PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
CHAPTER 051


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿


Anya** dan Bian masih membicarakan kegiatan mereka hari ini seputar pekerjaan di kantor, kuliah Anya, Bian juga menceritakan rencana Bianca yang ingin merayakan ulang tahun nya secara private.


"Honey, hari ini apa saja yang kamu lakukan bersama Micca dan Rio?" Tanya Bian yang sudah lama tidak mendengar kabar kedua adik Anya.


"Micca lagi ujian akhir semester, jadi ga bisa di ajak jalan-jalan, tapi tadi aku pergi jalan-jalan dengan Rio, kita pergi ke Senayan" Ujar Anya.


"Apa yang kalian beli?" Tanya Bian sambil masih memeluk tubuh Anya yang berada di pangkuan nya.


"Hanya beli beberapa barang, tapi kamu tau ga Bi, ada kejadian lucu dech di sana" Anya tertawa kecil saat mengingat kejadian di Senayan city tadi siang.


"Emang ada kejadian apa sampe kamu ketawa gitu" Tanya Bian memandang wajah cantik Anya yang tidak pernah membuat bosan matanya.


"Jadi waktu aku dan Rio sedang mencari boneka pesanan Micca, Rio terlibat cekcok dengan anak perempuan bule yang juga menginginkan bonekanya" Anya melanjutkan ceritanya.


"Lalu siapa yang mendapatkan bonekanya?" Bian bertanya lagi.


"Anak perempuan itu pastinya, karna aku meminta Rio untuk belajar mengalah dengan perempuan, apa lagi hanya untuk hal sekecil itu, ya Rio sempat ga terima dan terlihat kesal dengan anak perempuan itu, bahkan Rio sempat meledak dengan mengatakan kalau anak perempuan itu jutek, untungnya anak perempuan itu ga ngerti apa yang di katakan Rio jadi saat anak perempuan bertanya apa yang di katakan Rio aku bilang aja kata Rio kamu cantik dan Rio protes karna aku mengatakan hal yang salah pada anak perempuan itu" Anya tertawa lagi mengingat expresi Rio yang jadi kesel sampe ke rumah karna anak perempuan itu.


"Memangnya pada perebut boneka apa sich?" Bian jadi ikut penasaran setelah mendengar cerita Anya.


"Boneka beruang warna choklat tua, karna memang Micca sangat menyukai boneka beruang, dia banyak mengkoleksi segala yang berbau beruang" Anya menyebutkan boneka yang di perebutkan dan untuk siapa boneka itu.

__ADS_1


"Namanya juga anak-anak pasti selalu begitu, berebut akan hal apapun yang mereka suka, nanti juga kalau udah besar dan dewasa Rio pasti akan menjadi laki-laki yang bisa di andalkan" Ujar Bian dengan penuh keyakinan dan senyum di bibirnya.


"Honey kita makan yuk, aku ingin kita makan di restoran tempat pertama kita kencan?" Ujar Bian sambil mencium bib1r Anya.


"Pertama kita kencan? kapan? kok aku ga pernah ingat kita pernah kencan di sebuah restoran? yang aku ingat justru pertama kita kencan itu di apartment kamu" Anya mengatakan apa yang dia ingat tentang kencan pertama mereka.


"Masa kamu lupa, pertama kita kencan itu saat kita makan seafood kamu ingat?" Bian kembali mengingat kan saat pertama dia meminta ijin kepada manager tempat dulu Anya bekerja untuk menemani dia tapi di luar tempat Anya bekerja.


"Itu bukan kencan, itu aku menuruti perintah manager ku karna saat itu adalah jam kerja aku, kalau itu bukan jam kerja, aku ga akan mau pergi, karna pamali buat aku pergi dengan pria asing" Ujar Anya sambil bangun dari pangkuan Bian dan berjalan mengambil tas yang dia pakai untuk kuliah.


