
Niken terlihat begitu semangat saat Rudy sudah sampai di rumahnya dan membawa kabar tentang petunjuk Lana. Ia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Rudy yang mengemudikan mobilnya. Sementara itu Raka duduk di belakang bersama Wira.
Sejak awal Raka meminta Wira untuk tidak ikut, mengingat kondisi kesehatannya Raka tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada Wira. Tapi nyatanya, Raka memang tidak pernah bisa membantah keinginan Wira. Sifat ini lah yang turun pada Raka.
Di tangan Niken ia terus memegangi foto Lana kecil yang tengah tersenyum di pangkuannya. Kala itu Niken menjanjikan akan mengajak Lana jalan-jalan di hari ulang tahunnya. Hari yang menjadi akhir dari kebahagiaannya bersama gadis manja tersebut.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, Rudy menghentikan mobilnya di sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu dan tampak sudah usang.
“Apa lana tinggal di sini?” Mata Niken terbelalak tidak percaya.
“Bukan nyonya, ini adalah rumah tempat tinggal mendiang laki-laki yang menjual cincin milik non lana. Ia menderita kanker. Uang hasil penjualan cincin itu ia gunakan untuk berobat. Tapi setelah 2 tahun menjalani pengobatan , ia kembali ke penciptanya.” Rudy menjeda kalimatnya dengan sebuah tarikan nafas dalam.
“Di rumah ini, hanya ada istrinya dan seorang anak perempuan. Sayangnya, istri almarhum mengalami depresi sejak kematian suaminya. Ia tidak pernah berbicara dengan siapapun dan hanya terdiam. Saat saya mencoba berbicarapun, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Tapi tidak ada cara lain selain menemuinya karena putri yang merawatnyapun tidak tahu apa-apa.” Terang Rudy nyaris membuat keluarga Adiyaksa menyerah.
Tapi tidak bagi Niken. Dengan segenap tekadnya, ia turun terlebih dahulu dari mobilnya. Apapun yang akan ia hadapi nanti ia harus berusaha membuat wanita itu berbicara.
Rudy mengetuk pintu triplek itu dengan perlahan. Seorang wanita muda membukakan pintu dan tampak tercengang saat melihat wajah tidak asing baginya. Sudah beberapa kali Rudy datang dan tentu wajah Rudy sudah familiar baginya.
“Apalagi yang bapak mau? Saya gag bisa balikin cincinnya, ibu saya juga gag mau bicara. Tolong jangan ganggu kami lagi, hidup kami sudah cukup berat.” Ujar gadis itu seraya terisak.
“Tolong beri saya kesempatan lagi untuk bertemu ibu. Dan ini, ibu dari anak yang pemilik cincin itu ingin berbicara dengan ibu anda.” Terang Rudy dengan senyum bijak yang masih tergambar di wajahnya.
Niken mengangguk penuh kesungguhan. Perlahan pintu itupun terbuka dengan lebar.
__ADS_1
Niken dan keluarganya masuk ke rumah yang sebenarnya tidak layak huni tersebut. Hanya sebuah ruangan kecil yang penuh dengan berbagai barang. Tidak ada sekat antara satu ruangan dengan ruangan lainnya selain kamar tempat wanita bernama Irma itu di kurung.
“Ibu saya ada di kamarnya.” Gadis itu membukakan kain gorden untuk Niken dan mempersilakannya masuk.
Tampaklah seorang wanita yang tengah duduk di atas kasur dengan tatapan kosong keluar jendela. Penampilannya sangat kotor dengan rambut panjang yang tidak terurus. Wajahnya tampak sendu dan tidak pernah berubah ekspresi. Di tangannya Ia memegang sebuah foto suaminya saat masih muda.
Niken duduk di samping Irma yang tidak peduli dengan keberadannya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengumpulkan segenap tekadnya untuk bertanya.
“Bu Irma, perkenalkan saya niken dari jakarta.” Ucap Niken seraya menyentuh tangan Irma yang yang hanya tinggal kulit dan tulang.
Irma tidak merespon apapun, hanya sebuah kerlipan mata yang tetap memandang jauh keluar jendela.
“Bu Irma, apa bu Irma mengenal gadis ini?” Niken menunjukan sebuah foto yang ia coba simpan di tangan Irma.
Perhatian Niken beralih pada foto laki-laki di tangan Irma. Jempolnya terus bergerak mengusap foto itu dengan lembut.
