Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 42


__ADS_3

Reva sudah kembali ke ibu kota. Sesuai janjinya, ia akan menemani Riana memeriksa kondisi kandungannya.


Sebuah mobil sedan mewah membawa Reva dan Riana ke sebuah klinik dokter kandungan. Di ruang tunggunya, sudah berjejer ibu hamil dengan di dampingi para suami. Mereka bisa bermanja dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Terdengar ucapan syukur dari pasangan yang keluar dari ruang pemeriksaan.


“Gimana mba?” tanya seorang wanita yang melihat raut bahagia sepasang suami istri yang keluar dari ruang pemeriksaan.


“Alhamdulillah, positif bu!” sahut wanita tersebut dengan air mata bahagianya.


“Sudah 6 minggu katanya.” Sambung sang suami sambil mengusap perut istrinya.


Terlihat sangat romantis, membuat siapapun yang melihatnya merasa iri, tak terkecuali Riana.


Ia duduk di salah satu sudut ruang tunggu, dengan tatapan nanar ke arah pasangan itu. Sudut hatinya terasa sedih. Ia mengusap perutnya dengan bibir yang tergigit menahan tangis.


Di sampingnya, duduk Reva yang juga melihat pemandangan itu. Ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Riana.


“Ri, hari ini kita bisa lihat jenis kelamin anak lo kan?”


Reva berusaha mengalihkan perhatian Riana yang sudah tampak berkaca-kaca. Riana hanya mengangguk. Ia memalingkan wajahnya dan satu tangannya mengusap lelehan air mata yang jatuh di pipinya.


“Nyonya Riana…” panggil seorang perawat dari pintu ruang pemeriksaan.


“Saya.” Sahut Riana yang berusaha berdiri dengan di bantu Reva.


Ia berjalan mendekati perawat tersebut. “Ayahnya mana bunda?” tanya perawat tersebut dengan senyum tipis di bibirnya.


Riana hanya terdiam. Ia merasa pertanyaan itu ibarat sindiran telak baginya. Reva pun memahami perasaan Riana saat ini.


“Oh ayahnya…”


“Saya!” sebuah suara terdengar di belakang sana.


Tampak Jeremy setengah berlari menghampiri Riana dan Reva. Syukurlah Reva tidak jadi berbohong dengan rencananya mengatakan bahwa ayah bayi sedang bekerja.


Riana tidak bisa menyembunyikan lagi raut bahagianya. Reva memberikan tangan Riana yang digenggamnya pada Jeremy.


“Selamat ketemu bayi kalian.” Bisik Reva dengan senyum di bibirnya.


Riana ikut tersipu. Untuk pertama kalinya Jeremy menemaninya bertemu sang buah hati.


Dokter mulai mengerak-gerakkan tranducer di atas perut Riana yang semakin membuncit. Terlihat bayangan hitam dan putih di monitor dengan suara detak jantung bayi yang terdengar jelas dan teratur.


“Wah, ibu mengandung seorang jagoan yang sehat dan kuat.” Ujar dokter dengan senyuman tipisnya.

__ADS_1


“Itu anak saya dok?” tanya Jeremy yang begitu antusias seraya menggenggam tangan Riana tanpa sadar.


Ia mengusap air mata haru yang menetes di pipinya. Untuk kali pertama, ia melihat calon buah hatinya yang sedang tumbuh di rahim Riana.


“Iya pak, lihat nih jagoan bapak lagi ngemut jarinya. Usianya sekarang sekitar 23 minggu. Berat dan panjang badannya juga bagus.” Sahut Dokter dengan jelas.


Kaki Jeremy terasa gemetar, ia tak percaya bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Ternyata keputusannya tepat, untuk datang ke klinik ini sesuai permintaan Reva. Ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Riana tak kalah senang. Ia membekap mulutnya agar tangisnya tidak terlalu terdengar. ia benar-benar bahagia, bayinya bisa tumbuh dengan sehat dan kuat. Dan yang lebih membahagiakan karena Jeremy ada di sampingnya saat ini. Jeremy mengatakan kalau ini adalah anaknya dengan lantang. Sungguh sesuatu yang tidak pernah Riana bayangkan sebelumnya.


***


 


Riana keluar dari ruang pemeriksaan dengan di dampingi Jeremy. Matanya masih mencari sosok cantik sahabatnya.


“Mba, ini ada titipan dari temennya. Namanya Reva.”


Sang perawat memberikan selembar kertas pada Riana. Riana segera membuka kertas tersebut dan tersenyum saat membaca isinya.


“Nikmatin waktu lo sama baby dan ayahnya baby.” Tulis Reva.


“Makasih sust…”


Selama menunggu antrian pengambilan vitamin, Jeremy terus memandangi hasil USG yang sedari tadi di genggamnya. Ia benar-benar takjub dengan salah satu kuasa tuhan ini.


“Nanti kita kasih dia nama siapa?” tanya Jeremy tiba-tiba membuat Riana hampir tersedak dengan ludahnya sendiri.


Dengan sigap Jeremy mengambil air kemasan dari lemari pendingin dan memberikannya pada Riana.


“Sory , kalo bikin kamu kaget.”


Jeremy sudah mulai merubah panggilannya pada Riana dan dengan suara yang lembut yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.