"Tapi buat aku itu adalah kencan pertama kita hun" Bian juga bangun dari tempat duduknya dan menyusul Anya yang sudah berjalan lebih dulu ke arah pintu apartment mereka.


xxxxxxxxxxxxx


Bian sampe di Mansionnya setelah mengantarkan Anya kembali ke apartment dimana adik-adik Anya tinggal, Bian melangkah menuju bagian dalam Mansionnya dan dia sudah berada di lantai tiga, Bian bermaksud melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya tapi saat melewati kamar Bianca, dia mendengar suara televisi yang masih menyala berarti ada orang yang sedang menonton, memang semua kamar selain kamar Bian, masih bisa di dengar kegiatan di dalam nya, karna kamar-kamar tersebut tidak kedap suara, jadi kalau ada suara kencang dari dalam kamar pasti terdengar keluar, sedangkan ruangan yang kedap hanya kamar tidur utama yaitu kamar tidur Bian dan ruang kerjanya, tapi dari ruang kerjanya Bian bisa memantau semua aktifitas di Mansionnya lewat layar CCTV, Bian membuka pintu kamar Bianca yang ternyata tidak terkunci, Bian melangkah masuk dan melihat putrinya sedang menonton televisi tapi kupingnya di tutupi dengan hearfree, Bian melihat ada yang lain di kamar putrinya itu, ya dia melihat boneka beruang y ang sangat besar berada di atas tempat tidur yang menjadi sadaran untuk tubuh putrinya, Bian tau kalau putrinya itu tidak bisa tidur jika tidak memeluk boneka, bahkan kemarin malam tubuhnya lah yang di jadikan boneka oleh putrinya yang terus di peluk sampe putrinya itu lelap dalam tidurnya, Bian mendekati tempat tidur putrinya dan mencolek kaki Bianca, karna kalau di panggil Bian yakin putrinya itu tidak akan mendengar panggilan nya karna kuping yang di sumpelin dengan entah suara apa yang di dengarkan putrinya itu.


"Kamu bawa boneka dari rumah? Bian langsung bertanya tude point.


"No, aku membelinya tadi siang di Mall" Bianca menjawab pertanyaan Daddynya dan sudah kembali duduk di atas tempat tidur nya.


Bian ikut duduk di atas tempat tidur putrinya itu dan memandang boneka beruang yang sangat besar itu, dia jadi ingat dengan apa yang tadi di katakan Anya tentang perebutkan boneka Rio dengan anak perempuan bule, Hmm.. Bian jadi kepo ingin tau kebenaran nya.


"Memang tadi pergi kemana sampe bisa dapat boneka sebesar itu?" Bian menunjuk boneka beruang yang sekarang sudah di peluk erat oleh Bianca.

__ADS_1


"I don't no Dad, tapi ada city-citynya gitu lah namanya, Daddy tau aku mendapatkan boneka dengan perjuangan yang sangat keras" Bianca menunjukan wajah seriusnya saat mengatakan hal tersebut.


"Oya?? memang apa yang terjadi sampe kamu harus berjuang keras untuk mendapatkan boneka itu?" Bian pun mencoba untuk mengikuti alur cerita putrinya itu.


"Ada seorang anak laki-laki Dad, dia juga mau boneka ini, tapi aku duluan yang pegang boneka ini, terus dia juga ikut-ikutan mau ambil boneka ini, awalnya dia tidak mau melepaskan boneka ini, tapi untung ada kakaknya yang sangat baik dan menyuruh adiknya mengalah jadi aku bisa mendapatkan boneka ini" Bianca bercerita dengan semangat.


Bian menganggukan kepalanya walau sangat pelan, sekarang dia tau anak perempuan yang di maksud Anya tadi saat bercerita tentang insiden di toko boneka di Senayan city.


"Apa kamu membenci anak laki-laki itu?" Tanya Bian menatap wajah cantik putri nya itu.


"Kalau dia tidak mau mengalah mungkin aku akan membencinya, Daddy tau, dia sangat dingin seperti daddy kalau lagi serius, tapi dia bilang sama kakaknya kalau aku cantik, untungnya dia juga cakep, tapi masih ganteng Daddy" Bianca kembali memeluk Daddy nya itu.


Bian hanya tersenyum mendengar perkataan Bianca, sifat Bianca sama persis dengan dirinya yang selalu berusaha keras untuk mendapatkan apa yang di inginkan sampe titik darah penghabisan.


"Sayang besok daddy mau ajak kamu makan malam di luar, kamu mau?" Bian memberikan penawaran kepada Bianca.


"Mau mau Dad, aku sangat menginginkan nya, makan di luar bersama Daddy" Bianca sangat antusias dengan penawaran yang di berikan kepada dirinya.


"Ya sudah kalau gitu kamu tidur, jangan like lupa matikan TV nya, jangan nanti TV nya yang nonton kamu" Bian mengingatkan.


"Oke Dad night, I love you" Bianca kembali mencium pipi Daddynya.


"Night darling" Bian mencium pucuk kepala Bianca lalu berjalan keluar kamar dan melangkah masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat.

__ADS_1


BERSAMBUNG


like guys, gratis ga bayar


__ADS_2