
"Gimana magang lo di Adiyaksa corp, menyenangkan?” tanya Edho sambil melirik Reva yang duduk di sampingnya.
“Sejauh ini, menyenangkan.” Sahut Reva yang asyik menggerakkan jemarinya menikmati alunan denting piano dari music box mobil mewah Edho.
“Lo bisa main piano re?”
Reva hanya menggelang kemudian menoleh Edho yang tengah tersenyum padanya. “Belom pernah. cuma penikmat aja.” sahut Reva sambil menatap jemarinya yang tiba-tiba bergerak mengikuti alunan musik tanpa ia sadari.
“Tapi kalo jari lo nari di atas papan tuts, kayaknya bakalan indah banget.” Timpal Edho yang tetap fokus menatap jalanan di depannya.
“Ah itu imajinasi lo doang. Mana ada cewek serampangan kayak gue main piano. Kalo Pyojeok Jireugi, baru gue bisa.” Sahut Reva menyebutkan salah satu istilah pukulan dalam taekwondo.
“Hahahaha.. lo emang gag seanggun yang keliatannya yaa…” ledek Edho sambil terkekeh.
Reva ikut tertawa. Tapi di bawah alam bawah sadarnya, jemarinya masih bergerak mengikuti irama yang terdengar. Entahlah, ia merasa sedikit familiar dengan bebunyian yang didengarnya.
“Dho, gue turun di depan ya?” tunjuk Reva pada sebuah bangunan rumah sakit yang masih ramai pengunjung.
“Lo sakit re?” Edho menoleh Reva dan menatapnya dengan cemas.
“Berisik kayak gini, mana bisa di sebut sakit sih. Gue mau jenguk temen.” Sahut Reva seraya tersenyum.
“Ohhh… kirain…” Edho menghembuskan nafasnya dengan lega. “Mau gue temenin gag?”
“Makasih tumpangannya, hati-hati di jalan.” Hanya itu jawaban Reva.
Edho terangguk. Beberapa saat kemudian ia melambaikan tangan saat Reva hendak berlalu pergi.
Reva melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Ia mempercepat langkah kakinya, khawatir jadwal pemeriksaan sudah habis.
Di depan ruang pemeriksaan dokter spesialis saraf, masih ada 2 orang yang menunggu. Reva segera menuju perawat bagian adinistrasinya.
“Selamat malam mba, atas nama Reva anasya udah di panggil belum ya?”
Perawatpun membuka buku catatannya. “Oh sudah mba, satu jam yang lalu.” Terang perawat tersebut seraya tersenyum.
“Saya baru dateng, bisa di periksa sekarang?”
“O boleh mba, setelah pasien yang di dalam ya…”
“Okey, terima kasih mbak…” timbal Reva yang kemudian duduk di tempat tunggu.
__ADS_1
Ia terlihat gusar. Jemarinya saling memilin satu sama lain,nafasnya pun terdengar kasar. Ia benar-benar sangat gugup, persis anak SD yang menunggu giliran suntik vaksinasi.
Dalam beberapa saat, tiba giliran Reva untuk di periksa. Ia masuk ke dalam ruangan pemeriksaan tempat dokter Gunawan menunggunya. Pemeriksaanpun di mulai dengan beberapa pertanyaan seputar keluhan Reva.
“Sejak kapan keluhan pusing dan sakit kepalanya muncul?” tanya dokter Gunawan sambil mencatat beberapa hal yang sebelumnya Reva sampaikan.
“Kalo ngerasa pusingnya sudah hampir seminggu ini. Tapi kalau di sertai sakit kepala, ada mungkin 3 hari terakhir ini.” Terang Reva mengingat kondisinya.
“Pada saat seperti apa biasanya mba Reva mengalami pusing dan sakit kepalanya? Malam hari, siang hari atau saat melihat cahaya mungkin.”
“Nggak tentu dok. Tapi saya ngerasa kalo saya lagi mengingat sesuatu atau berfikir tentang sesuatu, pusing dan sakit kepalanya muncul.”
“Kalo gitu, saya periksa dulu anatominya, silakan.”
Dokter gunawan meminta Reva berbaring di tempat pemeriksaan. Ia mulai memeriksa Reva dengan sebuah palu kecil yang ia pukulkan pada beberapa bagian tubuhnya. Ia pun memeriksa mata dan kepala Reva.
“Secara refleks tubuh, sangat bagus, tidak ada masalah. Tapi untuk lebih jelasnya, saya sarankan untuk melakukan CT-scan. Hanya saja harus pagi hari. Nanti kita bisa lihat kondisi sebenarnya seperti apa.” Terang dokter gunawan yang kembali mencatat hasil pemeriksaannya. Reva hanya mengangguk mengiyakan. “Ini obat pereda sakit dosis rendah. Hanya diminum saat sakit kepalanya muncul saja.”
Dokter Gunawan menyerahkan selembar resep pada Reva. Reva melihat sejenak resep yang tertulis tidak jelas baginya.
