
Di tempat lain, Raka tengah memandangi layar handphonenya dengan gusar. Ia menunggu pesan dari seseorang yang sangat ia rindukan. Raka membolak-balik tubuhnya di atas ranjang, tidak ada satupun posisi yang menurutnya nyaman.
“Kita gag perlu saling menghubungi. Gue akan jawab sesuai waktu yang kita sepakati.”
Lagi-lagi ucapan Reva itu terngiang di telinganya. Membuat Raka mengeram kesal karena waktu sangat lama berputar.
Ia bangkit dari duduknya, lalu menelpon seseorang yang di kenalnya, yaitu Tika.
“Ya halo..” sahut Tika dari sebrang sana.
“Gue mau denger suara Reva, tapi jangan sampe dia tau!” seru Raka dengan penuh penekanan.
Tika hanya tersenyum. Ia menaruh handphonenya di hadapan Reva dengan panggilan yang masih tersambung, hanya saja ia mematikan layarnya.
“Aku gag nyangka lo mba, audience kita sampai di atas 100 orang per sesinya.” Seru Reva yang asyik memandangi layar handphonenya, melihat daftar hadir audience di workshopnya. Sementara tangan kirinya memegangi garpu yang ia gunakan untuk mengambil buah potong.
“oh ya?” tanya Tika dengan kaku.
Sementara di sebrang sana, Raka sedang terkekeh mendengarkan suara Reva. Ia bisa membayangkan ekspresi apa yang di perlihatkan Reva saat ini.
“Iya, ini aku liat medsosnya adiyaksa corp juga banyak yang tag soal acara work shop. Contohnyaaa.....” Reva melihat satu persatu foto yang menandai akun Adiyaksa corp. “lah, fotonya kok pada gini ya?” protes Reva.
Tika mencondongkan tubuhnya ke arah Reva, melihat layar handphone Reva yang tengah ia scrol ke atas dan ke bawah.
Di sana terlihat, foto yang di upload banyaknya adalah foto Reva yang sedang duduk di depan, sedang mengarahkan diskusi atau sedang menjelaskan tentang maket pembangunan perumahan.
“Hahaha iya banyaknya foto kamu re..” sahut Tika tanpa sadar.
“Huft, gag ada akhlak nih anak-anak muda. Bukannya belajar yang bener, malah aneh-aneh.” Tukas Reva dengan kesal.
Tika yang tersadar panggilannya masih tersambung, segera mengambil handphonenya dan sedikit menjauh dari Reva. Sementara Reva masih terdiam kesal.
“Gue kan udah bilang, jagain Reva!” seru suara di sebrang sana dengan kesal.
“Ya ampun Raka, gue kan di sini juga kerja, mana bisa gue ngalangin kaum adam buat gag deketin si Reva. Lagian kenapa gag lo tulisin aja di jidat si Reva, tuh anak punya lo.” Dengus Tika dengan kesal.
Tanpa ada jawaban, panggilan pun terputus. Bos sekaligus sahabatnya ini memang sangat menyebalkan kalau sesuatu miliknya ada yang ngelirik.
Tika kembali ke tempatnya dengan wajah kesal. Ia duduk lalu meneguk minumannya hingga tandas.
“Siapa mba?”
Reva penasaran dengan penelpon yang membuat raut wajah bosnya berubah.
“Biasa, bos galau!” sahut Tika dengan kesal.
Reva hanya tersenyum. Yang ada dipikirannya adalah laki-laki bernama Rudy yang selalu membuat Raka sibuk bekerja, dan ternyata Tika pun mengalaminya.
__ADS_1
Sementara itu, Raka masih kesal dengan pembicaraannya bersama Tika. Ia langsung mengecek medsosnya Adiyaksa Corp. Banyak pemberitahuan penandaan foto di sana dan hampir semuanya adalah foto dan video Reva.
Raka mendengus kesal. Ingin sekali ia pergi untuk menyusul Reva
****
Acara workshop di Bandung akhirnya selesai. Reva dan Tika tengah membereskan semua barang-barangnya dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Re, kamu beneran ga pulang bareng?” tanya Tika sambil merapikan barang pribadinya.
“Nggak mba, aku mau nikmatin kota bandung semalem lagi. Besok baru pulang. Biar senin segeran..”
Reva menurunkan barang pribadinya setelah selesai mengepak semua barang milik perusahaan.
“Kamu rencana mau kemana?”
“Emmm... Mungkin lembang.” Sahutnya sambil menunjukkan sebuah tempat camping modern.
“Pantesan bawaan kamu banyaakk”
Reva hanya tersenyum.
Selesai dengan pekerjaannya, Tika segera masuk ke mobil. Ia bergegas untuk kembali ke Jakarta dan menghabiskan libur akhir pekannya di rumah.
Reva membawa barang bawaannya masuk ke dalam sebuah taksi online. Ia akan menuju tempat yang ia rencanakan untuk menghabiskan akhir pekannya. Selama perjalanan, ia begitu menikmati pemandangan hijau yang selalu bisa membuatnya merasa lebih nyaman.
