Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 85


__ADS_3

Hari sudah tenggelam dalam kelamnya malam. Reva yang sudah membersihkan dirinya merasa tubuhnya lebih segar. Meski malam sudah semakin larut, Reva masih belum bisa memejamkan matanya. Reva duduk di pinggiran tempat tidurnya sambil membuka-buka buku gambar Raka. Semuanya berisi lukisan Reva dengan berbagai ekspresi. Melihat setiap goresan tangan Raka di setiap lukisannya, Reva meyakini Raka benar-benar sangat berbakat melukis. Meski belum mengingat apapun, dari gambar yang di buat Raka ia yakin ia melewati masa kecilnya dengan bahagia.


Pikiran Reva kembali mengingat saat pertama ia bertemu Raka. Satu pertemuan yang diawali dengan sebuah kesalah pahaman itu kini nyata tidak pernah hilang dari ingatannya. Entah sejak kapan, semua hal tentang Raka di hidupnya saat ini seperti enggan untuk ia lupakan.


Reva beranjak dari tempat tidurnya. Ia memandangi setiap sudut kamarnya yang terasa begitu manis dengan suasana merah muda. Berbagai aksesoris khas gadis kecil dengan boneka-boneka yang berjajar rapi di atas lemari kecil membuat sudut bibir Reva menyunggingkan sebuah senyuman.


Reva mengambil salah satu boneka merasakan kelembutan jalinan kapas itu dan kembali duduk di tempat tidurnya dengan memeluk boneka tedy bear yang menurut Raka adalah kesukaannya. Saat ia beranjak remaja, ia memang tumbuh menjadi anak yang tomboy. Dengan segala aktivitas yang lebih condong pada kegiatan anak laki-laki. Tapi sejak menjadi seorang **** girl, begitu panggilan dari para kumbang, ia mulai belajar menjadi gadis yang manis.


Andai saja ia bisa kembali ke masa itu, masa ia memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja tanpa Adrian dan masa dimana ia menunjukkan pada Adrian bahwa ia bisa menaklukan laki-laki seperti apapun, mungkin ia tidak akan pernah memilih menjadi seseorang yang membuatnya jijik.


Reva menghela nafas panjang. Ia sadar, pada dasarnya itu bukan salah siapapun. Itu adalah pilihannya, pilihan bodoh yang akan ia sesali seumur hidupnya.


Reva kembali teringat pada ancaman Alea. Wanita cantik yang menurut Raka adalah kakak kandungnya. Terkadang ia masih belum bisa meyakini Reva adalah bagian dari keluarga Wijaya karena keluarga tersebut terlalu asing baginya.


“Alea, kenapa kita bisa bertemu seperti ini? Kamu bahkan sudah membenciku sebelum tau siapa aku.” Gumam Reva yang teringat sorot mata tidak suka Alea kala menatapnya.


Reva membaringkan tubuhnya miring. Ia masih memandangi boneka tedy bear di hadapannya. Dengan lembut tangannya membelai boneka tersebut.


“Apa sebaiknya mereka gag pernah tau kalo aku masih hidup?” gumamnya lagi dengan penuh keraguan.


****


 


Pagi ini area dapur dan ruang makan di kuasai oleh dunia wanita cantik di rumah ini. Mereka tampak asik memasak berbagai menu masakan  padahal untuk sarapan biasanya Raka dan Wira hanya makan oatmel dan segelas susu atau kopi. Tapi kali ini, lima menu spesial sudah tersaji di meja makan.


“Emm… yang ini enak re, mamah suka.” Ujar Niken seraya membelalakan matanya yang bulat. Ia tampak menikmati sesi mencicip makanan yang keseleruhannya adalah hasil karya Reva.


“Kan udah aku bilang tan, masakan aku tuh enak. Cuma jarang aja masaknya.” Cletuk Reva dengan diiringi tawa ringan di akhir kalimatnya.

__ADS_1


“Kamu bisa aja.” Sahut Niken seraya mencubit gemas pipi putri kesayangannya.


“Wah wah wah… Pagi ini kita sarapan enak nih.” Wira sudah tiba di ruang makan dengan penampilan yang segar beda dari biasanya.


Dibelakangnya tampak Raka yang sudah sangat rapi dengan pakaian kerjanya. Reva tampak tertunduk saat Raka tersenyum padanya. Ia merasa Raka seperti sang pangeran dan dirinya adalah kentang, dengan celemek yang masih membungkus tubuhnya.


Wira mendaratkan sebuah kecupan di dahi Niken seperti yang biasa ia lakukan tiap harinya. Tak lama Raka pun mendekat dan berniat melakukan hal yang sama pada Reva tapi secepat kilat Reva menghindar dan menahan wajah Raka agar tidak semakin dekat.


“Ya ampun re, cuma mau nyium jidat doang kok…” protes Raka setengah berbisik.


“Issshh kamu apa sih mas. Kayak gitu depan om dan tante.” Timpal Reva yang terlihat malu pada kedua pasang mata yang tengah menatapnya. Ia berusaha tersenyum dengan canggung.


“Rakaaa,,, duduk.” Ujar Wira dengan suara baritonnya.


“Ya elah pah, masa papah boleh nyium mamah gitu aja, tapi aku gag boleh…” protes Raka sambil tersenyum tipis pada Reva.


