Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 37


__ADS_3

Hari ini, Reva kembali di sibukan dengan menara eifel yang pindah ke mejanya. Ia benar-benar menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Beberapa kali kepalanya terasa pusing dan beberapa kali pula ia meminum obat yang di resepkan dokter tanpa mengikuti aturan seharusnya.


Semakin lama, perut Reva semakin tidak karuan. Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


“Re, lo kenapa? Sakit?” tanya Tita yang setia memijat leher Reva.


“Perut gue sakit sama mual.” Jawab Reva seraya membasuh wajahnya dengan air keran.


Reva menatap wajahnya yang pucat pasi. Semalaman ia memang tidak bisa memejamkan mata. Ia membawa berkas yang ditugaskan Lenna dan mengerjakannya di kost-an.


“Lo mau pulang aja? Kita kan masih magang, jangan terlalu ambil pusing tugas dari Bu Lenna.”


Tita merasa iba dengan apa yang di alami Reva.


“Gue harus belajar tanggung jawab sama kerjaan gue ta. Karena itu nentuin sikap gue di tempat kerja kedepannya.” Terang Reva yang berusaha tersenyum pada dirinya sendiri.


“Lo emang keras kepala. Ya udah ayo ke kantin dulu, isi lagi perut lo yang kosong.” Ajak Tita seraya menarik tangan Reva.


Reva mengikuti saja kemana Tita melangkah.


Dalam perjalanan menuju kantin, Reva dan Tita berpapasan dengan Fery dan Raka. Reva hanya mengangguk seraya tersenyum dan bergegas meninggalkan 2 laki-laki tersebut.


“Reva sakit? Kok pucet banget gitu?” tanya Fery sambil menatap Raka.


Raka tidak menjawabnya. Ia segera menuju meja Reva dan melihat mejanya. Seperti biasa mejanya di penuhi berkas dari Lenna.


“Ini kerjaannya Reva?” Raka menatap Dimas dengan tatapan tajam.


“Iyaa, dari kemaren kerjaan banyak terus. Kata Tita sih gara-gara waktu izin gag aktifin hp. Padahal hp nya rusak. Tuh ada di laci.” Tunjuk Dimas.


Raka membuka laci Reva dan benar saja handphonenya yang rusak masih ada di sana.


“Rencananya kemaren malem tuh dia mau nyari hp lagi, tapi kayaknya pulang malem deh. Eh hari ini  banyak lagii tugasnya. Sampe muntah-muntah dia tadi.” Lanjut Dimas dengan wajah prihatinnya.


Raut wajah Raka benar-benar berubah. Ia segera pergi ke ruangan Lenna dan menutup pintunya dengan kasar.


Dimas menatap Fery yang sedang memeriksa pekerjaan Reva di layar komputernya.


“Ini dia semua yang ngerjain?” tanya Fery tak percaya.


Dimas hanya mengangguk. Fery segera menyusul Raka namun ia menutup pintunya dengan santai. Dimas mencoba mencuri dengar dari balik pintu, tapi tidak terdengar apapun karena ruangannya yang kedap.


“Mampus deh tuh bu lenna!” dengus Dimas dengan senyum puasnya. Ia pun kembali ke mejanya dengan perasaan senang.


****


 


“Maaf pak Raka, saya hanya mencoba memberi dia pelajaran supaya tidak bekerja seenaknya.” Tutur Lenna dengan wajah penuh ketakutan.

__ADS_1


“Memberi pelajaran apa? Apa saya pernah menyuruh anda melakukan hal seperti itu pada karyawan terutama anak magang?!” gertak Raka seraya menggebrak meja Lenna.


Nyali Lenna benar-benar ciut.


“Saya cek kerjaannya, itu tugas anda semua yang selama beberapa bulan tidak anda kerjakan. Lalu apa yang anda kerjakan di ruangan dingin dengan kursi yang nyaman dan komputer canggih ini?!” tanya Fery yang ikut tersulut emosinya.


“Maaf pak, saya…”


“Besok temui bagian HRD. Kalo anda merasa lelah dan tidak sanggup dengan pekerjaan anda, sebaiknya anda memang tidak bekerja di sini lagi.” Sambung Raka yang di penuhi amarah.


Lenna hanya terdiam dengan isakan di dadanya. Ia tidak pernah menyangka karirnya akan berakhir secepat ini.


Raka dan Fery segera pergi dari ruangan Lenna. Wajahnya masih terlihat kesal.


“Gimana bro?” tanya Dimas tiba-tiba.


“Tolong kamu angkut berkas-berkas ini dan pindahin ke ruangan Bu Lenna.” Titah Fery menjawabkan pertanyaan Dimas.


“Siap mas fery!” sahut Dimas dengan segera. Ia menumpuk semua berkas lalu mengangkatnya hendak dipindah ke ruangan Lenna.


“Dim, Dimas!” seru Reva yang baru kembali dari kantin. “Mau lo bawa kemana itu berkas, belum selesai tau!”


Reva hendak mengambil kembali berkas dari tangan Dimas.


“Re, lo mending pulang aja.” Raka menahan tangan Reva.


“Apaan sih, maen nyuruh pulang aja. Ini kerjaan gue, apa urusannya sama lo. Lo sibuk kan? Lo urus aja kerjaan lo sendiri!” cetus Reva yang tidak memperdulikan Raka.


Raka hendak berbicara namun Fery segera menahannya.


“Re, lo lagi sakit. Mendingan lo pulang dan istirahat di rumah.” Ujar Fery dengan baik-baik.


