Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 87


__ADS_3

Edho memutuskan untuk mengantar Reva hingga ke depan kantor. Lebih tepatnya ia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama gadis pujaannya. Ia terus memperhatikan Reva yang sejak tadi terdiam dan hanya menjawab kalimatnya dengan singkat.


“Re, bisa ke tempat parkir bentar, gue ada sesuatu dulu buat lo.” Pinta Edho tiba-tiba.


“Ada apa dho?”


Tanpa menjawab, Edho menarik tangan Reva menuju tempat ia memarkirkan mobil mewahnya. Ia membuka pintu mobil dan mengambil sebuah paperbag cantik.


“Ini buat lo…” Edho menyerahkan paperbag itu pada Reva. Reva masih ragu untuk menerimanya karena yang diberikan Edho sudah pasti bukan sesuatu yang murah.


“Ini apa?”


“Gue ngeliat benda ini langsung inget sama lo. Gue harap lo suka.” Lagi-lagi Edho tersenyum dan sedikit terlihat gugup.


Reva bukan gadis bodoh yang tidak mengerti arti dari setiap tatapan dan sikap Edho, terlebih Edho pernah mengatakan kalau ia memang menyukai Reva. Ia tidak ingin Edho berharap lebih atau kedepannya kembali membuat Raka salah paham. Baik dulu atau sekarang, Edho merupakan salah satu sahabat yang tidak ingin Reva buat canggung atau menjauh karena sebuah perasaan yang tidak seharusnya. Terlebih saat ini ia tau, Edho adalah kakak sepupunya.


“Gue gag bisa terima ini dho…” Reva memberikan kembali paperbag di tangannya.


“Ayolah re… Anggap aja ini pemberian dari seorang temen. Gue harap sesekali gue liat lo pake.” Tutur Edho dengan penuh kesungguhan.


Reva berusaha tersenyum. “Gue akan anggap ini hadiah pemberian dari seorang abang buat adeknya.” Tegas Reva dengan tatapan penuh keyakinan.


Edho berusaha menyembunyikan wajah kecewanya yang sebenarnya masih jelas terlihat. Namun asalkan Reva senang, apalah arti rasa kecewa di dadanya.


“Hem… abang…” Edho mengutip kalimat Reva sambil tertunduk.


Benar saja, yang di takutkan Reva memang terjadi. Keduanya merasa canggung satu sama lain. Reva sudah membuat garis batas yang tidak bisa Edho lewati.


“Asalkan lo seneng, gag ada masalah buat gue.” Tegas Edho dengan senyum manis yang ia berusaha ukir.


“Thanks dho…” Edho hanya terangguk. “O iya, gimana kabar tante nida dan om indra?” tanya Reva dengan ragu.


Kali ini, Edho yang tertunduk kembali menatapnya. “Om indra kabar baik. Tapi tante nida akhir-akhir ini kurang sehat. Dia lebih sering ngurung diri di kamar. Makan juga di anterin ke kamarnya. Mungkin lo bisa nemuin dia, siapa tau dia semangat lagi kayak waktu lo main ke rumahnya.” Terang Edho yang membuat Reva kembali mengingat tawa Nida yang begitu lepas saat bersamanya.


Mendengar cerita Edho, entah mengapa hati Reva mencelos. Ada rasa cemas yang mengisi relung hatinya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mengusap dadanya sendiri yang terasa sesak dan mencoba mengatur nafasnya dan meyakinkan kalau semua baik-baik saja.

__ADS_1


****


Dengan perasaan yang berkecambuk di dadanya, Adrian melajukan mobilnya menuju kota tempat Arini tinggal. Setelah menempuh perjalanan lebih dari 3 jam, Adrian memarkir mobilnya di depan sebuah ruko yang masih ramai dengan aktivitas karyawannya padahal hari menjelang malam.


Adrian mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak mau kedatangannya memperkeruh suasana yang selama ini memang sudah tak baik. Setelah yakin dengan keputusannya, ia turun dari mobilnya dan berjalan santai menuju ruko tersebut.


“Eka, tolong tanya distributor kapan baju tidur anak dikirim. Stok kita udah kosong.” Seru sebuah suara yang Adrian yakini sebagai milik Arini.


"Iya mba..." Seru wanita yang mendapat perintah dari Arini.


