
Mobil Edho memasuki halaman sebuah rumah mewah dengan taman bunga yang indah. Seorang petugas keamanan membukakan pintu gerbang yang terlihat sangat kokoh. Edho menurunkan kaca jendelanya agar Reva bisa menghirup udara segar dan melihat indahnya bunga-bunga yang bermekaran.
Reva merasa benar-benar takjub dengan pemandangan halaman yang indah. Sang empunya rumah tentu sangat menyukai keindahan.
“Yuk, udah sampe.” Edho membukakan pintu untuk Reva yang masih terpaku memandangi sekeliling rumah tersebut.
Ia berusaha menyadarkan pikirannya dari bayangan-bayangan yang beberapa detik lalu muncul dipikirannya.
Reva berjalan di belakang Edho yang sesekali menoleh Reva dengan langkah perlahannya.
“Selamat pagi den edho…” sapa seorang pelayan paruh baya yang data membukakan pintu.
“Pagi bi, tolong kasih tau tante nida, saya dan reva sudah sampai.” Ujar Edho dengan ramah.
Namun yang di ajak berbicara masih terpaku. Ia memandangi Reva yang berjalan dengan anggun menuju teras rumah. Ia melihat Reva menarik nafas dalam-dalam dan sesekali memejamkan mata menikmati udara segar yang mengisi rongga parunya.
“Cantik kan bi? Bentar lagi jadi keponakan tante nida tuh…” bisik Edho membuyarkan lamunan Bi Inah, salah satu pelayan yang sudah mengabdi lebih dari 30 tahun di keluarga Wijaya.
“Oh, iya den…” Bi Inah gelagapan. Entah mengapa ia merasa tidak asing dengan gadis yang kini sudah berdiri di hadapannya.
Memandangnya dengan tatapan polos dan senyum yang sangat manis. Bi Inah merasakan sesuatu yang tidak asing dari Reva.
“Silakan masuk non…” ujar Bi Inah kemudian. Reva hanya terangguk dan mengikuti langkah Edho yang sudah jauh di depannya.
Bi Inah segera menuju ruangan belakang namun sesekali masih menoleh pada Reva.
Tak lama berselang, Nida datang bersama Alea. Mereka menyambut Reva dengan ramah dan mengajaknya ke taman belakang. Edho duduk di salah satu sudut dan memperhatikan ketiga wanita tersebut. Ia selalu terpukau dengan cara Reva berbaur dengan orang baru sangat adaptif dan mudah di terima.
“Lo emang jagonya bikin orang nyaman re…” batin Edho.
“Wah tan, cantik-cantik banget bunganya, ini tante sendiri yang mengurus bunga-bunganya?” tanya Reva dengan penuh kekaguman.
“Iya, sejak berhenti bekerja, tante merawat taman ini. Sangat menyenangkan, kadang tante sampe lupa waktu.” Kenang Nida sambil tersenyum tipis.
“Ini salah satu bunga yang sulit di tanam kan tan?”
Reva menghampiri satu kelompok bunga baby breath yang sedang mekar. Reva menyentuhnya dengan sangat hati-hati.
“Benar nak reva, dari banyak bunga baby breath yang tante coba tanam, hanya ini yang bisa bertahan. Padahal bunga ini penuh arti buat tante.” Ujar Nida yang terdengar sedih.
“Mihhh… udah dong… Kan cuma bunga.”
__ADS_1
Alea memeluk Nida dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Nida. Nida mengusap lembut kepala Alea dengan sayang.
“Anak-anak tante, tante kasih nama dari bunga. Kayak Alea, tante selipin nama Peony di tengah namanya. Dan…” Nida menjeda ucapannya sejenak, terlihat menarik nafas dalam-dalam saat akan melanjutkan kalimatnya.
“Mih, katanya kita mau ngajakin Reva masak, masuk yuk… Bi inah pasti udah nyiapin dapurnya. Papih juga mau makan siang di rumah.”
Alea berusaha mengalihkan pembicaraan Nida, entah untuk alasan apa. Tapi rasanya, melihat ekspresi Nida yang menjadi sendu, Reva tidak punya hak untuk bertanya. Ia hanya tersenyum saat sepasang telaga jernih itu menatap Reva.
“Okey, ayo kita masuk.” Tutur Nida yang berusaha mengusir kegundahannya.
Reva mengikut saja kemana Alea dan Nida melangkah. Sesekali Reva melirik Edho yang berjalan di sampingnya. Ia berharap mendapat jawaban dari Edho atas perubahan situasi yang tiba-tiba tersebut.
Bak gayung bersambut, Edho mendekati Reva lalu berbisik, “Tante Nida emang melow, lo gag usah ngerasa gag enak. Dengan makan juga moodnya bagus lagi.”
Reva terangguk walau perasaannya masih belum merasa tenang.
****
Benar saja, suasana hati Nida kembali berubah saat sudah berada di dapur. Ia dengan cekatan meramu makanan yang akan menjadi lauk untuk makan siang mereka.
