
“Lea, gue mohon dengerin gue dulu dong. Plis lea…” bujuk Fery saat melihat Alea dengan langkah cepatnya masuk ke dalam rumah.
Alea tidak menjawab, bahkan mengacuhkannya. Sepanjang perjalanan dari bandara pun tidak ada sedikitpun suara yang terdengar dari Alea padahal sudah segala cara Fery lakukan untuk mencairkan suasana. Nyatanya, di hadapan Alea keahlian negosiasinya tidak bisa pakai.
Fery mengacak rambutnya frustasi. Ia merutuki setiap pertemuannya kembali dengan Laras. Satu sudut hatinya senang karena bisa melihat Alea cemburu tapi rasa ketir di sudut hatinya yang lain ternyata lebih besar.
“Kamu apain alea?” tanya Indra yang tiba-tiba berdiri di samping Fery, memandangi arah yang sama yaitu pintu rumah yang terbuka lebar kemudian Alea menghilang dari penglihatannya.
“Em nggak om, anu…” Fery menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Cuma salah paham aja om.” Lanjutnya dengan lirih.
Terlihat jelas tatapan Indra yang membulat seolah ingin menelannya utuh-utuh. Fery menelan ludahnya kasar, tatapan Indra memang bisa membuat nyalinya menciut.
“Om, maaf, saya boleh nyusul alea?” membiarkan Alea menerka-nerka sendiri ternyata lebih menakutkan bagi Fery. Rasanya di pikirannya bayangan Raka tengah menertawainya yang terkena virus bucin.
Indra hanya terdiam, ia masih tidak habis pikir dengan laki-laki muda di hadapannya yang terlihat tidak menciut saat ia menatapnya dengan dingin. Ia tidak pernah tahu bahwa hati Fery saat ini benar-benar kalang kabut.
Melihat Indra yang hanya terpaku Fery segera mengambil inisiatif. “Makasih om, saya segera menyelesaikan kesalah pahaman saya sama alea.” ujarnya dengan sungguh-sungguh.
Ia berjalan dengan cepat meninggalkan Indra dan Nida.
“Astaga, anak ini! Kenapa bisa alea suka sama laki-laki macam ini. Kayak gag ada pilihan lain aja.” Gerutu Indra yang tidak habis pikir.
“Pih… Jangan gitu ah. Itu pilihannya alea loh. Papih kan udah janji kali ini kita hanya akan menjadi pendengar yang baik dan penonton yang sportif. Sisanya kita serahkan sama alea. inget, putri kita udah dewasa loh…” ujar Nida seraya mengusap bahu Indra yang tegang.
Benar, Indra memang sudah bersumpah, ia ingin menjadi orang tua yang lebih baik. Orang tua yang mendukung masa depan anak-anaknya. Ia akan membiarkan selama setiap putrinya bahagia dengan pilihannya. Ah lagi, hati Indra mencelos saat mengingat tatapan Alea yang begitu dalam pada seorang laki-laki dan itu Fery.
“Lea… ini gue fery… buka pintunya dong…” berulang kali Fery mengetuk pintu kamar Alea, tapi Alea masih enggan membukanya.
Alea membenamkan wajahnya di atas kasur dengan bantal yang menutupi kepalanya. Ia tidak ingin mendengar suara Fery. Ia masih sangat membenci saat pandangan Fery terarah pada Laras yang melenggang pergi tanpa berkedip sedikitpun.
“Iiihhh larassss!!!!” Alea berteriak, namun tetap hanya rongga telingannya yang bisa mendengar. Bahkan saat mengingat nama itu ia merasa begitu kesal.
Cemburu? Ya! Alea sangat cemburu.
“Lea, gue mohon… gue bisa jelasin semuanya… Plis buka pintunya…” lagi-lagi Fery merajuk.
Pikiran aneh-aneh mulai mengisi kepalanya. Bagaimana kalau Alea sangat marah? Bagaimana kalau Alea tidak mau menemuinya lagi. Dan bagaimana kalau Alea ingin pergi dari sisinya.
“Astagaaaa… kenapa gue takut bangett…” batin Fery yang mengecak rambutnya kasar. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan kalau hal-hal buruk itu benar-benar terjadi.
Terlihat handle pintu yang berputar. Perlahan daun pintu itu terbuka lebar. Ada sosok Alea yang kemudian muncul dan menatap Fery dengan dingin.
“Leaa….” Lirih Fery yang segera memeluk Alea. Ia sangat takut kalau semua yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
Alea tidak menolak ataupun membalas pelukan Fery. Ia hanya terdiam dengan sisa kemarahan di dadanya. Cukup lama mereka saling berpelukan,mencoba menyelami hati masing-masing. Nyatanya keduanya takut kalau wanita bernama Laras itu harus merusak hubungannya.
