Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 145


__ADS_3

Raka baru selesai mematut diri saat terdengar suara bel kamarnya berbunyi. Raka melihat dari door viewer, adalah sosok Anwar yang tengah berdiri di depan pintunya. Raka segera membuka pintu.


“Selamat malam pak, relasi bisnis sudah menunggu di resto untuk makan malam.” Tutur Anwar dengan sopan.


“Okey, terima kasih.” Sahut Raka.


Mereka berjalan beriringan menuju resto.


Di resto tampak Theo yang sedang berbincang dengan seorang wanita dan melambaikan tangannya pada Raka. Raka hanya terangguk dan menghampiri Theo sementara Anwar menuju kenalannya yang lain.


“Hay dude, Let's us eat.” Seru Theo dengan ramah. Raka hanya mengangguk. Ia mengambil beberapa menu makanan dan makan di meja yang sama dengan Theo.


“Do you know her?” tanya Theo saat Raka duduk di hadapannya. Raka menoleh dan berusaha mengingat.


“Hay raka, apa kabar? Masih ingat saya?” sapa wanita yang terlihat elegan tersebut. Raka tampak mengingat. “Laras.” Sambungnya dengan segera.


“Oh, hay…” Raka hanya tersenyum tipis tanpa berbasa basi.


“Kamu tau, dia putri salah satu investor yang besok akan mengikuti rapat dengan kita.” Terang Theo tanpa di minta.


Raka hanya terangguk-angguk di sela suapan makan malamnya.


“Istrimu tidak ikut?” tanya Laras basa-basi.


“Tidak, kebetulan dia sedang ada pekerjaan.” Terang Raka sekenanya.


Walau suasana terlihat canggung, sesekali Laras melempar senyum pada laki-laki yang terlihat tampan dengan stelan santai namun rapinya. Dan Theo, hanya tersenyum kecil melihat pemandangan di depannya.


"Theo, saya dengar om richard akan pulang, kapan?" tanya Laras yang sepertinya tahu benar tentang Theo.


"Yap! Dalam waktu dekat ini. Dia bilang, dia juga merindukan indonesia." sahut Theo yang kemudian meneguk minumnya. “Maaf, saya sudah selesai lebih dulu. I went to the room first. “ lanjut Theo seraya beranjak dari duduknya. Ia memang telah selesai dengan makannya.


“Okey.” Sahut singkat Raka.


“Good night theo. Have a wonderful dream.” Timpal Laras seraya melambaikan tangannya pada Theo.


Theo terangguk kemudian undur diri.


Tinggal lah kini Raka dan Laras di meja makan tersebut. Raka masih menikmati makan malamnya yang tinggal separuh sementara Laras tampak memainkan minuman sambil menatap Raka.


“Saya suka pasangan muda seperti pak raka dan istri. Terlihat penuh gairah.” Ujar Laras tanpa di duga.


Raka hanya tersenyum. Ia merasa ucapan Laras tidak perlu ia timpali. Raka hanya melirik minuman yang ada di tangan Laras, sepertinya gadis ini mulai berada di bawah pengaruh minuman yang di teguknya.


Raka merasa tidak nyaman, ia segera menyelesaikan makannya dengan cepat.

__ADS_1


“Maaf bu laras, saya permisi dulu.” Pamit Raka setelah meneguk segelas air putih di hadapannya. Pikirnya tidak baik berlama-lama bersama gadis di hadapannya ini.


“Uuuhhh formal sekali. Emang kamu mau kemana? Ini baru jam 8 malam.” Laras menunjuk jam yang melingkar di tangan Raka.


“Masih ada yang harus saya kerjakan. Mari.” Pamit Raka yang rasanya tidak perlu menjelaskan apa pun pada wanita ini.


Laras tidak menimpali. Ia hanya tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Raka. Dengan segera Raka pun pergi meninggalkan Laras.


