Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 74


__ADS_3

“Bro, lo yakin mau nyari Lana lagi? Bukannya lo sendiri yang minta bokap gue supaya gag ngikutin permintaan nyokap lo?” tanya Fery yang tak habis pikir dengan tugas baru yang diberikan Raka.


“Iya, gue masih mau mastiin, Lana masih hidup atau udah gag ada. Lo tau fer, belakangan ini gue sering mimpiin Lana. Mungkin ini pertanda dia pengen gue cari. Jadi gue mohon, lo bantu gue nyari Lana sekali lagi.” Terang Raka dengan penuh kesungguhan.


Jika sudah seperti ini, tentu saja Fery tidak akan bisa menolak. Ia mulai menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk menyebar mencari keberadaan Lana.


Suasana hari pertama Raka menjabat sebagai presiden direktur berjalan dengan lancar. Hanya saja ia terus teringat pada sang kekasih yang saat ini sedang menjalani sidang skripsinya. Berkali-kali ia mengirim pesan untuk  Reva tapi belum ada satupun yang dibalasnya. Alhasil, ia hanya bisa memandangi foto Reva yang mengisi hampir 90% galery ponselnya.


“Fer, tolong siapin makan malam dong buat gue sama bokap nyokap.” Pinta Raka tiba-tiba.


“Tumben, ada acara apa nih?” Fery menghentikan pekerjaannya di laptop dan mulai fokus pada bos barunya.


“Gue mau ngenalin reva secara resmi sama bokap nyokap gue.” Sahutnya seraya tersenyum senang.


“Gila, cepet banget! Gag salah nih?” Fery terkekeh tidak percaya.


“Ya seperti yang lo bilang, cewek gue itu Shining, shimmering, splendid, banyak banget yang deketin dia. Apalagi tuh si mantan pacar. Dia pake anaknya buat deketin reva. Makanya gue mau cepet-cepet resmiin hubungan gue sama reva.” Ujar Raka dengan berapi-api.


Fery hanya tergelak, sekali dalam hidupnya ia melihat Raka bersikap posesif ya baru saat ini. Benar-benar tidak seperti Raka yang ia kenal. Tidak ada lagi Raka yang dingin, acuh dan masa bodo.


“Gila lo bucin, bucin…” ledek Fery yang mendapat sambutan lemparan ballpoint dari bosnya.


****


Reva masih menunggu dengan gusar namanya di panggil ke ruang sidang. Tangannya sudah terasa dingin dengan lutut yang bergetar tak menentu. Berkali-kali ia melakukan inhale dan ekshale, tapi tidak cukup untuk mengusir rasa gugupnya.


Tepat di hadapannya ada seseorang yang memberinya sebotol air mineral. Reva mendongakkan wajahnya dan terlihat jelas Adrian tengah berdiri di hadapannya.


“Minum dulu, biar gag panik.” Tutur Adrian seraya tersenyum.


“Kamu ngapain ke sini kak?” tanya Reva seraya meraih air yang disodorkan Adrian.


Adrian hanya tersenyum.  Ia duduk di samping Reva yang masih terlihat gugup.


“3 tahun lebih aku gag ke sini. Suasananya masih tetep sama. Ada kantin yang ramai, mahasiswa yang nakal, dosen yang galak dan kamu yang selalu muncul dipikiran aku.” Ujar Adrian seraya menoleh Reva.


Reva segera memalingkan wajahnya. Ia meneguk minumannya dan pura-pura tidak mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Adrian.


“Kamu baik-baik aja kan sama pacar kamu? Keliatannya semalem dia marah banget. Aku bisa kok bantu kamu buat jelasin.” Lanjut Adrian tanpa ragu.


Reva menarik nafas dalam-dalam. Saatnya untuk ia menghadapi Adrian.


“Aku sama mas raka baik-baik aja. Malah gara-gara kejadian semalem, kami semakin yakin sama perasaan masing-masing.” Timpal Reva seraya tersenyum bangga.


Secepat itu pula raut wajah Adrian berubah. Ia mengusap wajahnya dengan kasar seolah tidak terima.

__ADS_1


“Kalau aku bilang aku yakin bakal ngejar kamu dan dapetin kamu lagi, gimana re?”