“Ya udah, besok panggil penghulu ya, papah sama mamah siap-siap.” Cletuk Raka tanpa pikir panjang, sontak membuat wajah Reva semakin memerah.


“Jangan dulu, mamah harus nyiapin dulu semuanya. Baru kamu bawa penghulu ke rumah.” Niken tampak tidak terima dengan candaan Raka. Dalam pikirannya ia sudah merancang sebuah pernikahan yang indah untuk Raka dan Reva. Ia tidak mau cita-citanya terhapus begitu saja.


“Yah mamah mah lama…” sahut Raka sambil melingkarkan tangannya di leher jenjang Reva.


Tanpa di duga, Reva menarik tangan Raka dan hampir mempelintirnya. “Aduduuhhh, re ampun re…” Raka meringis kesakitan.


“Ya lagi mas raka aneh-aneh aja sih.” Ungkap Reva yang masih terkejut.


“Jangan mesum, aku cuma mau bukain celemek kamu.” Raka menyentil dahi Reva dengan gemas membuat gadis cantik itu mengaduh.


“Rakaaa, sakit dong revanya…” bela Niken yang seolah tak terima. Ia bahkan refleks memukul lengan Raka.

__ADS_1


Tapi Raka malah tersenyum sambil mengacak rambut Reva dengan gemas. Iapun segera menarik tangan Reva untuk duduk di sampingnya. Dalam beberapa saat mereka mulai menikmati sarapan paginya. Reva melihat satu persatu orang yang ada di hadapannya.


“Hari ini papah ke kantor gag? Kan ada rapat pemegang saham…” tanya Raka di sela sarapannya.


“Em… Hari ini kamu yang urus. Papah mau ketemu teman lama.” Terlihat senyum terkembang di bibir Wira.


Raka hanya mengangguk-angguk paham. Melihat Wira yang begitu bersemangat hari ini, perasaan syukur menyeruak di dada Raka. Betapa tidak, beberapa tahun terakhir Wira selalu murung bahkan pernah nyaris kehilangan nyawanya karena penyakit yang di deritanya. Jika menelisik penyebabnya, Raka yakin itu karena rasa bersalahnya yang begitu dalam pada keluarga Wijaya. Rasa kehilangan yang begitu dalam pun membuat Wira bertahun-tahun tidak fokus mengurus perusahaan. Hal ini dipertegas dengan kehadiran Reva, sejak ia mengetahui kenyataan bahwa Lana kesayangan masih hidup, sepertinya semangat hidupnya bertambah 1000 kali lipat. Dan Raka sangat bersyukur.


“Re, hari ini papah mau ketemu keluarga Wijaya. Apa kamu bisa ikut?” Pertanyaan yang terlontar dari mulut Wira, sontak membuat nafas Reva tercekat.


Semua perhatian kini tertuju pada Reva yang terdiam dengan pertanyaan Wira. Entah seperti apa perasaannya saat ini, yang jelas ia merasa belum siap.  Reva memberanikan diri menatap netra pekat milik Wira, seperti yang ia biasa lakukan saat ia berbicara dengan laki-laki gagah yang sudah tidak muda lagi.


“Apa boleh kalo saat ini rere masih hanya ingin berada di keluarga ini? Rere masih ingin menguatkan diri sendiri om…” tutur Reva dengan tersirat menyampaikan ketidaksiapannya.


Mendengar jawaban Reva, Wira hanya tersenyum. Bibir tipis itu kembali berujar mengeluarkan kata-kata. “Tentu, menyiapkan hati rere adalah yang terpenting saat ini. Papah gag ada masalah.”


“Terima kasih, pah… mah…” Untuk pertama kalinya panggilan itu kembali terdengar dari mulut Reva.


Niken menatap tak percaya. Matanya terlihat berkaca-kaca mendengar panggilan yang sangat dirindukannya.


“Sayang…” lirih Niken seraya memeluk tubuh Reva dari samping.


Selama ini Reva hanya bisa memanggil Wira dan Niken dengan panggilan om dan tante. Tapi saat mendengar kalimat terkahir dari mulut Wira, ia merasa keluarga ini memang sangat menyayanginya. Memberinya waktu dan tempat untuk menata hatinya. Bukankah tidak ada perasaan sayang yang lebih besar selain merasa kalau perasaan kita di hargai?


“Rere merasa, semua ini masih terasa seperti mimpi. Memiliki seorang papah yang baik, mamah yang penyayang dan kakak yang sedikit menyebalkan.” Reva melirik Raka yang seraya tersenyum. “Mendengar bahwa keluarga Wijaya adalah keluarga rere, membuat rere merasa masih belum siap kalau suatu hari rere harus berada di tengah-tengah mereka dan berjarak dengan keluarga ini. Selain itu, rere masih ingin berusaha mengingat semuanya sebelum rere mengatakan kalau rere adalah putri mereka.” Pandangan Reva beralih menatap Niken yang berurai air mata. “Terima kasih karena selalu mengingat rere. Walaupun jika ternyata rere udah gag ada di dunia ini, tapi hidup di hati kalian, sudah lebih dari cukup.” Tukas Reva seraya mengusap air mata Niken dengan lembut.


Niken meraih tangan Reva lalu menciumnya dengan lembut. Tangan kecil ini yang dulu hadir di tengah hidupnya yang sepi dan pilu, kini sudah menjelma menjadi tangan yang indah yang bisa menghapus tangisnya dengan lembut.


****

__ADS_1


__ADS_2