
ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿
Anya dan Bian bangun saat matahari sudah sangat tinggi bahkan mereka harus mendelevery makanan karna sudah sangat lapar akibat berolah raga sepanjang malam hingga subuh, bahkan Bian memutuskan untuk tidak masuk kantor dan meminta Dino untuk menggantikannya hari ini, makanan yang mereka pesan sudah datang dan mereka sudah rapi dengan pakaian masing-masing, dan Anya pun sekali lagi memakai baju baru yang lagi-lagi Dino yang membawakan nya.
"Baby kamu pakai kartu ini ya" Bian memberikan sebuah kartu kredit berwarna hitam yang artinya adalah itu kartu tanpa limit alias bisa beli rumah bahkan gedung dengan kartu itu.
"Aku mau kamu berhenti kerja dari sana, aku ga mau ada laki-laki lain yang berada di dekat kamu, dengan seragam kamu yang seperti itu aku ga akan bisa tenang, aku ga mau munafik baby, " Bian langsung meminta Anya berhenti kerja di karaoke walau dia tau Anya tidak pernah macam-macam tapi dengan ukuran rok seragam Anya yang di atas lutut membuat paha Anya terlihat jelas sebagian, walaupun Anya memakai celana pendek di dalamnya tetap saja dia tidak suka, apalagi sekarang Anya sudah bersama dirinya, kalau hanya untuk mencukupi kebutuhan Anya dan kedua adiknya dia sangat mampu bahkan untuk seumur hidup mereka.
Anya memandang sekilas ke wajah Bian, dia tidak menyalahkan apa yang di katakan Bian barusan, karna kalau dia di posisi Bian pun dia pasti akan melakukan hal yang sama, tapi dia masih punya kontrak selama tiga bulan ke depan, dan baru bisa resign setidaknya dua minggu sebelum kontrak nya habis.
"Tapi Bi, aku masih terikat kontrak selama tiga bulan lagi, jadi ga bisa kalau harus keluar sekarang" Anya mengatakan yang sebenarnya.
"Apa kalau kamu keluar sekarang akan kena denda?" Tanya Bian menatap lembut wajah Anya.
"Yang aku baca di kontrak si ga ada denda, tapi kalau alasannya tidak masuk akal akan susah" Ujar Anya lagi.
"So, kenapa teman kamu bisa resign?" Bian menanyakan soal Rica yang minggu ini adalah minggu terakhir kerja di tempat karaoke itu.
"Owh Rica maksud kamu?"
Bian menganggukan kepalanya membenarkan tebakan Anya tentang orang yang dia maksud.
"Kalau Rica memang bulan ini kontrak nya habis, tadinya mau di perpanjang, tapi Rica sudah duluan bicara kalau dia mau resign" Ujar Anya lagi.
"Ya coba aja kamu bicara sama manager kamu dengan alasan apalah yang bisa kamu buat, aku kasih waktu seminggu kamu untuk di sana, dan kalau manager kamu minta ganti rugi, aku yang akan menggantinya, aku cuma ga mau hal kemarin terjadi lagi" Bian menggenggam tangan Anya untuk meyakinkan gadis itu.
"Baiklah, aku akan bicara nanti malam" Anya mengiyakan karna dia tidak ingin berdebat di hari pertama mereka bersama, aku pulang sekarang ya, kasian adik Aku pasti mereka heran melihat aku tidak pulang" Anya merapikan bekas tempat mereka makan dan membawanya ke dapur dan membersihkan peralatan makan yang mereka pakai, setelah semua rapi, Anya mengambil tasnya yang tadi malam dia letakan di meja depan TV, Bian berjalan mendekati Anya membawa kartu yang tadi dia berikan Bossnya Anya tapi masih tergeletak di atas meja makan, Bian menarik Anya ke pelukan nya dan kembali mencium bib1r Anya dan mengul*mnya, Anya pun melakukan hal yang sama, dan mereka kembali saling mengul*m lid*h satu sama lain, tangan Bian menyelusup masuk ke dalam baju Anya dan langsung mengarah ke bukit milik Anya dan meremas nya dengan lembut , Bian benar-benar merasa candu dengan tubuh Anya dan baru ini dia merasakan seperti ini lagi setelah yang terdahulu.
Karna penutup bukit nya yang lumayan tipis Anya jadi sangat bisa merasakan tangan Bian dan membuat Anya menggigit bib1r Bian dan mendorong tubuh Bian menjauh dari tubuhnya.
