Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 114


__ADS_3

Reva tengah berkemas dengan di temani Ratna dan Nida. Sesuai izin dari dokter, hari ini Reva sudah di perbolehkan untuk pulang. Luka-luka di tubuhnya pun sudah membaik, hanya beberapa lebam yang masih membekas di tubuhnya dan di janjikan untuk selalu mengontrol kesehatannya.


“Bu, ibu pulang sama rere kan?” Ujar Reva seraya memandangi wanita yang tengah melipat beberapa baju kotor miliknya.


Ratna hanya tersenyum, ia mengajak Reva untuk duduk dan menggenggam tangannya dengan erat.


“Maaf nak, ibu gag bisa pulang sama kamu. Adik-adik kamu membutuhkan ibu. Tapi ibu janji, ibu akan sering-sering main ke rumahmu.” Ujar Ratna seraya mengusap rambut Reva dengan penuh kasih.


Reva mengelengkan kepala, ia membalas genggaman tangan Ratna. “Bukan ibu yang seharusnya menemui rere, tapi rere yang seharusnya pulang untuk menemui ibu.” Reva mengecup tangan Ratna dengan lembut. “Terima kasih bu, untuk semua kasih sayang yang tidak terhingga. Rere sadar, rere belum bisa melakukan apapun untuk ibu, maafin rere bu…” Reva tertunduk seraya mengecupi tangan Ratna.


Ratna tersenyum, ia begitu bahagia melihat putrinya yang sudah jauh membaik.


“Kamu harus cepet pulih, jaga kesehatan dan jangan terluka lagi. Ibu dan adik-adik akan menunggu kamu pulang.” Timpal Ratna seraya memeluk Reva dengan erat.


Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Ratna selain melihat putri kesayangannya baik-baik saja dan selalu bahagia.


“Iya bu, rere pasti cepet pulih. Ibu tau kan kalo rere itu kuat?” Ratna hanya mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya. “Ibu juga harus baik-baik saja, selalu sehat dan tunggu rere pulang.” Lanjut Reva.


Melihat pemandangan di hadapannya, terbit rasa syukur di hati Nida. Ia berharap, suatu hari ia pun bisa merasakan kasih sayang yang melimpah dari putrinya. Namun jauh dari itu, ia tidak ingin tamak. Dengan Reva memaafkannya, itu sudah lebih dari cukup.


*****


Siang ini Reva sudah pulang dari rumah sakit. Ia pulang bersama Nida. Mereka duduk di kursi belakang dengan mobil yang di kemudikan orang kepercayaan Indra.


Selama perjalanan, Reva tampak memandangi keluar jendela melihat hiruk pikuk ibu kota dengan beragam pemandangan yang bisa ia lihat. Di sampingnya ada Nida yang tampak memandangi putrinya yang sejak tadi hanya terdiam. Ia tahu, mungkin Reva tengah memikirkan Ratna yang selalu ada di sampingnya.


“Re, sampai di rumah kamu mau makan apa sayang?” tanya Nida yang mulai merubah panggilannya.


Seperti memenuhi permintaan Reva, mereka ingin memulai semuanya dari awal. Panggilan yang baru, kedekatan yang baru dan menikmati setiap kesempatan baru untuk saling mengenal satu sama lain. Nida sadar, ia tidak sebaik Ratna atau Niken dalam mengenali putri kandungnya.


Reva menoleh, menatap wajah cantik yang sedang memandanginya.


“Apapun mih, semua makanan rere suka.” Sahutnya dengan senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


Reva berusaha mendekatkan kembali hatinya pada wanita yang melahirkannya. Ia paham benar kesedihan yang tengah merundungi hati Nida. Putri sulungnya sedang tidak baik-baik saja dan ia tidak ingin membuat Nida semakin sedih.


Nida mendekat dan membawa tubuh Reva ke pelukannya. Ia membiarkan Reva menyandar di bahunya seraya mengusap kepala Reva dengan lembut. Satu hal yang tidak pernah ia lakukan saat Reva masih kecil dulu. Dan ini lah yang membuat putrinya merasa di abaikan. Bagaimanapun sentuhan seorang ibu tentu sangat diharapkan putrinya. Ini belum terlambat dan Nida ingin memperbaiki semuanya.


Setengah jam perjalanan telah membawa mereka kembali ke rumah. Bi Inah berlari kecil menghampiri sang majikan yang baru turun dari mobilnya. Ia membantu membawakan barang bawaan Reva dan Nida. Hanya sebuah anggukan dan senyuman sebagai pertanda terima kasih dari Nida.


Mereka masuk ke dalam rumah dan terlihat beberapa perubahan di rumah megah ini. Ada beberapa foto yang sepertinya baru di pasang di dinding rumah ini. Adalah foto keluarga wijaya yang pertama tampak saat mereka memasuki ruang tamu. Reva dan Alea kecil ada di sana dan duduk di atas pangkuan Nida. Mereka tertawa dengan gembira seolah tidak ada prasangka satu sama lain.


Langkah Reva terhenti sejenak dan memandangi foto itu. Hatinya tersenyum, benar yang Niken katakan bahwa tidak adanya foto dirinya di rumah keluarga Wijaya bukan karena mereka tidak menganggap Reva ada tetapi lebih pada keinginan agar Nida segera sembuh dari trumanya. Setiap orang memiliki cara sendiri menghadapi masa lalunya. Tapi di hari ini, mereka sama-sama memilih untuk menghadapi dengan berani dan tidak lagi menghindari setiap ketakutan yang menunggu mereka.


