
Fery mengajak Reva untuk makan siang di kedai yang menjual menu utama bebek. Suasana tampak ramai, terlebih ini adalah jam makan siang. Fery memilihkan tempat duduk yang nyaman, ya ia memilih untuk makan di area luar, tidak di dalam kedai. Ia fikir suasananya akan lebih menyenangkan karena tidak berdesakan dengan banyak orang.
“Lo suka bebek bakar apa bebek goreng?” tanya Fery sesaat setelah menemukan tempat duduk.
“Bebek goreng aja. Thanks ya…” sahut Reva seraya tersenyum.
Fery hanya mengangguk lalu menuju tempat pemesanan makanan. Ia memesan beberapa menu dan Reva hanya melihatnya dari kejauhan.
Tak lama, Fery kembali dan duduk di samping Reva.
“Gue baru tau ada tempat makan enak di sini.” Ujar Reva dengan mata mengeliling melihat sekitar kedai.
“Iyaa, kedai ini memang sederhana, tapi gue jamin lo pasti suka.” Cicit Fery dengan penuh kesungguhan.
Tak lama, sang penjual pun datang mengantarkan pesanan. Reva dan Fery mulai menyantap makan siangnya. Sesekali mereka tertawa saat bibir Fery dan Reva sama-sama belepotan dengan minyak dari bebek yang mereka makan.
“Hahaha lo berantakan banget fer..” ujar Reva seraya tertawa renyah.
Fery ikut tertawa padahal Reva sama berantakannya. Reva mencuci tangannya lebih dulu dan mengambil selembar tissue lalu melap sisa minyak di wajah Fery. Fery tertegun dengan usapan lembut Reva membuat kedua mata mereka saling bertatapan.
Reva menghentikan gerakan tangannya saat ia merasa Fery mungkin tidak suka.
“Sory, kalo berlebihan.” Cetus Reva yang segera menarik tangannya.
Ia menaruh kembali tissuenya sementara Fery masih sangat terpukau. Laras sekalipun tidak pernah peduli dengan penampilannya bahkan ia tidak peduli apa Fery sudah makan atau belum karena ia akan lebih senang makan siang dengan teman-temannya dan Fery hanya melihat dari kejauhan. Atau mungkin, Laras tidak mau memperkenalkan Fery sebagai kekasihnya karena penampilannya tidak layak untuk ia tunjukkan pada teman-temannya. Entah mengapa, di saat seperti ini Fery merasa gamang. Apa yang ia lakukan selama ini? Apa cintanya selama ini sia-sia saja?
“Fer, lo baik-baik aja kan?” Reva membuyarkan lamunan Fery. Fery sedikit terperanjat.
“Oh iya, sory gue ngelamun.” Cicit Fery yang memelankan suaranya di akhir kalimat.
“Sorry kalo gue tadi..”
“Gag pa-pa re…” Fery memotong kalimat Reva dengan segera. “Lo meranin peran lo dengan sangat baik.” Puji Fery dengan perasaan yang tidak karuan.
Selesai makan siang, Fery mengajak Reva ke tempat lain. Sepanjang jalan Fery melihat Reva duduk dengan tidak nyaman. Ia bisa melihat ekspresi Reva yang sesekali tampak meringis dari spion kanan motornya. Fery menghentikan sejenak laju sepeda motornya.
“Kita udah sampe?” tanya Reva yang berusaha membuka helmnya.
“Belum re, cuma gue liat lo kayaknya gag nyaman.” Terka Fery yang membuat raut wajah Reva berubah beberapa saat kemudian.
“Hem ketauan yaa…” Reva tersenyum kecil.
“Lo kenapa re?” Fery menatap Reva dengan lekat, seperti yang selalu Reva lakukan, memberikan fokus pada lawan bicaranya.
“Sebenernya, ini hari pertama periode bulanan gue. Perut gue agak sakit. Sorry kalo gag menuhin ekspektasi lo, kalo lo jadi gag nyaman, kita jalan layaknya temen aja, dan lo free, gag usah bayar jasa gue.” Terang Reva tanpa canggung.
Fery hanya tersenyum. Rupanya wanita jago berantem seperti Reva juga bisa pucat karena periode bulanan.
“Gag pa-pa re, itu hal wajar. Nanti kalo udah sampe, gue beliin obat ya.” Tawar Fery yang diangguki setuju oleh Reva.
Fery kembali melajukan sepeda motornya dan berhenti tepat di depan stadion. Fery melepas helm miliknya dan milik Reva.
