
“Astaga!”
Jantung Reva hampir copot saat ia berbalik dan seseorang berada di belakangnya. Adalah Edho yang sejak tadi memperhatikan Reva yang asyik berbicara dengan Raka. Sepertinya ada sakit yang tidak berdarah di dada Edho hari ini. Semuanya begitu penuh dengan kejutan.
“Lo keasyikan, sampe gag nyadar ada gue kan?”
Edho berusaha bersikap biasa walau terasa sulit. Ia tersenyum seraya memberikan segelas teh hangat yang ia bawa sedari tadi.
“Lo kok gag bersuara sih kalo di situ dari tadi.” Reva merasa canggung dengan kehadiran Edho saat ini.
Edho hanya tersenyum, ia duduk di bangku kayu yang ada di taman lalu menepuk tempat di sebelahnya sebagai tanda meminta Reva untuk duduk.
Reva duduk di samping Edho, Ia memandangi gelas teh yang ada di tangannya. Sementara Edho mulai menyesap teh hangat dengan wangi yang menyegarkan rongga hidungnya.
“Gue gag pernah nyangka kalo perasaan gue sama lo harus berakhir seperti ini.” Ujar Edho sambil tersenyum ketir. Ia menoleh Reva yang seketika memandangnya karena kalimat yang diucapkan Edho. “Gue juga gag tau harus seneng atau sedih saat tau kalo lo adalah lana. Hidup memang penuh kejutan ya re…” Edho tertunduk dengan senyum ketir yang tidak lepas dari bibirnya. Nafasnya terdengar berat seolah mewakili dadanya yang kini terasa sesak.
“Terima kasih dho, lo selalu jadi teman yang baik. Dan gue bersyukur setelah tau kalo lo kakak sepupu gue.” Ujar Reva dengan penuh kesungguhan.
“Astaga re, lo bikin hati gue makin sakit…” keluh Edho seraya mengusap dadanya. Matanya berkaca-kaca dengan nafas yang berat.
“Dho, gue gag ada maksud apa-apa. Tapi gue beneran seneng karena lo kakak gue. Kedepannya kita juga bisa tetep jadi temen yang baik seperti selama ini. Paling nggak, gue bisa nemenin lo jalan tanpa mesti bayar kan?” Reva terkekeh di akhir kalimatnya. Edho ikut tersenyum.
Ia kembali teringat kejadian sore tadi, saat lagi-lagi ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Reva.
“Re, soal lea tadi…” Edho menggantung kalimatnya. Entah seperti apa ia harus menyampaikannya.
“Gag pa-pa dho, lo gag perlu ngasih penjelasan apapun. Lambat laun, orang-orang di sekitar gue juga pasti bakal tau terlepas caranya seperti apa dan dari siapa mereka tau. Ini konsekuensi yang harus gue terima atas pilihan gue.”
Reva menyadari tidak ada yang salah dari terbongkarnya masa lalunya. Karena orang yang benar-benar menyanginya akan tetap menerimanya walau mungkin mereka akan kecewa tapi paling tidak ia tidak harus lagi menyembunyikan sesuatu yang di anggap aib oleh orang lain.
“Ya, gue harus sangat bersyukur punya adik kayak lo. Lo kuat, mandiri dan apa adanya.” Edho mengusap lembut rambut Reva.
Hanya sebuah senyuman tipis yang bisa Reva berikan untuk kakak sepupunya ini.
Dan Edho, untuk beberapa saat ia perlu waktu, waktu untuk merelakan perasaannya yang bukan hanya bertepuk sebelah tangan tapi berakhir karena sebuah takdir.
****
__ADS_1
Pagi ini suasana sarapan terasa begitu canggung. Alea tampak asyik menikmati roti isinya sementara Reva masih dengan nasi gorengnya bersama Indra. Ia melirik Alea yang terlihat sangat cuek. Ia tidak peduli dengan tatapan Edho dan Nida yang sepertinya tidak ia sadari lebih tepatnya tidak ingin ia sadari.
“Lea, hari ini papih ada meeting sama rekanan dari inggris, kamu bisa ngewakilin?” Tanya Indra di sela menikmati sarapannya.
“Iya pih, nanti aku ajak kak edho ya…” sahutnya dengan ringan. Edho terangguk setuju. “Lana, lo mau ikut ke kantor papih?” tawar Alea tiba-tiba.
Reva hanya terdiam, ia masih terkejut dengan pertanyaan Alea.
“Woy! Lana itu nama lo kan? Lo harus terbiasalah. Di keluarga ini gag ada anak papih namanya reva, adanya alea sama alana.” Lanjut Alea dengan senyum tipis di bibirnya.
“Maaf hanya belum terbiasa.” Reva berusaha menyadarkan dirinya dari rasa keterkejutannya.
Suatu hal yang berbeda saat ini Reva rasakan. Cara berbicara Alea seperti tidak pernah ada masalah sama sekali dengan dirinya.
