Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 161


__ADS_3

Di salah satu bed ruang ICU, Indra masih masih terbaring dengan kondisi kesehatan yang di pantau ketat. Berita tentang kondisi perusahaan semakin simpang siur. Semuanya seperti pusaran air yang tidak terkendali entah bersumber dari mana.


Jam besuk kali ini, Reva menemani Indra beberapa menit saja karena terbatasnya waktu yang diperbolehkan untuk mengunjungi pasien. Indra masih terbaring tidak sadarkan diri dengan gerak nafas yang teratur karena di bantu sebuah ventilator yang terhubung dengan selang kecil di mulutnya.


Melihat kondisi Indra yang begitu mengkhawatirkan, hati anak mana yang tak merasakan kegetiran, termasuk Reva. Ia menggenggam tangan Indra yang pucat dengan selang infus yang menacap di punggungnya. Reva berusaha tersenyum seraya menyapa Indra namun dalam hatinya hanya ada tangis yang selalu ia coba tahan yang bisa pecah kapan saja.


“Pih…. Gimana kabar papih? Apa sangat sakit?” lirih Reva dengan suara bergetar. Matanya sudah berkaca-kaca dan beberapa saat lagi mungkin akan meneteskan buliran air mata. “Pih, rere sama kak lea akan berjuang agar semuanya kembali seperti semula. Dan papih harus berjuang untuk sembuh karena rere akan memberi hadiah besar untuk papih.” Lanjut Reva seraya menyentuhkan telapak tangan Indra ke perutnya yang rata. “Dia ada di sini pih, sangat kuat dan bersemangat seperti papih. Bertahanlah, untuk kami…”


Reva berusaha tersenyum di akhir kalimatnya tapi rasanya air mata itu tidak bisa ia ajak kompromi. Ia menangis sesegukan di hadapan Indra. Demi apapun, ia belum siap jika hal buruk terjadi pada Indra. Baru beberapa saat ia merasakan keluarga yang utuh setelah melewati banyaknya kerikil tajam dan ia tidak ingin kehilangan semuanya.


Semua yang Reva lewati bersama Indra begitu membekas di ingatan Reva. Bukankah kita baru akan benar-benar sadar seberapa besar kasih sayang kita, saat melihat seseorang hampir pergi dari hidup kita?


Lagi, wajah pucat Indra kembali membuat Reva tertegun. Ia menyeka air matanya. Ini bukan saatnya untuk Reva terpaku dan menyesali semuanya. Ia harus tetap melangkah dan memperbaiki semuanya.


Keluar dari ruangan perawatan Indra perasaan Reva semakin tak karuan. Ia menaruh baju pengunjung yang menutupi tubuhnya dan menggantungnya di hanger. Alea sudah menunggu gilirannya untuk menemui Indra, laki-laki yang sama-sama mereka sayangi. Reva hanya menyentuh bahu Alea dan bergegas pergi untuk menenangkan dirinya.


****


Untuk menyegarkan pikiran dan perasaannya, Reva pergi ke kantin rumah sakit dan membeli minuman untuk dirinya dan keluarga yang menunggui Indra. Ia teringat sang suami yang mungkin saat ini sedang kalut menghadapi masalah yang tak kalah besar. Mengingatnya, membuat Reva mengelus dadanya gusar.


Bersabar, rasanya tidak cukup dengan itu. Raka memerlukan banyak bantuan dan Reva tidak bisa melakukan apapun. Hingga detik ini Reva masih berfikir, betapa kuatnya ia hingga tuhan memberinya cobaan yang begitu berat di waktu bersamaan. Dan ia benar-benar harus menunjukkannya bukan sekedar meratapi kesedihannya. Reva menyalakan handphonenya yang menampilkan wajah Raka dan dirinya sebagai wallpaper. Ia menekan angka 1 sebagai panggilan pintas untuk menghubungi Raka.


“Ya sayang…” jawab Raka di deringan telponnya yang pertama.


“Mas, kamu lagi apa?” tanya  Reva, lirih.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas Raka yang begitu berat. “Seperti biasa sayang, aku lagi bahas kerjaan sama fery. Kamu lagi apa? Gimana papih?”


Reva menengadahkan wajahnya, guna menahan laju air matanya. Pertanyaan Raka membuat sudut hatinya menghangat. Raka sangat peduli dengan dirinya dan orang-orang di sekitarnya padahal ia pun sedang memerlukan perhatian lebih.


“Papih masih bertahan. Dia kuat seperti biasanya…” sahut Reva. “Kamu gimana di kantor mas? Udah makan?”


“Hem… bentar lagi aku makan. Jangan cemas, semua akan baik-baik saja.” Raka masih berusaha menenangkan Reva di tengah kekalutan dan kebuntuan yang di rasakannya.


