Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 61


__ADS_3

Pesta akan segera berakhir, sebagian tamu sudah pulang hanya tinggal keluarga terdekat yang masih berada di lingkungan rumah Riana.


Reva memilih untuk berjalan-jalan di taman sambil menikmati secangkir coklat hangat di tangannya. Di sampingnya ada Raka yang setia menemani kemanapun Reva melangkah. Mereka duduk di salah satu bangku dan menikmati semilir angin malam yang meniupkan udara dingin penuh kedamaian.


Raka menyesap kopi yang ada di tangannya seperti yang dilakukan Reva saat menikmati coklat hangatnya. Tatapan mereka tertuju pada bulan yang bersinar terang dan bintang yang saling berkedipan memberi isyarat.


“Re, kamu pernah berfikir tentang pernikahan dan sebuah keluarga?” tanya Raka dengan tatapan hangat pada sepasang mata bulat yang kini menatapnya dengan teduh.


Reva tersenyum lalu terangguk pelan. “Bohong kalo aku bilang gag pernah mas.” Reva menjeda kalimatnya dengan sebuah helaan nafas panjang. “Hanya saja, untuk saat ini, sebuah pernikahan dan keluarga baru masih menjadi mimpi yang belum bisa aku raih. Masih terlalu banyak hal yang harus aku lakuin sebelum memutuskan untuk hidup dalam keluarga yang baru.” Lanjut Reva yang kembali menyesap coklat hangatnya.


“Aku akan nunggu re.” sahut Raka tanpa rasa ragu.


“Mas, orang tua kamu udah nyuruh kamu nikah kan? Apa tidak akan jadi masalah kalau kamu nunggu aku?”


Reva berusaha realistis pada kenyataan yang ada dihadapannya. Bukan karena tidak ingin berjuang bersama Raka, hanya saja ia masih memiliki prioritas yang harus ia utamakan dalam hidupnya namun tidak boleh mengganggu hidup orang lain.


Raka menaruh gelasnya dan gelas Reva di atas pegangan bangku. Ia meraih tangan Reva dan mengenggamnya dengan erat. Tatapannya begitu hangat menatap kedua manik hitam dengan binar indah.


“Aku akan nikah cuma sama kamu re. Mamah sama papah emang udah nyuruh aku nikah, tapi aku akan menghargai pilihan kamu. Aku cuma berharap, ada mimpi yang bisa tetap kamu raih setelah kita menikah jadi aku gag terlalu lama nunggu kamu.” Ujar Raka seraya mengecup tangan Reva.


Reva melihat kesungguhan dari ucapan Raka. Namun ia masih ragu, apa kelak Raka memang akan menjadi miliknya atau menjadi salah satu cerita cinta yang kemudian harus ia relakan dan ia lupakan.


“Mas, kamu tau latar belakang aku. Kehidupan aku sebelum kenal sama kamu. Mungkin itu kelak akan menjadi masalah buat kita. Apa kamu yakin bisa menerima semuanya?”


“Aku, gag ada masalah.”


“Keluarga kamu, teman-teman kamu, mungkin rekan kerja kamu dan…”


“Re, aku memilih kamu bukan karena kamu wanita sempurna, tapi karena kamu bisa melengkapi kekurangan aku. Kamu bisa membuat aku merasa nyaman dan yang terpenting, aku bahagia kalo sama kamu re…”


Kalimat terakhir Raka terasa menyejukkan seperti oase di tengah guru pasir. Entah itu nyata atau fatamorgana, yang jelas Reva senang mendengarnya. Tapi, sudut hatinya yang lain masih ada keraguan. Ia pernah mendengar janji yang juga sama manisnya, dan ternyata semuanya berakhir pahit. Karena bagi keluarga terpandang, status sosial dan latar belakang keluarga, tentulah menjadi masalah yang penting dalam suatu pernikahan.


Pada akhirnya, Reva hanya bisa terpaku dalam kebimbangan yang belum menemukan ujungnya.


****


Suasana kantor terasa begitu sibuk. Dua hari lagi acara ulang tahun perusahaan sekaligus perkenalan dengan penerus perusahaan yang baru. Panitia acara sudah menentukan orang-orang yang terlibat dan semua tim pemasaran masuk ke dalam kepanitiaan.


“Re, nanti kamu giliran bawa baki penyematan pin kehormatan dari direktur lama ke direktur baru ya. Tita giliran terima tamu di depan sama Dimas. Mba elda karena baru lahiran jadi bagian ngatur makanan sebelum acara di mulai. Hal lainnya biar saya yang tangani.” Terang tika dengan mendetail.


“Baik bu…” ujar keempatnya bersamaan.

__ADS_1


Tika mulai membagikan daftar tugas yang harus dilakukan masing-masing. Semua tampak serius membaca tugasnya.


“Karena udah waktunya istirahat, kalian istirahat dulu aja. Nanti lanjutkan kerjaan kalian setelah istirahat.” Ujar Tika sambil melirik jam tangan berwarna gold yang melingkar di tangan kirinya.


“Wah gila, hari senin waktu bener-bener gag kerasa ya…” dengus Dimas yang selalu merasa waktunya gag pernah cukup.


“Itu artinya lo betah di dunia dim…” sengit Tita yang sudah mengambil dompet dan handphonenya untuk bersiap makan siang.


“Baik titisan mamah dedeh, saya menerima benar ucapan mamah.” Timpal Dimas dengan kesal.


Tita hanya menjulurkan lidahnya pada Dimas, ia tidak peduli dengan kekesalan Dimas.


Sementara itu Reva masih asyik dengan handphonenya. Ia menunggu jawaban Raka yang sejak pagi sudah di panggil ke ruangan pak Rudy.