“Lo suka bola?” tanya Fery yang random.
“Gag fanatik gue, tapi ngerti dikit-dikit lah.”
“Beneran?” Fery sepertinya terkejut dengan jawaban Reva, ia tidak menyangka Reva memang sangat unik. Semakin banyak hal yang membuat Fery penasaran.
“Yaa, ade gue banyaknya cowok, jadi gue tau dikit-dikit lah soal bola gini.” Terang Reva yang menghapuskan keterkejutan Fery.
Fery terangguk paham.
Fery membawa Reva masuk ke stadion. Pertandingan baru di mulai dan mereka mendapatkan tiket VIP. Sebelum masuk Fery membeli coklat dan es krim dan memberikannya pada Reva.
__ADS_1
“Jadi ini obat yang lo maksud?” tanya Reva seraya terkekeh.
“Iya, biasanya cewek kan suka makanan manis kalo lagi dapet.” Ungkap Fery yang sok tahu.
“Hahahha lo emang ahlinya ya soal cewek.” Puji Reva yang entah sejujurnya atau sindiran yang jelas kalimat itu membuat kecanggungan Fery hilang.
Reva mulai menikmati es krim-nya, namun tiba-tiba seseorang berdiri dan menyenggol Reva membuat es krim tersebut jatuh mengenai Fery.
“Astaga, sory fer…” dengan segera Reva mengambil tissue dari dalam tasnya dan membersihkan lelehan es krim yang mengenai baju Fery.
Fery hanya terdiam, ia hanya mampu memandangi wajah Reva yang terlihat semakin cantik jika di lihat dari jarak sedekat ini.
“Yah… kotor deh baju lo.” Keluh Reva dengan tatapan bersalah pada Fery. Demi apapun darah Fery rasanya berdesir.
“Gag pa-pa re, ini di cuci juga hilang.” Ujar Fery yang berusaha tersenyum.
“Hem… beneran sory ya fer, gue ngacauin kencan kita.” Tutur Reva dengan perasaan bersalahnya.
“Kencan? Kenapa gue berharap ini nyata re?” batin Fery tanpa bisa ia ungkapkan.
“Beneran gag pa-pa re, ayo kita nonton lagi.” Fery mengalihkan pandangan Reva ke lapangan hijau. Sepertinya berhasil, karena kini Reva tengah serius menyimak pertandingan.
Selama pertandingan, perhatian Fery lebih sering terarah pada Reva. Gadis yang kini menggulung lengan bajunya hingga ke sikut, ia ikut bersorak dan melonjak kegirangan saat pemain berhasil mencetak gol. Entah tim mana yang ia dukung, Fery tidak peduli. Ia hanya ingin menikmati pemandangan depan matanya. Pemandangan yang sangat langka dan mengusik pikirannya.
“Lo cewek keren re…” puji Fery dalam hatinya.
*****
Untuk alasan ingatannya yang terus tertaut pada Reva, akhirnya Fery mengambil keputusan. Sore itu, ia tidak ingin menjadi supir pribadi bagi Laras. Ia ingin di hargai sebagai sosok nyata yang diperlakukan dengan baik dan tulus. Dan kali ini, ia memilih meninggalkan Laras yang masih asyik dengan para sahabatnya dan menemui Reva yang selalu membuatnya merasa “ada”.
“Re…” ujar Fery saat melihat Reva yang muncul dari balik pintu kamar kost-nya.
Katakanlah Fery terbawa perasaan saat kencan pertamanya bersama Reva tapi lebih dari itu, ia ingin kembali menghabiskan waktunya dengan Reva.
“Lo..?” Reva tampak mengingat sosok yang ada di hadapannya.
“Gimana fer, ada yang bisa gue bantu?” walaupun Reva tidak mengingatnya, Reva tetap menawarkan bantuan, bukankah itu sangat manis bagi Fery?
“Sory re, sore-sore gini gue ganggu lo. Gue emang belum bikin janji sama lo, tapi gue harap lo bisa temenin gue sebentar buat ngobrol.” Pinta Fery dengan ragu-ragu.
Reva bisa melihat tangan Fery yang mengepal. Ia yakin perasaan laki-laki di depannya tidak sedang baik-baik saja.
“Bisa gue tau maksud “nemenin” yang lo maksud?” Reva ingin memperjelas maksud Fery.
