
ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿
Anya dan Bian sudah kembali rapi dengan rambut mereka yang basah, karna tidak adanya hair dryer yang bisa mengerihkan rambut dengan cepat maka akan sangat sulit menyembunyikan apa yang terjadi di antara mereka di dalam ruangan, dan kalau menunggu rambut mereka kering secara alami maka akan di butuhkan waktu lebih dari setengah jam untuk itu. sementara waktu sudah menunjukan jam pulang kantor karna waktu sudah habis terpakai untuk tadi mereka bercinta yang tidak cukup hanya sekali, karna Bian yang selalu on setiap menyentuh tubuh mulus Anya dan Anya juga yang tidak bisa menolak sentuhan yang di lakukan Bian pada tubuhnya, dan sepertinya itu akan berlangsung selamanya, karna dari apa yang dia baca di mbah Google obat perangsang demand dosis tinggi yang tidak di larutkan dengan air tapi langsung dengan liur maka akan masuk ke pembuluh darah dan akan mempengaruhi kerja otak bagian syarap syawat yang akan selalu cepat terangsang jika mendapatkan cumbuan walau itu cumbuan kecil.
Bian meminta Dino ke ruangannya dan sudah membuka kunci pintu ruangan nya yang tadi dia kunci saat dia mencumbu Anya dari awal Anya sampe di ruangannya.
Dino yang mengira Bossnya hanya sendiri langsung masuk ke ruangan Bossnya itu, karna tadi Dino memang sedang keluar mewakili Bian untuk meeting dengan klien melanjutkan tentang proyek batu bara, karna perusahaan Harrono mengundurkan diri dengan alasan tertentu akhirnya perusahaan Bian sebagai salah satu perusahaan terbaik yang lolos tender . Dino lumayan kaget saat melihat keberadaan Anya di ruangan Bossnya apalagi melihat rambut Anya yang basah dan begitupun dengan keadaan Bossnya tapi Dino pura-pura tidak memperhatikan hal tersebut.
"Sorry Sir saya tidak mengetuk pintu" Ujar Dino dengan sedikit rasa tidak enak hati, dan Anya pun merasakan rasa malu dengan keadaan rambutnya yang basah, tadinya dia tidak ingin mandi agar tidak mengalami hal ini, tapi Bian malah membawanya ke kamar mandi bahkan mengulangi olah raga mereka walau tidak selama tadi hanya melakukan sewilda (hayooo siapa tau kepanjangannya) hehehe, akhirnya dia harus mandi karna sudah kadung basah, sementara Bian sendiri tidak mau membahas soal Dino yang tidak mengetuk pintu karna Dino hampir tidak pernah melakukan itu, karna dia sendiri meminta Dino untuk tidak terlalu bersikap formal kepadanya.
"Dino saya mau pulang sekarang" Ujar Bian menyanpaikan maksudnya memanggil Dino ke ruangannya.
"Ok Sir" Dino mengambil tas kerja Bossnya dan berjalan lebih dulu keluar dari ruangan Bossnya, dan saat mereka melewati meja Rena, Rena tersenyum kecil melihat keadaan gadis yang menjadi tamu Bossnya itu dan langsung paham apa yang terjadi, apalagi melihat Bossnya merangkul pinggang gadis itu dengan mesra.
"Rena, kamu bisa pulang sekarang" Ujar Dino saat mampir ke meja Rena sebelum melanjutkan langkahnya menuju lift.
Security yang tadi menerima tamu big Bossnya itu lumayan bingung melihat big Bossnya merangkul pinggang gadis yang tadi dia pikir hanya tamu biasa.
"Apa gadis itu pacar si Mister ya?? kok pake rangkul pinggang begitu?? untung tadi saya ga galakin, kalau sampe saya galakin kelar nasib saya" Security tersebut bicara dalam hati, Security itu menganggukan kepalanya saat Big Boss nya lewat di mejanya dan langsung bergerak ke pintu lift dan menekankan tombol untuk membuka pintu lift tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih Pak" Ucap Bian setelah masuk ke dalam lift dan Security tersebut hanya menganggukan kepalanya lalu kembali ke tempatnya.
