
“Selamat pagi bu…” sapa reseptionist kantor yang menyapa Reva seperti biasanya.
“Pagi…” Reva tampak tersenyum tipis.
“Bu maaf, ini ada titipan buat ibu.”
Wanita itu memberikan sebuah bucket bunga mawar berwarna coral pada Reva. Reva mengernyitkan dahinya. Tidak mungkin Raka kan yang memberikannya.
“Em, okey makasih ya.”
Reva menerima bunga tersebut. Ia melihat tulisan yang terselip di antara bunga tersebut. “I walked towards to you” hanya ada kata-kata tersebut tanpa nama pengirim.
“Siapa yang ngirimnya?” Reva memutuskan untuk bertanya.
“Kurang tau bu. Tadi florist nya langsung yang nganter.” Terang wanita tersebut yang sepertinya ikut kebingungan.
“Waw, ada yang dapet bunga nih.” Alea tiba-tiba saja datang dan berdiri di samping Reva. Ia mencium wangi bunga yang terasa segar. “Gede banget re, dari raka?” tanya Alea kemudian.
Reva hanya tersenyum sambil terpaku, Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Terlihat Alea mengeluarkan handphonenya. Ia mengetik sesuatu di sana.
“Mawar berwarna coral atau karang mewakili hasrat, yang artinya seseorang ingin menarik Anda. Nice!” seru Alea seraya menatap Reva yang masih terpaku. “Bisa juga itu bocah romantis sama lo re!” Alea mencolek dagu Reva seraya terkekeh.
Dalam pikiran Reva, bagaimana mungkin Raka mengiriminya bunga, sementara di malam pertama saja mereka menyingkirkan semua bunga di kamar pengantinnya.
Reva berusaha tersenyum di sela lamunannya. Ia menatap bunga beserta tulisan yang ada di kartu tersebut. Entah mengapa ia merinding sendiri.
“Ya udah, yuk kita masuk. Papi tadi udah nelpon, katanya mau ketemu kita.” Alea menggandeng tangan Reva dan membawanya menuju lift.
****
Untuk pertama kalinya, Fery memutuskan untuk datang menemui Alea dan mengajaknya makan siang. Dari pintu ruangan Alea, Fery memperhatikan gadisnya yang masih sibuk membuka-buka berkas di hadapannya.
Fery tersenyum sendiri, betapa menariknya Alea di mata Fery. Ia menyentuh dadanya yang kini berdebar lebih cepat dari biasanya. Beberapa saat ia memandangi Alea sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk.
“Ehem!” Fery berdehem dan berhasil menarik perhatian Alea.
“Fer….” Alea tersenyum riang saat melihat sosok yang tengah ia rindukan. “Tumben mampir sini…” sambungnya seraya berjalan menghampiri Fery.
“Lo masih sibuk gag? Kita makan siang yuk!” ajak Fery yang mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Alea.
Alea menggigit bibirnya sendiri seraya menahan senyum. Perlahan ia terangguk. Lihatlah bagaimana wanita ini terlihat sangat menggemaskan saat ini. Perlahan ia terangguk. Fery ikut tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Alea. dengan senang hati Alea menyambutnya.
10 menit sudah Fery melajukkan mobilnya menuju resto yang akan mereka tuju. Sesekali Fery melirik Alea yang tampak melihat lurus ke depan dengan jemari saling memilin. Sepertinya ia sangat gugup tapi entah untuk alasan apa.
__ADS_1
“Gimana di kantor?” Fery berusaha mencairkan suasana. Biasanya topik ini menjadi topik standar untuk membuka obrolan dengan Alea yang gila kerja.
“Lancar. Belum lama lagi akan ada pemilihan direksi baru.” Ungkapnya seraya menatap Fery.
Fery terangguk dan memfokuskan kembali pandangannya pada jalanan yang terlihat padat.
“Di kantor lo kayaknya gag pernah keluar dari zona sibuk dan lo keliatan cantik kalo lagi serius kayak tadi. Jadi pengen sering-sering main ke kantor lo deh.” Goda Fery seraya sejenak menoleh Alea.