Fery menatap manik coklat milik Reva, ia menghela nafas dalam dan berusaha meyakinkan Reva. “Gue, cuma pengen di temenin, murni di temenin. Gue gag akan macem-macem, gue janji.” Fery mengacungkan dua jarinya di hadapan Reva. Reva tampak berpikir sejenak tapi kemudian mengangguk setuju.
****
Alunan musik disco menggema mengisi rongga telinga siapapun yang berada di salah satu club terkenal di Jakarta. Mereka menari berjingkrakan di lantai dansa sementara Reva masih duduk tenang seraya memandangi Fery yang beberapa kali meneguk minumannya lalu meringis karena pahit.
“Kasih gue sebotol lagi!” Seru Fery pada bartender di hadapannya.
“Fer, lo yakin, lo udah habis 1 botol loh.” Reva berusaha mengingatkan.
Fery hanya tersenyum tipis. Ia menatap Reva dengan tatapannya yang mulai setengah sadar.
“Lo peduli sama gue re? hahahha lo peduli?” tanya Fery dengan tawa yang terdengar nyaring.
Walau suaranya masih kalah di banding alunan musik, tapi Reva masih bisa mendengar suara Fery dengan jelas. Ia tertawa terbahak-bahak tapi matanya berbohong. Ia tidak bisa menyembunyikan kesakitan yang ia rasakan.
Reva sadar, ini bukan tempat yang tepat untuk Fery. Ia mengetik beberapa pesan pada seseorang dan setelah mendapat balasan, ia segera membawa Fery.
Di ruangan yang cukup luas dengan suasana yang tidak terlalu bising ini Reva mendudukan Fery di atas sofa. Beberapa kali Fery jatuh tertidur hilang keseimbangan namun ia segera kembali bangun dan duduk bersandar.
__ADS_1
“Kalo keberadaan gue gag dianggap, perjuangan gag dihargai, mungkin hal yang paling benar adalah pergi, sebab untuk apa bertahan jika tempat yang didatangi tak mampu membahagiakan? Iya kan re?” tanya Fery yang masih tertunduk dengan sesekali terdengar cegukan. Sepertinya ia benar-benar mabuk.
Reva tidak menanggapi tapi ia masih setia mendengarkan Fery dengan jarak yang ia buat.
“Gue bukan siapa-siapa, gue cuma mahluk rendah yang bahkan dia enggan perkenalkan pada dunianya. Tapi kenapa gue masih ada di samping dia? Gue bodoh kan re?” kali ini Fery menatap Reva dengan garis senyum pilu.
Di detik ini Reva sadar, sepertinya Fery sedang patah hati.
“Hahahha ya gue bodoh!” Fery memukul kepalanya sendiri sambil terkekeh. “Lo lebih bisa memahami gue di banding dia, tapi kenapa harus dia yang gue cinta, kenapa bukan lo aja?” Fery mendekatkan dirinya pada Reva dan Reva membiarkannya. Ia punya batas yang mungkin akan bertindak saat Fery sudah melewatinya.
“Gue cinta sama dia re, gue cinta!” teriak Fery kemudian dengan mata menyalak. Terlihat jelas perasaan yang ia coba tahan. “Tapi, gue ngerasa gue berjalan sendiri, gue bertahan sendirian dan gue berjuang sendirian. Kami bukan dalam kondisi mempertahankan sebuah hubungan , kami hanya menunda untuk kemudian berpisah.” Fery mengusap dadanya dengan berat.
“Gue ada di samping dia tapi gue gag pernah di anggap ada. Gue cuma supir, gue tukang beliin makan, gue yang dengerin dia ngeluh, gue yang cinta mati sama dia tapi gue gag berarti apa-apa buat dia. Anjiimmmm! emang.” Seru Fery seraya memukul sofa yang ia duduki. “Haaaahh… Kadang gue pengen pergi jauh dari dia. Gue pengen tau, apa setelah gue pergi dia bakal nyari gue, bakal kangen gue. Tapi gue terlalu takut, karena gue sadar, kalo gue pergi, gue gag akan pernah kembali lagi sama dia. Dan gue takut, mungkin dia bakal sendirian.” Tukas Fery yang mulai memejamkan matanya. Bibirnya tersenyum pilu dan tubuhnya mulai bersandar.
Mencintai seseorang ada kalanya terasa begitu berat. Meski Reva tidak pernah mengalami persis yang Fery alami, namun ia bisa merasakan kegetiran hati Fery. Bukankah mereka pernah sama-sama mencintai dan di sia-siakan?
