Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 86


__ADS_3

Siang ini tidak terlalu indah bagi Adrian. Saat ke kamar Kean, ia mendapati sang putra yang tengah duduk sendirian dengan mainan robot-robotan di tangannya. Ia tampak lesu dan pandangannya entah kemana. Bi Asri yang sejak tadi menyuapinya, hanya menggeleng lemah saat pandangan penuh tanya Adrian tertuju padanya.


“Hay… Jagoan dady kok belum makan?” tanya Adrian seraya mengusap kepala anak tersayangnya.


Kean hanya menoleh kemudian kembali memandangi robot-robotannya. Wajah polosnya terlihat sendu tidak seperti Kean biasanya.


“Kean mau makan ayam goreng? Ayo kita makan ayam goreng sama dady.” Adrian mencoba membujuk tapi Kean tampak tidak tertarik sama sekali. “Sini sama dady nak..”


Adrian mengangkat tubuh kecil Kean dan mendudukannya di atas pangkuan. Ia tidak menolak ataupun antusias hanya terdiam saja tanpa sepatah katapun. Diusapnya kepala Kean dan ia kecup dengan lembut. Sudah 2 hari ini Kean terus seperti ini. Setiap jam makan siang Adrian selalu mengusahakan untuk pulang demi melihat buah hatinya. Tapi Kean seperti kehilangan semangatnya.


“Dady, kean boleh pinjem hp dady?” bibir kecil itu bergerak mengeluarkan suara lirih. Suara yang sangat di rindukan Adrian dan Bi Asri.


“Tentu sayang, kean mau nonton apa?” tawar Adrian yang biasanya membuka tontonan favorit Kean di ponselnya.


Kean hanya menggeleng. Ia terus memandangi layar persegi di hadapannya. “Kean mau liat mamih.” Lirih Kean seraya menatap Adrian dengan tatapan polosnya.


Lirihan Kean membuat Adrian terdiam. Hatinya tiba-tiba merasa sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Di telinganya kembali terngiang ucapan Reva tempo hari, “Sesempurna apapun seorang ayah, seorang anak akan tetap membutuhkan ibunya.” Kalimat itulah yang terus berdengung di telinga Adrian.


Selama ini, Kean tidak pernah meminta apapun. Ia selalu lebih dulu memberikan apapun sebelum Kean memintanya. Tapi melihat kean hari ini, ia mulai merasa bahwa sebenarnya ia tidak pernah mengetahui apa yang putranya butuhkan. Adrian menelan ludahnya sendiri, tenggorokannya terasa tercekat.


“Okey, kita video call mamih yaa…” Adrian sadar, ia harus mulai menurunkan egonya. Apapun masalahnya dengan Arini, Kean tidak punya kewajiban menanggungnya.


Sebuah senyuman tipis terlihat jelas di wajah jagoan kecil itu. Matanya berbinar seketika. Memang sudah beberapa bulan ini Arini tidak pernah menemuinya. Hanya bertanya kabar tentang Kean lewat Bi Asri. Dan Bi Asri dengan senang hati mengirimkan foto dan video kegiatan Kean, termasuk saat Kean sakit dan di rawat oleh Reva.


Panggilan tersambung , setelah lebih dari 3 kali deringan Arini tidak kunjung menjawab panggilannya. Wajah Kean kembali menampakan kekecewaan.


“Kean, dady janji, dady akan ajak mamih ke sini. Tapi kean harus makan ya…” bujuk Adrian dengan tatapan penuh kecemasan. Kean terlihat sayu dengan dagu yang mulai meruncing.


“Mamih sibuk. Mamih lupa sama kean…” sahut anak tersebut seraya beranjak dari pangkuan Adrian dan pergi ke tempat tidurnya.


“Kean….” Adrian tidak bisa menahan laju langkah kaki kecil itu. Ia bisa merasakan kekecewaan dan rasa sesak yang sedang di rasakan Kean.


Adrian mengguyar rambutnya dengan frustasi. Ini kali pertama baginya menghadapi Kean yang mulai menunjukkan perasaannya. Selama ini ia terus menyangka bahwa Kean sangat bahagia bersamanya. Ia bercerita dengan semangat dan tertawa dengan riang seolah di dunia mereka hanya ada mereka berdua, tapi nyatanya putranya sangat hebat. Ia menyembunyikan semua kerinduannya pada sang ibu dan berusaha terlihat baik-baik saja. Timbul sesal di hati Adrian.


****


Sesuai permintaan Niken, Reva mengantarkan makan siang untuk Raka ke kantornya. Di tangannya ia membawa sebuah tas berisi makanan yang dibuat dengan sepenuh hati oleh Niken dan Reva. Bibirnya tersenyum kala menapaki satu per satu anak tangga menuju ruangan Raka.


“Hay lana….” Sapa sebuah suara berat milik Fery.


