Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 120


__ADS_3

Seharian Reva berdiam diri di ruang kerja Alea. Ia membuka-buka berkas kerjaan milik Alea. lebih tepatnya berkas-berkas proyek yang pernah di jalankan Alea. Ia tampak serius mempelajari apa yang telah di buat Alea. lagi, ia berdecak kagum saat menyadari bahwa Alea sangat brilian. Pantas kalau Indra begitu bangga.


Reva memilih beberapa berkas dan membawanya ke ruangan Edho. Sepertinya ia membutuhkan teman untuk membahas pekerjaan yang akan ia lakukan. Setumpuk berkas kini ada di tangannya.


“Wowowo.. Astaga re, apa ini?”


Edho segera menghampiri saat melihat Reva yang membawa berkas begitu banyak hingga menutupi wajahnya.


“Hehehe.. ini kak, gue mau belajar tentang proyek yang di bikin kak lea. Lo mau bantuin gue kan?” ujar Reva dengan penuh semangat.


“Waahh banyak banget yang lo jadiin referensi. Mau belajar apa aja nih?” Timpal Edho yang membantu Reva membawa sebagian berkas dari tangannya. Ia menaruhnya di atas meja.


“Huft.. Ayo kita liat, apa yang bisa otak kecil gue serap dari sini. Let's go!” Reva mengangkat kedua tangannya ke udara dengan semangat.


Edho terkekeh geli. Ia duduk di samping Reva dan mulai membuka-buka berkas yang di bawa Reva.


“Kenapa lo semangat banget re?”


“Gue punya ambisi kak.” Reva menatap Edho dengan penuh keyakinan.


“Ambisi?” Edho menatap reva penuh tanya. Belum pernah ia mendengar kata “ambisi” itu dari mulut Reva.


Reva terangguk dengan semangat. Bibirnya tersenyum dengan cantiknya.


“Gue mau wujudin proyek gue sama kak lea.” Ujarnya yang kemudian tertunduk. Pandangannya beralih pada tumpukan berkas di hadapannya. “Gue gag pernah ngelakuin apapun sama-sama kak lea. Saat ada kesempatan ternyata kondisinya malah seperti ini. Gue juga tau, kak lea sangat bersemangat dengan proyek ini karena sebagian besar konsepnya dari dia. Otak kecil gue gag nyampe buat mikirin konsep sekeren itu.” Lanjut Reva yang tetap berusaha tersenyum.


Edho benar-benar merasa takjub. Hingga saat ini ia masih belum bisa mengenali gadis di hadapannya. Pikirannya sangat sederhana tapi di balik itu semua, banyak hal yang terkadang tidak dipikirkan orang lain.


“You are so spesial re…” batin Edho dengan senyum di bibirnya. Setelah semua kesakitan yang di alaminya, ia masih tegak berdiri dan memikirkan mimpi orang yang menyakitinya. Edho tak habis pikir, terbuat dari apa hati Reva sebenarnya.


“Lo mau bantu gue kan kak?”


Pertanyaan Reva membuyarkan lamunan Edho seketika.


“Hah? Iya re…” Edho gelagapan sendiri sambil menyentuh tengkuknya. Ia harus segera sadar dari lamunannya sebelum ia kembali terhanyut. Bagaimana pun ia masih belum bisa meninggalkan sisa perasaannya untuk Reva.


“Jelasin tentang ini sama gue dong kak.” Pinta Reva seraya menyodorkan berkas proyek lama Alea.


Edho berdehem. Ia mulai melihat-lihat berkas yang diberikan Reva. Dengan penjelasan sesederhana mungkin ia menyampikan isi proyek pada Reva. Reva menyimak dengan semangat. Memang tidak salah, anak dari Indra Wijaya begitu cerdas dan bisa menangkap apa yang Edho sampaikan. Diskusi pun berjalan menyenangkan bagi keduanya.

__ADS_1


 ****


Di ruang bacanya Indra masih sibuk mengecek laporan yang disampaikan staffnya. Wajahnya tampak serius memperhatikan setiap angka dan tulisan yang tertera di laporannya. Ia pun menandai beberapa bagian yang menurutnya perlu dipertanyakan.