“Laras..”
“Laras..”
Ucap keduanya bersamaan. Fery melepaskan pelukannya kemudian menatap Alea dalam.
__ADS_1
“Kita bicarain baik-baik yaa…” bujuk Fery seraya menggenggam tangan Alea.
Alea tak bergeming. Ia melepaskan genggaman tangannya lalu membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
“Masuk.” Ujarnya dengan dingin.
Terlihat garis senyum di bibir Fery. Untuk pertama kalinya ia menginjakan kakinya di kamar Alea yang bernuansa pastel, satu type dengan kamarnya yang menyukai warna tanah. Sedikit banyak, rupanya kepribadian mereka memang mirip.
Mereka berjalan ke balkon kamar Alea lalu duduk di kursi bulat yang ada di sana.
“Gue kenal laras dari SMA. Kami sekolah di sekolah yang sama.” Fery memulai kalimatnya dan membuat pandangan Alea tertuju padanya. “Dia alumni sekolah yang aktif dengan banyak kegiatan yang dia ikuti. Jadi rasanya gag salah kan kalo dia mau ngundang gue ke acara reuni?” pertanyaan Fery tak lantas membuat Alea berbicara.
“Lo tau lea, gue udah bukan berada pada usia main-main sama perempuan. Saat gue berjanji akan serius dan mengambil kepercayaan bokap lo, itu udah gue yakinin dalam hati. Dan buat masa depan gue, gue cuma pengen lo yang ada di samping gue.” Tutur Fery yang membuat Alea tidak mampu berkata-kata.
Alea hanya terdiam, dengan beragam perasan yang mengisi hatinya. Satu hal yang pasti, ia pun sudah tidak ingin main-main dengan masa depannya. Masa tersulit dalam hidupnya rasanya sudah ia lewati dan Fery lah salah satu yang menguatkannya. Kalau saat ini ia cemburu, ya ia sangat mengakuinya. Semua karena ia tidak ingin kehilangan Fery. Tapi jika itu sebuah kemarahan, tentu bukan. Fery tidak pernah membuatnya marah tapi kalau membuatnya kesal, tentu saja sangat sering. Saat ini pun Fery membuatnya kesal karena tidak bisa berkata apa-apa. Dan ini tentu bukan Alea yang biasanya.
****
Handphone Raka berdering nyaring dan nama “May avatar” yang ia tujukan untuk Reva terlihat jelas di layar yang bercahaya temarang. Dengan segera Raka menjawabnya bahkan sebelum deringan pertama berakhir.
“Ya sayang…” sapa Raka seraya menutup berkas yang tengah di bacanya.
“Mas, makan siang bareng yuk…” ajak Reva dengan suara lemas.
“Kamu sakit sayang, kok lemes gitu?” Raka segera berdiri dari duduknya. Suara Reva tidak terdengar seceria tadi pagi dan itu membuatnya berfikir yang tidak-tidak.
“Nggak, aku agak lemes aja. Laper doang paling.” Sahutnya santai.
“Emm… aku ada ketemu klien hari ini. Kamu gag pergi sama lea?”
“Jangaannn..” timpal Raka dengan segera. “Aku jemput sekarang ya, kita makan bareng.” Raka segera mengambil kunci mobilnya.
“Tapi kan mas raka ada janji sama orang. Aku gag enak ah.”
“Enggak lah sayang. Aku cuma mau ngobrol santai aja sama pak billy. Kita mau ngobrolin proyek yang kedua. Kan kamu juga kenal sama pak billy.” Raka mulai berlari kecil keluar ruangannya. Ia tidak mau wanitanya menunggu terlalu lama.
“Ya udah deh, kalo beneran gag ganggu, aku nunggu aja yaa… see you suami…” ungkap Reva dengan manja.
“Okey, siap-siap ya.. aku gag lama.”
“Jangan ngebut…”
“Siap sayang.” Tukas Raka yang saat ini sudah masuk ke mobilnya.
Ia mulai melajukan mobilnya keluar dari basement. Ia sangat ingin cepat sampai menemui wanita yang sedang menunggunya.
Raka sudah tiba di sebuah resto tempat ia membuat janji dengan rekan bisnisnya Billy. Dari kejauhan laki-laki bertubuh kekar itu melambaikan tangannya pada Raka. Raka menggandeng Reva menuju Billy.
“Apa kabar pak raka dan nyonya?” sambut Billy seraya menjabat tangan Raka dan Reva bergantian.
“Baik. Anda apa kabar, maaf sudah menunggu.” Sahut Raka yang di angguki Billy.