Ia menghampiri Reva yang menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan direktur. Langkahnya terlihat santai dengan senyuman manis yang terkembang di bibirnya.


Setibanya di hadapan Reva, ia memeluk Reva dengan erat. Tidak memperdulikan tatapan para karyawan yang melihat kejadian tersebut.


“Fer lepasin, lo apaan sih.” Reva berusaha mendorong tubuh Fery tapi pelukannya terlalu erat.


“Lana… Aku kangen sama kamu. Aku gag pernah nyangka kita akan bertemu lagi.” Lirih Fery dengan mata terpejam.


Dulu saat kecil, Ia yang selalu memberikan apapun yang diminta tuan putri Lana. Ia selalu menjadi salah satu tujuan Lana untuk merengek saat Raka menjahilinya. Dan waktu berjalan begitu cepat tanpa di duga, gadis yang dulu pernah menggetarkan hatinya ternyata gadis yang selalu membuat harinya indah sejak dulu.


“Apa dulu kita berteman baik?” tanya Reva sambil kembali mendorong tubuh jangkung Fery.


Hanya sebuah senyuman tipis yang diberikan Fery. Ia menatap Reva dengan penuh kasih layaknya seorang kakak pada adiknya.

__ADS_1


“Dulu lo cengeng banget, sekarang lo galak banget.” Sahut Fery seraya mencubit gemas hidung mancung Reva.


“Issshh feryy, sakit tau…” Reva memegangi hidungnya yang berdenyut nyeri.


Fery hanya terkekeh. “Dulu lo manggil gue Kak fey, tapi sekarang lo songong gini.” Ledek Fery yang sedikit mencondongkan tubuhnya menatap telaga bening milik gadis berwajah cantik tersebut.


“Hehehehe okey kak fey… Ayo anter lana ketemu mas raka…” pinta Reva dengan manja, membuat Fery gemas melihatnya.


“Dengan senang hati tuan putri. Mari…” Fery melingkarkan tangannya di bahu Reva dan mengajaknya berjalan menuju ruangan Raka.


Pintu ruangan Raka terbuka lebar. Tampak Raka yang masih sibuk dengan setumpuk berkas di hadapannya. Wajahnya sangat serius dengan dahi yang tampak berkerut hingga tak menyadari kedatangan Reva dan Fery datang.


“Permisi… Pak direkturnya ada?” Reva mengetuk pintu masuk.


Raka segera mengangkat wajahnya yang tertunduk serius saat mendengar suara lembut tersebut.


Sebuah senyuman menyambut Reva siang itu. Raka segera beranjak dari kursinya dan menghampiri Reva.


“Hem…. Wangi apa nih?” tanya Raka yang mendaratkan sebuah kecupan di kening Reva. Reva menunjukkan tas makanan Rakanya.


“Nanya ya nanya aja, gag usah bikin jiwa jomblo gue berontak.” Cletuk Fery yang merasa iri dengan kemesraan sepasang muda-mudi ini.


“Makanya jangan nyari yang cakep doang, nyari yang bisa di ajak serius.” Sahut Raka acuh.


Ia mengajak Reva untuk duduk di sofa.


“Pamer lo bucin!” ledek Fery yang ikut duduk di hadapan Raka. Raka hanya terkekeh seolah tidak peduli dengan jiwa jomblo sahabatnya yang teriris.


“Udaaahh jangan berantem mulu. Nih pada makan dulu…”


“Wiihhh enak nih…” dengan semangat Fery mencomot makanannya.


“Cuci tangan dulu mblo!” Raka menepuk tangan Fery dengan sengaja.


“Ah sialan lo. Udah hampir masuk mulut itu makanan.” Dengus Fery seraya memandangi makanan yang tidak jadi masuk ke mulutnya. Tapi Raka malah menikmati kekesalan sahabatnya dan mulai saling menyuapi makanan dengan Reva.


Fery hanya bisa merengut melihat kemesraan yang terlihat di depan matanya.


“Ah sial, kalian emang sengaja pamer!” Fery menggaruk frustasi kepalanya namun tidak mendapat tanggapan apapun dari sahabatnya yang sedang asyik makan, seolah dunia milik mereka berdua.


****


“Ahh gila gue kenyang bangeeettt…” seru Fery sambil mengusap perutnya yang membuncit.  “Lo mesti sering-sering ke sini re biar pacar lo ini gag telat makan mulu.” Lanjutnya sambil menyikut Raka yang ikut menyandarkan tubuhnya karena kekenyangan.


Raka hanya terkekeh, pandangannya tak lepas dari gadis cantik yang tengah tersenyum seraya membereskan barang-barangnya.


“Gue yang punya pacar, lo yang kenyang ya bro!” ledek Raka


“Songong lo mentang-mentang udah punya pacar! Ah andai aja dulu kalian gag gue kenalin, kayaknya gue yang bakal nyombongin diri depan lo.” Timpal Ferry sambil melirik Reva dan mengedipkan matanya.