Nafas Reva seolah tercekat. Entah darimana pemikiran sialan itu muncul dikepala Adrian.


Reva berusaha tenang. Ia menatap Adrian seraya tersenyum. “Silakan, tapi aku yakin dengan perasaan aku dan raka. Tapi sebaiknya, jangan kamu coba  atau kamu akan terluka sendiri. Itu tuh rasanya sakit.” Tegas Reva yang berusaha tenang dengan kalimat yang disampaikannya.


Lagi-lagi Adrian hanya tersenyum, ia berusaha  menyembunyikan rasa sakit dari ucapan yang Reva sampaikan.


Tak lama berselang, nama Reva di panggil untuk masuk ke ruang sidang. Dengan langkah mantap, ia meninggalkan Adrian.


Adrian masih memandangi punggung Reva yang berlalu meninggalkannya.


“Aku menyesal re, aku benar-benar menyesal… Tolong kasih aku kesempatan…” Batin Adrian yang berontak dengan keadaan yang lagi-lagi tidak berpihak padanya.


****


2 jam berlalu sudah. Dimulai dengan presentasi yang berjalan lancar, diskusi dan ujian skripsi dapat Reva lalui dengan lancar. Baru hari ini ia bisa merasakan tugasnya sebagai mahasiswa berakhir sudah. 4 tahun lebih ia berada di kampus ini, dengan segala gejolak dan dinamika yang ia hadapi.


Kelak, ia tentu akan merindukan saat ia menjalani ospek, dikerjai oleh senior dan kejadian lucu lainnya termasuk jatuh cinta pada Adrian.


Reva bisa menarik nafas lega, saat sang dosen penguji memberikan nilai nyaris sempurna untuk skripsinya. Menghitung seminggu dari sekarang ia akan mendapat pengumuman yudisiumnya dan menyambung wisuda, hari yang sudah sangat ia nanti.


Di kampus ini, suatu hari ia akan mengajak ibu untuk berdiri dan berfoto dengan bangga. Beragamm ujian telah ia hadapi dan nanti ia bisa tersenyum dengan bangga mengatakan pada dunia bahwa usahanya tidak sia-sia. Beberapa hari kedepan pula magangnya akan selesai. Ia berharap, bisa mendapatkan penilaian yang bagus sebagai rekomendasinya saat mencari kerja.


Di teras salah satu ruangan Reva mendengar sorak sorai dari mahasiswa lain yang juga sudah selesai dengan sidangnya. Mereka saling berpelukan meluapkan kebahagiannya. Jika saja Riana tidak mengambil cuti, mungkin saat ini ia sedang berpelukan mengekspresikan kebahagiaannya bersama Riana.


“Mas, aku baru selesai. Dan alhamdulillah semuanya berjalan lancar.” Tulis Reva dengan di akhiri emoticon syukur.


Ia mulai mencari nomor Ratna, dalam kondisi membahagiakan ini ia ingin sekali mengabari wanita paruh baya yang telah susah payah merawat dirinya dan berdo’a untuk setiap kelancaran urusannya.


“Halo, Assalamu ‘alaikum bu…” sapa Reva saat mendengar jawaban dari sebrang sana.


Ia bisa mendengar suara Ratna dan para adik yang riang gembira mendapat telpon darinya.


“Bu, hari ini rere baru selesai sidang. Dan berkat do’a ibu, semuanya berjalan lancar.” Tutur Reva dengan penuh rasa haru.


“Alhamdulillah… kamu memang anak ibu. Akhirnya hari ini tiba re… Kamu sebentar lagi jadi sarjana.” Ungkap Ratna dengan penuh kesungguhan.


“Iya bu… gimana kabar ibu dan adik-adik?”


“Kabar ibu dan adik-adik baik nak. Kapan kamu pulang? Ibu dan adik-adik udah kangen…”


Dalam beberapa saat, bayangan wajah Ratna terlukis jelas di ingatannya. Ia bisa membayangkan wajah yang sudah tidak muda lagi itu tengah tersenyum sambil menahan sedu sedan di dadanya.


“Selesai magang, rere pulang. Gag lama lagi kok bu. Rere juga kangen sama ibu dan adik-adik.”

