Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 162


__ADS_3

Sejak selesai makan malam, Raka langsung masuk ke ruang kerjanya. Ia masih terlihat kusut dengan dahi yang terus berkerut. Reva duduk sendirian di kamarnya dan memandangi hasil USG yang masih belum ia tunjukkan pada Raka.


Reva mengusap perutnya perlahan. “Sayang, apa yang harus bunda lakukan?” lirihnya dalam kebimbangan.


Terlalu banyak pikiran dan kebimbangan yang mengisi kepalanya dan ia masih belum bisa menemukan titik temunya. Reva memandangi foto pernikahannya dengan Raka yang tergantung di dinding. Bibirnya tersenyum namun hatinya meringis. Seberat ini kehidupan pernikahan mereka. Bukan ia tak bahagia, tapi begitu banyak aral melintang yang menghalangi kebahagiaan mereka.


Reva memasukkan hasil USG-nya ke dalam laci. Ia beranjak menuju dapur dan mengambil cookies serta 2 cangkir teh untuk Raka dan dirinya.


“Mas, aku boleh masuk?” tanya Reva dari balik pintu ruang kerja Raka.


“Masuk sayang…” jawab Raka, lemas.


Reva segera membuka pintu dan berjalan menuju Raka. Tampak Raka yang melepaskan kacamatanya dan tersenyum pada Reva.


“Mas mau teh?” tawar Reva seraya menaruh segelas teh di hadapan Raka beserta makannya.


“Terima kasih sayang, kemarilah..” pinta Raka seraya mengulurkan tangannya pada Reva.


Reva segera mendekat. Raka meraih tubuh Reva dan mendudukannya di atas meja menghadap dirinya. Ia memandangi Reva dengan sendu. Tangan Reva menyentuh wajah Raka dan mengusapnya dengan lembut. Wajahnya terlihat sangat lelah.


“Apa pekerjaannya masih banyak mas?”


Raka mengalihkan pandangannya pada layar laptop yang masih menyala. Ia melipat laptopnya.


“Sementara udah selesei.” Ujarnya yang kembali menatap Reva. Raka meraih tangan Reva dan mengecupnya dengan lembut. “Aku merasa tenang saat kamu berada di sisiku, re…” lirihnya yang kemudian membenamkan wajahnya di dada Reva. Kedua tangannya melingkari pinggang Reva. Raka memejamkan matanya. Tak lama, terlihat bahunya yang naik turun dengan tangisan lirih. Reva memeluk Raka dengan erat. Ia mengusap kepalanya dan mengecupnya, lembut.


Pertama kali dalam hidup Raka menangis di hadapan seorang perempuan dan itu Reva. Ia tersedu tanpa ada kata-kata yang perlu menjelaskan perasaannya saat ini. Reva mengerti benar yang dirasakan Raka. Seperti yang Alea katakan, walaupun Raka tegas dan dingin dalam memimpin perusahaannya, tapi tidak dengan hatinya. Ia bukan menangisi kehancuran perusahaan yang telah ia kembalikan ke masa kejayaannya tapi ia menangisi nasib para karyawan yang memohon pertolongannya. Ia bisa apa, nasibnya sudah berada di ujung tanduk. Dan Reva, ia hanya bisa terdiam di tempatnya, membiarkan Raka meluapkan semua kegundahannya.


“Kuatlah mas, karena aku gag sanggup melihat kamu seperti ini.” Lirih Reva.

__ADS_1


Hati Reva berdenyut pedih. Mengapa harus begitu besar harga yang ia bayar untuk kesetiaan dan cintanya. Tidakkah semua ini terlalu berat bagi mereka?


*****


Reva masih memandangi wajah laki-laki yang terbaring di hadapannya. Mata Raka terpejam, tapi Reva tahu pasti suaminya belum tidur. Ia hanya ingin menyembunyikan mata sembab dan merahnya.


“Kamu sudah sangat bekerja keras hingga sejauh ini dan aku gag bisa membiarkan kamu berjalan sendirian. Apapun akan aku lakukan untuk membantu kamu menghadapi semuanya.” Batin Reva.


Jemari lentik Reva menyentuh rahang kokoh Raka dan mengusapnya perlahan, membuat mata Raka yang semula terpejam kini kembali terbuka. Perlahan jemarinya berpindah ke alis tebal Raka, hidung bangir Raka dan bibir sensual itu. Ia mengecup bibir Raka dengan lembut dan penuh perasaan membuat Raka mengeratkan pelukannya agar bisa menyesap bibir Reva lebih dalam.


Reva melepaskan kecupannya lalu tersenyum. “Mas tau kan kalo aku cinta sama kamu?” tanya Reva membuat Raka terangguk. “Mas tau juga kan kalo kamu merasa sakit, aku pun merasakannya?” Raka kembali terangguk. “Buat aku, kamu sangat penting. Kamu adalah satu-satunya yang akan menjadi ayah dari anak-anakku. Maaf, jika mungkin aku akan membuatmu sakit.” Reva menggenapkan kalimatnya dan membuat Raka tampak berfikir.