“Iya, aku tau kamu laki-laki yang hebat lagi kuat. Nanti sepulang kerja, aku tunggu di rumah yaa… Jangan pulang terlalu larut.”


“Ya sayang..” hanya itu jawaban Raka.


Reva mengakhiri panggilannya. Ia duduk di salah satu bangku yang berada di kantin. Ia meneguk minuman dingin yang ada di tangannya. Kemudian menghela nafas dengan dalam seraya berharap kegundahannya sedikit berkurang.


Reva menoleh ke arah datangnya suara. Ia segera berdiri saat melihat seseorang yang sedang mengangguk memberinya hormat.


“Anda? Ada apa anda ke sini?” tanya Reva pada Arya yang kini sedang menatapnya tanpa ekspresi.


Arya berjalan mendekat. “Saya ikut menyesalkan apa yang terjadi pada ayah anda, nona…” ujarnya yang kembali mengangguk.


Reva tak menimpali, ia sudah bisa menebak maksud kedatangan laki-laki yang sebenarnya tidak ada urusan dengannya selain mendapat titah dari atasannya. “Pak theo ingin berbicara dengan anda, bisa saya minta waktunya sebentar?”


Arya menyodorkan handphonenya pada Reva. Sejenak Reva memandangi benda persegi di tangan Arya, ia sangat enggan bahkan hanya untuk mendengar nama Theo. Namun rasanya ia tidak punya pilihan lain selain menjawabnya.


“Ya, saya reva…” tutur Reva sesaat setelah menempelkan benda persegi tersebut di telinganya.

__ADS_1


“Hay reva, bagaimana kabarmu? Maaf saya belum bisa menemui pak indra. Dan maaf juga karena saya terpaksa mengirim arya untuk menemuimu.” Ujar Theo yang Reva yakini ia sedang tersenyum di sebrang sana.


Setelah kepulangannya dari Makasar, Theo terus menerus menghubunginya. Banyak pesan yang ia kirim dan telpon yang tidak Reva jawab. Untuk alasan itulah ia memblock nomor Theo dan mematikan handphonenya cukup lama, selain ia memang ingin menenangkan dirinya sendiri.


“Apa mau anda, saya tidak punya banyak waktu.” Sahut Reva dengan malas.


“Ooow… easy girl… Tidak kah kamu merindukanku? Sudah 6 hari 4 jam 9 menit 32 detik kamu tidak mendengar suaraku bukan?” tanya Theo yang membuat Reva bergidik jijik.


“Bicara sekarang atau saya akan menutupnya.” Reva memperingatkan.


“Wah, you tease more when angry like this, I love it.” Ungkap Theo kemudian dengan diikuti tawa lirihnya. “Reva sayang, aku menawarkanmu sebuah kesepakatan, datanglah kemari dan kali ini aku akan membuat semuanya membaik dalam sekejap.” Lanjut Theo dengan serius.


“Jangan harap saya akan datang!” gertak Reva.


“Ssstttt… Jangan terlalu cepat mengambil keputusan sayang… Aku bisa memberi kamu banyak waktu untuk memikirkannya, tapi semakin lama kamu memikirkannya tentu kamu tau semakin banyak konsekuensi yang harus kamu ambil. Tidakkah kamu melihat teriakan orang-orang itu di televisi?” pancing Theo yang membuat Reva mengalihkan pandangannya pada tayangan televisi yang sedang menampilkan kericuhan.


Ya, saat ini para pekerja tengah berdemo di depan perusahaan Adiyaksa. Nyatanya kata baik-baik saja yang diucapkan Raka, tidak benar-benar terjadi. Reva mengepalkan genggaman tangannya dengan erat, sumpah, ia ingin mengutuki laki-laki yang sedang berbicara dengannya.


Beragam tulisan mereka bawa untuk menyuarakan keinginan dan harapan mereka. Mereka berteriak memanggil nama Raka. “Jangan biarkan keluarga kami kelaparan.” Tulis salah satu pendemo yang tertangkap kamera di antara tulisan lainnya yang membuat hati Reva berdenyut ngilu.


Jika Reva bisa egois, ia tidak peduli dengan semuanya. Ia bersedia memulai semuanya dari nol bersama Raka. Ia tak masalah jika harus kehilangan semuanya asalkan ia bisa tetap bersama Raka. Tapi bagaimana dengan hidup ribuan karyawan itu? Mereka menggantungkan hidupnya dengan bekerja di 2 perusahaan besar tersebut? Mereka tidak bersalah dan tidak berhak untuk menanggung akibat dari perbuatan Theo yang terang-terangan sedang menyeret Reva ke dalam lingkaran keserakahannya. Dan Theo tahu benar, ini adalah kelemahan Reva.


Reva tertunduk lemas. Apakah kali ini ia memang tidak punya pilihan lain?


****

__ADS_1


__ADS_2