PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
BAGIAN 55


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS🍁🍁🍁🍁


Yana baru tiba di rumahnya dan langsung tersenyum saat melihat putri tercintanya sedang berada di dekat kolam renang terlihat sedang asyik dengan smartphone nya, Yana berjalan mendekati putrinya itu, Jesslyn yang mendengar suara sepatu mendekap ke arahnya langsung memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut yang dia sudah yakin kalau itu adalah mommynya, karna Jesslyn sudah sangat mengenal langkah kaki mommynya lagipula siapa lagi yang akan masuk ke dalam rumah mereka dengan memakai sepatu, kalau saudaa dari keluarga besarnya pasti sudah akan terdengar suara-suara yang akan membuat ramai rumah mereka.


"Sayang" Yana memeluk tubuh putrinya dan memberikan ciuman di kening putrinya itu, dan Jesslyn membalas dengan mencium pipi mommy nya itu.


"Mommy capek?" Jesslyn menggandeng tangan mommynya berjalan masuk ke dalam rumah mereka meninggalkan area kolam renang.


"Bohong kalau Mommy bilang mommy ha capek, namanya orang kerja pasti akan merasakan capek, tapi kalau udah ketemu adek pasti capek mommy sedikit berkurang" Yana mengusak rambut putrinya itu.


"Sayang, hmm.. tadi Om Bram ngajak kita buat makan malam, itu juga kalau adek mau dan ga capek, tapi kalau adek punya pekerjaan rumah dari sekolah Om Bram ga mengharuskan kita untuk menerima ajakan itu sekarang, masih bisa di undur lain hari" Yana menyampaikan pesan yang tadi di sampaikan Bram saat menelpon dirinya di sela-sela mereka membicarakan tentang kerja sama antara mereka yang sudah berjalan beberapa bulan.


"Memangnya penting mom?" Jesslyn melihat ke wajah mommynya itu.


"Mommy juga ga tau sayang, karna Om Bram ga bilang apa-apa cuma bilang mau ngajak kita makan malam" Yana mengatakan apa adanya tanpa mengurangi atau melebihkan.


Jesslyn tidak langsung menjawab perkataan mommy nya, sepertinya teman bisnis mommynya itu beneran serius dengan mommynya, dan kemungkinan ajakan makan malam hari ini adalah bentuk keseriusan si Om Bram dengan mendekatkan Siri padanya, dia juga ga bisa egois kepada mommynya, apalagi melihat mommynya yang bekerja siang malam bahkan saat masih bersama Daddynya, mungkin jika mommynya bersama si Om Bram mommy nya bisa tidak terlalu sibuk dalam bekerja.


****


"Sayang, hmm.. tadi Om Bram ngajak kita buat makan malam, itu juga kalau adek mau dan ga capek, tapi kalau adek punya pekerjaan rumah dari sekolah Om Bram ga mengharuskan kita untuk menerima ajakan itu sekarang, masih bisa di undur lain hari" Yana menyampaikan pesan yang tadi di sampaikan Bram saat menelpon dirinya di sela-sela mereka membicarakan tentang kerja sama antara mereka yang sudah berjalan beberapa bulan.


"Memangnya penting mom?" Jesslyn melihat ke wajah mommynya itu.


"Mommy juga ga tau sayang, karna Om Bram ga bilang apa-apa cuma bilang mau ngajak kita makan malam" Yana mengatakan apa adanya tanpa mengurangi atau melebihkan.

__ADS_1


Jesslyn tidak langsung menjawab perkataan mommy nya, sepertinya teman bisnis mommynya itu beneran serius dengan mommynya, dan kemungkinan ajakan makan malam hari ini adalah bentuk keseriusan si Om Bram dengan mendekatkan Siri padanya, dia juga ga bisa egois kepada mommynya, apalagi melihat mommynya yang bekerja siang malam bahkan saat masih bersama Daddynya, mungkin jika mommynya bersama Om Bram mommy nya bisa tidak terlalu sibuk dalam bekerja.


"Ya udah mom adek mau" Jesslyn menerima ajakan mommynya untuk makan malam atas undangan Om Bram.


Ya udah kalau gitu mommy bersih-bersih dulu ya, kita berangkat nya jam enam" Yana mengelus puncak kepala putrinya lalu berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Jesslyn memandang punggung mommynya yang terus berjalan naik ke anak tangga, dia hanya bisa berdoa semoga Om Bram adalah pria yang benar-benar baik untuk mommynya.


****


Johan mengajak Cindy untuk bertemu di salah satu cafe yang sering mereka datangi untuk membicarakan tentang dirinya yang di tempatkan jauh di pulau Kalimantan dan juga tentang Cindy yang dia rasakan mulai menjauhinya, Johan sudah sampe di cafe dan hanya menunggu kedatangan Cindy, Johan melihat jam tangannya sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang mereka janjikan, Johan menyesap kopinya sambil melihat-lihat isi dari smartphone nya untuk membuang kejenuhan karna menunggu Cindy yang lumayan lama, Johan memandang ke arah pintu masuk cafe agar bisa melihat kalau Cindy datang dan akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga, Johan melihat Cindy berjalan ke arah nya, Johan berdiri dari tempat duduknya menyambut kedatangan kekasihnya itu, Johan mencium pipi Cindy dan membukakan kursi kosong yang ada di depannya untuk Cindy duduk, Cindy pun duduk di kursi tersebut, Johan memanggil waiter cafe tersebut dengan isyarat dan dengan cepat seorang waiter berjalan mendekati meja keduanya.