Bayangan Raka mengisi ruang imajinya. Ia menyentuh dadanya yang terasa hangat dan berdegub lebih kecang. Selalu seperti ini, Raka selalu bisa membuat adrenalinnya meningkat. Ia sudah memutuskan, dan berharap keputusannya ini tidak pernah salah.
****
Raka terlihat percaya diri dengan materi presentasi yang akan di bawakannya. Ia mulai berbicara dengan lugas karena benar-benar menguasai apa yang di bicarakannya.
Dimas yang sejak tadi melihat Raka berbicara, tampak mengernyitkan dahinya. Ia tidak menyangka Raka yang ia kenal sebagai anak magang, dipercaya untuk menyampaikan presentasi sebuah perusahaan besar. Mungkin selama ini ia terlihat sibuk dan jarang di meja kerjanya, karena tengah mempelajari materi ini mati-matian.
Presentasipun berakhir dan acara diskusi di mulai. Beberapa audience mengangkat tangannya untuk bertanya. Fery mempersilakan.
“Bisakah kami sebagai perwakilan anak perusahaan bekerjasama dengan Adiyaksa corp?” tanya salah satu audience.
“Bisa!” sahut Raka dengan yakin.
“Buset mas Fery, ini si Raka pede banget ngambil keputusan gag pake nanya dulu. Udah berasa direkturnya aja dia.” Cetus Dimas sambil menyenggol Fery.
Fery hanya tersenyum. Dan di sebelah Raka, Rudy hanya mengangguk-angguk sambil ikut tersenyum. Ia tampak bangga dengan jawaban mantap Raka.
__ADS_1
“Dia berhak ngasih jawaban tanpa nanya saya dulu.” Sahut Fery dengan senyuman jenakanya.
Dimas semakin kebingungan. Ia kembali menatap Raka yang begitu penuh kharisma. Terkadang ia merasa ketir saat melihat tatapan dingin Raka pada audience yang menurutnya menyebalkan.
Fery bisa melihat kebingungan Dimas. Ia mendekati Dimas lalu berbisik. “Apa yang lo liat dan lo denger selama di sini, lo gag boleh ngasih tau siapapun. Gag boleh nanya dan gag boleh protes. Ato lo bakal nyesel.” Tegas Fery.
Dimas hanya terdiam. Ia tampak pucat mendengar ancaman Fery begitu saja. Bulu kuduknya tiba-tiba saja meremang. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk mengiyakan.
“Ting!” sebuah notifikasi pesan masuk muncul di handphone Raka.
Nama Reva tertera jelas di sana. Ia segera pergi keluar ruangan dan mengabaikan audience yang sedang berbicara begitu saja. Rudy hanya menggelengkan kepala, dan kembali mempersilakan audience untuk melanjutkan pertanyaannya.
Raka berdiri di depan sebuah jendela besar yang mengarah ke laut. Dengan perasaan berdebar-debar ia membuka pesan yang dikirim Reva.
“Ya.”
Hanya itu pesan yang dikirim Reva. Raka tersenyum lebar, dengan tangan gemetar ia mengetik pesan balasan untuk Reva.
“Ya, untuk apa?” tulisnya.
Raka kembali terdiam. Ia tak sabar menunggu Reva yang sedang mengetikkan pesan jawabannya.
“Aku mau bersama-sama , sama kamu sebagai pacar.” _Reva
“Yaaaass!!!”
Raka berteriak kegirangan. Tangannya mengepal dan melonjak ke udara. Ia sampai lupa kalau mungkin orang-orang mendengar suaranya.
Ia segera melepon Reva karena tidak sabar untuk mendengar suaranya.
“Ya Raka...” sapa Reva dari sebrang sana.
Raka tersenyum simpul, ia merasa suara Reva begitu lembut saat ini.
“Kamu yakin kan dengan jawaban kamu?” tanya Raka yang masih tidak percaya. Reva hanya terdiam sambil tersenyum. Ia mengigiti jari tangannya dengan gemas. “Makasih re, kamu udah bersedia berada di samping aku.” Lanjut Raka dengan perasaan bahagianya.
Tanpa mereka sadari, masing-masing sudah merubah panggilannya. Tidak lagi asing seperti dulu.
“Ya, kita mulai sesuatu yang baru, seperti permintaan kamu.” Sahut Reva yang sama-sama merasakan kebahagiaan yang begitu besar.
Obrolan demi obrolan terus berlanjut. Berbicara satu sama lain, membuat keduanya merasa semakin nyaman. Raka hampir lupa dengan tugasnya saat ini, tapi ia yakin, Rudy dan Fery bisa membantunya mengatasi semuanya.
****
"YA! " Revaaa Revaaa, gitu doang bikin orang berasa di surga, hahaha
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya yaa reader yg budiman...
Makasih