
“Jeng, lana boleh nginep di rumahku? Udah lama rumah sepi…” ujar Niken di sela perbincangannya tentang pertunangan dan pernikahan anak-anaknya.
Mereka tengah menikmati matahari sore di taman belakang rumah Nida.
“Boleh.. Tapi jangan lama-lama yaa, di sini juga sepi kalo gag ada lana.” Sahut Nida dengan senyum tipisnya.
Niken ikut tersenyum, mereka menikmati indahnya sore ini dengan secangkir teh dalam genggamannya.
“Waktu cepet banget berlalu… Dulu waktu zaman kita sekolah, kita biasa kabur dari sekolah terus pergi ke café langganan sambil ngobrolin kecengan, membayangkan kelak kita akan menikah dengan siapa dan punya anak berapa.” Niken menghelas nafas dalam. “Sekarang justru kita ngobrol soal pernikahan anak kita. Bener-bener gag kerasa ya…” kenang Niken saat mengingat kebersamaannya dengan Nida dulu.
“Iya ken, kita udah tua. Yang akan kita bahas nanti adalah tentang cucu dan cicit, rasanya gag sabar…” ungkap Nida dengan perasaan bahagia yang tidak bisa ia jelaskan.
Ditempat lain, Reva tengah duduk-duduk di balkon kamarnya. ia mengeluarkan buku catatannya dan menulis kejadian-kejadian indah yang ia lewati sehari-hari. Sementara di sampingnya ada Raka yang sedang asyik melukis kekasihnya yang berjarak beberapa senti saja. Ia tersenyum tipis menatapi setiap ekspresi dan lekuk wajah kekasihnya. Ia begitu menikmati setiap saat menggoreskan pena untuk menggambar Reva di kertas polosnya.
“Mas, kita harus pesen cincin tunangan dong ya?” Reva memecah kesunyian di antara mereka.
“Hem.. kita pergi besok ya…” sahut Raka dengan segera.
Reva mengangguk setuju. Perlahan wajahnya yang tertunduk menatap Raka yang masih asyik melukis dirinya.
“Kira-kira, modelnya mau kayak gimana mas?” berganti Reva yang menatap Raka dengan lekat. Raka menghentikan gerakan tangannya dan mengakhiri gambar yang dibuatnya.
“Mau yang umum kayak orang apa yang custom?” Raka menopang dagunya dengan tangan kanan yang bertumpu pada pahanya.
“Ish mas raka, jangan gitu dong ngeliatnya…” Reva mengibaskan tangannya di depan wajah Raka.
“Kenapa, apa kamu masih ngerasa malu?”
Raka meraih tangan Reva kemudian menyelipkan jemarinya di sela jemari Reva. Ia pun merangkul bahu Reva agar mendekat. Reva hanya terdiam. Ia bahkan tak berani menatap wajah laki-laki yang kini melingkarkan tangannya di pinggang Reva.
“Aku bahagia, bisa menghabiskan waktu sama kamu re.. Dan aku benar-benar bersyukur karena kamu ada di setiap waktu penting aku.” Lirih Raka seraya mengecup kepala Reva dengan lembut. “Kelak kita akan seperti ini sampai kita menua bersama.” Lanjutnya yang kemudian memejamkan mata.
Raka begitu menikmati setiap debaran jantung yang bertambah cepat saat di samping Reva serta rasa hangat yang menelusuk tubuhnya membuatnya merasa semakin nyaman.
Reva menyentuh wajah Raka dengan lembut, membelainya kemudian memberinya sebuah kecupan di pipinya. Raka hanya tersenyum seraya mengeratkan pelukannya.
****
__ADS_1
Pagi hari di kediaman Wira di penuhi dengan keceriaan. Mereka berolah raga bersama di taman dekat rumah. Kegiatan yang sudah lama sekali tidak mereka lakukan bersama.
Wira tampak terengah, ia duduk di salah satu bangku taman dan berusaha mengatur nafasnya. Di sampingnya ada Niken yang juga mulai merasa lelah.
“Minum dulu pah..” Niken menyodorkan sebotol air mineral pada Wira.
“Makasih sayang..”
Wira segera menerimanya dan meneguk minuman yang mulai menyegarkan tenggorokannya.
“Anak kita di mana mah?” sambung Wira yang mencari keberadaan Raka dan Reva.
“Tuh di sana.” Niken menunjuk sepasang kekasih yang terlihat sedang berlatih Taekwondo.
Reva mengajarkan Raka jurus-jurus dasar teknik bertahan. Sebenarnya ia bisa melakukan beberapa teknik dalam taekwondo, karena ia memang mempelajarinya saat SMA namun hanya sampai sabuk kuning. Dan ia sengaja mengalah pada Reva, berpura-pura tidak bisa melakukan gerakan dengan benar.
Niken dan Wira tampak terkekeh saat mereka melihat Reva berhasil menjatuhkan Raka namun secepat itu pula ia terlihat cemas dan membantu Raka untuk bangun.
“Hahahha, anak kamu pah, bisa aja godain lana….” Ujar Niken yang geli melihat tingkah manja anak lelakinya.
“Tapi mamah juga kan paling luluh kalo papah udah ngalah, iya kan?” goda Wira yang ikut terkekeh.
