PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
CHAPTER 088


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿


Aunty, Uncle, sorry aku terlambat, karna ada pemotretan mendadak" Kimberly muncul di ruang makan dan memberi ciuman di pipi Ratih juga Alvaro. Ya, yang datang adalah Kimberly, emang udah kayak jelangkung, datang dan pergi ga di jemput ga di antar, Kimberly mendekati Bian dan mencium pipi Bian.


"Hai babe" Kimberly tersenyum mesra.


"Aku senang akhirnya kamu pulang" Kimberly duduk kursi di sebelah Bianca yang duduk di samping Daddynya, dan saat melihat keberadaan Anya di Mansion orangtua Bian Kimberly memberikan tatapan tajam ke wajah Anya, tapi dia ga mungkin menyerang Anya di depan keluarga besar Bian, karna itu akan merusak images nya, sedangkan Bian hanya melihat sekilas ke arah Kimberly saat Kimberly selalu dengan kebisaan nya yang main asal cium, sedang Marsha cuma tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan merasa bakal ada pertunjukan seru karna dia tau kalau Kimberly merasa terancam dengan keberadaan Anya di sisi Alex .


"Bagaimana kabar daddy dan mommy mu?" Alvaro basa baai menanyakan kabar kedua orangtua Kimberly yang mereka juga akrab dengan mereka.


""Mereka baik Uncle, dan mereka kirim salam untuk kalian berdua, Lex Daddy ingin segera ketemu kamu, kata Daddy ada undangan golf dari Tuan Czar Damien, tapi nanti daddy sendiri yang akan menghubungi kamu" Kimberly menyanpaikan apa yang Daddynya katakan padanya.


Bian terlihat berpikir mendengar nama Czar Damien, seorang bankir asal Rusia yang juga seorang mafia yang bersaing dengan kelompok nya dalam dunia bawah dalam memperebutkan pelabuhan terbesar di Rusia. tapi kelompok mafia di sana tidak tau kalau kelompok yang mereka hadapi adalah milik Bian.


"Hei, kalau kalian bicara terus kapan makannya di mulai" Ratih memprotes karna pembicaraan yang masih berlanjut, Ratih memanggil Peter untuk mulai menyiapkan makanan yang sudah tersedia dan siap di hidangkan.


makan malam berjalan tenang yang sesekali di selingi pembicaraan antara Bian dan daddy nya juga di warnai dengan sewotnya Bianca kepada Rio yang duduk di depan nya hingga acara makan makan selesai.


Marsha mengajak Anya, Micca, Rio dan juga Ibu Tuti ke roof top kamarnya, karna dia ga mau Anya merasa seperti di abaikan dan hanya di butuhkan saat Alex butuh penghangat di ranjangnya, sementara Kimberly ikut bersama Ratih karna dia punya misi sendiri. dan Bianca yang ga mau jauh dari Daddy nya ikut bersama Bian dan Alvaro ke ruang kerjanya.


Marsha dan Anya duduk menikmati pemandangan kota Manhattan di sore hari, sementara tidak terlalu jauh dari mereka Micca sibuk berchat ria dengan teman-temannya dengan membagikan pemandangan kota Manhattan, karna libur sekolah dengan tiba-tiba para sahabat Micca di sekolahnya kepo Micca liburan ke mana, bahkan mereka tidak percaya dan ingin video call untuk membuktikan kalau photo yang di kirimkan Micca adalah photo asli bukan hasil browsing di internet.


Sementara Rio juga terlihat asyik dengan games nya di laptop, Rio sedang bermain games mafia dan dia seperti sangat menyukai pesannya sebagai boss mafia dengan senjata api di tangan yang menaklukan musuh-musuhnya, sementara Bu Tuti hanya duduk sambil memperhatikan dua anak asuhannya yang sudah dia anggap seperti keluarga nya.