“Soal kejadian kemaren, gue minta maaf. Gimanapun lo ade gue dan gag seharusnya gue permaluin ade gue sendiri.” Alea menatap Reva dengan seksama membuatnya merasa kikuk.
“Iya gag pa-pa…” Reva berusaha tersenyum walau canggung.
“Udah lah lo santai aja, kalo lo mau ikut ke kantor ayo, sekalian lo belajar.”
Rasa canggung itu ternyata tidak dirasakan sama sekali oleh Alea. Mungkin karena lingkungan tinggal mereka yang sangat jauh berbeda, Alea yang terbiasa dengan hal bebas termasuk dalam hal berbicara dan Reva yang masih sering merasa tidak enakan untuk menyampaikan sesuatu.
“Benar sayang, kalau kamu mau belajar tentang perusahaan papih, lea pasti mau ngajarin kamu kok.” Sambung Nida dengan sumeringah. Ia sangat bersyukur akhirnya kedua putrinya bisa akur.
“Oh okey kalo gitu. Mau di anter supir nak? “
“Gag usah mih reva…”
“Udah bareng gue aja sama kak Edho, toh kita searah juga, iya kan kak?” Alea menyenggol lengan Edho yang sedari tadi tertunduk menikmati sarapannya. Namun fokusnya masih tetap pada perbincangan keluarga hangat ini.
“Ya, kita bareng aja.” Sahut Edho yang juga berusaha menutupi kegundahannya.
****
Kendaraan memadati jalanan ibu kota pagi ini. Mereka saling beradu kecepatan mengambil peluang sebanyak mungkin untuk menghindari kemacetan. Terkecuali Edho, ia memacu kendaraannya dengan santai sambil menikmati candaan raditya dika yang biasa ia putar saat bersama Reva.
“Pulang ngampus lo mau kemana lana? Kita shopping bareng yuk..” ajak Alea dengan mata berbinar-binar.
__ADS_1
“Em habis ngampus rencana gue mau ketemu riana, udah lama gag ketemu dia.” Sahut Reva yang memang sedang teringat pada sahabatnya ini.
“Oh okey, tapi lain kali kita jalan bareng ya.. kita ajak mamih juga.”
“Okey, kita jalan lain kali.”
Edho yang mendengarkan perbincangan kakak beradik ini rasanya tak bisa kalau harus menahan senyumannya. Melihat mereka rukun dan jauh berbeda dengan kejadian semalam membuat perasaannya sedikit tenang.
“O iya, satu lagi. Gue lebih suka manggil lo lana dari pada reva. Kalo manggil reva gue selalu ngerasa kita saingan tapi kalo manggil lana, ya gue ngerasa lo ade gue. Lo gag masalah kan?”
“Iya gue gag masalah kok.” Reva berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia memang Alana meski belum ada satu hal pun yang bisa ia ingat tentang keluarganya.
Dalam beberapa saat, nyatanya candaan raditya dika bisa membuat mereka sama-sama tertawa. Alea menceritakan banyak hal tentang pengalamannya saat sekolah dan kuliah di luar negri. Ia pun menceritakan kebobrokan kakak sepupunya yang membuat mereka tertawa dengan renyah.
Reva mulai menikmati suasana ini. Rasanya ia mulai bisa berbaur dengan keluarga yang terasa baru ini.
****
Suara tawa terdengar jelas dari salah salah satu ruang rapat kantor Raka. Sesekali ada sorakan saat Divisi keuangan menyampaikan pencapaian yang sangat bagus untuk beberapa proyek yang mereka jalankan. Point terpenting dalam rapat ini adalah mereka bisa menyelesaikan kerjasama dengan baik bersama beberapa perusahaan besar termasuk anak perusahaan Wijaya group yang di bawahi Edho.
Wira menepuk bahu Raka dengan bangga karena sang putra sudah bisa membawa perusahaannya ke titik pencapaian yang semakin tinggi.
“Apa papah bilang, kamu itu mampu raka, sangat mampu malah.” Lagi-lagi kalimat itu yang terlontar dari mulut Wira.
“Makasih pah, ini juga berkat kerjasama tim yang baik di perusahaan kita.” Sahut Raka yang ikut terbawa euphoria ruangan ini.
“Wah kita harus ngadain perayaan nih buat semua lini yang udah kerja keras dan ngasih kontribusi yang sangat besar.” Fery ikut ambil suara dalam suasana menyenangkan ini.
“Iya, lo bantu gue mikirin kira-kira apa hal yang bisa meningkatkan rasa memiliki semua karyawan terhadap perusahaan kita.”
“Tentu, nyari ide buat nyenengin orang itu keahlian gue.” Tukas Fery seraya menepuk dadanya dengan jumawa.
Tak berselang lama, tampak Rudy yang membisikan sesuatu di telinga Wira. Ekspresi Wira berubah saat itu juga.
“Papah keluar bentar, ada tamu penting.” Ujarnya dengan penuh semangat.
Raka hanya mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda persetujuan.
__ADS_1
Rapat berlanjut dengan pembahasan rencana proyek berikutnya.
****