"Kamu pesan apa sayang?" Johan memandang wajah Cindy.


"Di tunggu pesanannya" Waiter tersebut berjalan meninggalkan meja dimana Johan dan Cindy berada setelah mencatat pesanan yang di sebutkan oleh Cindy.


Johan memandang wajah kekasihnya yang sudah lumayan lama tidak dia temui.


"Sayang, setelah ini kita pulang ke apartemen ya" Johan menggenggam tangan Cindy yang berada di atas meja.


Cindy tidak menjawab ajakan Johan, walau dia juga merindukan pria yang ada di depannya ini tapi dia tidak bisa mewujudkan keinginan nya untuk bersama Johan, karna Papanya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Maaf mas, aku sekarang ga bisa lagi pergi kemana-mana sendiri karna sekarang Papa menyuruh seorang bodyguard untuk bersamaku sekaligus merangkap sebagai driver ku dan tidak alasan yang di terima Papa yang bisa membuat ku tinggal di Apartment lagi, bahkan Papa sudah menyuruh sepupu ku yang bulan depan akan mulai kuliah di sini untuk menempati Apartment itu" Cindy menjelaskan sedetail-detailnya.


Johan menarik nafas panjang mendengar perkataan Cindy.

__ADS_1


"Kamu tau ga alasan kenapa Papa kamu berbuat seperti itu?" Johan benar-benar merasa heran dengan semua yang terjadi belakangan ini dengan hubungan dan Cindy.


"Entahlah, aku juga ga ngerti, mungkin Papa takut aku pergi meninggalkan pertunangan yang sudah Papa rencanakan antara aku dan anak dari temannya" Cindy mengatakan juga apa sudah di rencanakan oleh orangtua nya.


"Soal itu Papa kamu Juga sudah mengatakan padaku, saat beliau memberitaukan tentang kepindahan ku ke Kalimantan untuk mengurus cabang baru" Johan menyampaikan apa yang di katakan oleh bossnya yang tak lain adalah Papa Cindy.


"Apa mas?! kamu di pindahkan ke Kalimantan?!" Cindy sangat terkejut dengan kabar yang baru saja dia dengar dari mulut Johan.


"Iya, Papa kamu datang langsung ke kantor dan mengatakan kalau aku di pindahkan ke Kalimantan untuk mengembangkan cabang baru di sana, dan di butuhkan orang yang berpengalaman untuk itu, dan Papa kamu bilang aku orang cocok untuk jabatan itu" Johan menjelaskan isi pembicaraan nya dengan boss nya yang juga adalah orangtua kekasihnya.


Cindy terdiam mendengar penjelasan Johan. "Apa ini memang rencana Papa untuk membuat aku dan mas Johan jauh dari tidak bisa bertemu" Batin Cindy.


"Dan mas menerima permintaan Papa itu?" Cindy ingin tau apa jawaban Johan atas mutasi tersebut.


"Kalau aku menolaknya sepertinya tidak ada tempat lagi untuk aku di perusahaan Papa kamu, soal pertunangan kamu, kenapa ga bicara soal hubungan kita dan kenapa menerima perjodohan itu?" Johan jadi ingat untuk membahas pertunangan yang akan di lakukan Cindy dalam waktu dekat.


"Aku berniat untuk mengatakan nya tapi Papa keburu menerima perjodohan yang di tawarkan oleh temannya saat temannya datang ke rumah dan alasan Papa menerima lamaran perjodohan itu dengan alasan karna Papa tidak pernah melihat aku jalan dengan seorang pria dan tidak pernah juga ada yang datang ke rumah mengaku sebagai kekasih ku, dan setelah Papa menerima lamaran itu sudah tidak mungkin untuk memberitau Papa soal hubungan kita" Cindy menjelaskan kenapa dia tidak mengatakan tentang hubungannya dengan Johan, dan tidak mengatakan kalau Papanya sudah tau tentang hubungan mereka dan tidak merestuinya.


"Bahkan Papa mengancam ku kalau Aku nekad pergi dari acara pertunangan nanti atau membatalkan perjodohan ini, Papa akan mengirimku ke tempat paman yang ada di luar negeri tanpa uang dan fasilitas apapun, bahkan Papa akan mencabut hak ku sebagai alih warisnya, apa menurut mas aku bisa ngejalani semua itu? mas sangat tau sifat Papa dalam setiap keputusan nya dan itupun berlaku dalam kehidupan Papa sebagai orangtua" Cindy menjelaskan dengan panjang lebar kalau mereka berada dalam posisi yang sangat sulit.


Johan hanya bisa terdiam mendengar perkataan kekasihnya yang mungkin akan segera menjadi mantan kekasih, karna dia sendiripun tidak mungkin untuk tiba-tiba datang Dan mengatakan kepada orangtua Cindy tentang hubungan mereka, karna sudah pasti akan di tolak mentah-mentah.


BERSAMBUNG


like jika kalian suka dengan jalan ceritanya, sabar ya kalau upnya suka lama 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2