Marsha melihat ke arah wajah Anya yang terlihat tanpa beban dan sepertinya tidak bermasalah dengan kehadiran dan sikap Kimberly kepada Alex selama di meja makan tadi, apa segitu tidak ada rasanya Anya kepada kakak sepupunya itu, sampe ga perduli saat ada perempuan lain yang bersikap mesra kepada Alex , ada ya? orang sudah bersama-sama selama berbualan-bulan dan sudah bercinta ratusan kali tapi ga ada rasa cinta di hatinya, apa Anya membangun tembok Berlin di hatinya hingga tidak bisa di tembus oleh yang namanya cinta (tembok Berlin adalah tembok di German yang usianya tahun ini genap enampuluh tahun), Anya terlihat focus memandang langit new york yang sangat cerah, matahari yang bersinar masih sangat terang tapi cuacanya tidak panas bahkan sangat sejuk (posisi matahari me benua Eropa dan America sangat dekat, makanya mangrib di wilayah sana itu di atas jam tujuh malam dan isya di atas jam delapan malam, bahkan subuh di sana hampir jam delapan pagi, karna waktu sholat di tentukan sesuai jalannya matahari, bukan oleh angka-angka, dan kalau mau puasa di sana harus kuat selama delapan belas jam).


"Anya, menurut kamu bagaimana tentang Kim?" Marsha memecah keheningan di antara mereka.


"Maksudnya?" Anya memanndang ke arah Marsha.

__ADS_1


"Iya, apa yang kau lihat dan pikirkan tentang Kimberly?" Marsha memperjelas pertanyaan nya.


"Cantik, dan berkelas" Anya menjawab dengan singkat.


"That is?" Marsha benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran Anya.


"Memangnya harus seperti apa?" Anya balik bertanya, Anya memang sudah mulai enjoy berbicara dengan Marsha dan mereka pun cukup akrab karna sering menghabiskan waktu bersama selama di mansion Bian.


"Menurut kamu bagaimana sikap dia ke Alex? apa itu tidak menganggu kamu?" Marsha benar-benar ingin tau jawaban Anya atas pertanyaan nya, tadinya dia tidak ingin bertanya secara terang-terangan karna berharap Anya sendiri yang mengatakan apa yang dia rasakan dengan kehadiran Kimberly dalam acara makan malam keluarga mereka.


Anya menatap lama ke arah Marsha, dia sudah mulai paham kemana arah pertanyaan Marsha.


"Menurut ku biasa aja ga yang aneh" Anya masih menjawab dengan simple. (gemes ga sich guys dengan sikap Anya yang udah kayak putri ice😁😁😁)


"You are not jealous?" Marsha benar-benar ga habis pikir dengan jawaban Anya yang menurut nya sangat tidak masuk akal.


"Jealous? for what?" Anya malah balik bertanya.


"Kenapa harus marah? Bian bukan suami ku, bukan juga kekasih ku, jadi siapapun bebas bersikap seperti itu pada nya" Anya menjawab dengan sangat santai dan tidak ada beban dalam suaranya.


"Anya, jawab saya dengan jujur, serius kamu ga ada perasaan sama Alex? setelah kalian sekian lama bersama? I don't believe" Marsha menatap mata Anya mencari kebohongan dari semua jawaban Anya tadi, tapi dia tidak menemukan apa yang dia cari, mata Anya pun seakan memiliki tembok tebal untuk menutupi apa yang Anya rasakan,(karnakan katanya mata adalah jendela hati).


Anya tersenyum mendengar pertanyaan yang entah sudah berapa kali Marsha tanyakan ke dirinya.


"Marsha, aku tidak akan pernah mencintai sesuatu yang bukan milikku, event sesuatu itu sudah di dekatku bertahun-tahun lama nya, dan Bian bukan milikku jadi aku tidak akan pernah mencintai Bian karna dia bukan milikku dan kamu pun tau itu" Anya memperjelas jawabnya, karna Anya tipe orang yang tidak mau memberikan harapan palsu kepada orang apalagi kepada diri nya sendiri.


"Kalau misalnya ternyata Alex mencintai kamu gimana? apa kamu masih tidak akan mencintai dia?" Marsha mencoba berandai-andai, karna dia memang sedikit berharap hubungan Anya dan Alex bisa menjadi serius, karna pribadi Anya dan Kimberly yang sangat jauh berbeda, dan menurut dia Anya lebih bisa menjadi Ibu sambung untuk keponakannya.


"Aku tidak suka berandai-andai, aku hanya akan serius untuk sesuatu yang pasti, karna terlalu banyak berandai-andai hasilnya akan sangat menyakitkan jika semua tidak terwujud" Anya langsung menjawab tanpa harus berpikir lama.