"Ga akan selesai-selesai Bi kalau ngikuti mau kamu" Anya mengelap sekitar bibirnya yang basah.
Bian tertawa mendengar perkataan Anya. "Kamu membuat aku candu baby, nanti malam kamu di jemput Dino ya pulang ke sini" Bian kembali menarik Anya ke pelukan nya dan kali hanya memeluk nya.
"Aku ga bisa Bi, aku punya adik-adik dan kamu tau kami tidak punya orangtua" Anya mengingatkan Bian tentang keberadaan adik-adiknya.
__ADS_1
"Tapi kan aku udah bilang, syarat utama saat kamu menerima tawaran ku, kamu harus bersama ku setiap malam" Bian mengingat kan syarat utama yang dia berikan kepada Anya.
"Please Bi jangan egois, nanti kita bicarakan itu, karna aku juga belum mengatakan syarat yang aku mau" Anya juga mengingat kan kalau dia belum memberikan syaratnya.
"Baiklah baby, aku ga mau kita ribut karna hal ini, kalau begitu dua malam lagi kamu harus di sini dan kita bicarakan semuanya" Bian akhirnya mengalah karna dia ga mau kalau akhirnya Anya menyerah di awal hubungan mereka.
"Bawa ini, dan sekalian kamu kirimkan no regkening kamu" Bian memberikan kartu kredit yang dia pegang ke tangan Anya, Anya mengambil kartu tersebut dan memasukan nya ke dalam tas.
"Kamu bawa mobil ya? ada dua mobil yang tidak di pakai, kamu pilih aja mau pakai yang mana" Bian menawarkan Anya untuk untuk memakai salah satu mobil yang ada di parkiran baseman.
Anya tertawa kecil sambil memandang wajah bule di depannya dan itu membuat Bian heran dan bertanya dengan isyarat matanya.
"Kamu mau aku jadi omongan tetangga pulang-pulang bawa mobil kamu yang mahal itu?" Ujar Anya mengingatkan siapa dan bagaimana lingkungannya.
"Ya sudah kalau gitu aku yang antar kamu" Bian menerima alasan Anya dan berniat mengantarkan Anya pulang, dan lagi-lagi Anya di buat tertawa dengan ucapan Bian dan kembali membuat Bian heran.
"Kenapa lagi?"
"Kamu mau aku bahan omongan karna pulang di antar bule dengan mobil mewah?" Anya kembali mengutarakan hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh Bian.
Bian terdiam dan memikirkan apa yang di katakan Anya dan mencerna nya, mungkin memang berbeda dengan negaranya cara berpikir orang-orangnya pun berbeda dan dia harus menerima itu.
"Baiklah, aku antar kamu sampe ke taksi, ok" Bian berkata dengan lembut dan senyum kecil di bibirnya, Bian mencium beberapa saat bibir Anya sebelum mereka keluar dari Apartment, walau cuma dua apartment di lantai itu, tapi apartment satunya sangat sering di datangi orang jika siang begini.
****
Bian baru selesai meeting dan sudah berada kembali di ruangannya dan sedang menerima tamu penting ga penting, Tuan Hartono datang ke kantor Bian untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang masih belum selesai menunggu keputusan yang di akan di berikan Hartono terkait syarat yang di ajukan Bian sebagai harga untuk kebebasan anak sulungnya juga dirinya dan keberlangsungan perusahaan yang sudah dia bangun selama puluhan tahun, Bian tersenyum kecil melihat keberadaan Hartono di ruangannya karna dia tau Hartono pasti menerima tawaran yang dia berikan karna itu terlihat dari wajah Hartono yang sangat menyimpan kemarahan juga ketidakberdayaannya.
"Anda mau minum apa Tuan Hartono? kopi? teh? atau yang lainnya?" Tanya Bian menawarkan tamu penting nya itu minum.
"Terima kasih Mister Alex, air biasa saja kalau ada" Ujar Hartono yang sebenarnya sangat ingin segera urusannya cepat selesai dan pergi dari gedung itu.
Bian mengangkat gagang telpon dan menekan salah satu angka di sana.
"Rena, tolong bawakan air mineral ke ruangan saya" perintah Bian kepada sekertarisnya dan langsung menutup telponnya.
