
Reva merasa tubuhnya semakin membaik. Ia sudah tidak lagi merasakan sakit di perut bawahnya atau pusing di kepalanya. Wajahnya pun sudah tidak terlalu pucat hanya saja, kesenduan itu masih belum hilang dari wajahnya.
Yang membuat Reva bersemangat setiap harinya adalah saat pagi, siang dan sore hari perawat memeriksa detak jantung janinnya. Suara pelana kuda itu terasa begitu menghangatkan hatinya. Ia begitu mengikuti semua anjuran dokter. Ia makan dengan teratur, minum obat tepat waktu dan menghindari kegiatan berat. Ia merasa hidupnya lebih dari cukup hanya dengan memiliki calon bayi yang kini sedang tumbuh di dalam rahimnya. Ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi, ia tidak ingin membahayakan buah cintanya lagi, baginya janin yang baru berukuran sekitar 8 mm adalah nyawanya. Dengan sekuat tenaga ia akan selalu melindunginya.
Seperti hari ini, setelah melewati morning sickness-nya, ia berjalan ke luar ruangan dan menghirup udara segar. Ia memejamkan matanya dan mulai merasakan cahaya matahari yang menyapa dirinya bersamaan dengan hembusan lembut angin yang membelai wajahnya. Sedikit banyak, ia merasakan ketenangan di antara gejolak perasaannya yang tak menentu.
“Reva!” seru sebuah suara yang membuat matanya seketika terbuka.
Reva mengenal suara itu namun ia tak berani berbalik. Ia belum siap, ia masih ingin menikmati kesendiriannya melewati hari-hari yang melelahkan.
Terdengar derap langkah yang mendekat pada Reva. Reva berjalan menjauh dan pura-pura tidak mendengarnya.
“Reva!” kali ini laki-laki itu berlari dan berhasil menarik tangan Reva, membuat langkahnya terhenti. ya, dialah Fery.
Fery membalik tubuh Reva menghadapnya. Ia memegangi kedua bahu Reva dan menatapnya dengan lekat.
Di salah satu bangku taman rumah sakit kini Reva dan Fery duduk berdampingan. Berkali-kali Fery memandangi Reva dengan tatapan tak percaya. Setelah 3 hari mencari Reva, ternyata kondisi kesehatan Wira yang membuat mereka bertemu.
Reva masih terdiam tanpa menatap Fery sedikitpun. Wajahnya terlihat dingin tanpa segaris senyumanpun.
“Re, gue seneng lo baik-baik aja.” Ungkap Fery dengan sebenarnya. Namun Reva tak menimpalinya, hanya sebuah tarikan nafas kasar yang terdengar jelas. “Gue tau, lo pasti sangat marah sama raka. Lo juga pasti kecewa. Tapi, gue mohon lo pulang. Raka nyariin lo kayak orang gila. Dia gag makan, minum ataupun tidur. Orang tua lo terus-terusan sedih begitu juga alea, om wira dan tante niken.” Lanjut Fery dengan penuh kesungguhan.
Reva melirik satu plastik obat yang ada di tangan Fery. Ia bisa melihat, nama Wira tertulis di sana.
“Papah sakit apa?” tanya Reva kemudian. Walaupun ia marah dan sedih, bukan berarti ia tidak peduli pada orang-orang di sekitarnya. Ia hanya perlu waktu, ia masih belum siap dan ia masih harus melindungi seseorang di dalam rahimnya.
Pandangan Fery ikut teralih pada obat di tangannya. “Penyakit om wira kambuh. Tapi dia gag mau di bawa ke rumah sakit. Dia takut kalo lo pulang dan dia gag ada di rumah, lo bakal cemas.” Terang Fery.
__ADS_1
Hati Reva terrenyuh. Nyatanya, untuk menenangkan dirinya, ia telah membuat banyak hati menjadi resah. Lalu jika ia kembali, apa ia cukup kuat untuk menghadapinya? Bisakah kali ini ia kembali mencoba melakukan represi dan melupakan semua kesakitannya? Sungguh, pikiran dan perasaan Reva masih saling berkecambuk.
*****
Ini pilihan Reva. Ya, ia memilih untuk pulang ke kediaman Wijaya. Bagaimanapun ia tak boleh menghidar lagi atau lari dari masalahnya. Setelah pergejolakan batinnya, ia memilih untuk berjalan di belakang Fery, mengikutinya masuk saat Fery membukakan pintu.
“Non rere!!!” teriak Bi Inah yang berhambur memeluk Reva. “Ya allah gusti, Alhamdulilah non rere baik-baik aja…” Lanjut Bi Inah seraya terisak di pelukan Reva.