Walau ragu, Reva yang kini sudah berada di depan ruang baca Indra memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Setelah mendengar sahutan Indra, bayangan Reva muncul dari balik pintu.


“Aku ganggu gag pih?” tanya Reva dengan ragu-ragu.


“Sayang, nggak nak. Masuklah..” sahut Indra seraya menutup berkas yang ada di hadapannya.


Reva tersenyum senang dan segera menghampiri Indra. Ia duduk di hadapan Indra dengan segelas teh hangat yang ia buat untuk Indra.


“Ada apa re, kok udah larut kamu belum tidur?” tanya Indra seraya melepas kacamatanya.


“Gag pa-pa.. Mau ngeliat papih aja.” Ujar Reva. “Diminum pih, buat relaksasi otot.” Reva menyodorkan teh tersebut pada Indra.


“Kamu memang anak papih yang paling pengertian.” Indra mencubit pipi Reva dengan gemas. Reva hanya tersenyum. “Emmm.. enak.. ternyata anak papih pinter bikin teh.” Puji Indra yang di balas senyuman oleh Reva.


Sejenak Reva terdiam. Bagaimana pun ia tidak pernah sedekat ini dengan Indra. Memang terasa sedikit asing tapi lebih dari itu, ia merasa mengambil tempat yang tidak seharusnya.


“Ada apa, kok anak papih seius banget?” Indra meletakkan cangkirnya kembali. Tanpa Reva sadari sedari tadi Indra memperhatikannya.


“Aku gag tau, aku pantas atau nggak minta ini sama papih.” Reva menjeda kalimatnya seraya menyingkap anak rambutnya dan menyelipkannya di telinga. Jarinya saling terpilin dan ia mengigit bibirnya sendiri, yang memperlihatkan keraguannya.


“Ada apa nak? Apa yang ingin kamu minta dari papih?” Indra bisa membaca kegusaran yang saat ini putrinya rasakan.


Reva kembali berusaha tersenyum walau ragu. “Bisakah papih ngasih rere kesempatan untuk meneruskan proyek rere sama kak lea?” Reva tertunduk di akhir kalimatnya. Ia tidak tau apa ia layak untuk meminta ini pada Indra.


Terlihat garis senyum di bibir Indra. Ia menatap sang putri dengan penuh perhatian. “Tentu sayang, kamu bisa meneruskan proyek itu dengan bantuan edho.” Sahut Indra dengan segera.


Reva menggeleng. Ia memberanikan diri menatap Indra. “Rere memulai proyek itu dengan kak lea, rere harap, rere bisa menyelesaikannya juga, bersama kak lea.”


Indra menghela nafas dalam-dalam. Ia masih belum bisa memahami arah pikiran Reva.


“Dengan kondisi sekarang, akan sangat sulit kalau kamu mengatakan akan menyelesaikannya dengan lea. Kamu harus meyakinkan direksi......”


“Rere akan melakukannya!” seru Reva dengan segera. Terlihat binar penuh harap dan kesungguhan di mata Reva. “Rere mau melakukannya bersama kak lea. Tolong kasih rere kesempatan pih.” Pinta Reva dengan sungguh-sungguh.


Indra kembali tersenyum. Ia yakin pikirannya tidak salah dengan apa yang dipikirkan Reva. “Hem… lakukan yang terbaik sayang.” Sahut Indra seraya menepuk tangan Reva.

__ADS_1


Mata Reva membelalak tidak percaya. “Beneran pih?" Indra hanya mengangguk seraya tersenyum. "Makasih pih! Makasih banyak. Rere pasti akan bersungguh-sungguh.” Seru Reva yang berhambur memeluk Indra.


Indra hanya terdiam. Untuk pertama kalinya putri bungsunya terlebih dahulu memeluknya dengan erat. Ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan selain kata bahagia. Indra hanya mampu tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Reva. Betapa ia sangat bersyukur. Ya bersyukur, walau masih ada rasa sesal yang bersarang di dadanya.


*****


Matahari bersinar sangat terang menyinari bumi yang dipayungi awan putih. Orang-orang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Masing-masing dengan tawanya dan masing-masing dengan ceritanya.