Riana hanya terdiam. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Ri, boleh aku pegang perut kamu?”


Jeremy menatap Riana dengan lekat. Jantung Riana berdebar sangat kencang melihat sepasang mata coklat itu menatapnya dengan hangat. Sebuah tatapan yang dulu hanya menjadi angan bagi Riana.


Riana mengerjapkan matanya berulang kali. Ia berusaha menyadarkan dirinya. Sebuah anggukan menjadi tanda persetujuannya.


Tangan Jeremy terangkat dengan gemetar. Perlahan ia menyentuh perut buncit Riana dan mengusapnya dengan perlahan.

__ADS_1


“Hay jagoan… Ini papah…” bisik Jeremy dengan lembut.


Mata Riana berkaca-kaca, dadanya terasa sesak ingin menangis. Betapa ia menjadi lebih sensitif sejak kehamilannya. Tanpa di sangka, jabang bayi meresponnya dengan tendangan. Mata keremy membulat tak percaya. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman penuh kebahagiaan.


“Ri, dia nendang aku. Aku bisa ngerasainnya.” Ujar Jeremy sambil menatap tangannya tidak percaya.


“Dia denger suara kamu jer..” sahut Riana yang juga ikut terharu.


Jeremy menghela nafas panjang. “Bener kata Reva, kehadiran dia di hidup aku, akan membuat hidup aku lebih bahagia.” Lanjutnya sambil tersenyum.


Tanpa di sangka, tiba-tiba Riana berdiri. Raut wajahnya berubah dengan cepat. Ia berjalan dengan cepat meninggalkan Jeremy.


“Ri, kamu mau kemana?” Jeremy memanggil Riana, tapi Riana tidak menggubrisnya. Ia berjalan semakin cepat. “Riana tunggu!” teriak Jeremy yang mempercepat langkahnya. “Kamu kenapa sih?” ia memegangi tangan Riana dengan kuat.


Ia melihat lelehan air mata di wajah cantik Riana.


“Reva, Reva kan yang minta kamu ngelakuin semuanya? Reva kan yang nyuruh kamu berada di samping aku? Kamu jahat!” seru Riana seraya mendorong tubuh Jeremy. Ia kembali menjauh dari Jeremy.


“Haish!” Jeremy mendengus kesal. Ia sadar sudah kembali melakukan kesalahan. Ia segera mengejar Riana yang sudah berjalan menuju parkiran. Langkahnya sangat cepat, sepertinya ia lupa kalau perutnya sedang membuncit.


“Ri, tunggu sebenentar, kita perlu bicara.”


Jeremy berhasil menghadang Riana.


“Apa lagi? Apa lagi yang Reva suruh sama kamu? Dipikiran kamu itu cuma ada Reva! Kamupun ngelakuin semuanya cuma pengen bikin Reva seneng, bukan atas kesadaran kamu sendiri. Iya kan?!” teriak Riana sambil memegangi perutnya yang terasa tegang. Wajahnya seperti meringis.


“Ri, kamu sakit?” Jeremy segera memegangi perut Riana.


“Gag usah belaga sok peduli. Yang kamu mau cuma kebahagiaan Reva, jadi jangan pernah deketin aku lagi. Anggap aku dan anakku gag pernah ada di hidup kamu!” ujar Riana yang mulai memelankan suaranya karena rasa tegang di perutnya.


Tiba-tiba saja Jeremy memeluk Riana. Ia memeluknya dengan erat. Riana bisa mendengar dengan jelas hembusan nafas Jeremy.


“Ri, dengerin aku sebentar aja…” lirih Jeremy dengan terbata-bata. Riana hanya terdiam. “Reva, memang memintaku untuk berubah dan lebih perhatian sama kamu. Tapi, alasanku datang ke sini bukan karena Reva. Siapapun yaang memintaku, kalau aku gag mau, aku gag akan datang. Aku datang, karena aku mau. Aku tau, aku bukan calon suami yang baik, tapi aku sedang berusaha. Aku bener-bener bahagia saat ini, tolong jangan lagi bilang kamu dan anak kita gag pernah ada di hidup aku. Aku sayang kamu ri….” Tutur Jeremy dengan penuh kesungguhan.


Jeremy bisa merasakan isakan dari mulut Riana. Jeremy semakin mengeratkan pelukannya dan mengusap lembut kepala Riana. Hingga tidak peduli setiap pasang mata yang tersenyum melihat mereka.


Setelah Riana cukup tenang, Jeremy melepaskan pelukannya. Ia mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya. Sebuah kotak berwarna merah dengan sebuah cincin cantik di dalamnya.


“Aku tau ini sudah terlambat, tapi aku harap kamu masih bisa memberiku kesempatan. Maukah kamu menikah denganku?” tegas Jeremy seraya menatap lekat mata Riana.


Apalagi yang harus Riana ingkari, perasaannya begitu bahagia saat ini. Ia kembali terisak dengan sebuah anggukan kecil tanpa ia tunda.


Jeremy meraih tangan Riana. Ia menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Lalu mengecupnya dengan lembut. Riana tidak bisa lagi berkata-kata. Ia memeluk Jeremy dengan erat.

__ADS_1


****


__ADS_2