“Katakan apa yang mau lo katakan fer, setelah itu kita sama—sama lupakan dan kita mulai hidup baru yang lebih indah tanpa kesakitan.” Lirih Reva yang sepertinya tidak di dengar jelas juga oleh Fery.
“Uhuk-uhuk!” Fery terbatuk. Reva segera mendekat dan dalam beberapa saat Fery memuntahkan isi perutnya.
“Ah sial lo emang!” dengus Reva sambil tersenyum bodoh pada dirinya sendiri.
Ia merutuki dirinya. Setelah beberapa kali menemani Jeremy dalam kondisi yang sama,bagaimana bisa ia masih belum tau apa yang akan terjadi berikutnya dan menjadi korban muntahan untuk kesekian kalinya. Sebagian baju Reva kotor tapi tidak ia pedulikan. Reva membantu Fery berbaring dan mengusap sisa muntahan di bibir Fery dengan lembut.
Fery tersenyum seraya menatap Reva. “Thanks re…” lirihnya yang entah sadar atau tidak. Namun dalam beberapa saat, ia mulai terlelap.
Reva mengambil kertas menu dan menuliskan sesuatu di sana. Tak lama handphone Reva berdering, ia segera menjawabnya.
“Gue masih di tempat lo. Dia mabuk berat.” Terang Reva pada Jeremy.
“Ah elah, lo kenapa bawa kumbang lo ke situ sih? Kalo dia ngelakuin yang aneh-aneh sama lo gimana re?” suara Jeremy terdengar cemas.
Reva hanya tersenyum seraya memandangi Fery yang tengah terlelap. “Dia udah tidur jer.” Bisik Reva sambil terkekeh.
“Huft syukurlah. Lo pulang aja re, tuh anak biar gue yang urus.”
“Iya.. Tapi jer, kayaknya gue ngelakuin kesalahan deh.” Kali ini Reva berbalik membelakangi Fery. Ia menghela nafas dalam dan terdengar gusar.
“Kenapa? Lo mulai suka sama tuh cowok? Jangan sampe ya re, ato tuh kumbang berhadapan sama gue!” gertak Jeremy dengan kesal.
“Gag gitu jer…” Reva mencoba menenangkan Jeremy dan dirinya sendiri. “Gue salah, kayaknya dia punya cewek tapi malah gue ladenin.” Lanjut Reva terdengar menyesal.
“Lah kok bisa? Perasaan gue cari tau soal dia, dia gag punya cewek deh.” Jeremy terdengar terkejut.
Reva mengendikkan bahunya, ia sadar benar ia salah. Selama ini, ia hanya mau menemani kumbang yang memang tidak memiliki pasangan. Bagaimana pun ia tidak mau menjadi perusak keteguhan hati seseorang yang sedang menjaga hatinya untuk gadis yang ia cintai, tapi kali ini sepertinya ia kecolongan.
Ah, sudahlah nasi sudah menjadi bubur, tinggal pakai kecap dan bawang goreng, pikir Reva. Ia mengakhiri panggilannya pada Jeremy. Sejenak ia memandangi Fery yang terlelap kemudian pergi meninggalkan Fery sendirian.
Sepeninggal Reva, Fery kembali membuka matanya. Sebenarnya sedari tadi ia tidak benar-benar tertidur. Ia masih bisa mendengar dengan jelas semua perbincangan Reva dengan lawannya. Dan mendengar kalimat Reva, membuat hati Fery menghangat.
Fery mengambil tulisan yang Reva tinggalkan untuknya. Bibirnya tersenyum saat melihat tulisan tangan Reva.
“Semua orang berharga fer, termasuk lo. Sebesar apapun perasaan lo buat dia, lo harus lebih dulu mencintai diri lo sendiri sebelum memberikan perasaan lo buat orang lain. Keep strong good man.” Itulah yang di tulis Reva.
Fery tersenyum tipis, tapi matanya mulai meneteskan butiran air mata. Ia bisa merasakan ketulusan Reva. Dan tentang perasaannya, rasanya ia sudah menemukan titik baliknya. Tapi kali ini saja, ia ingin membiarkan dirinya menangis tanpa dilihat siapapun, setelah ini, ia akan lebih kuat lagi.
Fery terisak dalam sendiriannya.
*****
Jadi, seperti apa definisi **** girl menurut kalian? Huft Reva, bikin baper orang aja deh...
__ADS_1
Btw, ini episode terpanjang yang aku bikin, jangan bosen yaaa, hahaha
Happy reading gais...