__ADS_1
"Bagaimana Tuan Hartono keputusan apa yang anda ambil?" Tanya Bian langsung tude point ke pokok masalah mereka.
"Saya menerima penawaran mister Alex, tapi saya minta video asli untuk semua barang bukti" Hartono mengajukan syarat juga.
Bian tertawa mendengar apa yang di katakan Tuan Hartono barusan, dia tidak menyangkah kalau pria setengah baya di depannya ini masih berani memberikan syarat kepada dirinya.
"Maaf Tuan Hartono, saya tidak menerima tawaran apapun untuk masalah ini, mungkin bisa aja saya memberikan kedua video dan photo-photo itu kepada Tuan, tapi apa yakin tidak punya copyannya?" Ujar Bian memandang wajah Hartono dengan senyum penuh arti, obrolan keduanya terhenti sesaat sewaktu pintu ruang kerja Bian di ketuk dari luar dan di buka dari luar, terlihat sekertaris Bian berjalan masuk membawa nampan dengan gelas yang terisi air mineral,.
"Permisi Tuan" Rena meletakan gelas tersebut di depan tamu Boss nya.
"Silakan di minum Tuan" Bian mempersilakan tamunya untuk menikmati air yang di minta.
Tuan Hartono terpaksa meminum air di dalam gelas tersebut karna lehernya terasa semakin kering mendengar semua yang di katakan Bian kepadanya dan di terima atau tidak perkataan Bian dan memang benar, bisa saja yang di berikan kepada nya hanyalah copyan saja, sedangkan yang aslinya tetap di pegang Bian .
"Tuan Hartono tenang saja, saya bukan tipe orang yang suka mengingkari apa yang saya katakan, selama Tuan mengikuti apa yang saya inginkan maka video itu akan aman di tangan saya dan akan musnah pada saat yang tepat" Ujar Bian meyakinkan Hartono atas perkataan nya.
"Baiklah kalau begitu, saya pegang kata-kata mister sebagai laki-laki, kapan saya bisa membawa anak saya dan teman-temannya pulang?" Tanya Hartono yang tau kalau teman-teman dari putranya yang ada di video itu semuanya belum ada yang kembali ke rumah mereka, tapi tidak ada yang berani melaporkan hal tersebut ke pihak berwajib, karna justru akan menjadi boomerang buat mereka.
"Tuan bisa membawa putra anda dan teman-temannya pulang sekarang juga, tapi saya tidak mau melihat putra anda di kota ini tepatnya di pulau jawa ini, dan jangan sampai putra anda mendekati wanita saya lagi atau melihatnya bahkan dari jarak seribu meter sekalipun dan kalau sampai putra anda melakukan nya, saya jamin mata, lidah dan tangan putra anda akan hilang dari tempatnya" Ujar Bian untuk syarat berikutnya.
"Dan untuk perusahaan anda Tuan, jika perusahaan kita bertemu dalam satu tender lagi jangan pernah lakukan hal yang sama lagi karna saya pasti akan mengetahuinya.
Lagi-lagi Hartono hanya diam mendengar perkataan Bian yang lebih terdengar seperti ancaman besar buat dirinya, dan alangkah lebih baik dia menghindari berurusan dengan pria bule ini, itu akan lebih baik untuk dirinya dan kemajuan perusahaan nya.
"Dino tolong kamu antarkan Tuan Hartono bertemu dengan putranya, lepaskan mereka semua dan jangan lupa ingatkan para orangtua yang lain untuk menjauhkan anak mereka dari kota ini" Ujar Bian memberikan perintah kepada assistannya yang sedari tadi hanya berdiri dan mendengar kan pembicaraan antara dia dan Hartono.
"Mari Tuan" Dino mempersilakan Tuan Hartono untuk mengikuti nya.
"Saya permisi Mister Alex" Hartono bangun dari tempat duduk nya dan berjalan mengikuti assistant Bian keluar dari ruangan kerja Bian.
Bian tersenyum senang karna apa yang di inginkan nya semua berjalan dengan baik dan dia bisa senang karna tidak akan ada lagi lelaki brengs*k yang akan menyentuh wanitanya.
BERSAMBUNG
mungkin ceritanya sedikit lambat tapi saya pastikan ceritanya di jamin seru, ceritanya bukan cerita orang kebucinan tapi ini cerita tentang mempertahankan apa yang sudah menjadi hak milik, bukan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan wanita yang di inginkan
__ADS_1