“Apa ini foto pak harun?” Niken ikut memandangi foto yang di pegang Irma. Tampak Irma menelan ludahnya saat mendengar nama mendiang suaminya di sebut. “Yang ini foto putri saya.” Lanjut Niken dengan suara bergetar. “Bu Irma, kita sama-sama kehilangan orang yang kita sayangi. Saya merasakan benar yang ibu Irma rasakan. Bahkan hingga saat ini saya masih belum bisa melupakan senyumnya, suaranya, cara dia berjalan, cara dia berbicara dan saat dia makan dengan lahap.” Sampai pada titik ini, Niken benar-benar sudah tidak bisa menahan air matanya.
“Tapi hingga saat ini juga, saya belum bisa menemukan putri saya. Entah dia masih hidup atau sudah tiada. Kalau dia masih hidup saya tentu orang yang sangat beruntung, tapi jika dia sudah meninggal, paling tidak saya ingin melihat dimana jasadnya di makamkan. Saya hanya seorang ibu, yang sangat tidak siap untuk kehilangan putrinya seperti halnya bu irma yang pasti sangat kehilangan suami tercinta.”
Niken tersedu di bahu Irma. Ia tidak bisa lagi menutupi rasa sedihnya. Belasan tahun ia mencoba merelakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah bisa ia relakan. Belasan tahun ia tersiksa dengan rasa rindu dan rasa bersalah yang seolah terus menghakiminya.
Di luar sana, Raka dan Wira hanya bisa menyandarkan tubuhnya pada tembokan yang hanya tersusun atas bata-bata yang masih terlihat nyata. Pikiran mereka melayang entah kemana. Hatinya ikut menjerit mendengar suara dan tangis Niken.
__ADS_1
Pandangan Irma beralih pada foto yang kini ada dalam genggamannya. Walau ia dalam kondisi depresi berat, ia masih seorang manusia yang memiliki hati. Perasaan yang di utarakan Niken, ia pun merasakannya.
Bibirnya mulai bergetar dengan tangan yaang mengusap foto sang suami dengan lembut. Tetesan air mata kembali meleleh di pipinya. Tangisan tanpa isakan yang terasa begitu memilukan.
“Kita sama-sama kesakitan bukan?” lirih Irma yang tiba-tiba.
Niken tersentak, ia tidak pernah menyangka suara serak dan berat itu milik wanita yang ada di sampingnya. Niken menatap lekat wanita yang kini tengah menatapnya.
“Tapi Kita tidak pernah sama. Kita sama-sama kehilangan tapi perasaan kita tidak pernah sama. Putri ibu mungkin baik-baik saja tapi suami saya sudah bersatu dengan tanah kembali menjadi milik sang pencipta.” Lanjut Irma dengan suara tersengal-sengal.
Niken menangis sejadinya. Ia tidak pernah menyangka Irma akan berbicara padanya.
Raka dan Wira yang juga mendengar suara Irma, tidak bisa menahan perasaan yang berkecambuk di dadanya. Bahunya bergerak naik turun seirama tangisannya. Ingatan Wira kembali bergulir pada saat dulu mereka mencarinya bahkan melibatkan polisi da detektive, tidak ada sedikitpun petunjuk. Di tempat kejadian tidak di temukan apapun selain mobil yang hangus terbakar di dasar jurang. Pencarianpun di lakukan di dasar jurang tersebut tapi nihil, mereka tidak menemukan petunjuk apapun.
“Dia anak yang baik, anak yang cantik. Wajahnya penuh luka dan sangat ketakutan. Dia melemparkan semua barang miliknya termasuk cincin yang melingkar di jari kecilnya. “Pergi, jangan dekat-dekat!” Dia mengusir kami seperti itu lalu berlari secepat mungkin agar tidak bisa kami kejar.” Kenang Irma yang kemudian kembali tertegun. Masih jelas diingatannya sorot mata yang penuh ketakutan itu tak pernah lekang.
“Bu Irma benar-benar melihat putri saya? Dimana dia bu, dimana?” Niken tidak bisa menahan rasa penasaran dan keterkejutannya.
“Dia berlari ke arah sebuah rumah saat hujan turun, persis seperti hari ini.” Irah mengeluarkan tangannya keluar jendela dan merasakan tetesan air yang turun membasahi bumi. “Lalu dia terjatuh tidak sadarkan diri di depan panti itu. Kami segera pergi. Kami tidak mau dituduh melukai anak itu. Tapi kami mengambil cincinnya. Saya merasa sangat bersalah. Kalau saja suami saya tidak mencuri cincinnya, walaupun dia meninggal, saya tidak akan semenyesal ini…” Irma terisak dalam tangisnya. Penyesalan terbesarnya adalah memberi suaminya pengobatan dengan uang hasil penjualan Cincin yang ia curi, menurutnya.
Untuk beberapa saat ia terisak dalam tangisnya yang dalam. Sementara Niken hanya bisa terdiam, dalam hatinya berharap ia masih bisa melihat wajah Lana yang begitu dirindukannya.
****
__ADS_1