Wira hanya tersenyum tipis, Niken yang terkadang cuek memang baru akan luluh kalau Wira tampak lemah. Ia akan dengan penuh kasih menjaga dan merawat suaminya.
“Mamah bahagia pah, semoga selamanya kita sehat dan bisa melihat cucu dan cicit kita ya pah…” sambung Niken seraya menyandarkan kepalanya di bahu Wira.
Wira terangguk mengiyakan. Ia pun merasakan perasaan yang sama. Dikecupnya pucuk kepala Niken penuh dengan kasih, seolah menegaskan kemesraan tidak hanya milik yang muda tapi milik mereka yang saling mencintai tanpa terbatas usia.
****
Berbanding terbalik dengan kediaman Wijaya saat ini. Indra tengah berkacak pinggang saat melihat kedatangan putri sulungnya yang diantar oleh Fery. Amarahnya muncul begitu saja saat melihat wajah Alea yang tampak tidak merasa bersalah sama sekali.
“Masih inget pulang kamu lea?” tanya Indra dengan mata membulat menatap Alea yang berdiri di hadapannya.
“Papih kan ngelarang aku pulang malem, jadi aku pulang pagi.” Timpal Alea dengan senyum tipis di bibirnya.
Indra bisa mencium bau alkohol yang keluar dari mulut Alea.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan pada putri saya hah?” Indra mendorong tubuh Fery hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
“Saya…” Fery melirik Alea yang tengah memandangnya.
“Pih, fery gag ada hubungannya sama yang lea lakuin. Jadi jangan salahin fery.” Gertak Alea.
Untuk pertama kalinya Alea meninggikan suaranya di hadapan Indra.
“Oooohhh begitu kelakuan kamu sekarang ya. Kamu bilang laki-laki ini tidak ada hubungannya sama kamu tapi kamu berani meninggikan suara di hadapan papih. Pergi kamu!” hardik Indra seraya menunjuk Fery.
“Pih, jangan keterlaluan!" Alea mengibaskan tangan Indra yang tertuju pada Fery. "Papih kenapa sih gag mau dengerin aku? Apa karena udah ada lana makanya perasaan dan keberadaan aku udah gag penting lagi buat papih?!” dengan berani Alea menantang Indra. Ia lupa semua yang diucapkan Fery saat di jalan, agar tidak membantah orang tuanya.
“Lancang kamu Alea!”
“PLAK!” sebuah tamparan mendarat di pipi Alea. Nida yang mendengar keributan tersebut segera menghampiri suami dan putrinya. Alea tampak memegangi pipinya yang terasa panas dan merah. Sementara Fery tidak bisa berbuat apa-apa. Saat ini, kehadirannya saja sudah menjadi masalah bagi Alea apalagi kalau ia ikut berbicara.
“Pih!” seru Nida yang segera memegangi Alea yang tampak tidak terima dengan perlakuan Indra. “Pih, semua bisa dibicarakan baik-baik, kenapa papih main tangan?!” lanjut Nida yang sangat tidak menyangka dengan reaksi kedua orang dihadapannya.
“Kamu mulai tidak menghargai saya. Kamu pergi dan pulang seenak kamu! Kamu punya apa sudah berani menentang saya, hah?” ujar Indra dengan emosi yang makin memuncak.
Alea tidak menjawab apapun karena Nida berusaha mengingatkannya. Ia segera menepis tangan Nida dan berlalu pergi meninggalkan Indra yang masih dimakan api amarah.
“Alea! Saya belum selesai bicara!” teriak Indra yang tidak dipedulikan oleh Alea. “Lihat anak kamu, sudah berani menentang saya!” ujar Indra pada Nida yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat amarah suaminya.
Nida benar-benar tidak mengenali Indra yang saat ini ada dihadapannya. Sebenarnya Nida paham dengan kemarahan Indra pada Alea, namun ia tidak menyangka bahwa amarahnya sebesar ini.
“Dan kamu, sebaiknya kamu pergi. Saya tidak mau melihat muka kamu lagi.” Tegas Indra pada Fery. Ia segera pergi meninggalkan Nida dan Fery yang masih terpaku.
Fery hanya mengangguk. Ia berusaha memahami kemarahan Indra. Namun langkah pertamanya gagal untuk mengenal keluarga Alea, dan kedepannya, mungkin ia tidak akan punya kesempatan lagi.
“Nak, tante minta maaf ya atas sikap om… Tante harap kamu tidak tersinggung dan masih mau berteman dengan alea.” Nida menatap Fery dengan penuh sesal.
“Gag pa-pa tante… saya juga minta maaf kalau kehadiran saya membuat masalah ini terjadi.” Fery berbicara dengan penuh kesungguhan.
Nida mengangguk mengiyakan. “Terima kasih sudah menjaga lea…” Nida menepuk bahu Fery perlahan.
“Sama-sama tante, saya permisi.” Tukas Fery yang disahuti anggukan oleh Nida.
__ADS_1
Nida melihat Fery berlalu, sementara perasaannya masih tak menentu membayangkan ia harus menghadapi 2 orang keras kepala dalam hidupnya. Nida terduduk sendirian dengan tangis yang coba ia tahan.
*****