“Kamu tidak akan pernah membuatku sakit, kamu adalah semangat hidupku, sumber kehidupanku.” Timpal Raka.


“Benarkah?”


Raka mengusap punggung Reva sensual dan meraih tengkuk Reva untuk memperdalam pagutannya. Reva mendesah saat Raka mulai menjelajah tubuhnya dan menyentuh bagian-bagian sensitifnya yang membuat tubuh Reva menggelinjang.


Di bawah cahaya lampu temarang, Raka mengoyak baju Reva hingga tak berbentuk dan melemparnya dengan sembarang. Reva telah benar-benar membangkitkan gairahnya dengan keagresifan yang selama ini tidak pernah Raka lihat.


Raka melepaskan pagutannya. Ia mengungkung tubuh Reva yang berada tepat di bawahnya. Ia menjadikan kedua tangan kekarnya sebagai terungku bagi tubuh Reva. Reva tampak tersenyum dengan kilatan gairah di matanya.


“Apa yang kamu tunggu raka?” ujar Reva setengah mendesah membuat Raka merasa semakin tertantang.


Reva lebih dahulu ******* bibir Raka dengan kuat, kedua tangannya ia lingkarkan di leher Raka dan menariknya mendekat. Raka tak tinggal diam. Ia mengikuti permainan Reva dengan gairah yang ikut meledak-ledak. Ia menyatukan tubuhnya dengan Reva. Ia begitu menikmati perubahan ritme tubuhnya yang menghentak tubuh Reva. Mereka melenguh bersamaan saat berada di puncak kenikmatannya.


Raka membaringkan tubuhnya di samping Reva. Ia mengusap kepala wanita yang masih memejamkan matanya. Nafas Raka masih memburu, ia memeluk tubuh Reva dengan erat, seolah mereka adalah satu yang tidak akan pernah terpisah. Reva menyembunyikan wajahnya di ketiak Raka, tempat favoritnya. Tanpa terasa, buliran air mata menetes dari sudut mata Reva tanpa pernah Raka tahu.


*****

__ADS_1


Suara langkah kaki wanita dengan steleto 8 cm terdengar nyaring menghampiri meja sekertaris Raka. Adalah Laras yang saat ini berhenti tepat di hadapan Lisa.


“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu bu?” sambut Lisa dengan ramah.


“Saya mau bertemu pak raka, beliau ada?” tanya Laras seraya melepas kacamata hitamnya.


“Mau apa lagi lo minta ketemu raka?” Fery datang di waktu yang tepat. Ia berjalan menghampiri Laras yang terlihat malas untuk meladeni.


Terlihat seringai sarkas Laras saat Fery berada di hadapannya. “Bukan urusan anda.” Ujar Laras seraya membenamkan sebuah map di dada Fery. “Panggilkan bos anda untuk menemui saya, atau dia akan menyesal.” Lanjutnya dengan angkuh.


Fery melihat berkas yang diberikan Laras. Ini adalah kontrak yang selalu Raka bahas beberapa hari ini. Tanpa menyahuti, Fery membawa Laras menuju ruang kerja Raka.


Raka tampak terkejut saat melihat kedatangan Laras, ia segera berdiri dari tempat duduknya.


“Mau apalagi anda ke sini nona besar?” tanya Raka dengan kemarahan yang kembali bangkit.


Laras hanya tersenyum tipis, Ia tak menjawabnya karena Fery sudah lebih dulu menghampiri Raka dan memberitahukan terkait berkas kerjasama yang ada di tangannya. Raka tercengang dan tampak menatap Laras tidak percaya.


“Sebagai permohonan maaf atas kejadian tempo hari, saya akan tetap melanjutkan kerjasama perusahaan kita secara profesional. Hanya saja, saya tidak terbiasa memberikan tanda tangan tanpa sebuah penjamuan.” Tutur Laras dengan angkuh.


Entah apalagi yang direncanakan wanita licik ini, Raka terlihat sangat jengah melihat wanita yang ada di hadapannya. Setelah semua yang dia lakukan, wanita ini masih terlihat yakin untuk membuat kesepakatan dengan Raka. Tapi rasanya Raka memang tidak memiliki pilihan lain. Mungkin sekali ini saja  ia harus kembali mengesampingkan kemarahannya di atas kepentingan orang banyak.


“Apa mau anda?” Raka berusaha mengalah dengan keadaan.


Laras hanya tersenyum, sepertinya pancingannya berhasil. “Hanya sebuah makan siang rasanya tidak akan membuat adiyaksa semakin bangkrut kan?” tanya Laras seraya memakai kembali kacamata hitamnya.


Apa boleh buat, Raka hanya bisa menyetujuinya walau ia harus mengeratkan genggaman tangannya untuk meredam kemarahannya.


******

__ADS_1


__ADS_2