“Gombalan lo garing!” cetus Alea yang berusaha mencubit Fery.
Tapi siapa sangka Fery malah menangkap tangan Alea dan menggenggamnya dengan erat. Bibirnya memperlihatkan sebuah garis senyum. Alea memandangi tangan kanannya yang tengah di genggam Fery. Rasanya begitu hangat.
“Jangan nyubit sekarang ya, gue lagi nyetir.” Protes Fery seraya mengecup tangan Alea.
Alea menahan senyum di bibirnya tapi jantungnya sudah berloncatan tak menentu.
“Kalo ada apa-apa juga paling kenapa-kenapa sama lo.” Lirihnya yang masih bisa di dengar Fery.
“Uhh.. so sweet banget sih pengen apa-apa barengan.” Goda Fery yang membuat Alea tak bisa lagi menyembunyikan rona merah di pipinya.
Alea menyikut Fery dan Fery tampak mengaduh manja.
Dalam beberapa saat terlihat sebuah motor yang menyalip dan menggunting kendaraan Fery di depannya. Dengan segera Fery menginjak pedal rem seraya membunyikan klakson panjang.
Dengan cepat Fery memeluk Alea, membuat Alea menghentikan ujaran rappernya.
“Maaf, maaf gue gag sengaja lea. Maaf….” Lirih Fery seraya mengusap punggung Alea dan mengecup pucuk kepalanya. Alea terlihat masih shock. Fery segera menepikan mobilnya. Ia memandangi wajah Alea yang tampak pucat.
“Lo gag kenapa-napa kan?” Fery kembali menggenggam tangan Alea yang terasa dingin. “Gue emang kurang hati-hati. Gue juga gag nyadar kalo motor itu bakalan ngelakuin hal yang tadi. Maaf lea…” Fery menempatkan kepalanya di kedua tangan Alea.
Terdengar helaan nafas dalam Alea yang membuat Fery kembali menatapnya dengan jarak yang sangat dekat. Perlahan Alea mulai terlihat tenang.
“Tadi bukan murni kesalahan lo. Maaf juga karena gue terlalu panik.” Timpal Alea yang berusaha tersenyum.
Fery ikut tersenyum. “It’s okey.” Lirihnya.
Ternyata memandangi Alea sedekat ini benar-benar membuat Fery tak bisa menendalikan dirinya. Ia terlarut dalam tatapan hangat Alea. perlahan ia semakin mendekat dan Alea terlihat memejamkan matanya. Sepertinya ia tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa detik ke depan.
Fery tersenyum tipis. Ia ikut memejamkan matanya seraya mengecup bibir merah muda milik Alea. Alea hanya terdiam tanpa menolaknya namun beberapa saat kemudian ia membalas kecupan Fery membuat keduanya begitu menikmati sensasi lain dalam mengutarakan perasaan. Mereka saling memagut dalam waktu yang cukup lama hingga keduanya berhenti karena rasanya nafasnya hampir habis.
Fery menempatkan dahinya di dahi Alea. nafas keduanya saling menderu. Keduanya masih memejamkan mata, menikmati sisa sensasi yang tadi memenuhi perasaannya.
****
Reva tengah mengemasi baju-baju Raka untuk 3 hari kedepan. Raka akan melakukan perjalanan bisnisnya dan entah mengapa Reva sepertinya tidak ingin di tinggal. Ia bisa membayangkan hari-harinya yang sepi dalam beberapa hari ke depan tanpa Raka.
__ADS_1
“Iya, saya ke bandara dalam setengah jam lagi.” Ujar Raka yang sedang bertelpon di luar kamar. Sepertinya ia sedang berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai 2. “Iya, pastikan semuanya sudah siap. Jangan ada yang terlewat.” Imbuhnya lagi.
Raka sudah memutus sambungan telponnya. Ia melihat sosok Reva yang sedang mengemasi bajunya kedalam koper yang berada di tempat tidur. Ia tersenyum tipis, sejak tadi pagi Reva selalu diam dan tidak bicara apapun sepertinya ia sangat sedih di tinggal Raka.
