
ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿🌿
"Nona, nona baik-baik aja??" Dino memandang diri Anya dari bawah sampe atas dan terlihat baik, tidak ada kekerasan di tubuh Anya, itu berarti Anya di perlakukan dengan sangat baik oleh Ichiro yang dia juga kenal sebagai rival bisnis Bossnya walau tidak pernah bersaing secara langsung.
"Dino, apa Bian ada di sini juga?" Anya menanyakan keberadaan Bian, apa Dino datang sendiri dalam menyelamatkan dirinya atau Bian ikut juga mencari dirinya.
"Master ada di bawah Nona, justru Masterlah yang mengetahui keberadaan nona di Villa ini" Dino mengatakan apa yang dia tau,(tapi tergantung juga, kalau alat pelacak nya conetd dengan hp tetangga pasti tetangga yang tau kalau Anya ada di Villa itu hehehe)
Ada rasa senang di hati Anya mendengar Bian ikut mencari dirinya, setidaknya Bian tidak sekedar menginginkan tubuhnya saja, tapi bertanggung jawab dengan keselamatannya juga.
"Dino, apa itu tas milik ku?" Anya menunjuk tas yang di pegang Dino.
"Owh, iya Nona, saya menemukannya di salah satu kamar yang ada di lantai bawah, hp Nona juga ada di dalamnya" Dino memberikan tas yang dari tadi dia pegang kepada Anya, Anya menerima tasnya dan memeriksa isinya, tidak ada yang kurang, semua masih complete.
"Nona, mari kita turun, Master sudah menunggu" Dino mengingat kan Anya untuk segera keluar dari kamar tersebut dan menuju ke lantai bawah dimana Bian sedang menunggu mereka, Anya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu megantungkan tasnya di pundak dan mengikuti Dino yang sudah melangkah keluar dari kamar tersebut, mereka berjalan menuruni anak tangga satu persatu hingga mereka sampe di lantai bawah dan berjalan ke arah Bian yang masih terlihat berbicara dengan Ichiro.
Bian sangat senang melihat Anya yang sepertinya baik-baik saja dan tidak kurang satu apapun, dia juga tidak melihat ada kekerasan fisik di tubuh apalagi wajah karna kalau sampe ada satu lecet saja yang dia lihat, semua manusia anak buah Ichiro bahkan Ichironya pun akan dia kirim ke America untuk menjadi santapan para reptiles piaraannya, (Bian mempunyai piaraan crocodile dengan jumlah ratusan ekor, karna Bian juga menjadi pemasok kulit untuk para designer dunia, sedangkan dagingnya dia masukan ke restoran miliknya, menu daging-daging hewan piaraanya sangat susah ada karna Bian baru akan memotong reptiles piaraannya setelah berumur lima tahun, karna kulit yang bagus juga tidak boleh terlalu tua, karna reptiles nya selalu bertelur dan bertelur jadi Bian tidak pernah kehabisan stok dan tidak perlu mencari hewan ilegal, apalagi dengan memberi makan sapi gemuk membuat reptiles piaraannya cepat besar , bukan hanya crocodile Bian juga membiarkan piton snake, dan jumlahnya pun tidak sedikit, t entunya semua memiliki ijin resmi dari pihak terkait).
"Hai baby" Bian langsung memeluk Anya dengan erat dan mencium pucuk kepala Anya, karna tinggi Anya yang Pas sedagu Bian, Bian menatap Ichiro dengan tatapan tajam dan kembali berkata dengan bahasa Korea.
__ADS_1
"Ingat yang saya katakan tadi, sekali lagi hal ini terjadi, anda akan mengenal siapa saya sebenarnya!" Bian berkata dengan suara penuh penekanan.
"Come on baby" Bian menggenggam tangan Anya dan berjalan keluar dari dalam Villa tersebut, sementara Ichiro mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya keluar, jika bukan di Indonesia pasti dia akan bertarung sampe tetes darah penghabisan, bukan demi seorang wanita tapi demi harga dirinya.( di Indonesia memang peraturan nya sangat jauh berbeda dalam urusan kepemilikan senjata tajam, apalagi jika senjata itu sampe mengambil nyawa orang, tapi yang aneh di Indonesia, jika seseorang membunuh sepuluh orang atau seratus orang tapi itu baru pertama di lakukan, maka pasalnya akan sama pasal 339 , yang hukumannya hanya 20tahun paling maximal, beda dengan pembunuhan berencana yang pasalnya 340 dengan hukuman maximal seumur hidup, kalau di luar negeri, biarpun baru pertama membunuh, tapi jumlahnya banyak maka hukumannya di hitung pernyawa, makanya setiap pembunuh di luar negeri, kalau membunuh lebih dari tiga orang pasti pembunuhnya bakal mati di penjara, soal kepemilikan senjata api, di luar neger i lumayan longgar peraturannya, apalagi kalau saling membunuh terjadi antara orang penting, entah itu pejabat atau pengusaha, biasanya polisi jarang ikut campur, polisi luar negeri lebih focus kalau yang bermasalah adalah masyarakat biasa, jadi sebenarnya masalah hukum masih lebih Adil di luar negeri, karna pelakunya jarang keluar penjara dalam keadaan hidup, untuk kasus penting ya, seperti, pelecehan sexual, pembunuhan berencana, pemerkosaan, di luar kasus ini kemungkinan bebas masih ada).
