Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 27


__ADS_3

Benar saja, saat jam makan siang tiba, Dimas dan Tita sudah berdiri menunggu Reva yang sedang merapikan berkas yang selesai ia kerjakan.


Telpon di meja Raka berdering dan ia segera menerimanya.


“Oh baik, saya segera ke sana.” Jawab Raka.


“Re, gue di panggil pak Rudy ke ruangannya, lo makan siang duluan aja ya.” Lanjut Raka yang segera pergi tanpa menunggu jawaban Reva.


Reva melihat Raka yang berjalan dengan cepat. Entah apa yang dikejarnya saat ini.


“Si Raka gag makan siang bareng kita Re?” tanya Tita yang memperlihatkan wajah kecewanya.


“Ada tugas penting kayaknya. Yuk!” sahut Reva yang selesai dengan pekerjaannya saat ini.


Tita mengangguk-angguk namun ia masih belum bisa menyembunyikan rasa kecewanya.


Siang ini, Dimas mengajak Reva dan Tita untuk makan siang di kantin perusahaan. Menu makanannya enak dan tergolong murah. Tempatnya pun cukup nyaman untuk berbincang dan melepas penat.


“Gila, hari ini mba Kikin gag tau sarapan sama apa, ngomeeelll mulu sama gue.” Keluh Tita yang kesal dengan senior tandemnya.


“Sarapan mercon kayaknya, ngomongnya kenceng dan pedes.” Sahut Dimas yang terkekeh melihat ekspresi kesal Tita.


“Kalo ngomong kenceng sih kayaknya bawaan orok. Orang dia marah sama nggak marah, sama-sama ngegas.” Timpal Tita yang disambut gelakan tawa Reva dan Dimas.


“Tapi kemaren gue di kasih sarapan loh sama mba Kikin, dia bilang gue terlalu kurus , kurang makan.” Kenang Reva yang ikut tersenyum mengingat kejadian kemarin.


“Iya, semua senior emang baik sama lo. Tapi gila, ngasih tugasnya kayak tangan lo ada 1000.”


Tita berbisik pelan khawatir ucapannya di dengar para senior.


“Iya, itu cara mereka ngajarin gue kali ta. Gue masih miskin ilmu, jadi perlu di kasih banyak pelajaran dan kerjaan.”


“Bukan ngajarin, tapi ngerjain Re… Hahhaha….” Seru Tita dengan puas.


“Lo kalo ngomong suka bener deh!” Dimas melempar Tita dengan sedotan di tangannya.


“Isshh Dimas, bekas jigong lo ini, jijik tau!”


Tita melempar balik sedotan yang mengenai lengannya.


“Iihh lo gag bisa ya bantu gue pertahanin harga diri di depan cewek!” Dimas menyenggol lengan Tita dengan sengaja.


“Hahhaha lupa gue.” Sahut Tita dengan tawa renyahnya.


Reva ikut tersenyum geli melihat interaksi Tita dan Dimas yang katanya sudah berteman sejak kecil.


“Re, ini si raka gag makan siang ya? Kok gag dateng-dateng…”

__ADS_1


Tita celingukan mencari sosok laki-laki yang ia sukai sejak pertama bertemu. Reva ikut menoleh ke arah pintu masuk kantin tapi bayangan Raka memang tidak terlihat sedikitpun di sana. Reva memandangi jam yang melingkar di tangan kirinya, waktu istirahat hampir habis.


“Dia sibuk kali,…” timpal Reva yang juga merasa khawatir dengan Raka.


Sejak ditempatkan di kantor, Raka sangat sering di panggil seseorang yang Reva dengar sebagai Pak Rudy. Sepertinya banyak tugas yang diberikan pada Raka walaupun Reva tidak melihat berkas bertumpuk di meja Raka. Namun dari ekspresinya saat menatap layar monitor, ia yakin Raka tengah diberikan tugas yang cukup menguras pikirannya.


“Re, lo sama Raka udah kenal lama?”


Tita akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya atas kedekatan Reva dan Raka yang tidak disadari keduanya.


“Emm… belum lama ini sih. Gue sekampus sama dia.” Sahut Reva yang kembali menyentuh makan siangnya yang hampir tandas.


“Dia hoby nya apa Re?” Tita semakin antusias saat membahas Raka. Reva hanya menggelengkan kepala. “Terus ulang tahunnya kapan?” Lagi-lagi hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban Reva. “Ya ampun, lo temenan tapi gag tau apapun tentang dia?” Tita terlihat kecewa, idenya untuk pedekate lewat Reva ternyata tidak bisa diharapkan.


“Gue gag tau banyak soal dia.” Lirih Reva.


“Terus lo gag nyari tau gitu?”


Lagi, Reva hanya menggeleng. “Huft, gag bisa di harepin….” Rutuk Tita sambil menelungkupkan wajahnya di atas kedua lengannya.


“Tapi, lo ngobrol kan sama dia?”


Dimas ikut penasaran dengan hubungan Reva dan Raka. Kali ini Reva mengangguk. “Terus lo ngobrolin apa, kok sampe gag tau tentang dia?”