__ADS_1


“Iya ibu tunggu nak… Jaga diri kamu baik-baik nak… kabari ibu kalau kamu mau pulang, nanti ibu masakin makanan kesukaan kamu.” Tukas Ratna.


Setelah saling memberi salam, Reva pun mengakhiri panggilannya.


****


Menikmati suasana kampus di akhir gelarnya sebagai mahasiswi menjadi ide baru untuk Reva. Ia jalan-jalan berkeliling mengitari kampus, mempotret setiap sudut yang menurutnya sangat berharga dan akan ia rindukan.


Langkahnya terhenti saat ia berada di depan kantin, tempat favoritnya menghabiskan waktu. Senyum ramah pemilik kantin menyambut Reva dan mengajaknya untuk duduk di bangku yang senantiasa menjadi tempat Reva menikmati makanannya.


Satu menu makanan sudah tersaji di hadapan Reva. Soto ayam yang menggiurkan membuat Reva tak ingin membuang waktunya untuk segera menyicipi salah satu makanan khas kota jakarta tersebut. Di temani segelas es jeruk, makanan itupun tandas berpindah ke perut Reva.


“Hay re…” sapa seorang laki-laki yang tidak lain adalah Jeremy.


“Hay jer, lo ada di kampus juga?” sahut Reva dengan wajah senangnya.


“Iya, ini riana minta gue bawain ini buat lo. Semoga lo suka  katanya..” Jeremy menyerahkan bucket bunga yang dititipkan Riana untuk Reva. Di atasnya terdapat sebuah kartu ucapan selamat untuk Reva.


“Wah makasih jer, gimana kabarnya bumil sama calon jagoan lo? Udah lama gue gag ketemu.”


“Mereka sehat. Anak gue juga semakin aktif dan perut riana semakin besar. Kadang gue gag tega kalo liat dia malem-malem berasa kegerahan dan sesek gitu.” Ungkap Jeremy dengan raut cemasnya.


Reva hanya tersenyum. “Lo banyak berubah jer… Gue seneng banget. Makasih lo udah sayang banget sama riana.” Ungkap Reva dengan penuh kesungguhan.


“Iya re, gue juga gag nyangka. Gue kira gue bakalan terus-terusan jadi ******** yang ngejar-ngejar lo.” Cetus Jeremy seraya terkekeh.


Reva ikut tergelak. Sedikit banyak Jeremy menjadi bagian dari hidupnya melewati waktu yang tidak singkat ini. Banyak cerita yang kelak akan dia kenang saat mereka sudah menua.


“Re, gue denger tadi ada adrian ke sini. Lo ketemu sama dia?” selidik Jeremy yang mendapat kabar dari para kumbang.


Reva hanya terangguk lalu tersenyum. “Gue udah beberapa kali ketemu dia.”


“Ah sial! Mau apa lagi tuh laki? Tapi dia gag gangguin lo kan?” timpal Jeremy dengan segera.


“Ya siapa sih yang gag ke ganggu kalo masa lalu yang coba dia hindari sekarang datang lagi?” Reva malah balik bertanya seolah menegaskan bahwa ia memang merasa terganggu. “Tapi, gue udah gag mau mikirin itu. Gue udah bahagia dengan hidup gue sekarang. Dia mau datang silakan, mau pergi juga gue gag akan keberatan.” Lanjut Reva seraya tersenyum.


“Pokoknya, lo jangan mau lagi di rayu sama tuh laki. Kalo dia berani macem-macem, lo kasih Aidan Dollyo Chagi aja biar dia kapok.” Timpal Jeremy seraya memperagakan gerakan tersebut.


“Ya kali gue mau bikin anak orang masuk rumah sakit jer.” Sahut Reva yang di sambut tawa renyah keduanya.


“Ya udah re, gue pulang dulu ya.. kebetulan riana nitip ini ono, maklum ngidamnya berkepanjangan.” Pamit Jeremy dengan senyum jenakanya.


“Hahahaha okey… Gitu dong jadi bapak siaga. O iya, jangan lupa sampein salam sama terima kasih gue buat riana.”


“Okey!” sahut Jeremy seraya mengacungkan ibu jarinya. Dalam beberapa saat Jeremypun berlalu.

__ADS_1


****


__ADS_2