
Sepeninggal Reva, Theo terdiam sendirian di kamarnya. Ia berbaring menyamping memandangi tempat Reva tadi membaringkan tubuhnya. Rasanya ia berharap Reva masih ada di sana agar ia masih bisa memandanginya dengan puas. Theo tersenyum sendiri saat mengingat wajah itu terlelap dengan sangat cantik. Namun logikanya masih di penuhi pertanyaan mengapa ia harus bersikap seperti itu pada Richard. Bahkan saat pamit pulang, ia hanya mengangguk pada Richard tanpa sepatah kata pun dan menarik tangan Theo untuk segera pergi.
Theo memandangi tangan kanannya sendiri yang sudah dua kali di genggam Reva. Rasa hangatnya masih sama dan membuat jantungnya berdebar tak menentu. Terlalu banyak hal yang Theo sukai dari Reva. Wajah dinginnya saja terasa begitu menggoda bagi Theo.
“Son…” suara berat Richard menyadarkan Theo dari lamunannya. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya.
“Yes dad..” sahutnya.
Tampak Richard yang muncul dari balik pintu. Richard tersenyum hangat melihat sang putra yang sepertinya sedang di mabuk cinta.
“Masih memikirkan gadis itu?” tanya Richard seraya mengambil tempat di samping Theo.
“Hem… Rasanya aku hampir gila kalau sebentar saja tidak mendengar kabarnya.” Cetus Theo seraya mengguyar rambutnya. Sudut bibirnya melengkungkan senyum dan binar mata penuh kebahagiaan.
“Ya, seperti itulah cinta.” Timpal Richard seraya tertunduk. Sepertinya ia sedang mengenang sesuatu. “Dady pernah sangat jatuh cinta pada seorang wanita tapi tuhan mengambilnya. Andai dady bisa menemui tuhan, dady bersedia melakukan penebusan apapun asal dia bisa kembali.” Ungkap Richard seraya menatap Theo nanar.
“I know you love her so much.” Timpal Theo yang sepertinya tahu wanita mana yang di bahas Richard.
“Dady tau, terkadang aku merasa reva mirip dengan mommy. Dia lembut tapi sangat kuat. Aku tidak pernah berfikir akan menemukan wanita yang bisa mengubah rasa sepi dan dingin menjadi sebuah hasrat untuk terus bertahan hidup dan berjuang untuk seseorang. Dia melakukannya, dia mengubahku.” Theo tersenyum di akhir kalimatnya.
Richard terangguk paham karena ia pun merasakannya. “Kejarlah dia, jika kamu bisa bahagia karena gadis itu.” Tandas Richard seraya menepuk bahu Theo. Theo hanya tersenyum, rasanya semangatnya kembali bangkit.
*****
Raka tengah bersiap dengan berbagai berkas di atas tempat tidurnya yang berjejer rapi. Ia akan menemui beberapa investor untuk memperbaiki kondisi perusahaannya. Ia harus memastikan tidak ada satupun berkas yang tertinggal.
Ponsel Raka menampilkan sebuah notifikasi sebuah pesan masuk. Nama Fery tertulis di sana.
__ADS_1
“Jangan lupa bawa stempel pak bos. Punya gue ketinggalan di kantor.” Tulis Fery.
Raka melempar handphone-nya ke tempat tidur. Ia segera mencari stempel perusahaan miliknya. Ia membuka satu per satu laci lemari kecil. Rasanya ia menyimpannya di sana.
Tangan Raka berhenti bergerak saat ia melihat selembar kertas berwarna hitam putih. Dengan cepat ia mengambilnya. Matanya membulat saat melihat nama Reva tertulis di sana.
“Ya tuhan!” lirihnya,
Raka menatap tak percaya kertas yang ada di tangannya. Seketika tubuhnya ambruk terduduk. Ya, yang dilihat Raka adalah hasil USG Reva. Raka mengusap wajahnya kasar, matanya tampak berkaca-kaca.
Ingatan membawanya pada saat-saat unik yang ia lewati saat bersama Reva. Reva yang menginginkan makanan aneh, Reva yang bermanja, Reva yang terlihat pucat, Reva yang begitu sensitif pada hal kecil, Reva yang mengalami muntah di pagi hari, Reva yang selalu menyediakan makanan manis di sebelah tempat tidurnya dan hal lainnya yang selama ini di lihat Raka. Mengapa ia begitu tidak peka? Mengapa ia begitu abai pada banyak perubahan yang terjadi di diri Reva? Mengapa ia masih belum sadar kalau saat ini Reva mungkin sedang membutuhkannya.Dan apa yang telah ia lakukan, mengapa ia menyakiti Reva?
Raka terisak dalam tangisnya yang dalam. Ia merutuki dirinya sendiri yang merasa puas hanya karena Reva berada di sampingnya. Yang merasa cukup karena Reva mencintainya. Dia tidak pernah berusaha menyelami hati terdalam Reva. Ia tidak mencoba mengerti apa isi pikiran Reva. Nyatanya ia tak cukup mengenali Reva. Reva yang sangat ia cintai. Reva yang sangat memahami Raka hanya dari hembusan nafasnya. Reva yang sangat mengenali Raka hanya dari kerlipan matanya. Lalu apa yang ia tahu tentang Reva selama ini?
