
Sarapan kali ini tampak berbeda dari sarapan-sarapan sebelumnya. Anak-anak begitu semangat memilih makanan yang tersaji. Mereka tampak lahap menikmati makanannya. Bagi mereka mau itu sarapan, makan siang atau makan malam semua menunya sama..
Ratna mengambil pepes ikan kesukaan Reva. Ia membersihkan rempah dan dedaunan yang menutupi badan ikan.
“Ikannya re…” ujar Ratna sambil menaruh ikan di piring Reva.
“Makasih bu…” sahut Reva sambil menelan makanan di mulutnya.
Ia menoleh Ratna yang tengah memandanginya seraya tersenyum. Matanya masih sangat sembab. Reva mengambil potongan ikan lalu memasukkan kemulutnya bersamaan dengan nasi. Dadanya terasa sesak, ia tidak bisa membayangkan jika kelak ia tidak bisa lagi memperoleh perhatian-perhatian kecil ini dari Ratna. Reva menelan makananya bersamaan dengan air mata yang ia coba tahan.
Melihat perhatian Ratna yang begitu besar, hati Niken mencelos. Semua kebiasaan Reva, cara makannya, makanan kesukaannya sudah sangat jauh berbeda. Rasanya terlalu sulit bagi Niken untuk mengenali kembali Lana-nya.
Pada dasarnya Reva tidak memiliki makanan favorit. Setiap masakan yang di masak Ratna, selalu ia nikmati dengan lahap sambil berseru “Ini makanan favorit rere.” Dan entah kenapa, setiap masakan buatan tangan Ratna selalu terasa nikmat di mulutnya.
“Kak, aku mau tempe goreng.” Tunjuk Andi pada tempe goreng yang ada di hadapan Niken.
“Boleh, nih. ” Reva mengambilkan tempe untuk Andi. “Makan yang banyak ya jagoan.” Imbuh Reva seraya tersenyum. Andi pun mengangguk dengan semangat.
Raka yang memperhatikan Reva dari tadi, terasa gatal jika bibirnya tidak melengkungkan sebuah senyuman. Kekagumannya pada Reva semakin bertambah dengan sikap perhatiannya pada sesama.
“Bu, rere pernah makan urap di rumah kak mela. Udah lama sih. Katanya itu di bikin dari daun pepaya. Tapi kok gag pahit ya?” Reva mencoba mencari bahan pembicaraan agar suasana makan tidak terasa canggung.
“Oh iya kalo masaknya bener emang gag pahit. Terus sebelum dimasak harus di rendem dulu pake garem sekitar satu jam. Nanti pahitnya hilang.” Terang Ratna dengan semangat.
Seperti inilah cara Reva memancing Ratna agar kembali semangat. Membahas tentang masakan, kebun tanaman miliknya atau mencari ikan kesungai selalu membuat Ratna seolah lupa dengan masalahnya.
“Gag pahit tapi jadi asin gag bu?” ledek Reva seraya terkekeh.
“Ya enggak dong re… kamu mau ibu bikinin?” tawar Ratna
__ADS_1
“Hem boleh… Tante mau ikutan?” ajak Reva pada Niken yang sejak tadi hanya tertunduk berusaha menikmati makananya.
“Boleh,” sahut Niken dengan senyum lebarnya.
Reva tampak melirik Wira yang juga terangguk setuju. Wira bisa membaca benar maksud gadis ini, tujuannya agar ia bisa mendekatkan kedua ibunya. Dan Wira merasa salut.
****
Acara memasak terdengar sangat menyenangkan. Reva sangat pintar menghidupkan suasana. Sesekali Wira dan Raka ikut tersenyum saat mendengar ketiga wanita itu tertawa dengan renyahnya sambil memasak.
“Pah, papah belum ngasih tau om indra kan soal lana?” tanya Raka yang sedang duduk berdua bersama Wira menikmati pemandangan kebun sayuran kecil di samping rumah Reva.
“Belum, papah masih memikirkan waktu dan cara yang tepat.” Wira menyesap kopi hitam yang dibuatkan Niken. Wanginya benar-benar alami.
“Raka pikir juga kita harus nanya lana dulu. Takutnya dia belum siap. Ya walaupun om indra dan tante nida udah pasti seneng.” Ujar Raka yang ikut menikmati kue buatan Ratna.
“Tapi dengan kejadian ini, papah jadi kepikiran sama penculik lana. Sampai sekarang kita gag nemuin jejak apapun tentang mereka. Mobilnya terbakar dan kasus inipun sudah kadaluarsa menurut hukum. Tapi pelakunya mungkin saja masih berkeliaran dan bisa mengancam nyawa lana kalau mereka tau lana masih hidup.” Wira tampak berfikir dengan serius. Dan Raka mengerti benar kecemasan Wira.
“Mungkin memang ada baiknya kita nyembunyiin dulu keberadaan lana sebelum kita membicarakan masalah ini dengan om indra pah.” Saran Raka yang diangguki setuju oleh Wira.
Suara riuh itu kembali terdengar lagi dari dapur membuat perhatian Raka dan Wira beralih pada ketiga wanita itu. Wira mengajak Raka untuk melihat ke dapur, tawa renyah ketiga wanita itu begitu mengundang perhatiannya.