Benar, di hadapannya berdiri seorang wanita yang sedang menghitung barang jualan yang tersusun rapi di raknya. Sejak memutuskan untuk berpisah dengan Adrian, Arini memulai usahanya sendiri dengan membuka online shopping kebutuhan bayi dan anak-anak. Alasan mendasar Arini membuka usaha ini bukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melainkan untuk mengalihkan segala kesedihannya dengan kegiatan rutin yang menguras tenaga dan pikirannya.


“Arin…” ujar Adrian yang membuat wanita bertubuh mungil itu membalik tubuhnya menghadap sumber suara.


“Mas adrian..” lirihnya tak percaya. Untuk beberapa saat mereka terpaku saling bertatapan. Lama sudah mereka tidak melihat wajah masing-masing


****


Di ruangan kerjanya di lantai atas kini Arini dan Adrian berada. Mereka masih saling terdiam dengan segelas minuman di tangan masing-masing. Adrian memutar-mutar gelas yang ada dalam genggamannya. Entah mengapa bibirnya kelu saat ini.


Selintas Adrian melirik wanita yang ada dihadapannya terlihat lebih kurus. Ia meneguk minumannya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Arini.


“Kean sakit, aku video call kamu gag jawab.” Sahut Adrian tanpa menoleh Arini. Ia fokus menikmati minuman di tangannya.


“Kean sakit? Dari kapan?” Arini terperanjat dari duduknya. Terlihat jelas ia sangat khawatir.


Adrian hanya tersenyum.  “Saya pikir kamu udah gag peduli sama kean.” Kali ini Adrian memandanginya dan membuat Arini menelan ludahnya kasar-kasar. Ia merasa dihakimi sebagai seorang ibu yang mengabaikan putra yang sangat dicintainya.


“Bukannya mas udah punya reva yang bisa menjaga kean lebih baik dari aku.” Suara Arini terdengar bergetar.


Meski ia lama tidak menemui putranya, tapi ia selalu menerima kabar, foto bahkan video tentang putranya. Termasuk saat Kean sakit dan Reva yang menjaga serta merawatnya dengan telaten. Hati Arini mencelos, bersama Reva Kean terlihat sangat bahagia. Ia tidak pernah rewel atau menangis. Ia pun tidak lagi melihat wajah ibunya yang sendu dan berlinang air mata.


“Kenapa selalu reva yang menjadi fokus kamu arini? Kenapa menyimpulkan selalu menjadi pilihan kamu sebelum kamu bertanya?” Adrian menatap Arini dengan tajam. Arini hanya bisa tertunduk sambil meremas jemarinya yang saling bertautan.


“Karena kamu memang hanya bisa mencintai reva kan? Aku gag pernah ada di hidup kamu. Aku hanya menjadi ibu dari anak kamu, tidak pernah menjadi istri apalagi wanita yang kamu cintai.” Sahut Arini dengan nada suara yang mulai meninggi dan bergetar. Ia tidak bisa lagi menahan tangisnya. Untuk pertama kalinya ia berani berbicara dengan nada tinggi di hadapan calon mantan suaminya.

__ADS_1


Adrian hanya terdiam. Untuk beberapa kalimat Arini memang benar tapi untuk kalimat lainnya salah.


Wajah Adrian terangkat, menatap sendu wanita yang kini sedang terisak. Mungkin dalam pandangan Arini, Adrian adalah laki-laki yang sangat jahat. Ia menyiksa batinnya dengan tidak pernah menganggap dirinya ada.


“Kamu benar rin, aku memang mencintai reva.” Kalimat pertama Adrian membuat hati Arini semakin mencelos. Ia berusaha menahan tangisnya yang sebenarnya sangat ingin ia tumpahkan. “Sejak dulu bahkan mungkin hingga sekarang. Dia cinta pertamaku yang membuat hidupku berwarna.” Kenang Adrian dengan raut wajah yang tidak bisa di jelaskan.


Sumpah demi apapun, Arini ingin sekali menampar Adrian dan mengupatnya habis-habisan. Pertahanannya selama ini untuk berusaha menerima Adrian dan menunggunya rasanya benar-benar akan runtuh.


