
“Re.. Reva! Kamu di mana sayang?!” teriak Raka sesampainya di rumah.
Ia mencari Reva di semua sudut rumahnya, namun ia tidak menemukan sedikit pun tanda-tanda keberadaan Reva. Ia hanya melihat pecahan kaca yang masih terserak dengan air yang menggenang. Beberapa alat make up Reva pun jatuh berserakan di lantai.
“Shit!!!” dengus Raka.
Dengan melihat keadaan saat ini, ia bisa membayangkan hal-hal yang dilakukan Reva karena kemarahannya. Namun saat ini ia tidak berani membayangkan seperti apa kondisi Reva yang bahkan entah di mana.
Tak menunggu lama, Raka memutuskan untuk pergi mencari Reva.
Kediaman Wijaya, adalah tempat pertama yang ia tuju. Tidak ada seorang pun berada di rumah selain Bi Inah dan beberapa pelayana lainnya.
“Non rere gag ada pulang ke sini den.” Hanya itu jawaban dari Bi Inah dan berhasil memantik rasa cemas Raka semakin besar.
Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Adiyaksa, rumahnya. Saat Bi Lastri membukakan pintu, jawaban yang sama pula yang Raka dapatkan.
“Sayang kamu dimana?” perasaan Raka semakin ketir. Berulang kali ia menelpon nomor Reva tapi tidak aktif. Raka benar-benar kalut.
Apartemen miliknya, menjadi tujuan berikutnya yang ia datangi. Saat menekan passcode unitnya, suasana sangat hening. Lampu-lampu tidak ada yang menyala, sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Raka membuka semua pintu kamarnya, tetap tidak ada pertanda sedikit pun kalau Reva datang ke tempat ini. Dengan tubuh lemas, Raka keluar dari apartemen. Untuk beberapa saat ia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. Rasanya ia nyaris putus asa.
Di tengah kekalutannya, Raka teringat Mela dan Riana. Ia pun mendatangi rumah keduanya, namun nihil. Tidak ada hasil sama sekali. Selain pertanyaan menyudutkan untuk Raka.
“Lo apain reva bisa sampe kabur hah? Bukannya lo udah janji buat jagain dia?!” teriak Jeremy seraya mencengkram kerah baju Raka dengan geram. Ia menatap Raka penuh amarah, namun Raka hanya bisa tertunduk. Rasanya ia akan merelakan kalau Jeremy menghantamkan tinjunya di wajah Raka.
“Jer, udah. Kamu kayak gini gag akan neyelesein masalah. Yang kita lakuin sekarang adalah harus nyari reva. Ini hari udah makin gelap.” Tutur Riana yang menyadarkan keduanya.
Benar, cahaya matahari sudah tidak terlihat sama sekali berganti malam yang mulai kelam dengan langit yang hitam pertanda akan menumpahkan hujan.
Jeremy melepas cengkramannya. Rasanya memukul Raka pun tidak akan menyelesaikan semuanya. Raka terlihat berantakan dengan raut wajah yang tidak bisa di jelaskan. Terbit rasa iba di hati Jeremy.
“Lo cari reva sampe ketemu. Gue bantu nanya sama anak-anak yang kenal reva.” Satu kalimat meluncur begitu saja dari mulut Jeremy dan membuat Raka menatap Jeremy.
Raka menepuk bahu Jeremy. “Thanks!” singkatnya. Dalam beberapa saat Raka segera pergi untuk kembali mencari Reva.
****
__ADS_1
Tempat terakhir yang kini muncul di pikiran Raka adalah panti. Ada Ratna di sana, satu-satunya tujuan Reva yang bisa membuat Reva merasa tenang. Untuk alasan itulah kini Raka membelah jalanan melewati perkebunan di sisi kiri dan kanan jalanan yang tampak senggang. Terang saja, ini sudah hampir jam 9 malam.
“Tok tok tok” Raka mengetuk pintu panti.
Suara pintu berderet dan tampak Ratna yang kini berdiri di hadapannya. Raka menatap Ratna dengan mata merah dan sembabnya. Ia tidak tahu harus memulai kalimatnya dari mana.
“Ibu… maafkan saya…” ujar Raka yang kemudian bersimpuh di hadapan Ratna.
“Astaga nak raka, ada apa?” Ratna ikut berjongkok, memandangi Raka yang hanya tertunduk dan tersedu. “Apa rere baik-baik saja?” tanya Ratna yang seolah memang memiliki ikatan yang sangat erat dengan putrinya.
Mendengar pertanyaan Ratna, rasanya ia semakin tidak berani mengangkat wajahnya. Ia semakin tersedu dalam tangisnya yang dalam.
Ratna hanya bisa menghela nafas dalam. Sepertinya sesuatu tengah terjadi hingga membuat Raka seperti ini..
“Masuklah.. kita bicara di dalam.” Ratna menepuk bahu Raka dan membukakan pintu lebih lebar.
Di ruang tamu, Ratna menyuguhkan segelas minuman hangat untuk Raka di temani kue-kue yang kerap Reva buatkan untuknya.
