
ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿
Anya dan Marsha sudah berada di dalam butik yang menjual brands-brand terkenal dunia yang satu helai bajunya bisa sampe seharga tigapuluh juta, tapi untuk keluarga Alexandro apalah arti uang segitu. buat yang heran kenapa namanya beda-beda saya kasih tau, nama Daddynya Bian Alexandro, nama Bian, Alexander, nama anaknya Bian, Alexandra, kalau nama keluarga nya. Arnault. itu nama kakeknya Bian dan Marsha. back to story.
Marsha mulai memilih-milih baju yang dia suka, sementara Anya mengikuti langkah Marsha tanpa sedikitpun ingin melihat baju-baju yang berjejer rapi di tampet mereka di gantung, dan Marsha menyadari itu.
"Anya, kamu tolong dong pilihin yang warnanya bagus menurut kamu, pilih beberapa pics" Marsha meminta Anya untuk membantu nya memilih beberapa blues dan juga dress yang ada.
"Tapi aku ga tau ukuran kamu" Anya takut kalau dia salah pilih ukuran.
"Tinggi kitakan hampir sama cuma beda dua/tiga senti, dan ukuran tubuh kita juga kayaknya sama, jadi aku yakin kamu pasti ga akan salah pilih ukuran" Marsha meyakinkan Anya untuk membantu nya memilih baju atau dress yang menurut Anya bagus, Anya akhirnya mengikuti keinginan Marsha dan memilih beberapa blues dan dress yang menurut dia sangat bagus dan cocok dengan kulit Marsha yang putih, mereka berdua terus berkeliling dan sampe di bagian tas-tas yang juga pastinya branded semua, Marsha masih meminta Anya untuk memilih kan yang model dan warnanya bagus menurut Anya dan lagi-lagi Anya menuruti keinginan Marsha, dan tanpa terasa mereka mengambil banyak item, dari dress, blues, celana, rok panjang, tas, high heels, setelah merasa cukup mereka berjalan ke kasir untuk menghitung total belajaannya mereka.
"Miss, semuanya 45,740 ribu (dollar)" Petugas kasir menyebutkan total belanjaan dua perempuan yang ada di depannya, memang semua barang di butik ini harganya menggunakan dollar.
Anya hanya bengong mendengar total belanjaan Marsha, karna kalau di rupiahkan itu hampir tujuhratus juta, sementara Marsha dengan santai mengeluarkan blackcart nya dan memberikan nya kepada si petugas kasir dan menyelesaikan pembayaran untuk barang belanjaan nya, setelah itu mereka berjalan keluar dari butik tersebut dengan tangan penuh dengan tas tas yang berisi barang belajaan mereka, setelahnya mereka berjalan menuju sebuah toko berlian yang menjadi cabang toko berlian di London, dan saat mereka masuk mereka langsung di sambut oleh petugas di toko perhiasan tersebut.
"Selamat sore miss, ada yang bisa saya bantu?" petugas tersebut bertanya dengan ramah kepada Anya dan Marsha dengan menggunakan bahasa inggris karna mekihat wajah Marsha yang bule tulen.
"Saya mau lihat perhiasan model terbaru, cincin dan gelang yang ada diamondnya" Marsha menyebutkan apa yang dia inginkan.
"Baik miss, tunggu sebentar" petugas berjalan ke sebuah lemari khusus dan mengeluarkan beberapa kotak berwarna hitam dari dalam lemari tersebut.
"Miss, ini diamond baru di kirim dari London, dan ini model terbaru" Petugas toko tersebut mulai menjelaskan tentang berlian yang ada di depan mereka, juga berapa kadar karat pada berlian tersebut.
"Anya, kamu pilih yang bagus menurut kamu yang mana?" Lagi-lagi Marsha bertanya kepada Anya, dan kali ini Anya tidak berkomentar karna tidak enak ada orang lain di antara mereka, Anya melihat semua perhiasan yang ada di depan mereka, Anya memilih kombinasi berlian hitam dan kuning untuk gelang dan berlian bermata ruby(maroon) untuk cincin, lalu memberikannya pada Marsha, Marsha memberikan kalung yang dia pilih dan juga apa yang di pilih Anya kepada petugas toko, petugas itu mengambil apa yang menjadi pilihan Anya dan Marsha dan menyimpan kembali berlian yang lainnya ke tempat nya semula, lalu petugas itu mulai menghitung perhiasan yang di pilih.
"Miss, semuanya 983,500 (dollar)" Petugas itu menyebutkan harga dari perhiasan tersebut dan lagi-lagi Anya lumayan kaget dengan harga dari perhiasan yang di beli Marsha, Marsha mengeluarkan blackcart nya dan memberikan nya kepada petugas toko tersebut dan menyelesaikan pembayaran, dan Marsha pun mendapatkan perhiasan tersebut lengkap dengan sertificatnya sebagai tanda keaslian perhiasan tersebut. setelah semua selesai Anya dan Marsha meninggalkan toko perhiasan tersebut dan mampir ke stand minuman untuk menghilangkan rasa haus mereka, mereka memilih untuk take away karna hari sudah mulai gelap dan pasti macet banget karna masih hari kerja, setelah mendapatkan pesanan mereka, mereka langsung berjalan keluar dari mall dan menuju mobil dan driver Marsha langsung berlari mendekap saat melihat nonanya membawa banyak tas belajaan.
"Miss, biar saya yang bawa ke mobil" Driver tersebut mengambil alih semua tas yang di pegang Marsha juga Anya kecuali tas yang berisi minuman.
Anya dan Marsha masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan minuman mereka mulai menikmati nya, dan tidak lama driver Marsha menyusul masuk ke dalam mobil setelah meletakan semua tas belajaan di bagasi mobil.
