PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
BAGIAN 43


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🍁🍁


Bram melihat ke arlojinya dan memang sudah hampir jam empat sore.


"Gimana kalau kita bicara sambil makan malam? itu juga kalau kamu ga keberatan dan ga sibuk" Bram menawarkan untuk makan malam sekalian membicarakan tentang yang tadi dia bicarakan.


Yana terlihat berpikir dengan permintaan Bram, kalau memang yang mau di bicarakan Bram menghasilkan sesuatu yang menguntungkan sepertinya ga ada salahnya kalau dia ajakan Bram untuk makan malam.


"Oke dech kalau memang apa yang mau mas bicarakan emang penting" Yana menerima ajakan Bram untuk makan malam bersama.


"Jadi kita bertemu jam berapa? dan dimana?" Bram menanyakan waktu dan tempat pertemuan mereka nanti malam.


"Saya rasa lebih baik sekarang aja, karna kalau ketemu nanti malam malah jadi terlalu malam, apalagi saya ga mungkin meninggalkan anak saya sendiri di rumah, dan sangat tidak baik kalau saya menjadi contoh yang buruk bagi anak saya karna harus keluar terlalu malam" Yana memberikan alasan kenapa dia menolak untuk bertemu nanti malam dan mengajak saat ini juga.


Bram tersenyum kecil mendengar penjelasan perempuan yang masih sangat terlihat cantik ini.


"Ya udah kamu tenruin aja kita makan malam di mana saya pasti setuju" Bram memberikan hak kepada Yana untuk memilih tempat mereka makan malam.


"Oke kalau gitu, Mas nanti ikuti mobil saya saja jadi saya sebagai penunjuk jalanI" Yana berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari dalam ruangannya.


"Ser, saya pergi dulu, ada urusan dengan Pak Bram, kamu jangan pulang terlalu malam ya" Yana berpamitan sekaligus mengingatkan sekertaris nya itu agar tidak pulang terlalu malam, Bram hanya tersenyum melihat sikap yang di tunjukan Yana kepada bawahannya, memang dia hanya mengenal cuma sebentar saat mereka di sekolah menengah pertama tapi yang dia tau memang Yana memiliki sifat yang ramah dan sopan kepada orang lain walau berasal dari keluarga kaya yang setiap pergi dan pulang sekolah selalu di antar jemput dengan mobil mewah.


Setelah selesai berbicara dengan Serly Yana melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam lift di ikuti oleh Bram meninggalkan lantai dimana ruangannya berada, sampe di lantai satu pintu lift dimana Yana dan Bram berada terbuka otomatis dan kedua manusia yang ada di dalamnya berjalan keluar dari dalam lift tersebut dan melanjutkan langkah mereka menuju pintu utama gedung dimana ada dua security yang sedang berjaga, sedangkan untuk bagian resepsionis sudah pulang karna memang sudah waktunya untuk para karyawan di seluruh dunia pulang dari tempat mereka bekerja bagi yang tidak lembur dan bagi yang lembur akan pulang saat malam hari.

__ADS_1


"Selamat sore Bu" kedua security itu menyapa Yana yang tak lain adalah boss mereka dan dengan sedikit membungkukan tubuh mereka.


"Sore Pak, selamat beristirahat ya" Yana membalas sapaan kedua karyawan bagian keamanan nya itu dengan senyum kecil di bibirnya dan melanjutkan langkahnya menuju mobil, supir kantor Yana sudah bersiap di depan pintu mobil lalu membukakan pintu mobil untuk untuk bossnya ituI.


"Terima kasih Pak" Yana masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi bagian belakang, sementara Bram pun berjalan menuju mobilnya yang di parkirkan tidak terlalu jauh, mobil yang di tempati Yana mulai melaju meninggalkan pintu utama gedung di ikuti oleh mobil Bram.


****


Yana dan Bram sudah berada di salah satu cafe yang sering di datangi Yana dan Yana pun jadi mengenal beberapa karyawan di sana dan juga manager cafe tersebut, Yana dan Bram memilih tempat yang agak sedikit jauh dari panggung music agar pembicaraan mereka bisa leluasa, mereka sudah memesan minuman yang ingin mereka minum, soal makan sepertinya mereka akan memikirkan nya nanti karna mereka tidak menyebutkan makanan yang ada dalam menu, ya karna memang ini tempatnya bernama cafe&resto.


"So, jadi apa yang mau mas bicarakan" Yana pun langsung tude point memulai pembicaraan di antara mereka, kalau memang benar ada yang mau di bicarakan pasti pria di depannya ini akan langsung berbicara tanpa basa basi ga penting.


Bram tersenyum mendengar pertanyaan wanita di depannya ini, yang sangat tude point.


"Begini, tadi siang saat saya bertemu teman dan kami makan di suatu tempat dan makanannya sangat beragam" Bram memulai topik pembicaraan mereka tapi sedikit terhenti karna kedatangan waitress yang membawakan pesanan mereka.