“Makanlah dulu, nak raka belum makan kan?” tanya Ratna seraya mendekatkan kue-kue tersebut ke hadapan Raka. Melihat kondisi Raka, sepertinya Raka memang belum mengisi perutnya sama sekali. Penampilannya pun berantakan, tidak terlihat lagi Raka yang tampan dengan penampilan rapinya.
Di tempat lain, Alea tengah mencerca Ira dengan banyak pertanyaan.
“Kenapa kamu gag bilang dari tadi hah?! Kamu bilang reva izin untuk istirahat, nyatanya apa? Dia ke makasar dari sampai sekarang belum jelas keberadaannya.” Gertak Alea yang membuat Ira hanya bisa bersimpuh seraya menangis.
Sebelum keberangkatan Reva, Reva memang berpesan agar Ira tidak memberitahu siapapun tentang kepergiannya ke Makasar. Namun saat hari menjelang malam dan Ira kesulitan menghubungi Reva, perasaannya mulai tak karuan. Tidak ada pilihan lain bagi Ira selain memberitahu Alea tentang hal tersebut.
“Kamu tanya gag dia ada apa ke makasar?” tanya Alea lagi seraya menggebrak meja.
“Maaf bu, maaf… saya gag tau…” jawab Ira dengan tangis yang pecah.
Demi apapun ia sangat takut, takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Reva dan dialah orang terakhir yang berkomunikasi dengan Reva.
“Apa gunanya kamu jadi asissten reva, hah?! Bukannya saya udah bilang, kamu harus selalu menjadi bayang-bayang reva dalam kondisi apapun. Tapi sekarang apa, apa ira?!” lagi-lagi Alea berteriak. Membuat Ira semakin menangis sejadi-jadinya.
Alea membuang nafasnya kasar-kasar. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Rasanya ini tingkat kemarahannya yang cukup tinggi.
__ADS_1
Sejujurnya, saat ini bukanlah sepenuhnya kesalahan Ira. Hanya saja, apa yang Ira sampaikan terlambat dan sudah menjadi masalah yang besar. Lantas, tentu saja saat ini Ira yang dipersalahkan.
****
Lewat dari tengah malam, Raka baru sampai di rumahnya. Ia menutup pintu mobilnya dengan keras. Langkahnya terlihat gontai dengan penampilan yang berantakan. Ucapan Ratna tentang Reva terus terngiang di telinga Raka.
“Kamu tidak akan bisa menemukannya, terkecuali dia sendiri yang ingin menemuimu.” Ucap Ratna dengan tatapan pedih yang menghujam jantung Raka.
Raka mengembuskan nafasnya kasar. Pikirannya hanya berisi tentang Reva yang saat ini entah berada di mana. Dunia terasa berhenti berputar dan menghakiminya yang tidak bisa berbuat apapun.
Dari luar rumah, Raka melihat lampu-lampu rumahnya menyala. Dengan segera ia berlari masuk dan berharap Reva sudah ada di rumah dan menunggunya.
“Re! Kamu pulang sayang?” tanya Raka seraya membuka pintu lebar-lebar.
Garis senyum itu kembali luntur, saat ternyata yang berada di hadapannya adalah kedua orang tua Reva bersama Alea dan Fery. Mereka menatap Raka dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan.
“PLAK!!!!” sebuah tamparan mendarat di pipi Raka. Raka merasa limbung dengan telinga yang ikut berdegung mendapat tamparan keras dari Indra.
“Mana reva hah? Mana?!!!” teriak Indra seraya mencengkram kerah baju Raka. Ia menatap Raka dengan penuh kemarahan sementara Raka hanya bisa tertunduk dengan banyak penyesalan.
“Pah, lepasin pah…” Nida berusaha menenangkan Indra dengan segala kemarahannya.
Indra melepaskan cengkramannya dengan kasar dan Raka nyaris jatuh terhuyung. Sepertinya tenaganya benar-benar telah habis. Ia tidak peduli apa yang akan di lakukan atau dikatakan Indra kepadanya, ia sadar bahkan hanya untuk sekedar mendapat maaf dari Indra pun ia tak layak.
Indra menghela nafasnya kasar setelah mendengar cerita dari Raka. Dan Nida terisak membayangkan putrinya yang saat ini entah berada di mana.
“Kamu gila raka, kamu gila!!!!” teriak Indra yang tidak berani Raka timpali.
Bodoh dan gila rasanya hanya beberapa kata yang tidak cukup menggambarkan secara keseluruhan dirinya saat ini.
Indra memandangi Raka dengan tatapan nanarnya. Laki-laki yang ia percaya bisa menjaga Reva ternyata menjadi laki-laki yang menyakiti Reva. Entah itu sebuah kebenaran atau hanya pembenaran yang di sampaikan Raka kepadanya, keduanya sama-sama menyakitkan bagi Indra. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan putrinya saat ini. Ia pasti tengah sendirian, meratapi hatinya yang luluh lantah karena sebuah penghianatan.
Indra telah benar-benar kehabisan kata-katanya. Tidak ada cara lain selain mengerahkan semua orang kepercayaannya untuk mencari sang putri. Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus kembali kehilangan putrinya.
*****
__ADS_1