Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 38


__ADS_3

Wajah Raka masih tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Ia berjalan dengan cepat menuju ruang kerjanya dengan diikuti Fery yang tersenyum simpul melihat wajah sahabatnya ini. Beragam sapaan dan anggukan yang di terimanya, ia abaikan begitu saja.


Di ruang kerjanya, Raka menjatuhkan tubuhnya pada sofa dan terbaring di sana dengan dengusan nafas kasar yang terdengar jelas.


Belum reda rasa kesalnya saat melihat Reva balas menyalak amarahnya, jantungnya hampir terhenti saat Reva terkulai tidak berdaya. Rasanya, jantung Raka jatuh hingga ke dasar perutnya. Benar-benar mengagetkan.


Beragam kalimat umpatan yang Ia lontarkan nyatanya tidak membuat perasaannya membaik. Ia membenci saat-saat seperti ini, saat ia mengeram kesal karena mencemaskan seseorang yang bahkan tidak menyadari perasaannya.


“Bro! lo tenang dikitlah, reva udah baik-baik aja sekarang.”


Fery berusaha mengusir suasana tegang yang menyelimuti ruangan tersebut.


Raka membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Ia berusaha bangkit dan duduk menyandar pada pinggiran sofanya.


“Kenapa dia keras kepala banget sih!”


Raka mengusap wajahnya dengan kasar. Masih jelas diingatannya ekspresi kemarahan Reva saat menatapnya dengan dingin.


“Bro, lo harus ngerti lah maksudnya reva. Dia cuma pengen ngerjain pekerjaannya dengan benar. Lo harusnya bangga dia punya rasa tanggung jawab yang besar sama kerjaannya.”


“Ya tapi dia gag perlu juga bantah gue! Dia lupa apa sama posisi dia sama gue!”


Raka masih tidak terima saat Reva berteriak padanya.


Fery hanya terkekeh. Rupanya sahabatnya mulai ketularan “Suka melupakan” seperti Reva.


“Ketawa lagi lo!” sentak Raka dengan tatapan seperti ingin merobek mulut Fery. Namun Fery tidak ambil pusing. Ia tahu, Raka yang kaku dan dingin tidak akan sejahat itu padanya.


“Lo lupa ya, lo kan lagi berperan sebagai anak magang. Mana ada dia denger omongan lo!” ledek Fery yang telah membuat Raka terpaku dan mulai sadar.


Raka mendengus kesal, bukan pada ucapan Fery tapi pada kenyataan pilihan yang ia ambil.


“Ini resikonya kalo lo gag mau ngasih liat wujud asli lo.” Sambung Fery masih dengan seringai ledekannya pada Raka.


Raka memandang Fery dengan sinis lalu memalingkan wajahnya dengan kesal. “Cih! Semua perempuan tuh sama! Cuma mau baik-baik sama laki-laki yang berduit dan memiliki jabatan!” tergambar jelas kekecewaan di wajah Raka. Reva yang ia anggap berbeda ternyata sama seperti wanita kebanyakan, baru akan mendengar saat yang berbicara di hadapannya lebih tinggi statusnya.


“Hahahaha ternyata lo masih belum ngenal dia!” gelak Fery yang merasa lucu dengan ucapan Raka.


“Maksud lo?!” lagi-lagi tatapan sinis yang Fery terima.


“Bro! lo jangan lupa, ini lo lagi di kantor Adiyaksa corp. yang si Reva denger, ya pasti perintah atasan nya lah! Mana ada dia lebih denger omongan teman magangnya.” Fery memberi penekanan di dua kata terakhirnya membuat Raka terlihat berfikir keras. “Dan lagi, banyak cowok berduit yang deketin doi, tapi dia tetep ngasih standar service yang sama buat para kumbang. Dan lo yang keliatan gembel depan dia, dia tetep mau temenan sama lo kan?! Itu artinya, dia gag silau sama duit yang kalian punya!” tukas Fery dengan penuh keyakinan.


Raut wajah Raka kembali berubah. Ia menghelas nafasnya perlahan, sepertinya ia mulai mengetahui titik kemarahan Reva. Terbit rasa bersalah dalam hatinya, saat ia mengingat bagaimana Reva terkulai tidak sadarkan diri dihadapannya.


Raka mengacak rambutnya dengan kesal. Rasa sesal menjadi satu-satunya yang mendominasi perasaannya saat ini.

