Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 90


__ADS_3

Di ruangan lain, seorang gadis tengah terisak dengan amarah yang masih bersarang di dadanya. Ia tengurap dengan bantal yang sudah basah dengan air matanya. Ia sendirian, mengingat setiap waktu yang ia lewati saat ada dan tiada Alana.


Mungkin ia akan kembali merasakan kasih sayang yang terbagi antara ia dan adik kecilnya. Bertahun-tahun ia menjadi poros keluarga ini, rasanya ia tidak rela kalau perhatian Indra dan Nida kembali terbagi.


“Kenapa lo harus kembali hah? Kenapa?!” pekik Alea dalam tangisnya.


Bayangan Raka dengan tatapan yang hanya tertuju pada Reva, senyum Wira dan Niken yang hangat pada Reva, serta pelukan penuh kasih yang diberikan Indra dan Nida semakin membuat dadanya sesak.


Alea bangkit dari baringnya, ia berjalan menuju cermin yang memantulkan wajah penuh amarah dengan mata merah dan berair. Ia terduduk di depan cermin lalu tersenyum dengan sebuah tekad yang kuat dalam dirinya, yang harus menjadi miliknya, akan selalu menjadi miliknya.


****


Ini adalah makan malam pertama Reva di keluarga Wijaya. Ia duduk di samping Nida yang terus menerus memberinya lauk. Makanan yang tersajipun benar-benar banyak.


“Ikannya sayang…” Nida mengambil sepotong ikan dan menempatkannya di piring Reva.


“Piringku penuh mih, jadi berasa makan di kondangan.” Tutur Reva yang di sambut tawa renyah Indra dan Nida.


Di depannya ada Edho yang sejak tadi terus menatapnya tidak percaya. Ia menikmati kanannya dengan gusar, hatinya benar-benar gamang. Sementara Alea, memilih untuk tidur lebih awal menurut Edho. Dan sejak pertengkaran tadi, ia belum keluar lagi dari kamarnya.


Benar adanya bahwa kehadiran Reva telah menghangatkan kembali rumah ini. Nida yang biasanya hanya berdiam diri di kamar, melamun sendirian dan tampak tidak memiliki gairah, kali ini dimatanya terlihat jelas semangat hidup yang baru tengah menyala-nyala. Bibirnya selalu menunjukkan senyuman lebar dan tawa renyah saat mendengar celotehan Reva.


“Dulu waktu kita makan siang bareng, mamih kira kebetulan banget kalo kamu dan papih punya selera makan yang sama, nyatanya kebiasaan papih emang nurun banget sama kamu sayang.” Nida kembali mengenang kehangatan yang sama saat Reva berada di tengah-tengah mereka.


“Udah papih bilang, gen papih lebih kuat di darah mereka di banding gen mamih.” Aku Indra dengan jumawa.


Nida berdecik kesal, suaminya ini benar-benar berbeda hari ini. Tidak ada lagi Indra yang selalu serius dan berbicara seperlunya.


“Ngomong-ngomong lana, mamih belum pernah bertemu dengan wanita yang sudah membesarkan kamu. Mamih sangat bersyukur kamu berada di tangan seorang ibu yang begitu baik dan mamih harus berterima kasih.” Ungkap Nida dengan penuh kesungguhan.


Reva terangguk, ia kembali teringat wanita yang begitu menyayanginya.


“Ibu, ibu lagi ngapain?” batin Reva yang tiba-tiba saja merindukan Ratna.


Indra dan Nida melihat perubahan ekspresi Reva walaupun ia coba menutupinya. Dan panggilan Lana, ia benar-benar belum terbiasa. Tapi sejak tadi, Nida dan Indra terus memanggilnya dengan nama tersebut.


“Ibu adalah ibu yang sangat baik. Reva gag pernah ngerasa kalau beliau hanya sekedar membesarkan Reva. Ia sangat menyayangi reva dan reva pun sayang sama ibu.” Suara Reva terdengar bergetar di akhir kalimatnya.


Nida tersenyum tipis seraya menggenggam tangan sang putri. Ia mengerti benar perasaan yang berkecambuk di dada anaknya.

__ADS_1


“Tentu sayang, beliau pasti sangat menyayangi kamu. Beliau membesarkan dan mendidik kamu dengan sangat baik. Dan lana, walaupun kami orang tua kandungmu, mamih sama papih tidak akan membatasi kalau kamu mau ketemu sama ibumu atau mamah niken dan papah wira. Mereka semua menyayangimu dan pasti berarti buat kamu.” Tegas Nida dengan penuh ketenangan.


Reva terangguk paham. Sudut hatinya menghangat, betapa ia sangat beruntung karena memiliki 3 ibu yang menyayanginya dan 2 ayah yang juga mencintainya.


****


Malam semakin pekat tapi Reva masih belum bisa memejamkan matanya. Ia memilih untuk pergi ke taman belakang, taman yang Nida tata dengan indah.


Reva berjalan-jalan di sekitar taman. Ia memperhatikan satu per satu bunga yang bermekaran dan memberi warna indah di taman tersebut. Pandangannya tertuju pada bunga baby breath dalam beberapa pot besar. Ia tersenyum, bunga ini terlihat sangat cantik. Ia teringat bahwa di rumah dan apartemen Raka pun banyak bunga baby breath kering, mungkin sengaja Raka simpan untuk dirinya.


Terdengar handphone Reva berdering, ia tersenyum tatkala melihat siapa yang melakukan panggilan video untuknya.


“Ahhh kamu tau aja kalo aku lagi inget kamu mas..” gumamnya sebelum menjawab panggilannya.


“Hay pacar, kamu lagi ngapain?” sapa Raka dengan senyuman tampannya.