“Gimana bu, enak gag?” tanya Reva yang dengan penasaran menunggu jawaban Ratna.
Ratna hanya mengangguk seraya tersenyum, yang bisa di artikan masakan Reva tidak terlalu buruk.
“Tante mau nyoba?”
Reva mengarahkan tangannya pada Niken. Niken terangguk seraya membuka mulutnya. Reva menyuapkan makanan itu ke mulut Niken dengan tangannya. Serasa dejavu Niken mengingat hal ini. Dulu, Lana kecil sangat suka berbagi makanan dengan siapapun. Kadang saat Niken makan, ia lebih suka duduk di pangkuan Niken dan makan bersama dari piring Niken hingga saling menyuapi. Ah… Niken rindu masa-masa itu.
__ADS_1
“Enak tan?” Reva dengan tak sabar menunggu respon Niken.
“Enak!” sahutnya seraya tersenyum.
“Tuh kan, masakan rere tuh emang enak. Cuma jarang aja masaknya.” Cetus Reva yang di sambut tawa riuh dari Niken dan Ratna.
“Wah ini kok seru banget sih. Lagi ngobrolin apa sih?” Wira ikut berbagung dengan para wanita bersama Raka. Ia mengusap bahu Niken lalu duduk di sampingnya. Terlihat wajah ceria istrinya yang tersenyum.
“Ini om, rere masak ini. Ibu sama tante Niken jadi tim pencicip. Om mau nyobain?” dengan semangat Reva hendak menyuapi Wira.
“Tentu dong!” Wira membuka mulutnya lebar-lebar dan makanan itu pun masuk ke mulutnya. “Enak…” Puji Wira sambil terangguk-angguk.
“Aaaa… mas..” kali ini mulut Raka yang terbuka dan menerima suapan dari Reva. Ia ikut memuji masakan Reva.
Suasana dapur kembali ramai dengan suara tawa dan obrolan ringan. Menu makanan kedua akan segera di buat. Reva pergi ke warung untuk membeli beberapa bahan masakan. Tinggal lah mereka saling berbincang di dapur tanpa Reva.
Niken memandangi Ratna yang tengah mengiris beberapa bahan makanan. Sayuran segar ikut Niken siangi untuk makan siang mereka.
“Bu ratna…” Dengan ragu-ragu Niken memulai kalimatnya.
“Iya bu…” sahut Ratna yang mulai menatap wajah cantik Niken.
“Em… saya tidak tau harus memulainya seperti apa.” Niken menoleh Wira yang duduk di sampingnya dan Raka yang terdiam sambil memandangi satu persatu bumbu dapur yang ada di hadapannya. “Saya, mau mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada bu ratna karena sudah menjaga, menyayangi dan mendidik putri kami. Saya tidak tau harus seperti apa membalas kebaikan ibu selama ini.” Tutur Niken dengan nafas tertahan.
Terlihat Ratna memberinya sebuah senyuman tipis. “Bu niken, seorang ibu yang menyayangi putrinya tidak pernah mengharapkan balasan apapun. Walaupun rere bukan lahir dari rahim saya, tapi dia sudah seperti anak saya sendiri. Kehadiran rere membawa warna baru dalam hidup saya. Saya tidak lagi merasakan kesepian walaupun saya telah di tinggalkan oleh mendiang suami saya.” Ratna menjeda kalimatnya dengan sebuah sentuhan lembut di bahu Niken.
“Bu niken tau, saat dia kehilangan semua ingatannya sebenarnya ingatan itu bisa kembali asal rere mengikuti terapi. Tapi beberapa waktu berlalu, dia merasa mungkin orang-orang yang dicintainya tidak lagi mempedulikan dia dan tidak ada seorangpun yang mencarinya. Sejak saat itu, dia berfikir mungkin sebaiknya dia tidak pernah ingat siapa dirinya. Sayangnya, kebiasaan dia melupakan kesedihan berlangsung hingga ia dewasa. Setiap dia mengalami sebuah kejadian tidak menyenangkan, dia akan secara sadar melupakan kejadian itu hingga beberapa waktu terakhir ia harus berkonsultasi dengan seorang psikolog untuk mengobati rasa sakit di kepalanya yang belakangan ini sering muncul. Saya tidak mau rere mengalami hal buruk lagi. Saya juga tidak mau jika suatu waktu ia mengalami sebuah kesedihan yang mendalam dan dia mencoba melupakan semuanya. Saya tidak ingin dia terpuruk lagi. Jadi setelah ini, tolong jaga dia baik-baik untuk saya….” Suara Ratna terdengar bergetar di akhir kalimatnya.
Sebuah ungkapan kasih sayang yang teramat dalam terekam jelas di pikiran Niken, Wira dan Raka.
__ADS_1
“Bawalah rere bersama kalian. Ajak dia mengenal siapa dirinya sebenarnya. Biarkan dia menghadapi masa lalunya. Saya percaya dia bisa melewati semuanya karena dia gadis yang kuat. Tidak pernah mengeluh apalagi menyerah.” Tukas Ratna seraya menyeka air di pipinya. Ia tidak ingin Reva melihat kesedihan yang dirasakannya. Bagaimanapun Reva berhak mendapatkan hidupnya yang lebih baik dan berada di antara orang-orang yang begitu mencintainya.
****