__ADS_1


Sementara Fery hanya terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya yang di luar nalar. Raka yang kaku, dingin dan tidak peduli dengan pemikiran dan sikap orang lain terhadapnya, berubah menjadi Raka yang begitu memikirkan perasaan seorang gadis.


Dari sekian banyak gadis berwajah cantik dengan penampilan seksi yang menggodanya, hanya Reva yang membuat Raka bisa menatapnya dengan lekat dan menunjukkan perhatiannya. Fery menggeleng tidak percaya saat mengingat perjalanan hidup sahabatnya yang kerap ia panggil “Si Kaku”.


“Gila, lo jatuh cinta men!” seru Fery sambil menonjok pelan lengan atas Raka.


Raka hanya terdiam, ia tidak peduli dengan ledekan Fery. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya Reva, Reva dan Reva.


****


 


Kondisi Reva di rasa mulai membaik. Ia segera kembali ke meja kerjanya yang sudah rapi tanpa ada berkas sedikitpun.


“Dim, berkas-berkas di sini kemana?” tanya Reva yang kebingungan.


“Di ambil bu lenna.” Jawab Dimas dengan segera.


Tanpa berlama-lama, Reva segera menemui Lenna yang tengah membereskan barang-barangnya.


“Permisi bu…” Reva mengetuk pintu ruangan lena yang terbuka lebar.


Lenna hanya tersenyum dan mempersilakan Reva masuk. Matanya terlihat sembab dengan berkas air mata yang belum terhapus seluruhnya. Reva duduk di hadapan Lenna dengan tak nyaman.


“Ibu mau kemana?” tanya Reva perlahan.


“Loh kenapa? Ibu kena teguran? Apa ini gara-gara kerjaan saya belum selesai?”


Reva tidak habis pikir dengan yang dilihatnya saat ini.


“Bukan, ini karena saya memang tidak kompeten kerja di sini. Saya selalu pulang tepat waktu karena mengurus anak saya yang sakit-sakitan sehingga banyak pekerjaan saya yang terbengkalai. Dan akhirnya saya membebankan kamu pekerjaan yang seharusnya menjadi kewajiban saya. Maafkan saya Reva.”


Lenna tertunduk malu. Tapi penyesalannya tidak bisa membuat ia kembali pada pekerjaannya.


Sudut hati Reva terenyuh. Bagaimanapun Lenna seorang wanita kuat yang berjuang sendirian membesarkan 2 anaknya yang mulai beranjak remaja. Ditambah kondisi kesehatan anak bungsunya yang tidak terlalu baik, tentu saja membuatnya kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya. Sampai di sini, ia paham dilema yang dialami Lenna.


“Maafkan saya juga karena tidak bisa banyak membantu ibu…” ujar Reva dengan penuh kesungguhan.


Lenna hanya terangguk. Tangan kirinya mengambil tissue dan melap matanya yang masih berair. Dalam diamnya, Reva terus berfikir tentang kondisi Lenna saat ini. Bagaimanapun ia pasti sangat membutuhkan pekerjaannya.


****


 


Disinilah Reva saat ini. Berada di sebuah rumah yang besar dengan desain minimalis milik seorang psikolog yang direkomendasikan oleh dokter Gunawan. Wanita paruh baya dengan pembawaan yang tenang bernama Marini.

__ADS_1


Mata Reva tertutup selembar kain berwarna hitam dengan tubuh terbaring di atas kursi terapi yang nyaman.


“Apa yang Reva rasakan saat ini?”


Marini bertanya dengan suara yang lembut, membuat sudut hati Reva terenyuh. Begini rasanya di tanyakan kabar dengan sepenuh hati. Meski ini sebuah pekerjaan profesional tapi pertanyaan Marini benar-benar menyentuh hati Reva.


“Saya…” Reva menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ada sekelumit perasaan yang sulit ia jabarkan.


Marini menepuk bahu Reva, berusaha menguatkan. Ia tahu sesulit apa mengenali sisi seseorang yang tidak ingin ia ceritakan.


“Dalam sebulan ini, saya sering mengalami mimpi buruk. Saya sangat sulit untuk tertidur bahkan kadang merasa takut dan cemas  serta khawatir bertemu dengan mimpi yang sama. Namun akhir-akhir ini saya merasa semakin parah. Saya sering mengalami sakit kepala disertai bayang-bayangan yang muncul begitu saja di pikiran saya. Terakhir beberapa hari lalu, saya mengatakan apa yang ada di pikiran saya tanpa saya sadari. Dan saya melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin saya lakukan. Saya merasa tidak mengenali diri saya sendiri.” Terang Reva sambil tersedu.