__ADS_1


Marsha tidak bisa menyalahkan apa yang menjadi pemikiran Anya, karna logikanya impian yang tidak bisa di raih itu memang sangat menyakitkan, Marsha sendiri memang tidak pernah bertanya kepada Alex bagaimana perasaan kakak sepupunya itu yang sebenarnya kepada Anya, apa benar-benar hanya menganggap Anya sebagai penghangat ranjangnya atau sudah mulai mencintai, karna Alex pun bukan tipe orang yang mudah untuk menceritakan perasaan nya kepada orang lain, walau dia melihat Alex memang tidak bisa jauh dari Anya.


****


Sementara Kimberly yang sedang berdua dengan Ratih di ruang baca sedang melihat-lihat majalah fashion yang sedang in sekarang ini, keduanya terlihat berbicara ringan sambil sesekali tertawa saat melihat sesuatu yang menarik di dalam majalah fashion tersebut.


"Aunty" Kimberly memeluk tangan Ratih dengan manjanya.


"Kenapa sayang" Ratih tersenyum manis memandang sekilas ke wajah Kim dan kembali melihat ke majalah fashion yang ada di tangannya.


"Kenapa Alex membawa perempuan itu ke sini? bahkan seluruh keluarga nya ikut, kenapa tidak sekalian dia ajak Bapak dan Ibu nya!" Kimberly memprotes Bian yang membawa kedua adiknya dan juga pengasuh mereka.


"Aunty juga tidak tau kalau Bian mengajak orang lain pulang ke sini, jadi Aunty tidak mungkin menolak tamu yang datang, karna dalam budaya orang Indonesia, tamu adalah rejeki, jadi pamali menolak tamu" Ratih menjawab dengan bijak.


"Berarti benar kalau mereka mempunyai hubungan? karna kalau tidak, ga mungkin Alex membawa dia ke sini!" Kimberly bersungut kesal.


"Kalau soal itu Aunty kurang tau, karna Bian tidak mengatakan apapun" Ratih menjawab apa adanya, karna memang belum ada pembicaraan di antara mereka tentang Anya.


"Aunty kan tau, aku sudah lama mencintai Alex dan selalu setia menunggu nya, sejak Clara meninggal" Kimberly kembali mengulang perkataan yang sudah sering dia katakan.


"Sayang, kalau soal itu Aunty dan Uncle tidak bisa ikut campur, kamu taukan bagaimana kerasnya Bian kalau sudah berhubungan dengan perempuan yang akan menjadi pendamping nya, tidak ada yang bisa memaksakan dia untuk melakukan apa" Ratih pun kembali mengingat kan sifat putranya yang tidak bisa di goyahkan oleh apapun jika sudah berhubungan dengan seseorang yang akan di jadikan istri.


"Tapi Aunty dukung aku kan untuk menjadi istri Alex?" Kimberly menatap Ratih dengan tatapan memohon.


"Aunty mendukung kalau kamu memang kamu berjodoh dengan Bian, kalau kamu memang serius mencintai Bian, buatlah dia agar mencintai mu, karna Bian tidak pernah menerima yang namanya perjodohan dan kau tau tidak ada budaya perjodohan bagi orang di luar benua Asia" Ratih memberikan masukan kepada Kimberly jika memang ingin serius menjadi menantunya., karna memang di luar negeri di luar benua Asia, acara jodoh menjodohkan itu hampir tidak ada, apalagi di jaman sekarang, mau sedekat apapun persahabatan dua orang mereka ga akan berandai-andai untuk menjodohkan anak-anak mereka , karna benua Eropa dan America benar-benar negara bebas, bebas dalam hal apapun, selama tidak merugikan orang lain.


Kimberly tau kalau Alex bukan orang yang bisa di larang-larang atau bisa di paksakan, memang harus dia yang mencari cara agar Alex menerima nya, dia tidak akan membiarkan perempuan bernama Anya itu merebut mimpinya, selama ini dia berhasil memukul mundur setiap perempuan yang ingin memiliki hubungan dengan Alex, memang itu semua berkat Daddynya, dan sepertinya dia harus meminta Daddynya untuk bicara dengan Alex agar mereka bisa menikah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


sorry baru up guys, jangan lupa like and vote


__ADS_2