisah.
Satu tahun berlalu dan pemandangan yang sama selalu membuat Raka tersenyum di pagi hari dan membuatnya memulai pagi dengan semangat. Ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Reva agar ia bisa memandanginya dengan leluasa.
Semalam, waktu yang Raka dan Reva lewati sangat indah. Mereka merayakan 2 hari penting sekaligus, yaitu ulang tahun pernikahan mereka yang pertama dan ulang tahun Reva. Raka memberi kejutan pada Reva di sela kesibukannya dengan proyek yang hampir rampung. Ia mengajak Reva berdansa di lantai dansa yang sesungguhnya dengan banyak pasang mata yang tertuju pada mereka. Menjadi saksi kebahagiaan satu tahun perjalanan cinta dalam ikatan yang sah.
Raka bisa melihat, mata Reva yang berkaca-kaca karena terharu dengan kejutan yang di berikannya. Entah berapa kali Reva mengucapkan kata-kata cinta untuknya hingga Raka merasa Reva begitu berbeda tadi malam. Reva tidak sekalem biasanya dan Raka benar-benar menikmatinya.
“Kamu penting buat aku re. Setiap kali membuat kamu tertawa dan bahagia, rasanya aku sudah tidak memerlukan apapun lagi. Kamu adalah kekuatan sekaligus kelemahanku. Terima kasih sayang, untuk semua cinta yang kamu berikan untukku.” Batin Raka seraya mengusap wajah Reva dengan lembut.
Reva menggeliat kecil. Perlahan matanya mulai terbuka saat ia merasakan sentuhan lembut tangan Raka. Biasanya Reva selalu bangun lebih awal, menyiapkan segala keperluan Raka dan tetap bekerja seperti biasanya. Raka selalu merasa takjub, di tengah kesibukannya, Reva masih bisa mengurus keluarga kecilnya. Tapi pagi ini sepertinya Reva kelelahan.
“Selamat pagi sayang…” sapa Raka saat sorot mata teduh itu menatapnya seraya tersenyum.
“Pagi mas….” Sahut Reva dengan suara serak yang sangat menggoda bagi Raka. “Jam berapa ini?” Reva memincingkan matanya, ingin memperjelas penglihatannya.
“Hampir setengah 6 sayang.” Sahut Raka seraya tersenyum.
“Astaga, aku kesiangan mas.” Reva segera bangun, ia lupa kalau tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Raka terkekeh melihat tingkah konyol Reva yang kembali ke tempat tidur dan bersembunyi di balik selimut.
“Ayo aku anter ke kamar mandi yang.” Tawar Raka yang ikut bangkit dari tempat tidur bersama Reva di balik selimut. Reva hanya mengangguk dengan wajah yang memerah karena malu.
Raka memungut kaos oblong miliknya juga pakaian lain yang bisa ia jangkau. Bayangan Reva pun segera menghilang di balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
*****
Tangan Reva dengan cekatan menyiapkan kebutuhan suaminya sebelum berangkat kerja. Baju yang sudah rapi, berikut dasi, belt, jam tangan, tie clip dan segala kelengkapan lainnya sudah ia siapkan di atas tempat tidur. Ia pun membereskan kamar yang seperti kapal pecah, sisa tenggelam semalam. Reva menghembuskan nafasnya lega, saat semua sudah kembali pada tempatnya.
Beralih pada dapur, dengan sarapan yang sudah matang dan tertata di atas meja. Sambil menunggu Raka, ia merapikan penampilannya. Kalau sudah terlambat seperti ini, ingin rasanya ia memiliki 9 tangan untuk membereskan semuanya dengan cepat.
Beberapa bulan lalu, Reva dan Raka sudah pindah ke rumah barunya. Setelah drama kedua orang tua yang berebut mereka harus tinggal di mana, akhirnya sampai pada keputusan mereka akan tinggal sendiri. Dan kedua keluarga pun mengikuti keinginan Raka dan Reva, lebih tepatnya terpaksa mengikuti walau hampir setiap minggu mereka akan bertanya kapan akan menginap dan sebagainya.
Reva bahagia, memiliki orang tua yang begitu menyayanginya. Mereka menjadi poros bagi keluarga Wijaya dan Adiyaksa. Setiap perbincangan pun selalu hangat dan menyenangkan.
Seperti saat ini, di rumah Wira, Niken tampak melamun memandangi sarapan yang berada di atas meja makannya. Wajahnya terlihat sendu dan tampak berfikir keras.
“Mamah kenapa, kok dari tadi murung terus?” tanya Wira seraya menyentuh tangan Niken.
Pandangan Niken beralih pada sosok Wira yang kini sedang menatapnya. “Mamah kesepian pah… masih 3 minggu lagi giliran reva sama raka nginep di sini. Apa kita nginep aja di rumah mereka malam ini?” rengek Niken yang sebenarnya Wira pun merasakannya.