Dua pasangan mata itu kini sedang menatap Reva dengan penuh tanya.


“Lupa!” sahut Reva dengan santai. Mungkin lebih tepatnya, tidak ingin mengingat.


Reva hanya mengangakat bahunya sambil menyeruput minuman di depannya.


*****


Jam istirahat sudah selesai. Reva dan kedua temannya segera kembali ke ruangan kerjanya dengan menggunakan lift karyawan. Mereka tampak berbincang hangat dan sesekali tertawa.


“Ding!”


Pintu lift terbuka, tampak seorang laki-laki paruh baya tersenyum saat akan masuk ke dalam lift. Reva, Dimas dan Tita sedikit bergeser memberi ruang untuk laki-laki yang terlihat gagah tersebut. Untuk beberapa saat laki-laki tersebut memandangi Reva, dahinya mengerjit seolah sedang mengingat wajah yang ada di hadapannya.


“Kalian karyawan di sini?” tanya laki-laki itu dengan penasaran.


“Kami karyawan magang pak.” Sahut Reva dengan sopan.


Laki-laki tersebut membulatkan mulutnya tanpa suara.


“Bisa tolong antar saya ke ruang direktur?” lanjut laki-laki tersebut.


Reva, Dimas dan Tita saling bersi tatap. Mereka terlihat kebingungan.

__ADS_1


“Direktur kami sedang tidak di tempat, karena sedang sakit, jadi…” ujaran Dimas terhenti saat Reva menyenggol lengannya dengan kuat, membuat Dimas mengaduh.


“Kenapa?” Dimas menatap Reva penuh tanya.


“Lo gag boleh ngasih tau rahasia kondisi direktur ke orang asing. Gimana kalo dia saingan bisnis perusahaan?” bisik Reva dengan penuh penekanan.


“Astaga! Gue lupa!” dengus Dimas yang membekap mulutnya sendiri.


Laki-laki tersebut masih menatap Reva dengan seksama seolah benar-benar tengah mengingat seseorang. .


“Maaf pak, bapak sudah ada janji?” tanya Reva kemudian.


“Emmm sudah, beberapa hari lalu. O iya, perkenalkan saya wira.” Laki-laki tersebut mengulurkan tangannya pada Reva dan kedua temannya.


“Reva…” sahut Reva yang diikuti dengan menjabat tangan laki-laki tersebut.


Wira masih menatap Reva dengan lekat, walau sesekali ia mencoba mengalihkan pandangannya, tapi perhatiannya masih tertuju pada Reva.


Reva sedikit gusar melihat tatapan Wira terhadapnya. Ia segera memalingkan wajah dan melihat ke arah lain.


“Bapak saya antar ke ruang tunggu tamu dulu ya pak, nanti saya akan coba bantu konfirmasi dengan sekretarisnya.” Terang Reva dengan sopan.


“Baik, terima kasih nak Reva.” Sambut Wira dengan senyuman hangatnya.


Tiba di lantai 11, Tita dan Dimas keluar lebih dulu untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Reva masih terdiam di samping Wira yang akan ia antar ke ruang sekretaris. Reva bisa melihat pantulan wajah Wira yang masih menatapnya dari dinding lift. Mata Reva berkeliling melihat cctv dan sepertinya merekam dengan baik. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, ada rasa tenang sedikit di dadanya.


“Ding!” pintu Lift kembali terbuka.


Seorang wanita yang tengah berjalan, tiba-tiba berhenti dan menganggukkan kepalanya pada Reva. Reva mengernyitkan dahinya, lalu menoleh Wira yang berjalan selangkah di belakangnya.


“Ramah banget ini mbaknya, gag tau kali ya kalo gue anak magang?” batin Reva seraya membalas anggukan wanita tersebut.


Sampai di ruang tunggu, Reva mempersilakan Wira untuk duduk menunggu. Ia segera menemui salah satu staf sekretaris yang ia kenal sebagai Desy.


“Siang mbak Desy, ada tamu katanya mau ketemu direktur. Tadi saya minta tunggu dulu di ruang tamu.”


“Siapa Re?”


Reva menunjuk seorang laki-laki yang tengah berdiri memandangi kota jakarta dari Jendela besar yang ada di ruang tunggu. Desy mengenali benar laki-laki tersebut.


“Kamu gag tau itu siapa re?” tanya Desy yang tiba-tiba gelagapan. Reva hanya menggelengkan kepala. “Ya udah, kamu balik kerja. Ini biar saya yang urus.” Lanjut Desy.


Reva mengikuti saja perintah Desy. Ia terangguk saat melihat Wira menatapnya dengan senyuman tipis. Revapun berlalu.


“Siang pak…” sapa Desy dengan hormat.


“Kamu gag ngenalin direktur perusahaan ini sama anak magang?” tanya Wira tanpa menatap Desy.

__ADS_1


“Mohon maaf pak…” sahut Desy yang menyadari kesalahannya.


****


__ADS_2