“Mimpi seperti apa yang mba Reva maksud?”


“Saya bermimpi…. Melihat seorang anak perempuan yang berjalan di bawah guyuran hujan. ia kedinginan dan saya bisa merasakan hawa dingin itu. Ia ketakutan dan saya pun bisa merasakan ketakutan itu. Saya sendiri tidak tau apa yang di alami gadis itu tapi saya merasa kalau saya tidak hanya melihatnya tapi itu mungkin diri saya di masa lalu.”


“Maksud mba Reva?”


“Saya di besarkan di panti. Alasan apa yang membawa saya ke panti itu saya sendiri tidak tau. Tapi menurut penuturan ibu panti, tiba-tiba beliau menemukan saya tergeletak tidak sadarkan diri di pintu panti dengan tubuh penuh luka. Saya berfikir, mungkin orang tua saya tidak menginginkan saya dan membuang saya begitu saja. Maka dari itu, sebisa mungkin saya melupakan kejadian itu tapi semakin lama semakin sering bayangan itu berputar di pikiran saya.” Dengus Reva yang kemudian terisak.


Marini membiarkan sejenak Reva dalam tangisnya. Ia meminta Reva membuka penutup matanya dan menyodorkan segelas air. Reva meminumnya hingga habis.


“Mba Reva masih bisa lanjut atau mau istirahat dulu?” tawar Marini dengan hangat.


“Saya masih mau lanjut.” Sahut Reva yang kembali memakai penutup matanya dan berbaring.


“Mba Reva, setiap manusia di anugrahi namanya mekanisme koping. Itu adalah cara psikis kita merespon setiap kejadian yang terjadi pada kita. Untuk kejadian yang tidak diinginkan atau negatif, tubuh kita biasanya akan melakukan supresi atau menekan pengalaman buruk dan traumatis ke alam bawah sadar kita. Tapi ada kalanya, seseorang memaksa melupakan sesuatu yang tidak menyenangkan secara sengaja dan kita mengenalnya sebagai represi . Emosi terpendam tidak akan pernah mati. Mereka akan tetap ada seperti dikubur hidup-hidup dan dapat muncul sewaktu-waktu dengan cara yang lebih buruk. Dan Psikis kita ibarat cangkir, kalau terus di isi bahkan di tekan dengan kuat, dia akan pecah sehingga semua memori itu terus berputar di pikiran kita tanpa terkendali.” Terang Marini dengan jelas.


Reva kembali terisak. Sebagian besar yang dikatakan Marini, benar adanya dan Reva merasakannya.


“Saya sering melakukannya.” Tutur Reva dengan suara pelan.


“Apa yang sering mba Reva lakukan?”


“Saya sering melakukan represi. Saya berusaha keras melupakan setiap kejadian yang saya anggap tidak menyenangkan atau menyebalkan. Saya membenci setiap hal buruk yang terjadi pada diri saya. Saya selalu berharap, saat saya terbangun, saya tidak lagi mengingat semua kejadian itu. Tapi, belakangan ini saya kesulitan. Semua kejadian yang saya coba lupakan, malah berputar tidak jelas di pikiran saya. Saya juga merasa bingung apa ini benar yang saya pikirkan atau hanya halusinasi saya.”


Obrolan demi obrolan terus bergulir. Terkadang Reva mengupat dan memaki atas setiap pengalaman buruk yang pernah di hadapinya. Menjadi seorang **** girl dan disia-siakan Adrian menjadi 2 hal yang paling menyakitkan bagi Reva.


Marini mengangguk paham. Reva sangat terbuka menceritakan masalahnya walau terkadang ia tidak bercerita terlalu gamblang karena ada sebagian cerita yang memang luput dari pikirannya. Tapi sampai titik ini, Marini hanya bisa menguatkan.


“Mba Reva pernah dengar pepatah bahwa, seseorang tidak akan diberi ujian di luar batas kemampuannya?”


Reva hanya mengangguk. Ia melepas sendiri penutup matanya dan duduk tegak menatap Marini.


“Itulah yang terjadi saat ini. Semua yang terjadi pada mba Reva, tentu tidak melebihi batas kekuatan mba Reva. Mba Reva pun hanya perlu menghadapinya, karena yang terpenting adalah cara mba Reva menghadapi masalah itu, bukan sebesar dan sesulit apa masalah itu.” Tegas Marini.

__ADS_1


Reva tertunduk lesu, ia berusaha mencerna maksud pembicaraan Marini.


****


__ADS_2