Reva tersenyum ketir, melihat banyaknya menu makanan yang sedang di buat. Ia teringat ibu dan adik-adiknya di panti yang mungkin hanya makan dengan satu jenis lauk wajib yaitu sayur bayam.
“Nak Reva, coba cicip ini. Enak gag?”
Melihat interaksi yang begitu dekat antara Nida dan Reva, Bi Inah tersenyum simpul. Baru kali ini nyonya rumahnya terlihat begitu bersemangat. Sementara, ada hati seseorang di ujung sana, yang merasa tidak rela. Ia bahkan tidak pernah merasakan kehangatan dan perhatian yang sama besar seperti yang Nida berikan pada Reva.
Ya, dialah Alea. Ia berdiam diri di salah satu sudut, melihat Nida yang begitu semangat menyiapkan semuanya, ia berbicara dengan penuh antusias dan tertawa dengan gembira. Reva telah mengambil perhatian Nida, itu yang dirasakan Alea saat ini.
“Wah enak banget tante. Masakan tante bisa nandingin master chef- master chef yang ada di tv nih.” Puji Reva dengan tulus.
“Ah Reva bisa aja. Tapi ngomong-ngomong, makanan favorit Reva apa nih? Jangan-jangan gag ada di sini lagi.”
“Emm… kalo reva pemakan segala tante. Semua makanan reva suka, yang penting pake nasi.” Cetus Reva seraya terkekeh.
“Ahahahha… Kamu kayak om indra aja. Kami 17 tahun tinggal di inggris, tapi menu utama kami nasi. Karena om indra tipe yang harus makan sama nasi, persis kayak kamu.” Tutur Nida seraya mencubit gemas hidung Reva.
“Berarti kami ori indonesia ya tan…” timpal Reva yang sahuti gelak tawa Nida dan Bi Inah.
“Wah, seru banget nih acara masaknya… ”
Tanpa mereka sadari, Indra sudah ada di depan dapur dan melihat satu per satu menu makanan yang sudah selesai di masak.
__ADS_1
“Siang om…” sapa Reva seraya mengangguk sopan.
“Siang re… Reva masakin apa nih buat om, kayaknya mamih juga seneng banget ada bala bantuan.” Sahut Indra yang ikut antusias mendengar istri tersayangnya tertawa dengan riang.
“Reva masakin nasi om, “ sahut Reva dengan diiringi senyuman.
“Good job, itu yang utama.” Indra mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Reva, membuat seseorang di sudut sana semakin tak suka.
“Iya lah pih seneng banget mamih di bantu Reva. Lagian Reva nih badannya model banget, mamih isengin bikin gemuk dikit gag papa kali yaa…” goda Nida sambil menyenggol lengan Reva.
“Gag masalah tan, reva siap menampung.” Sahut Reva dengan semangat.
Tanpa menunggu lama dan pamit, Alea segera pergi meninggalkan dapur dan menuju kamarnya di lantai atas. Perasaannya benar-benar kesal.
Di lantai 2, tampak Edho yang tengah terdiam sambil memandangi foto di tangannya. Bibirnya ikut tersenyum saat mendengar suara gelak tawa dari bawah.
Alea menghampiri Edho yang tengah mengusap-usap sebuah foto.
“Lo liat apa sih kak?”
Alea berusaha melihat apa yang ada di tangan Edho. Tanpa segan Edho memperlihatkannya.
“Adek lo kalo masih ada pasti cantik banget yaa… Perpaduan yang pas antara Om Indra sama tante Nida.” Puji Edho seraya tersenyum.
“Lo dapet foto itu dari mana? Umpetin deh, jangan sampe mamih liat.” Alea menyandarkan tubuhnya pada meja hias di hadapan Edho. Tangannya tersilang dengan wajah penuh kekesalan.
“Fotonya gue ambil, kangen gue sama adek lo.” Edho memasukkan foto tersebut ke dalam dompetnya.
“Cih, udah gag ada juga. Mau lo kenang kayak gimana juga dia gag bakalan balik lagi.” Sinis Alea.
Edho menggelengkan kepalanya tak percaya. Alea memang tidak pernah berubah, dia selalu membenci setiap hal yang membuat dirinya menjadi nomor dua, termasuk seperti saat ini.
“Lo gag suka ya liat nyokap sama bokap lo deket sama reva?”
Edho mendekatkan tubuhnya pada Alea dan menatapnya dengan lekat. Alea tidak bergeming sama sekali. Ia malah mengerlingkan bola matanya dengan kesal.
“Lo gag boleh jutek-jutek sama reva. Gimana pun dia udah bikin nyokap lo ketawa. Dan lagi, dia kan calon sepupu ipar lo, gue gag mau kalian gag akur.” Tutur Edho dengan di akhiri senyum simpul.
“Cih, usaha dulu baru ngarep!” sengit Alea yang kemudian berlalu.
Edho kembali hanya bisa menggelengkan kepala. Tuan putri yang tadi berbicara dengannya memang bukan orang yang mudah di hadapi. Selama 27 tahun ia selalu menjadi pusat perhatian dan menjadi yang utama, tidak mungkin dengan mudah menerima kehadiran orang baru dalam hidupnya.
__ADS_1
*****