Raka melihat jelas aksi menyebalkan sahabatnya ini. “Jangan macem-macem lo!” Raka segera bangkit dari duduknya dan menatap Fery dengan geram. Fery hanya terkekeh melihat kekesalan Raka.  “Kamu pulang dulu ya re, aku gag mau nih cunguk tambah godain kamu.” Imbuh Raka yang benar-benar tidak rela.


“Kamu makan malem di rumah gag mas?”

__ADS_1


“Aku usahain pulang cepet yaaa… Nanti aku kabarin lagi.” Ujar Raka seraya mengusap rambut Reva dengan lembut.


“Cih! Pamer terooossss…” seru fery yang hanya di balas senyuman sarkas oleh Raka. “Meeting lo bentar lagi mulai. Reva biar gue yang anter.”


Raka melirik tidak percaya tapi apa boleh buat saat ia melihat jam yang melingkar di tangannya dan benar saja beberapa menit lagi meetingnya akan dimulai.


“Gag bakal gue gangguin juga kali bro! lo lupa refleks dia secepat cicak nangkep nyamuk?!” lanjut Fery dengan kekehan jenakanya. Ia berjalan lebih dulu menuju pintu, ia tidak ingin melihat adegan mesra perpisahan kedua insan yang sedang di mabuk cinta ini..


“Iya, mas raka selesein dulu aja kerjaannya, biar pulangnya gag terlalu malem.” Sambung Reva seraya merapikan dasi Raka beserta jasnya.


“Okey, peluk dulu bentar, biar aku tambah semangat.” Rengek Raka yang mulai mendekap Reva dengan erat. Ia menyesap kuat-kuat wangi tubuh dan rambut Reva yang selalu membuatnya lebih bersemangat.


****


 


Reva berjalan beriringan dengan Fery menapaki jalan menuju lift. Dalam beberapa saat mereka tiba dan pintu lift pun terbuka. Tampak dua orang yang tidak asing bagi mereka, ya Alea dan Edho.


Reva melangkah mundur bersama Fery mempersilakan kedua orang tersebut untuk keluar terlebih dahulu dan pintu lift pun kembali tertutup.


“Hay re, fer…” sapa Edho dengan senyuman tampannya.


“Oh Hay, tumben mampir sini. Ada apa nih?” Fery melirik Reva yang terdiam tiba-tiba. Hanya sebuah senyuman tipis yang menyapa Edho dan Alea.


“Mau ketemu om rudy” jawa Edho sambil melirik Reva yang menurutnya terlihat sangat cantik siang ini.


“Lea, tumben lo ikut?” Fery memperhatikan Alea yang sejak tadi terus memandangi Reva yang membawa kantong makanan di tangannya.


Alea tersenyum tipis, ia mendekati Reva. “Hay re…” sapanya basa basi.


“Hay lea…” sahut Reva yang masih berusaha tersenyum.


“Lo udah mau pulang re?” Edho berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung. Entah mengapa Reva bersikap tidak seperti biasanya.


“Iyaa… Gue udah mau pulang.” Reva melihat jam tangan yang melingkar di lengannya.


“O iya reva, lo gag lupa kan yang gue bilang waktu itu?” tanya Alea dengan penekanan di akhir kalimatnya. Seolah mengingatkan Reva pada ancamannya tempo hari.


Reva tampak menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya ia bergumam, apa ia dan Alea benar-benar sedarah? Kenapa terlalu jauh rasanya jarak antara mereka.


“Iya gue inget.” Reva terangguk.


Tiba-tiba rasa ketir itu kembali menyerang. Walau keluarga Adiyaksa adalah keluarga terdekatnya saat ini, tapi mengingat dirinya yang dulu, ia merasa takut kalau mereka tidak bisa menerima Reva. Satu hal yang pasti, mereka akan kecewa pada Reva.


“Bagus kalo lo inget…” timpal Alea sambil memandangi deretan ekstension kuku tangannya yang sedang ia tatap di depan matanya.


“Kalian ngomong apa sih? Kok gue gag ngerti ya…” Fery berusaha masuk pada obrolan kakak beradik yang seperti musuh ini.


“Ahhh lo gag perlu tau urusan cewek. Udah mending lo anter gue ke ruangan raka.” Alea menarik tangan Fery kuat-kuat.


“Tapi raka lagi meeting…” timpal Fery yang masih menoleh Reva yang kini di belakangnya.


“Gue bisa nunggu di ruangannya.” Sahut Alea acuh, seolah tak peduli dengan ucapan Fery. Setelah itu, entah pembicaraan apalagi diantara keduanya yang tidak bisa di dengar Reva dan Edho.

__ADS_1


****


__ADS_2