Laras kembali meneguk minumannya hingga tandas. Rasa pahit di mulutnya kini sudah berubah manis, ia tersenyum entah pada siapa, mungkin pada dirinya sendiri.


****


Setiba di kamar hotelnya, Raka segera berganti pakaian dengan pakaian tidurnya. Ia ingat, pakaian yang kini dikenakannya adalah piyama couple-nya dengan Reva. Raka tersenyum sendiri saat mengingat sang istri yang begitu menggemaskan dengan segala perlakuan manisnya.


Raka menjatuhkan tubuh jangkungnya di atas kasur. Ia berbaring dengan nyaman. Tangan kanannya ia jadikan bantalan sementara tangan kirinya sedang menekan tombol panggilan video.


“Hay mas…” sapa Reva dari sebrang sana.


“Hay…” Raka tersenyum pernuh arti. Ia memperhatikan Reva yang tengah menyisir rambutnya. Bukan, kini pandangannya malah beralih pada baju yang di pakainya. Raka segera bangkit dan duduk menyandar pada Head board. “Aku kenal kemeja itu!” seru Raka saat melihat Reva memakai kemeja berwarna putih yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Reva mengikat rambutnya tinggi-tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang begitu menggoda.


“Hihihi.. Iya, ini kemeja kamu mas. Aku kangen, makanya aku pake baju kamu.” Cicit Reva yang mulai berpindah duduk ketempat tidurnya.


“Haaiisshh.. harusnya aku gag perlu beliin kamu baju tidur, seperti ini terlihat lebih hot.” Ujar Raka yang mengedipkan mata kanannya di akhir kalimat. Tentu saja lebih hot, karena saat ini Reva terlihat tidak memakai apapun selain kemeja Raka yang menutupi tubuhnya hingga setengah paha.


“Buka aja kalo gerah sayang…” Ternyata Raka malah balik menggodanya. Seketika wajah Reva pun terlihat merona.


“Maunya kamu itu mah!” Reva menarik selimut hingga ke batas dadanya. Ia mulai membaringkan tubuhnya. Raka hanya terkekeh, menggoda Reva selalu menyenangkan baginya. “Gimana makan malamnya, kenyang kan?” imbuh Reva.


“Yaps! Sangat kenyang.” Raka mengusap perutnya yang rata. Kenyang atau lapar perutnya tetap sama saja, otot semua.


“Di sana ada teh kan sayang?”


“Ada, tapi gag ada cookies-nya.” Raka terlihat merengut.


Sejak menikah dengan Reva, sebelum tidur, ia pasti akan menghabiskan waktunya beberapa saat untuk menikmati teh dan kue buatan sang istri yang selalu membuat dirinya merasa rileks. Di tambah berbincang hangat sambil memeluk Reva, sesuatu yang tidak pernah absen dari rutinitasnya. Saat jauh seperti ini lah ia akan kehilangan moment tersebut.


“Maaf sayang, aku lupa bekelin mas kue. Tadi terlalu drama akunya.” Ungkap Reva dengan tatapan sendu.


“Gag pa-pa, yang pentingkan masih bisa ngobrol kayak gini.” Timpal Raka seraya tersenyum.


Obrolan pun terus mengalir. Raka begitu semangat menceritakan pekerjaannya hari ini dan Reva menjadi pendengar aktif seperti biasanya. Ia tidak banyak bercerita tentang pekerjaan di kantor, karena seharian ini yang menjadi masalahnya di kantor adalah Theo. Ia tidak mungkin menceritakan hal itu pada Raka.


Hingga malam semakin larut, Reva mulai mengantuk dan perlahan memejamkan matanya. Handphonenya masih menyala dengan penonton tunggalnya Raka. Ya, hingga pagi mungkin panggilan tersebut tidak akan pernah di akhiri kecuali handphonenya mati karena kehabisan baterai. Dan sebelum memejamkan mata, Raka pun mengecup bayangan wajah Reva dengan penuh perasaan.