“Kalo nginep, kita harus nanya persetujuan mereka dulu.” Jawaban Wira membuat Niken kembali merengut. “Tapi, bukannya rere mau ada acara di bogor? Kenapa gag temuin dulu dia di kantornya? Siapa tau mamah bisa ikut kan?”
“Hah iya! Mamah harus nanya ira soal jadwal rere. Siapa tau mamah bisa ikut atau ngajak dia jalan siang ini. Ah papah makasih udah ngingetin mamah!” seru Niken seraya memeluk suaminya.
Wira hanya teranguk. Ekspresi wajah Niken ternyata bisa berubah secepat itu.
Niken mulai sibuk dengan benda persegi di tangannya. Adalah Ira yang kini di cerca banyak pertanyaan oleh Niken seputar jadwal Reva. Sesekali ia tersenyum saat Ira memberi tahunya jadwal Reva beberapa hari ini.
****
__ADS_1
“Sayang, sukses yaa buat closing proyeknyaaa…” Ujar Reva seraya mengecup pipi kanan Raka. “Dan sukses juga buat rencana pengembangan proyek di makasar, semangaaattt” sekarang pipi kiri yang mendapat kecupan hangat.
“Iyaaa kamu juga sukses dengan rapat bareng investornya. Aku yakin kamu bisa mendapat persetujuan mereka.” Sahut Raka seraya mengecup kening dan bibir Reva.
Beginilah pemandangan setiap hari saat Raka sudah mengantar Reva ke kantornya. Mereka saling memberi semangat satu sama lain. Memiliki segudang aktivitas, tidak lantas mengurangi kualitas kebersamaan Raka dan Reva. Mungkin mereka tidak seintens dulu saat harus makan siang bersama atau menghabiskan waktu bersama di hari senggang tapi mereka selalu saling memberikan perhatian lebih pada setiap waktu yang bisa mereka nikmati bersama.
Di akhir, Reva pasti akan merapikan dasi dan jas Raka sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kantornya.
“Bye sayang, ketemu nanti sore yaaa…” ujar Reva seraya melambaikan tangannya.
“Iya, bye…” Raka membalas lambaian tangan Reva dan masuk kembali ke dalam mobilnya.
Saat melajukan mobilnya, ia masih melihat bayangan Reva dari spion kirinya. Betapa ia bersyukur bisa memiliki Reva dengan segala kebaikan dan kasih sayangnya. Bibir Raka tak henti tersenyum. Hari ini terasa begitu bersemangat. Ia siap menghadapi segudang pekerjaan yang sedang menunggunya di kantor. Sesulit apapun masalah yang ia hadapi di kantor, saat ia mengingat Reva, ia selalu menemukan cara terbaik untuk menyelesaikannya.
“Pagi bu rere…” sapa Ira yang muncul di balik pintu. Ia terlihat membawa sebuah map di tangannya yang di yakini adalah agenda pekerjaannya.
“Pagi ira, duduklah.” Sahut Reva dengan senyum pagi yang selalu membuat siapapun yang melihatnya semakin bersemangat.
“Terima kasih bu. Ini saya mau menyampaikan agenda ibu.” Ira menjeda kalimatnya dengan membuka agenda di tangannya. “Siang ini ada rapat dengan direksi terkait para investor yang menawarkan kerjasama di bali. Rapatnya sekitar jam 1 siang. Dan tadi pagi dari pihak rekanan ada yang minta bertemu ibu, katanya ada beberapa hal yang ingin di bahas. Tapi saya belum menentukan waktunya, menunggu instruksi selanjutnya dari ibu. Dan selain itu, bu Niken tadi nelpon, dia minta waktu ketemu ibu, katanya kangen.” Ira tersenyum di akhir kalimatnya.
Reva tersenyum kecil mendengar kalimat terakhir Ira. “Astaga, padahal mamah bisa langsung telpon saya…” ujar Reva seraya meraih benda persegi dari dalam tasnya. Tidak ada telpon ataupun pesan dari Niken. “Okey, nanti saya yang hubungin mamah ya.. makasih ira.” Lanjut Reva yang di angguki hormat oleh Ira.
Reva mulai kembali fokus dengan pekerjaannya. Ia mentargetkan pekerjaannya selesai dengan cepat agar bisa makan siang dengan Niken. Semua berkas di hadapannya ia periksa dengan teliti. Waktu satu tahun bekerja di Wijaya, mengajarkan Reva banyak hal baru. Mulai dari bersikap profesional hingga mengatur waktu untuk pekerjaan yang tidak ada hentinya. Untuk saat ini, ia begitu menikmati ruinitasnya yang walaupun sibuk, Ia masih bisa memiliki waktu untuk keluarganya.
****
__ADS_1
Masih pada baca kan? Hehehe, silakan tinggalkan jejak yaa.. Terima kasih,.. Happy reading..