“Sayang….” Bisik Raka yang sudah memeluk Reva dari belakang. Ia mengecup ceruk leher Reva tapi yang empunya hanya menggeliat tanpa menjawab. “Kamu marah sayang? Mau ikut aja ke luar kota?” tawar Raka yang sebenarnya sudah beberapa kali ia tawarkan tapi Reva menolaknya.
Reva hanya menggeleng. Rasanya ia tidak ingin Raka pergi kemanapun. Dan ia sendiri beberapa hari ini merasa tubuhnya tidak nyaman, hanya saja ia tidak ingin Raka cemas kalau ia memberitahukannya.
Raka memutar tubuh Reva menghadapnya. Ia memandangi wajah yang kini terlihat sendu.
“Beberapa hari ini kamu terlihat pucat, apa ada yang sakit?” Raka menangkup wajah Reva dengan kedua tangannya.
Reva mengambil tangan Raka dan mengecupnya. “Aku baik-baik aja.” Sahutnya lirih.
“Aku gag bisa pergi kalo kamu kayak gini. Apa sebaiknya aku gag usah pergi?” Melihat wajah Reva saat ini, rasanya hati Raka pun terasa berat kalau harus berpisah.
Reva menggeleng dengan cepat. “Ini penting, kamu harus tetap pergi. Aku akan baik-baik aja, tapi aku pasti akan sangat merindukan kamu mas.” Lirih Reva dengan mata berkaca-kaca.
Raka tersenyum tipis, baru kali ini ia pergi keluar kota meninggalkan Reva yang penuh dengan drama.
“Bekali aku sesuatu yang gag akan bisa aku lupain.” Bisik Raka menggoda.
Reva terperangah, tapi saat melihat alis Raka yang naik turun, rasanya ia paham maksud suaminya ini.
“Nanti kamu terlambat mas.” Reva mengusap dada bidang Raka dengan mata yang tak lepas menatap Raka dalam.
Sepertinya Raka tidak peduli. Raka mendaratkan bibirnya tepat di bibir Reva. Ia ******* bibir merah muda itu seraya memegang tengkuk Reva untuk memperdalam ciumannya. Reva mulai membalas ******* Raka dan sesekali terdengar desahan yang sangat menggoda Raka.
Raka menggigit lembut bibir Reva dan membuat Reva membuka mulutnya hingga lidah Raka bisa menerobos masuk dan mengakses setiap inci rongga mulut Reva. Reva membalas belitan lidah Raka membuat keduanya terbuai dalam keintiman yang mereka ciptakan.
Mereka saling ******* dan mengecap bibir masing-masing dan menyalurkan hasrat yang tak tertahan. Tangan Reva meremas kemeja Raka yang sudah rapi, membuka satu per satu kancingnya dan Raka menyentuh bagian-bagian sensitif Reva yang membuat Reva mengeram tertahan.
Keduanya benar-benar mulai kehilangan akal sehat.
“Aahh..” desahan Reva semakin membuat Raka terbuai. Persetan dengan Anwar yang kini mungkin sedang menunggunya. Ia harus menyelesaikan hasratnya.
Bibir Raka mulai berpindah ke ceruk leher Reva membuat tanda-tanda kepemilikannya. Semakin lama semakin bawah membuat tubuh Reva bergetar.
Raka membawa tubuh Reva ke tempat tidur. Tubuhnya menghimpit tubuh Reva yang mulai kehilangan satu per satu kain yang menutup tubuhnya dan entah dilempar kemana oleh Raka. Semakin lama keduanya semakin tenggelam terlebih saat tubuh mereka saling bergerak sinergi hingga bersama-sama mencapai puncak kenikmatan yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.
Tubuh Raka terkulai di atas tubuh Reva dengan keringat bercucuran. Nafasnya masih terdengar menderu. Ia menatap Reva dengan penuh perasaan lalu mengecupnya dengan lembut.
“Kamu sangat cantik sayang…” bisik Raka saat melihat Reva dengan mata yang masih terpejam.
****
__ADS_1