“Mimpi indah sayang…” lirih Raka.

__ADS_1


****


Merasa dirinya memang tidak baik-baik saja, ia memilih untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Ia tidak memberitahu siapapun termasuk Alea. ia ingin memastikan sendiri bahwa dirinya memang baik-baik saja.


Di hadapan dokter Anna kini Reva terbaring. Ia memeriksa tubuh Reva dengan seksama dan tampak tersenyum dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan.


“Bu reva, kapan terakhir menstruasi?” tanya dokter Anna  dengan lembut.


“Emm.. tangggal 5 bulan kemarin dok.” Sahut Reva dengan santai. “Astaga, ini tanggal berapa dok?” Reva segera mencari kalender di sekitarnya.


“Tanggal 30 bu.” Jawab dokter Anna. “Apa ibu menstruasi secara teratur?”


Reva terangguk. “Apa saya?” Reva menggantung kalimatnya. Ia tidak ingin mendahului penjelasan dokter Anna.


“Kita USG sebentar ya, untuk memastikannya.” Dokter Anna sepertinya mengerti benar arah pertanyaan Reva.


Reva hanya bisa terangguk. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar sangat cepat. Ia tidak tahu apakah perkiraannya benar atau mungkin ia akan kecewa.


Dokter Anna mulai menjelajah permukaan perut Reva transducer di tangannya. Rasa dingin dari gel, terasa benar di permukaan kulit Reva.


“Bu reva lihat bayangan gelap yang saya tunjuk?” tanya dokter Anna yang melakukan sedikit penekanan lembut pada perut Reva.


“Iya dok, itu apa ya?” Reva mencoba memperjelas penglihatannya.


Dokter Anna membuat garis pada bayangan tersebut. “Ini janin bu, usianya sekitar 5-6 minggu.” Ujar dokter Anna.


“Maksud dokter, saya?” Reva membelalak tak percaya.


“Selamat ya bu, untuk kehamilan pertamanya…” ungkap dokter Anna dengan senyum lebarnya.


Reva yang semula mengangkat kepalanya, kini kembali jatuh terkulai. Bahunya bergerak naik turun dengan tangis yang tak bisa di tahannya. Ia terisak karena bahagia. 1 tahun ia menunggu. 1 tahun ia meminta. Banyak hal menakutkan yang ia hadapi setiap harinya. Pertanyaan dari orang-orang terdekat tentang mengapa belum punya anak, keraguan dari orang-orang yang mengenalnya karena masih belum juga mengandung, tentang penghakiman bahwa Reva dan Raka hanya mementingkan karir dan beragam pertanyaan serta praduga lain yang terkadang membuat hati Reva ketir.


Tidak kah kita tahu bahwa terkadang, kita hanya bisa berusaha dan menunggu hasil tanpa bisa mengatur sesuatu itu harus menjadi milik kita atau hanya sekedar harapan? Reva terlarut sendirian dalam rasa syukur yang dalam, andai saja Raka ada di sampingnya, tentu mereka akan merasakan kebahagiaan ini bersama-sama.


“Mungkin saya sedikit mengingatkan ibu, kondisi kandungan ibu cukup lemah dan kadar haemoglobin darah ibu juga rendah. Saran saya, kurangi kegiatan yang berlebih. Ibu harus lebih banyak istirahat, memakai sepatu flat dan tidak mengangkat beban atau melakukan gerakan yang terlalu aktif. Selain itu, makanlah makanan yang bergizi. Sekali lagi, selamat ya bu reva. Jaga kandungan ibu baik-baik.” Tutur dokter Anna yang mengulurkan tangannya.


Reva hanya mampu terangguk. Ia tidak bisa berkata apapun.


****


 


Yeeeaaayyyyy!!!! Yang nunggu Reva dan Raka junior mana nihh???


Selamat Reva dan Raka.. Hug, Love :D

__ADS_1


__ADS_2