“Pak Fery maaf, ini tugas dari atasan saya. Saya wajib mengerjakannya sampai selesai sesuai tugas beliau.” Reva tetap keukeuh dan mulai melanjutkan pekerjaannya.


Ternyata Raka malah mengambil semua berkas dan membuangnya. Reva yang merasa tidak terima segera berdiri dan menatap Raka dengan kesal.


“Lo apa-apain sih?! Lo mau nambah kerjaan gue? Bisa gag sih lo biarin gue hidup tenang!” gertak Reva dengan tatapan penuh amarah.


“Lo sakit, lo di suruh pulang malah ngebangkang! Susah banget ya lo di kasihanin.” Sahut Raka tak kalah sengit.


“Gue gag minta lo kasihanin. Gue akan urus pekerjaan gue sendiri. Kita sama-sama magang, gue gag akan ganggu lo jadi lo gag usah ganggu gue. Paham?”


Reva memelankan suaranya karena semua mata kini tertuju pada Reva dan Raka. Namun kata-katanya sangat penuh penekanan. Fery menggaruk kepalanya bingung. Dua orang keras kepala tengah berdebat di hadapannya.


“Okeh, gue gag akan ganggu hidup lo lagi. Puas?!”


“Tentu! Terima kasih Pak Raka yang terhormat.” Sahut Reva sambil mendelik.


Raka menggeram kesal. Tangannya mengepal tanpa sadar. Begitu keras kepala gadis yang dihadapinya.

__ADS_1


Reva segera berjongkok mengambil satu per satu berkasnya. Namun saat berdiri, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan..


“BRUG!” Reva terkulai tak sadarkan diri.


Untungnya dengan cepat Raka menahan kepalanya agar tidak membentur tembok. Raka terlihat sangat panik, dengan sekuat tenaga ia menggendong tubuh Reva dan berlari menuju ruang kesehatan yang berjarak cukup jauh. Raka membaringkan tubuh lemas Reva di atas tempat tidur.


“Astaga, Re bangun re…”


Raka menguncang-guncangkan tubuh Reva perlahan. Namun matanya masih terpejam dan tidak ada respon sama sekali.


“Cepetan telpon dokter *****!” gertak Raka pada Fery yang membuat Dimas dan Tita tercengang.


Dalam pikirnya, seberani itu anak magang pada atasannya. Dimas dan Tita saling melirik dan tidak berani berkomentar sedikitpun. Wajah dan sikap  Raka saat marah dan panik benar-benar menakutkan.


Fery segera ke luar ruangan dan menghubungi dokter rekanannya. Dengan gusar Raka menunggu Reva yang belum sadarkan diri.


“Kalian balik kerja, biar Reva gue yang jagain.” Ujar Raka tanpa memandang Dimas dan Tita sedikitpun.


“Ya udah, nitip Reva ya Raka. Jangan di omelin lagi.” Sahut Tita dengan suara bergetar.


Dimas menyikut lengan Tita dan segera pergi sebelum Raka menatapnya dengan tatapan yang nyaris membunuh keduanya.


****


15 menit berlalu Reva tampak mengerjapkan matanya. Matanya yang semula terpejam mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Ruangannya tampak asing bagi Reva. Ia mencium bau disinfektan yang kerap ia temui di rumah sakit atau klinik.


“Re, lo udah sadar?” terlihat senyum terkembang di bibir Raka.


Reva segera memalingkan wajahnya. Ia masih mengingat kesalnya pada Raka.


“Mba Reva, gimana perasaannya sekarang?” tanya dokter Hamid yang berdiri di dekat Raka.


“Bisa saya bicara dengan dokter saja?” ujar Reva dengan perlahan.


Dokter Hamid menoleh Raka dan Fery bergantian. Fery mengangguk mengiyakan, sementara Raka masih dengan berat hati meninggalkan Reva. Fery menarik lengan Raka dan mengajaknya keluar dari ruangan. Raka hanya bisa pasrah dan memandangi Reva dari luar ruangan.


“Gimana, ada yang ingin mba Reva tanyakan?”


Dokter Hamid duduk di kursi sebelah ranjang Reva. Reva berusaha bangun dan duduk menyandar pada pinggiran tempat tidur.


“Saya kenapa ya dok?” tanya Reva sambil menyentuh ulu hatinya yang terasa sakit.


“Berdasarkan pengakuan rekan kerja mba Reva, mba Reva mengkonsumsi obat pereda nyeri benar?”


Dokter Hamid menunjukan botol obat yang biasa Reva pakai.


“Iya, saya sering sakit kepala. Tapi setelah di lakukan CT scan, menurut dokter saraf tidak ada yang salah dengan kepala saya.” Reva memijat pelipis kirinya yang saat inipun terasa pening.


“Kalau dilihat dari tanda dan gejalanya, sepertinya mba Reva banyak minum obat pereda nyeri saat perut kosong sehingga memicu mual dan muntah. Mba Reva juga mengalami stres dan kelelahan. Saya sarankan untuk konsultasi dengan dokter di rumah sakit atau melakukan general check up.” Terang Dokter Hamid seraya tersenyum.

__ADS_1


Reva hanya mengangguk-angguk. Reva selalu menggunakan waktunya  menyibukkan dirinya sendiri sampai terkadang ia lupa apa yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Jika sekarang kondisi kesehatannya tidak baik, mungkin tuhan mengingatkannya untuk sedikit saja memperhatikan tubuhnya sendiri.


****


__ADS_2