Sama halnya dengan insan lain, keluarga Wijaya tengah berada pada satu bagian cerita yang memberikan kesedihan bagi mereka. Mereka duduk di deretan bangku yang disediakan bagi orang-orang yang datang untuk menyaksikan persidangan, dengan Alea sebagai fokus utamanya.


Alea tertunduk saat simpulan persidangan di bacakan. Jarinya saling memilin dengan sekelumit perasaan yang tidak bisa ia utarakan. Hanya sesal, ya hanya sesal yang saat ini dirasakan Alea. Sayangnya, sebesar apapun sesal yang ia rasakan, tidak ada yang berubah dari jalan takdir hidupnya. Ini adalah konsekuensi yang harus di hadapi Alea dan ia sudah menguatkan hatinya sendiri untuk menghadapi semuanya.


1 tahun 4 bulan, menjadi waktu yang harus Alea habiskan di balik jeruji besi. Hanya butiran air mata yang mewakili perasaan yang berkecambuk di dadanya. Alea menghela nafasnya dalam-dalam. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara tangis Nida yang pecah bersamaan dengan hakim yang mengetukkan palunya.


Persidangan berakhir, dengan segera Nida menghampiri Alea. Ia memeluk Alea yang masih tetap tertunduk. Nida menciumi wajah Alea yang tetap berusaha tersenyum menghadapi kesakitannya. Ini saat paling emosional bagi Alea, ia bisa merasakan besarnya kasih sayang Nida lewat tangis yang spontan pecah di hadapannya.


Selama ini ia luput, ia selalu membayangkan kasih sayang  yang lebih besar yang seharusnya ia dapatkan dari kedua orang tuanya, hingga ia lupa bahwa kasih sayang adalah hubungan antar hati, yang hanya bisa ia rasakan ketika ia pun membuka hatinya.


Alea tidak ingin menangis di hadapan kedua orang tuanya dan Reva. Melihat wajah Indra dan Nida yang terlihat sedih, sudah cukup membuat hatinya teriris. Apa jadinya jika ia menangis sesegukan meratapi nasibnya, mungkin kedua orang tuanya akan lebih terluka.


“Sayang…” Nida menangkup kedua sisi wajah Alea dengan kedua tangannya. Bibirnya tampak bergetar menahan tangis yang nyaris tak bisa di tahannya.


Tatapan hangat itu terasa menelusuk hati Alea. Ia berusaha tersenyum dengan sisa-sisa kehancuran dalam hatinya.


“Mamih tau kan kalo lea kuat? Mamih juga tau kan kalo lea selalu bisa bertahan dalam kondisi apapun?” lirih Alea yang membalas tatapan Nida.


Nida hanya terangguk. Ia tak sanggup berkata apapun. Dan dalam beberapa saat mereka menangis berangkulan. Bahu Alea bergerak naik turun, pertahanannya runtuh. Ternyata ia tidak sekuat yang dipikirkannya walau hanya untuk sekedar menahan tangis.


“Papih akan menunggu kamu pulang nak. Jika saat kamu pulang masih ada kemarahan di hati kamu, papih akan menerimanya. Tapi selama 1 tahun 4 bulan ini, kuatlah demi kami.”  Ujar Indra seraya mengusap kepala Alea. Butiran air mata pun menetes begitu saja tanpa bisa di bendung.


Alea hanya teranggguk. Marah? Tidak ada lagi perasaan seperti itu lagi dalam hati Alea. Ia sadar kesilapannya, ia sadar hatinya tidak cukup lunak untuk menerima sesuatu yang ia sebut kasih sayang hingga ia menyalahkan kedua orang tuanya dan Reva.


Reva, ya Reva. Alea menoleh Reva yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Raut wajah itu, bagaimana bisa dulu ia merasa iri dan membencinya? Tatapan matanya, nyatanya bisa mengobati sedikit kehampaan hati Alea. Kini hati Alea mulai berbalik. Ia bersiap memperbaiki semuanya.


*****


 


Keep strong Alea, all is well

__ADS_1


__ADS_2