Reva berusaha tersenyum, seraya mengusap punggung Bi Inah. “Iya bi, saya baik-baik aja.” Lirihnya.
Mendengar suara Bi Inah, Nida berlari menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Sementara Alea memanggil Indra yang berada di ruang bacanya.
“Reva… sayang…” ujar Nida yang memperhatikan sosok Reva dari atas hingga bawah. Ia ingin memastikan bahwa putri kesayangannya baik-baik saja dan yang dilihatnya bukan bayangan saja.
“Mih…” lirih Reva dengan senyum tipis di wajahnya.
Dari kejauhan, terlihat Alea dan Indra yang berjalan dengan cepat. Mereka memandangi Reva dengan perasaan senang yang tidak bisa dilukiskan.
“Anak nakal, lo dari mana aja?” cetus Alea seraya mengacak rambut Reva dengan sayang. Terlihat jelas kecemasan di wajah Alea.
“Maaf kak, udah bikin kalian cemas.” Ungkap Reva dengan penuh sesal.
“It’s okey, yang penting lo baik-baik aja.” Sahut Alea seraya memeluk Reva. Ia tahu benar beban kesakitan yang saat ini di rasakan sang adik tapi bisa melihatnya baik-baik saja, tentu sudah cukup membuat Alea tenang.
Alea melihat Fery yang berdiri di belakang Reva. Ia tersenyum dan Fery membalasnya. Laki-lakinya, selalu bisa diandalkan untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi, lantas apa lagi yang Alea ragukan?
******
__ADS_1
Fery dan Indra duduk-duduk di taman belakang. Ia bertanya kondisi Raka saat ini. Sejak kemarahannya pada Raka, ia masih belum bertemu lagi dengan menantunya.
“Dimana kamu bertemu reva?” tanya Indra pada Fery. Kali ini pandangannya terarah lurus pada Fery, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
“Em.. saya bertemu reva di rumah sakit om, saat saya mencari apotek atau rumah sakit yang menjual obat om wira.” Terang Fery dengan hati-hati.
“Apa kamu bisa mendapatkan alasan kenapa reva ada di sana?”
Fery hanya menggeleng. Ya, berkali-kali Fery bertanya pada Reva alasan ia berada di rumah sakit, tapi Reva tetap bungkam seribu bahasa.
“Gue gag enak badan dan butuh istirahat.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Reva.
Indra menghela nafsnya dalam, “Saya memiliki 2 putri yang sangat istimewa, tapi terkadang saya merasa jauh dengan mereka walaupun mereka ada di hadapan saya. Saya tidak tahu, seperti apa sosok ayah yang dibutuhkan oleh mereka karena nyatanya mereka lebih suka menyimpan sendiri perasaan dan pikirannya masing-masing tanpa saya tahu.” Tutur Indra lirih.
Pandangan Indra tertuju pada dedaunan yang bergerak tertiup angin. Selalu seperti ini, ia merasa belum bisa berperan dengan baik untuk kedua putri yang ia sayangi. Indra kembali meneguk air teh di tangannya dan menyesap aromanya cukup lama.
“Kamu tidak hanya menjaga alea, tapi juga menjaga reva seperti adik kamu. Saya harap, saya tidak salah memberikan kepercayaan saya sama kamu fer.” Lanjut Indra yang kali ini menatap Fery dengan hangat.
Entah Fery harus senang atau seperti apa, tapi jika ia boleh menyimpulkan, Indra mulai mempercayainya dan itu sesuatu yang besar lagi berat bagi Fery.
“Saya tidak bisa menjanjikan alea akan mendapat limpahan harta atau semacamnya. Saya hanya bisa berjanji, kalau saya akan selalu melakukan yang terbaik untuk alea, karena alea penting untuk saya.” Tegas Fery dengan penuh keyakinan.
Indra terangguk paham. “Saya tidak minta janji apapun dari kamu. Karena seorang laki-laki tidak di lihat dari kata-katanya, tapi dari bukti perbuatannya. Saya titip alea sama kamu.” Tukas Indra seraya menepuk bahu Fery.
Ia beranjak dari tempat duduknya kemudian berlalu meninggalkan Fery yang masih terpaku dengan banyak pikiran yang harus ia cerna.
Segaris senyum terlihat jelas di wajah Fery. Ini bukan saatnya untuk ia bersorak sorai, tapi demi apapun, ia sangat bahagia karena akhirnya restu Indra bisa ia dapatkan.
__ADS_1
****