Selesai dengan pemeriksaannya Reva segera pamit.
****
“Masa iya gue kena tumor atau sebagainya? Kok ngeri banget sih bacanya.” Cetus Reva sambil membalik handphonenya agar tidak terlihat.
Ia beranjak dari tempat tidurnya lalu mengambil segelas susu dan membawanya ke teras kamar kostnya. Disana ia terduduk sambil menikmati semilir angin malam. Ia berusaha mencari cara sebanyak mungkin agar bisa tertidur lebih awal, sesuai saran dokter Gunawan. Tapi matanya masih enggan terpejam.
Pikirannya kembali teringat pada mimpi buruk yang kerap di alaminya. Perlahan, rasa pusing itu kembali datang.
“Astaga, gue kok jadi pusing lagi? Malah takut juga buat tidur.” Gumam Reva sambil memijat pangkal hidungnya.
Tanpa Reva tau, handphonenya sedari tadi berdering. Ada banyak panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan yang masuk, namun Reva abaikan begitu saja karena mode silent yang digunakannya.
Di tempat lain, Raka sedang mondar mandir tidak karuan. Ia terus memandangi handphonenya dan menunggu jawaban pesan atau panggilan dari Reva.
“Re, lo kemana sih gag bisa di hubungin?” dengus Raka sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Pikirannya menerawang mengingat kejadian hari ini.
“Apa dia lagi sama Edho?”
__ADS_1
Raka terbangun tiba-tiba saat mengingat Reva yang pergi bersama Edho sore tadi. Raka mengacak rambutnya dengan frustasi, ia merasa tidak rela Reva membayangkan Reva sedang bersama Edho hingga selarut ini.
“Ya tuhaaann, jangan sampeeeee” pekik Raka dengan gusar.
****
“Lo liat Reva?” tanya Raka setibanya di kantor.
Mata Tita membulat saat melihat tiba-tiba Raka menyapanya. “Lo liat Reva gag?” Raka mengulang pertanyaannya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Tita yang belum tersadar.
“Hah? O Reva, dia izin gag masuk. Katanya mau ke kampus.” Terang Tita dengan tergagap.
“Kenapa dia gag ngasih kabar?” gumam Raka yang masih bisa di dengar oleh Tita.
“Lo berantem sama Reva?”
Tita menatap Raka dengan seksama. Raka hanya menolehnya lalu kembali memalingkan wajah. Tak lama handphone Raka berdering, sebuah pesan masuk.
“Bisa keruangan om sekarang? Ada yang penting.” _Rudy
“Haaiisshh apa lagi sih!” dengus Raka sambil berlalu pergi meninggalkan Tita yang masih kebingungan.
Disini, Reva tengah menunggu dengan gusar. Dokter Gunawan sedang memeriksa hasil CT scan Reva yang terpampang di layar monitor miliknya. Reva benar-benar tidak sabar menunggu hasil pemeriksaannya. Tangannya saling bertautan dengan erat, sementara kakinya bergetar tidak jelas.
“Hasilnya bagus, tidak ada masalah.” Tutur dokter Gunawan seraya menatap Reva.
“Hah? Benar dok?” Reva menghembuskan nafasnya dengan lega.
“Iya, dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda permasalah dengan pembuluh darah atau tumor. Mba Reva sehat.” Gunawan mengulang penjelasannya.
“Terus pusingnya gara-gara apa ya dok?” Reva kembali di buat penasaran.
“Hem… Rasa pusing dan sakit di kepala biasanya tidak hanya di karenakan oleh masalah fisiologis tapi juga bisa karena masalah psikologis. Terlebih sakitnya datang saat mba Reva sedang berfikir. Saya sarankan, coba untuk konsultasi dengan seorang psikolog. Mungkin itu bisa lebih membantu.” Terang dokter Gunawan dengan jelas.
Reva kembali terangguk. Otaknya kembali berfikir dan dalam sekejap perasannya menjadi lebih tidak karuan. Ada rasa cemas yang tidak bisa ia utarakan.
Dokter Gunawan memberi rekomendasi seorang psikolog dan Reva menerima kartu namanya dengan senang hati. Reva menatap kartu nama itu lekat-lekat, ia masih tidak menyangka harus sampai pada titik konsultasi dengan psikolog. Bagi orang awam seperti Reva, hanya penyakit kejiwaan yang mungkin saat ini sedang dialaminya tanpa ia sadari, sehingga harus konsultasi pada psikolog.
“Konsul dengan psikolog, bukan berarti seseorang di anggap mengalami gangguan jiwa atau mental. Tapi lebih untuk mencari tau kondisi kejiwaan kita.” Ujar dokter Gunawan yang seolah tau arti tatapan bingung Reva.
__ADS_1
Reva hanya termenung. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri. Berusaha mengusir rasa takut dan cemasnya yang justru semakin bertambah.
****