“Hay, aku lagi liat-liat bunga mas. Kamu belum tidur?” Reva melihat Raka yang masih terduduk dengan bersandar pada pinggiran tempat tidurnya.


“Belum, aku kangen kamu, gag bisa tidur…” ujar Raka dengan penuh kesungguhan.


Reva tersipu, tatapan Raka yang seperti itu selalu berhasil membuat jantungnya berdebar kencang.


“Kalo gitu, aku ke sana ya re…” Raka segera bangkit dari duduknya.


“Eh jangann, ini udah malem. Kamu harus istirahat, besok ada pekerjaan yang nunggu buat kamu selesaikan, jadi kamu harus fit mas.” Sanggah Reva seraya mengepalkan tangannya memberi semangat pada Raka.


Raka hanya tersenyum. Ia mengusap layar handphonenya yang menampilkan wajah Reva. Sejujurnya perasaannya tak tenang meninggalkan Reva di rumah tersebut. Ia tahu seperti apa dulu saat Reva berada di rumah itu tapi ini pilihan Reva dan ia sudah dewasa. Ia harus menghadapi kondisi keluarganya sendiri.


Masih teringat jelas di ingatan Raka saat Lana kecil menelponnya tengah malam. Lana terbangun karena hujan deras yang diselingi petir saling menyambar. Ia ketakutan dan hanya sendirian di kamarnya. Saat pergi ke kamar Nida, kamarnya kosong begitupun dengan kamar Alea. Rupanya mereka menginap di hotel tempat acara perusahaan di langsungkan. Lana memang tidak ikut ke acara tersebut karena Alea selalu bersikap tidak menyenangkan saat mereka pergi bersama. Dan seperti pilihan sebelum-sebelumnya, ia hanya sendirian di kamarnya tanpa di temani siapapun di rumah sebesar itu.


Semuanya ia miliki, ia bisa minta apapun tapi ia tidak pernah bisa meminta perhatian lebih dan kehangatan dari kedua orangtua dan kakak kandungnya.


Detik itu juga, Raka dan Niken menjemput Lana ke rumahnya. Lana kecil menangis sendirian di kamarnya. Ia hanya bisa memeluk tedy bear yang Raka berikan saat ulang tahunnya yang ke empat. Ia menangis sesegukan di pelukan Niken, tubuhnya gemetar karena ketakutan.


Hingga 3 hari Lana menginap di rumahnya, tidak satu kalipun Nida atau Indra menjemputnya. Mungkin mereka berfikir bahwa putrinya baik-baik saja bersama Niken dan Wira. Namun tidak begitu dengan perasaan gadis kecil itu, rasa takut itu membekas di hatinya. Dan yang lebih parah adalah rasa tidak diinginkan semakin bersarang di dadanya.


“Re, kapanpun kamu mau kembali ke rumah ini, kamu bisa datang, atau aku akan jemput secepatnya.” Tegas Raka yang benar-benar di landa ketidak tenangan.


“Mas ngomong apa sih… Aku baik-baik aja di sini. Tapi makasih, sesekali aku pasti ke rumah kamu. Gangguin kamu, mamah sama papah.” Reva terkekeh di ujung kalimatnya.

__ADS_1


Perasaan yang di rasakan Reva pun memang tidak karuan. Ia lebih merasa nyaman di sisi Niken dan Wira tapi ia menganggapnya mungkin karena waktu yang mereka lalui bersama belum lah lama.


“Iya aku pasti nunggu saat kamu pengen gangguin aku.” Kedip Raka dengan genit.


“Isshh kamu belajar dari mana genit kek gitu?” Reva malu sendiri melihat kelakuan Raka.


“Loh, dari kecil kita udah di tanya “mana genitnya mana?” kayak gitu loh re” timpal Raka yang tidak mau kalah


“Hahaha, iya sih kamu bener… Gantengnya manaaa?” goda Reva pada Raka. Ia tertawa begitu renyah saat Raka justru malah meledeknya dengan wajah jelek.


Hati Raka menghangat, akhirnya ia bisa kembali melihat wajah cantik itu tertawa lepas, sesuatu yang selalu membuatnya ikut bahagia.


“O iiya, Besok gag ada yang ngajak aku makan siang dong?” Raka berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Hem iya, besok kamu makan sama kak fey dulu yaaa… Soalnya aku mau ke kampus, kan besok aku yudisium.”


“Bentar, sejak kapan kamu manggil cunguk itu kak fey?” Ekspresi wajah Raka berubah seketika.


“Sejak barusan. Kata dia dulu aku manggil dia gitu.”


“Gag, kamu gag boleh manggil dia gitu!”


“Loh kenapa emang?”


Raka teringat dulu saat Fery begitu jumawa memberi tahunya kalau Lana merengek manja dan memanggilnya “Kak Fey” saat itu juga rasanya dia ingin muntah bercampur kesal kalau harus membayangkan kejadian itu.


“Pokoknya gag boleh!” Raka keukeuh dengan pendiriaannya.


“Issh mas raka mah suka gag jelas. Ya udah gag lagi, tapi itu mata tolong di kondisikan, gag  usah melotot gitu.” Reva ikut membulatkan matanya.


Benar, Raka memang tidak menyadari ekspresinya. Ia gelagapan sendiri dan segera tersenyum pada Reva. “Nah gitu kan ganteng…” Reva mengacungkan ibu jarinya pada Raka.


“Ya udah, sekarang kamu istirahat gih, udah malem, nanti masuk angin.”


“Iya, mas raka juga istirahat yaa… “


“Nite re, love you…” ujar Raka dengan tatapan lekat.


“Nite mas, love you too…” Reva tersipu malu. Sebuah kecupan virtual menjadi penutup percakapan mereka.

__ADS_1


****


__ADS_2