"Silakan di nikmati dan ini bill nya" Waitress tersebut memberikan sebuah beda seperti dompet yang di dalamnya terdapat sebuah bill minuman mereka, Bram mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu lalu memberikannya kepada waitress tersebut dan waitress tersebut berlalu sambil membawa dompet bill tersebut bersama kartu yang di berikan oleh pelanggan nya.


"Lalu?" Yana kembali bertanya.


"Saat melihat restoran itu saya jadi berpikir ingin membuat usaha dalam bidang kuliner dengan konsep masakan seluruh nusantara, western dan negara Asia lainnya" Bram melanjutkan perkataan yang tadi terpotong.


"Lalu apa hubungan nya dengan saya? mas kan pasti bisa membuka usaha apapun dengan kemampuan financial yang mas miliki" Yana berkata apa adanya lalu menyedot minuman dinginnya.

__ADS_1


"Saya tau itu, tapi karna ini skala besar jadi saya butuh partner yang bisa ikut dalam bisnis ini" Bram berkata lebih lanjut.


"Maksudnya skala besar gimana?" Yana jujur sedikit penasaran dengan perkataan Bram.


"Begini, saya berniat ingin membuka tiga restoran seperti yang tadi saya katakan di lima kota langsung di Indonesia dengan menu nusantara food, western dan Asia food, sedangkan untuk di luar seperti Thailand,Korea, jepang, Singapore Malaysia, dan new york saya akan bikin dengan menu Indonesia, western, Asia food, karna orang luar lebih mengenal kata Indonesia daripada nusantara" Bram menjelaskan lebih detail tentang rancananya.


Yana sedikit terkejut dengan rencana yang di jelaskan Bram barusan, membuka restoran langsung di berbagai tempat dalam waktu bersamaan.


"Apa tidak terlalu riskan mas membuka restoran segitu banyak dalam waktu bersamaan? apalagi modalnya tidak sedikit?" Yana harus bertanya seperti itu karna memang belum ada orang di dunia ini yang membuka usaha secara bersamaan di berbagai tempat bahkan sampai ke luar negeri dalam waktu bersamaan.


"Permisi Pak, ini kartunya" Waitress yang tadi datang lagi meletakan dompet yang di dalamnya berisi kartu dan kertas hasil transaksi juga bill minuman Bram dan Yana.


"Terima kasih mbak" Bram mengambil kartunya dan memasukannya ke dalam kantong kemejanya dan kembali focus ke arah Yana yang berada di depannya.


"Mungkin kalau untuk usaha selain makanan mungkin memang sangat riskan, tapi karna makanan adalah kebutuhan pokok manusia di seluruh belahan dunia maka tidak akan rugi asal kita tau pasarnya dan mencari tempat yang cocok di kota atau negara yang kita pilih" Bram menjelaskan dengan keyakinan nya.


"Lalu, kenapa mas memilih saya? kenapa bukan orang lain, kenapa tidak mengajak teman mas yang tadi makan siang bersama mas?" Yana memang merasa heran kenapa Bram membicarakan hal ini kepada nya, kalau hanya minta saran pasti cara berbicara nya akan beda, tapi dengan cara berbicara Bram yang seperti ini udah di pastikan Bram akan mengajaknya bergabung dalam bisnis ini.


Bram tersenyum mendengar perkataan Yana yang ternyata cukup jeli dalam menebak maksud dengan pembicaraan mereka.


"Memang saya mau mengajak kamu untuk membangun bisnis ini, karna menurut saya di perlukan ide-ide dari seorang wanita untuk bisnis seperti ini, karna seorang wanita selalu berpikir dengan otak dan hati beda dengan pria yang pasti hanya memakai otak dalam hal berbisnis, kamu ga perlu menanam modal besar untuk bisnis ini kalau memang kamu takut bisnis ini merugi ke depannya, bahkan kamu bisa hanya memberikan sepuluh persen untuk modal bisnis ini dan mendapatkan keuntungan sesuai dengan besaran saham yang kamu miliki nantinya, karna sejujurnya saya membutuhkan masukan kamu dalam bisnis ini, kalau kamu tanya kenapa saya tidak konsultasi dengan yang ahli di bidang ini, saya tidak melakukan hal itu karna saya yakin jika ada orang dalam yang mengerti soal makanan akan jauh lebih baik daripada hanya seorang konsultan kuliner, dan saya tau kalau kamu sangat handal dalam bidang kuliner sebagai seorang Ibu walau kamu sibuk berkarier" Bram benar-benar menjelaskan dengan sangat detail.


Yana terlihat berpikir dengan semua yang di katakan Bram, memang tidak ada yang salah dengan apa yang di katakan Bram barusan, tapi tidak bisa juga memutuskan hal besar seperti ini secara tiba-tiba, setidaknya dia harus mendikusikan hal ini kepada kedua orangtuanya, karna setelah dia bercerai orang yang harus dia ajak diskusi adalah kedua orangtuanya bahkan putrinya kalau di perlukan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


maaf baru up lagi dan membuat kalian menunggu lama untuk cerita ini, saya mau tanya, mau cerita Rika di sini aja atau di pisah, komen buat yang mau jawab pertanyaan saya. enjoy guys


__ADS_2