__ADS_1
"Pak, ini coffee untuk Bapak" Marsha memberikan satu cup coffee yang masih tersisa.
"Bapak suka ice coffee kan?" Marsha merasa ga enak kalau drivernya terpaksa menerima ice coffee yang dia beli karna dia juga tidak tau Driver suka minuman coffee seperti apa.
"Suka Miss, saya sering minum kalau sedang pergi dengan Tuan besar" Driver tersebut tersenyum lebar karna sejak kerja dengan boss bulenya dia jadi sering minum ice kopi yang harga nya lumayan mahal.
"Baguslah kalau bapak suka, ya udah sekarang kita pulang udah malam" Marsha meminta driver nya untuk mengantar mereka pulang.
****
Anya dan Marsha sudah sampe di Mansion mewah Bian dengan rasa lelah yang lumayan, walau mereka menggunakan mobil pribadi tapi berkeliling di dalam butik yang lumayan luas dan berlantai dua akan memakan banyak tenaga, belum lagi saat mereka pulang, mobil mereka harus terjebak macet karna Mansion Bian memang berada di kawasan elite yang kalau sudah macet, bisa memakan waktu yang sangat lama dan itulah yang membuat mereka lelah, semua belanjaan yang tadi di beli sudah tersusun rapi di atas meja di ruang keluarga, Anya mengambil air minum untuk mereka berdua dan memberi kan gelas yang ada di tangannya kepada Marsha.
"Thanks Marsha mengambil gelas yang di berikan Anya dan meneguk air yang ada di dalam gelas tersebut sekitar seperempatnya dan meletakan gelas tersebut di atas meja, Marsha melihat-lihat isi dari tas-tas yang ada di atas meja dan mengambil beberapa tas dan meninggalkan sisanya.
"Aku ke kamar ya, mau bersih-bersih, udah ga enak banget" Marsha bermaksud meninggalkan Anya untuk berjalan ke lift untuk ke kamarnya di lantai tiga.
"Tunggu Marsha, kenapa tas-tas yang ini ga mau bawa, itu juga tas perhiasan nya kenapa kamu pisah isinya? apa mau aku bantuin bawa ke kamar kamu?" Anya menahan langkah Marsha.
"Marsha, Marsha, aku ga butuh semua ini, lagian ini terlalu mahal" Anya langsung menolak saat mendengar Marsha mengatakan itu semua untuk dia.
"Kamu jangan menolak pemberian saya, karna penolakan adalah penghinaan bagi keluarga kami" Marsha sengaja berkata seperti itu agar Anya tidak jadi menolak apa yang dia belikan untuk Anya, dan benar saja, Anya langsung diam saat mendengar Marsha berkata seperti itu, karna Bian pun mengatakan kalau keluarga nya sangat tidak suka dengan penolakan.
Marsha berjalan menuju lift dan sebelum Marsha sampe di depan lift pintu lift sudah terbuka duluan, dan terlihat Bian yang sudah rapi dengan pakaian rumahnya.
"Habis shopping?" Bian melihat tas-tas yang di pegang Marsha.
"Namanya juga perempuan" Marsha tersenyum dan melangkah masuk ke dalam lift, Bian melanjutkan langkahnya menuju ruang keluarga, Bian melihat Anya duduk dengan banyak tas di atas meja dan ada kotak perhiasan juga.
"Honey, kamu shopping juga?" Bian menunjuk ke arah tas-tas di atas meja.
"Enggak Bi, itu tadi Marsha minta di temanin ke butik, terus dia minta aku buat milih yang menurut aku bagus, tapi sekarang dia bilang semua buat aku, Bi, aku ga bisa nerima semua ini Bi, ini tu mahal banget, apalagi perhiasan ini , ini milliaran, aku ga bisa terima, kamu tolong balikin ini ke Marsha ya!" Anya membujuk Bian agar mau menolongnya mengembalikan semua barang-barang yang ada di depannya ke Marsha.
__ADS_1
Bian tersenyum mendengar permintaan Anya dan penolakan Anya untuk semua barang yang di berikan Marsha.
"Honey, aku bisa aja mengembalikan semua barang ini ke Marsha, tapi kamu tau apa akibatnya?" Bian menatap wajah cantik Anya.
Anya merasa heran dengan perkataan Bian.
"Maksud kamu?"
"Iya, aku bisa membuat Marsha mengambil semua barang ini kembali, tapi kamu harus siap dengan resikonya" Bian mengulang kata-kata nya.
"Resiko apa?" Anya jadi penasaran dengan resiko yang di sebutkan Bian.
"Kalau kamu mengembalikan semua pemberian Marsha maka kamu akan jadi musuhnya Marsha" Bian menjelaskan resiko yang dia maksud.
"Honey, kamu terima aja, toh semua uang Marsha juga uang aku, jadi anggap aja itu dari aku" Bian memegang tangan Anya.
"Tapikan Marsha juga kerja untuk mendapatkan uang itu" Anya masih tetap ga enak untuk menerima pemberian Marsha.
"Kalau gitu kamu harus siap jadi musuhnya Marsha" Bian kembali mengingat kan.
"Lagian kamu juga selalu menolak setiap aku mau beliin kamu perhiasan, jadikan Marsha yang beliin kamu, mungkin dia pikir aku pelit sama kamu karna ga liat kamu pake perhiasan apapun.
"Aku ga gitu suka pake perhiasan yang berlebihan Bi, bukan aku ga mau nerima pemberian kamu" Anya membela diri nya.
"Udah honey, kamu ambil aja semua, kalau kamu ga mau pake itu terserah kamu, tapi setidaknya kamu hargai niat baik Marsha" Bian meyakinkan Anya dengan senyuman nya.
Anya memandang semua barang yang ada di depan nya.
BERSAMBUNG
like dong yang udah baca.
__ADS_1