“Mas, mau istirahat bareng?” tulisnya. Reva mengetuk-ngetuk handphonenya, gamang menunggu jawaban pesan dari Raka.


“Nggak re, aku masih ada kerjaan. Minta nitip kopi aja ya kalo kamu selesai istirahat. Nanti aku ambil.”


“Astaga mas, kamu kerja di dunia mana sih sampe gag bisa istirahat segala?” Reva benar-benar kesal campur khawatir mendengar kondisi Raka yang kerja melewati batas menurutnya.


“Sayaaang, di sini ada banyak makanan. Aku bisa kerja sambil ngunyah. Kurangnya karena gag bisa liat muka kamu aja.” Balas Raka dengan emoticon menangis.


“Okey, nanti aku bawain kopi.”


Selesai berkirim pesan, Reva senyum-senyum sendiri, ia tidak menyadari suasana hening tadi karena kedua rekan kerjanya memperhatikan ia yang beberapa kali mengganti mimik mukanya.


“Kenapa?” Reva bingung sendiri dengan tatapan penasaran kedua temannya.


“Lo punya pacar re?” tanya Dimas tanpa ragu.


“Pacar? Kata siapa?” Reva gelagapan dan salah tingkah.


“Lo jadi sering liat hape sambil senyum-senyum gag jelas. Kita liatin dari tadi lo juga gag nyadar kan?” cerocos Dimas yang merasa di khianati.


“Ya kali dia punya pacar harus lapor sama lo dim.” Sengit Tita tidak peduli pada rasa kecewa Dimas. “Udah ah, kita istirahat aja. Gue laper. Tapi lo utang penjelasan sama gue ya re…” Tita berbisik di akhr  kalimatnya membuat Reva bergidik ngeri.


****


Semua sudut kantor sudah di tata dengan cantik. Beberapa karangan bunga sudah berderet rapi di depan kantor. Sepertinya ulang tahun Adiyaksa Corp selalu ramai ucapan dari para koleganya.


“Wah, untung kita magang sekarang ya, jadi bisa tau meriahnya ulang tahun adiyaksa corp.” seru Tita di sela suapan makan siangnya.

__ADS_1


“Iya, gag semua perusahaan ulang tahun di saat ada mahasiswa magang.” Sahut Reva yang ikut menikmati es krim di hadapannya.


“Kalian kapan sidang? Magang kita juga udah mau selesai kan?” Dimas kembali mengingatkan pada tugas kemahasiswaannya yang nyaris ia lupakan karena asik bekerja.


“Gue senin depan. Iya gag kerasa banget ya… 3 bulan cepet bangeett..”


Reva berusaha mengingat, apa saja yang ia lakukan di kantor ini selama 3 bulan. Yang jelas, banyak sekali pelajaran yang bisa ia ambil.


“Yaahh gue gag bisa lagi dong ngeliat para senior ganteng di sini. Sedih banget sih…” gerutu Tita yang sudah menandai beberapa lelaki sebagai targetnya. Sayangnya perjuangannya harus berakhir sebelum di mulai.


“Lo kan masih bisa liat gue di kampus. Jadi jangan sedih gitu dong.” Goda Dimas sambil mencolek dagu Tita.


“Hah liatin lo? Ngapain? Rugi gue zinah mata tapi gag asyik.” Sengit Tita dengan kesal.


“Jangan jutek-jutek dong ta, lo nanti malah jatuh cinta lagi sama Dimas.” Reva ikut menggoda Tita yang terlihat merona tapi gengsi.


“Ish! Apaan. Udah ah, selera makan gue udah ilang nih gara-gara dimas.” Tita menaruh sendok dan garpunya di atas piring.


“Ya udah ayo, gue juga ketitipan kopi, gag enak kalo keburu dingin.”


“Siapa?” tanya Tita dan Dimas bersamaan.


“Hah? Siapa ya?!” Lagi-lagi Reva gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa.


“Gue jadi curiga deh. Lo sering bawa bekal makanan lebih terus lo taroh di meja raka. Terus raka juga nanyain tentang lo habis-habisan waktu di bali. Jangan-jangan lo pacaran ya sama si raka?” terka Dimas yang benar apa adanya.


Reva tersenyum kelu. Ia benar-benar tidak siap mengumbar hubungannya dengan Raka di tempat kerja.


“Re, jawab dong! Kalo beneran pacaran juga gag pa-pa kali. Gue udah gag naksir sama raka. Cowok dingin begitu, gantengnya juga hilang ketutup hawa dingin.” Cerocos Tita.


“Emang raka dingin ya?” Reva masih tidak percaya dengan ucapan Tita, baginya Raka sangat hangat dan membuatnya nyaman. Memang sih kalau bicara dengan orang lain terkesan ketus dan sepentingnya saja.


“Ya elah, namanya jatuh cinta, taek kucing juga jadi rasa coklat, apa lagi liat si raka dingin doang. Mana nyadar lo kalo udah jatuh cinta. Haiiisshhh keduluan gue!” dengus Dimas tidak rela.


Reva hanya tersenyum simpul. Sepertinya ia memang tidak bisa menyembunyikan apa-apa lagi dari kedua rekan kerjanya ini.


“Jadi beneran?” Tita semakin penasarann.


Satu anggukan Reva menjawab semua rasa penasaran Tita dan Dimas. Keduanya memberi ekspresi yang berbeda. Kalau Tita ia terlihat ikut senang, Dimas terlihat sangat tidak terima tapi apa boleh buat, itu sudah menjadi pilihan Reva.


***

__ADS_1


__ADS_2