__ADS_1
“Tidak masalah pak raka. Ini bukan pertemuan protokoler.” Billi dengan tawa lepasnya. Raka ikut menimpali. “O iya, kebetulan big bos kami juga hari ini ikut hadir. Katanya beliau mengenal anda pak raka.”
“Oh ya?” Raka mengernyitkan dahinya. Ia tahu memang GN corp adalah anak perusahaan besar dari induknya di Inggris. Dan sudah beberapa kali Raka mendengar sang big bos yang tidak semua orang tahu sosoknya.
“Sebentar lagi beliau datang. Silakan duduk pak raka.” Ujar Billy.
Raka menarikkan kursi untuk Reva di sampingnya. Mereka duduk berdampingan. Untuk beberapa saat obrolan hangat mereka berbicara di luar pekerjaan. Tentang ajakan main golf atau berkunjung ke rumah masing-masing.
“Ah, itu beliau.” Pandangan Billy beralih pada 2 sosok yang sedang berjalan menghampirinya.
Ya benar, terang saja Raka mengenal sosok ini, yang tak lain adalah Theo. Reva ikut terpaku melihat sosok yang begitu di puja-puja Billy dengan segala kharisma dan kemampuan berbisnisnya.
“Hay dude, How have you been?” sapa Theo seraya merangkul Raka dengan hangat.
“Oh, Can't complain” sahut Raka yang membalas rangkulan Theo.
“Lama kita tidak bertemu.” Theo pun mengulurkan tangannya pada Reva. Reva membalasnya singkat. Selalu, Theo menatap Reva dengan penuh kekaguman. “Duduk lah. Kita sudah lama tidak berbincang.” Sambungnya seraya mempersilakan.
Raka duduk berhadapan dengan Theo. Raka memang pernah 2 kali bertemu Theo, satu kali saat mengantar Alea menemuinya sewaktu di luar negri dan sekali lagi di pesta ulang tahun Alea yang membuat kejadian tidak mengenakkan bagi Reva.
“Saya tidak menyangka kalau anda pucuk pimpinan dari GN corp.” Sungut Raka
“Ayolaahh, jangan formal gitu. Anggap saja kita reuni.” Theo berusaha terlihat santai. Namun pandangannya yang beberapa kali terarah pada Reva, sedikit mengganggu Raka. “Billy bilang, kerja sama kemarin berbuah manis. Sepertinya kita bisa menjadi rekanan yang menyenangkan.” Theo mulai berbasa basi.
“Iyaa, proyek kemarin memang sebuah kesuksesan. Lalu gimana dengan rencana proyek di makasar, apa sudah bisa anda prediksi ke depannya?”
Perbincangan demi perbincangan mengalir begitu saja. Reva lebih banyak terdiam dan menyimak apa yang dibicarakan oleh para lelaki di sela makan siangnya. Reva hanya fokus dengan makanannya. Ia benar-benar lapar karena tadi pagi ia hanya mengisi perutnya dengan roti isi kesukaan Raka. Sebenarnya apapun masakan yang Reva buat, selalu menjadi makanan favorit bagi Raka.
“Oh iya, reva kapan ada acara lagi di panti. Acara kemarin sangat menyenangkan.” Ujar Theo yang membuat Reva hampir tersedak.
Tatapan penuh tanya Raka pun kini tertuju kepadanya.
“Uhuk-uhuk.” Reva benar-benar batuk.
Raka dan Theo bersamaan menyodorkan minuman untuk Reva dan terang saja Reva menerima pemberian Raka. Theo hanya tersenyum dengan pandangan yang tak lepas dari gerakan otot leher Reva yang membuatnya salah fokus.
“Kamu gag pa-pa sayang?” tanya Raka seraya mengusap sisa makanan di bibir Reva.
Kali ini Theo yang tersedak dan segera minum air yang tadi ia sodorkan pada Reva. Tatapan Raka dan Reva sama-sama beralih pada Theo.
“Gag pa-pa mas. Aku ke toilet bentar, ini agak kotor kena makanan tadi.” Sahut Reva seraya menunjuk noda makanan yang tadi terjatuh di bajunya.
“Perlu aku antar?”
“Gag usah, bentaran doang kok. Hem..” Reva mengusap bahu Raka dengan lembut. Raka hanya mengangguk seraya tersenyum.
Jauh di dalam hati Theo, ia merasa hatinya telah patah. Bagaimana bisa mereka terlihat begitu manis dengan perhatian satu sama lain.
Mereka kembali melanjutkan suapan makan siangnya, tanpa ada pembicaraan sedikitpun. Masing-masing dengan pikirannya yang sama-sama tentang Reva.
****
__ADS_1
Rakaaa, berhati-hatilah... Xoxoxo