""""
Bian dan Anya sudah sampe di rumah Bian yang berada di nusa dua, Bian mengajak Anya ke dalam kamarnya yang sangat luas di lantai tiga, Anya baru tau kalau Bian memiliki rumah di Bali, karna selama mereka bersama justru mereka belum pernah ke Bali, tapi mereka sudah liburan ke luar negeri, ke Singapore dan ke Maladewa, Anya melihat rumah ini tidak jauh beda bentuknya dengan Mansion Bian yang di Jakarta, sama-sama tiga lantai, dan jumlah kamar yang sama di setiap lantainya dan posisinya pun sama persis, hanya bentukannya dari luar yang terlihat sedikit berbeda.
"Honey, kamu bersih-bersih gih, aku mau bicara dengan Dino" Bian memeluk pinggang Anya dan memberi ciuman di bibir Anya lalu melepaskan nya dan membiarkan Anya berjalan ke kamar mandi yang berada di ujung kamar mandi, sementara Bian berjalan keluar kamar dan berjalan masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai satu dimana Dino sedang duduk dan terlihat focus dengan smartphone nya, mendengar langkah kaki Dino melihat ke arah lift dan melihat bossnya baru keluar dari dalam lift, Dino meletakan smartphone nya dan berdiri dari duduknya, Bian yang sudah sampe di depan Dino langsung duduk di sofa tunggal, dan setelah Bossnya duduk Dino kembali duduk di tempatnya tadi dan menunggu apa yang akan di katakan oleh Bossnya itu.
"Dino, kamu coba cari info tentang lahan kosong di daerah yang tadi kita datangin" Bian memulai pembicaraan di antara mereka.
"Betul, saya melihat propek yang sangat bangus jika kita membangun tempat hiburan berkelas international di sana, selain lokasinya yang dekat dengan airport, juga berada dekat dengan pusat Kota tempat para wisatawan, kalau bisa kamu cari lahan sekitar dua sampe empat hektar, berapapun harga yang mereka minta kamu bayar saja, karna saya yakin modal akan kembali dalam waktu dua tahun, sekalian kamu cek pembangunan resort di Gianyar, saya tidak mau ada pengelapan dana atau mengganti bahan bagunan dengan yang lebih murah, kalau sampe terjadi bukan hanya pemborong atau mandornya yang saya habisi, kamu dan anak kamu yang bertanggung jawab sebagai pengawas dalam pembangunan resort itu juga akan merasakan akibatnya" Bian berkata dengan sangat tegas, bagi Bian kesalahan yang terjadi bukan hanya karna ada kesempatan tapi juga karna longgarnya pengawasan dan manusia yang masih doyan dengan uang sogokan yang nilai nya tidak seberapa di bandingkan nyawa yang di miliki, Bian memang terkenal tegas at au mungkin juga kejam, karna dia tidak akan mentolerir setiap orang yang berani korupsi dari dia, bukan memasukan orang itu ke penjara tapi Bian akan memotong tangan orang tersebut.(kalau dalam hukum Islam hukuman bagi pencuri adalah potong tangan dan mengambil semua harta milik dari si pencuri itu, mungkin hukum itulah yang di terapkan Bian, atau memang sebagai efek jera bagi yang lain, agar tidak berani mencuri darinya walau hanya satu rupiah.
Dino menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Baik Master saya akan segera mencari info soal itu" Dino menyanggupi tugas yang di berikan padanya.
"Saya tidak butuh buru-buru, jadi kamu katakan pada kepala desanya kamu mencari tanah setidaknya untuk waktu tiga tahun ke depan, jadi mereka tidak akan menekan harga terlalu tinggi, karna kita tidak buru-buru membutuhkan lahan itu, kalau dapat cepat ya lebih bagus , perkiraan saya, harga di Jimbaran itu kurang lebih hampir sama seperti harga tanah di sini(nusa dua)" Bian menjelaskan lebih detail tentang perintah yang berikan.
__ADS_1
"Baik Master" Dino kembali menganggukan kepalanya.
"Bagaimana dengan kebiasan baru kamu yang aneh itu apa masih sering kamu alami?" Bian menanyakan tentang Dino yang suka makan makanan yang dulu dia benci, dan kerja dengan tidak memakai parfume.
Mendengar pertanyaan Bossnya, Dino jadi teringat dengan perkataan dokter kalau dirinya sedang ngidam, dan itu juga membuat dia teringat pada Rica yang benar-benar hilang di telan bumi, bahkan medsosnya pun sudah tidak aktif, dan dia tidak tau siapa perempuan yang sedang hamil anaknya karna sudah beberapa bulan sejak dia mengalami kebiasan aneh tidak ada yang datang untuk meminta tanggungjawab nya.
"Saya hanya mengalami nya sekali-sekali master, tapi untuk parfume, saya sudah bisa memakai parfume saya seperti biasa" Dino menjawab apa yang menjadi pertanyaan Bossnya itu.
Bian bisa melihat itu, karna wangi dari parfume Dino kembali tercium di pakaian yang Dino pakai, setelah sempat beberapa minggu Dino tidak memakai nya.
"Master, saya permisi, untuk melakukan yang tadi master minta" Dino berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan terlalu teburu-buru, dan ingat, tanahnya tidak boleh terpencar harus satu kawasan" Bian kembali mengingat kan.
"Baik Master" Dino berjalan keluar dari dalam rumah mewah tersebut menuju mobilnya, Dino juga menyiapkan mobil untuk dirinya jika dia sedang berada di Bali, dan dia juga tinggal di rumah Bossnya atas perintah Bossnya juga, walau sebenarnya dia bisa tinggal di hotel atau di resort lain yang juga milik dari bossnya, karna Bian memang sudah memiliki resort-resort di setiap tempat pariwisata yang ada di Bali, jadi resort yang sedang di bangun sekarang bukanlah resort pertama.
BERSAMBUNG
sorry baru up guys, jangan lupa like
__ADS_1