“Kamu selalu berfikir bahwa reva adalah orang ketiga dalam hubungan kita yang membuat keluarga kita berantakan.” Adrian menghela nafasnya sejenak untuk menjeda kalimat yang ia rasa sangat berat untuk diucapkan. Ia menatap yakin Arini sambil menggelengkan kepalanya. “Nggak rin, reva gag pernah jadi orang ketiga di antara kita. Akulah yang menghadirkan kamu di dalam hubungan kami sebagai orang ketiga.”


Seketika, Arini yang sejak tadi tertunduk kini beralih menatap Adrian. Wajahnya penuh keterkejutan dan pertanyaan.


“Aku mencintai reva tapi aku gag pernah berjuang apapun buat dia. Saat orang tua kita menjodohkan kita, sebenarnya aku punya pilihan untuk menolak dan memperjuangkan reva sebagai satu-satunya wanita yang akan mendampingi hidupku. Tapi aku terenyuh melihat setiap perhatian kamu pada orang tuaku, hatiku hangat saat melihat ibu bisa tertawa bahagia hanya dengan menceritakan kamu dan itulah alasan aku bersedia menikahi kamu. Entah ada perasaan atau tidak di hati ini buat kamu, yang jelas aku sudah memilih dan pilihanku adalah mengkhianati reva.”


Adrian tertunduk, ia mengusap kasar wajahnya yang dibasahi buliran air mata. Rasa sesal itu kembali menghinggapi perasaannya.


“Dulu aku pikir, reva pun tidak ingin berjuang apa-apa untuk hubungan kami tapi sejak aku bertemu dia lagi, aku sadar itu cara dia mencintaiku yaitu dengan melepaskanku.”


Kali ini Arini benar-benar terisak. Ia menyesal sedalam-dalamnya karena telah berfikir bahwa Reva lah yang merusak keluarganya. Reva lah yang membuat hati suaminya berpaling. Nyatanya ia salah. Dalam kesakitannya Reva masih bersedia untuk menyerahkan Adrian padanya.


“Semua tentang kita, nyatanya sudah salah sejak awal mas. Dan aku menyesal, memisahkan kalian…” lirih Arini dengan suara bergetar.


“Tidak ada yang salah dengan pernikahan kita rin, semua memang sudah takdirnya dan aku yang memilihnya. Hanya saja, aku memang masih sangat merasa bersalah sama reva sehingga aku gag pernah bisa melupakan dia dan meminta kamu menunggu.”


Adrian meraih tangan Arini yang saling memilin. Ia menggenggamnya dengan erat. “Aku sudah berada di ujung perasaanku. Aku sudah melepaskan reva dan hanya menyimpannya sebagai kenangan. Terima kasih sudah bertahan selama ini. Dan terima kasih sudah memberi kean untukku. Jika setelah ini kamupun memilih untuk tetap pergi dan mengakhiri semuanya, aku akan terima. Tapi jangan buat kean kehilangan kasih sayang ibunya. Dia membutuhkanmu rin…” tukas Adrian dengan penuh kesungguhan.


Arini kembali terisak, menatap tangannya yang digenggam erat Adrian. Bayangan setiap kenangan mulai dari ia menemui Reva, bertahan demi Kean dan cintanya, hingga memutuskan untuk mengakhiri pernikahan bahkan sudah mediasi, kini berputar di kepalanya.


Tidak ada perasaan lain di hati Arini selain merasa kecewa dan tidak dihargai sebagai seorang istri. Tapi melihat Adrian saat ini, Adrian  yang mendekat lebih dulu dengan semua pengakuannya, ia merasa Adrian telah berubah. Dulu, jangankan berbicara tentang perasaan mereka, saling bertatapanpun tidak pernah. masing-masing sibuk dengan perasaan dan kesakitannya hingga saling menyakiti satu sama lain.


Perlahan Arini mengangkat wajahnya. Ia memberanikan diri menatap laki-laki yang selalu membuat jantungnya berdebar kencang.


“Kamu selalu punya tempat di hatiku mas. Dan aku akan selalu membuka pintu hatiku jika kamu akan kembali.” Tegas Arini dengan penuh keyakinan.


Adrian hanya bisa terpaku. Ia menatap manik hitam yang kini terasa begitu sendu. Ada rasa hangat yang mengaliri aliran darahnya. Ini saatnya bagi Adrian untuk pulang.

__ADS_1


****


__ADS_2