****


Ruang makan tampak sepi tidak seperti biasanya. Nida menghidangkan banyak makanan untuk mereka nikmati siang ini. Indra menyempatkan diri untuk makan siang bersama di rumah, ia ingin menghabiskan waktunya lebih lama bersama orang-orang terkasih.


Suara dentingan sendok dan piring beradu menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Mereka fokus pada makanan di hadapannya tanpa berbicara satu sama lain.


Nida terlihat memainkan makanannya, sepertinya nafsu makannya menghilang. Pikirannya masih tertaut pada putri sulung yang mungkin entah makan atau tidak di balik jeruji sana.


“Mih, tolong ambilin ayamnya..” Indra menunjuk ayam goreng yang ada di hadapan Nida namun Nida hanya terpaku. “Mih…” Indra mengulang kalimatnya. Sama saja, Nida masih terpaku. Indra terlihat menggelengkan kepalanya, Ia tahu pikiran sang istri sedang tidak di sana.


“Terima kasih sayang. Kamu makan yang banyak nak.” Sahut Indra seraya tersenyum.


Reva berusaha tersenyum, sesekali ia melirik Nida yang masih tetap terpaku. Hati Reva ikut meringis melihat Nida yang sedang merenungi nestapanya. Hati ibu mana yang tak gusar saat ia tak bisa memastikan bahwa buah hatinya baik-baik saja.


“Ehm!” indra berdehem, sepertinya ada hal penting yang hendak ia sampaikan. Nida tampak terperanjat dan perhatiannya beralih pada Indra.


“Maafin mamih, pih, rere..” ujar Nida yang mulai tersadar dari lamunannya. Ia terlihat kikuk, ternyata bersikap seolah baik-baik saja itu tidak mudah bagi Nida.


“Papih, sudah menyiapkan tim pengacara untuk lea. Bukan untuk membebaskannya dari semua kesalahannya, papih hanya ingin, ia mendapatkan keadilan yang sesuai untuk kasus hukumnya.” Tutur Indra seraya menatap Nida. Mata Nida berkaca-kaca, ternyata Indra bisa mengerti kegundahan hatinya.


Kini pandangannya beralih pada Reva. “Papih merasa, semua yang terjadi pada kedua putri papih adalah kesalahan papih. Papih tau kesalahan papih sama rere pun sangat besar. Tapi papih berharap, kita akan selalu menjadi keluarga yang bisa menjaga satu sama lain. maafkan papih nak…” tandas Indra dengan tatapan sendunya pada Reva.


“Bukan tempatnya papih meminta maaf sama rere. Semua hanya karena hati dan pikiran kecil kami belum bisa memahami ucapan orang dewasa kala itu. Yang rere butuhkan saat itu hanya sebuah kasih sayang yang tidak perlu papih jelaskan alasannya.” Tukas Reva dengan gamblang.

__ADS_1


Ya, bagi seorang anak, bukan seperti apa deskripsi kasih sayang yang orang tuanya berikan. Mereka hanya butuh merasa nyaman saat berada di dekat orang-orang yang mereka cintai.


Indra mengangguk paham. Putri bungsunya sudah beranjak dewasa. Kali ini ia bisa memahami dengan penjelasan tapi tidak lantas menghapuskan keterasingan yang dulu ia rasakan.


****


Fery mengguyar rambutnya dengan frustasi. Pikirannya benar-benar mentok saat melihat laporan dari tim pengacara yang ia siapkan untuk membela Alea. ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan tangan yang memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.


“Kusut banget lo!” ujar Raka seraya menepuk bahu Fery.


Raka melihat berkas Alea ada di meja Fery.


“Alea masih gag mau ngasih keterangan apapun. Gue semakin takut dia di anggap tidak bisa bekerja sama nyelesein kasus ini.” Ungkap Fery dengan berbagai bayangan mengerikan di kepalanya.


Raka duduk di hadapan Fery, di sudut hatinya ia pun peduli dengan kondisi Alea.


“Bokap gue bilang, om indra udah nyewa pengacara kondang buat nyelesein masalah alea.” Raka menjeda kalimatnya dan mecondongkan tubuhnya pada Fery. “Lo peduli banget sama alea, apa lo….” Raka mengantung kalimatnya dan membuat mata Fery yang semula terpejam kini terbuka lebar.


“Gue cuma pengen memastikan dia akan selalu baik-baik aja.” Sahut Fery dengan tatapan penuh keyakinan pada Raka.


Raka hanya mengangguk seraya tersenyum. Rupanya sang casanova di hadapannya sudah menghentikan pencariannya dan menemukan sesuatu pada diri Alea, layaknya ia yang sudah menemukan sesuatu pada diri Reva.


“Kalo lo mau alea baik-baik aja, lo harus pastiin dulu support sistemnya juga baik-baik aja, termasuk hati dan pikiran lo.” Tandas Raka yang mengakhir kalimatnya dengan beberapa ketukan di meja kerja Fery. Ia berlalu dengan senyum sarkas khas Raka saat mengejek sahabatnya.


Fery ikut tersenyum, Raka selalu mengerti sisi hatinya bahkan sebelum ia menceritakannya.


****


 


Kadang gitu yaa,, namanya sahabat, belum ngomong aja dia udah ngerti :D


Makasih buat yang masih baca... kalo suka boleh kasih like dan komen, hahaha

__ADS_1


happy reading...


__ADS_2