“Sayang… maaf….” Lirihnya dengan bibir bergetar dan tangis yang memekik di dadanya.
Tidak kah ia terlambat menyadari semuanya?
****
Tiba di rumah Wijaya, Raka segera berlari menuju kamar Reva. Sapaan dari pelayan ia abaikan begitu saja. Ia harus cepat menemui Reva, hanya itu isi pikirannya. Ia berusaha mengatur nafasnya saat tiba di depan pintu kamar Reva.
Raka mengetuk pintu kamar Reva namun tidak ada sahutan. Ia memutar handle pintu kamar Reva dengan gemetar dan perlahan kamar yang sudah rapi dengan wangi khas parfum Reva pun menyentuh saraf penciumannya. Terdengar suara gemericik air yang menandakan Reva sedang berada di kamar mandi. Tak lama terdengar juga Reva yang sedang muntah-muntah dan mengeluarkan semua isi perutnya. Raka hanya bisa terisak dan terduduk di tempat tidur Reva. Selama ini Reva menjalani semuanya sendirian dan Raka tak ada di sampingnya. Bahkan saat mereka berjauhan pun prasangka tentang Reva terus ia pelihara. Tidakkah ia begitu jahat saat ini?
Tak lama, pintu kamar mandi terdengar berderet. Adalah Reva yang kini berdiri di hadapan Raka dengan kimono mandinya. Wajahnya terlihat pucat dengan mata yang merah dan berair. Ia terpaku melihat Raka yang kini terduduk di pinggiran tempat tidurnya.
Dalam beberapa saat Raka berhambur memeluk Reva. Memeluknya dengan erat seraya terisak dalam tangis dan sesalnya.
__ADS_1
“Maaf sayang… maaf…” lirihnya dengan penuh sesal.
Reva bisa merasakan pelukan hangat Raka yang selama ini dirindukannya. Untuk beberapa saat Reva membiarkan semuanya.
Di balkon kamar Reva kini mereka duduk berdampingan. Raka menaruh hasil USG Reva di atas meja. Tangannya terlihat gemetar dan saling memilin.
“Apa aku terlalu jahat sampai tidak berhak mengenal anakku?” Raka membuka suaranya di sela keheningan. Ia menatap Reva yang menatap satu titik di hadapannya.
“Kamu meragukanku. Bagaimana bisa kamu yakin ini adalah anakmu?” tanya Reva seraya menoleh Raka.
Pertanyaan Reva rasanya telah menampar Raka. Raka hanya mampu tertunduk saat ia teringat kembali semua ucapan yang ia lontarkan pada Reva. Ia sadar kesakitan yang saat itu di rasakan Reva, mungkin hingga saat ini.
Pada dasarnya, setiap orang memiliki sudut sensitif yang tidak bisa di sentuh siapapun. Saat sudut itu terusik, ia bisa sangat marah serta kecewa dan itulah yang dirasakan Reva saat Raka yang ia anggap telah menerima dirinya apa adanya, nyatanya malah menyentuh sudut tersebut dengan kata-katanya. Salahkah jika ia kecewa? Salahkah jika ia marah?
Raka beranjak dari tempat duduknya. Ia bersimpuh di hadapan Reva tepat di depan perut Reva seraya tertunduk. Matanya meneteskan buliran air mata.
“Aku yakin, dia anakku. Aku yakin dia buah cinta kita. Karena aku sadar, kamu tidak akan pernah berpaling dariku re…” tuturnya seraya menatap Reva dengan sendu. “Aku tau, aku salah saat aku meragukan kesetiaan kamu. Aku juga tau aku salah saat aku menuduh kamu dengan kata-kata yang tidak seharusnya dan pikiran dangkalku tentang kamu. Maaf… kalaupun aku terlambat, aku akan menebusnya. Aku mohon, kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya re…..” lanjut Raka dengan penuh kesungguhan.
Reva memalingkan wajahnya. Ia mengusap air mata yang tiba-tiba saja menetes. “Sudah ku bilang, jangan sebut namaku, karena aku akan luluh.” Tutur Reva seraya menatap Raka. “Kenapa kamu selalu membuatku gamang? Kenapa kamu selalu membuatku tersentuh? Kenapa kamu selalu membuatku tidak bisa membencimu? Kenapa aku terlalu mencintai kamu padahal kamu sudah melukaiku? Kenapa?” kali ini Reva yang terisak. Ia tertunduk di hadapan Raka dengan air mata bercucuran. Nyatanya kemarahan dan kekecewaan yang Reva rasakan jauh lebih kecil kadarnya di banding rasa cintanya pada Raka, lagi ia gamang.
Dengan segera Raka memeluk Reva. Ia merasakan hal yang sama. Di balik kemarahannya, ia tidak ingin kehilangan Reva. Di balik prasangkanya, ia tidak ingin membiarkan Reva berpaling. Katakan saja ia bodoh atau egois tapi sungguh, perasaannya untuk Reva tidak pernah berubah.
Mungkin, inilah titik balik perasaan keduanya. Jika memang saling membutuhkan, kenapa harus saling mengingkari?
****
__ADS_1
Haahh... mereka yang punya masalah, aku yang pusing. Mereka yang baikan, aku yang bapeerr. Dasar aku ;D
Happy reading all, jangan lupa tinggalkan jejak.