Pintu lift yang di naiki Bian, Anya dan juga Dino berhenti di lantai dasar, karna mobil Bian biasanya sudah di siapkan oleh sopir kantor di depan lobby kantor jadi mereka tidak perlu harus turun ke baseman, ketiganya berjalan menuju pintu utama gedung tersebut dan saat mereka melewati meja resepsionis tentunya bagian resepsionis yang tadi bicara dengan Anya lumayan kaget melihat Mister ganteng mereka merangkul pinggang gadis yang tadi mereka layani, apalagi melihat rambut keduanya yang terlihat basah, sepertinya memang ada hubungan khusus di antara CEO mereka dengan gadis tersebut, untung tadi mereka tidak mencari masalah dengan mempersulit gadis tersebut, kalau ga bisa amsiong beneran , Bian terus berjalan menuju mobilnya, sampe di depan mobilnya Dino membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Bossnya dan Anya yang sepertinya sudah resmi jadian, itulah yang terpikirkan di kepala Dino melihat kedekatan keduanya, karna kemarin -kemarin Anya sangat anti jika berjalan terlalu dekat den g an Bossnya, tapi sekarang bahkan Bossnya sudah bisa merangkul pinggang Anya dengan leluasa.mereka sampe di mobil dan Dino segera membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Bossnya dan Anya dan dirinya sendiri sudah pasti akan menjadi driver untuk Bossnya itu, mobil mewah tersebut pun melaju meninggalkan halaman gedung pencakar langit itu dan membaur dengan mobil-mobil lain di jalan raya menuju apartment Bian pastinya.
xxxx
mobil mewah Bian memasuki parkiran apartment yang berada di baseman ketiganya turun dari dalam mobil dan melangkah menuju lift untuk naik ke apartment Bian di lantai paling atas.
"No, kamu langsung ke apartment kamu aja" Bian meminta Dino untuk tidak ikut ke apartment nya dan langsung saja ke apartment Dino yang berada di tiga lantai dari apartment Bian.
"Ok Sir thank you" Dino menganggukan kepalanya dan paham dengan kondisi yang ada, lift terus meluncur naik dan berhenti di lantai 42 dan Dino pun keluar dari lift tersebut dan terus berjalan menuju unit apartment nya, sementara Bian dan Anya keluar dari lift saat lift Berhenti di lantai paling atas, Bian menekan password pintu Apartment nya dan memutar knop pintu untuk membuka pintu, Bian langsung menuju kamar nya sementara Anya berjalan menuju kulkas dan mengambil air mineral karna dia merasa haus karna merasa tegang saat Bian merangkul pinggang nya di depan hampir semua karyawan nya, setelah meminum airnya Anya berjalan ke ruang TV dan duduk di sofa tanpa menyalahkan Televisi nya.
"Kamu tinggalkan?" Tanya Bian sambil mengelus rambut Anya dan menciumnya sesekali.
"Ga bisa Bi, lagian kita belum memutuskan soal itu, aku ga mau kalau kamu ga adil sama kedua adik aku" Ujar Anya yang hanya diam, karna dia takut kalau dia bermanja dengan Bian bisa-bisa kejadian di kantor Bian akan terulang di sini dan ujung-ujungnya dia pasti akan pulang pagi, karna Bian tidak pernah cukup jika hanya melakukan sekali, seperti di kantor Bian tadi, Bian melakukannya hingga tiga kali membuat mereka tidak punya waktu untuk mengeringkan rambut mereka.
"Ok kalau gitu kita bahas sekarang bagaimana biar kamu puas dan merasa kalau aku tidak egois terhadap kamu dan juga adik kamu?" Bian masih dengan posisi memeluk Anya.
"Intinya aku ga bisa tinggal sama kamu kalau aku nanti beneran berhenti kerja, karna tetangga aku bisa berpikir macem-macem dan bertanya yang aneh-aneh kepada adik aku kalau sampe aku ga pulang tiap malam" Ujar Anya yang langsung tude point, karna dia tidak mau tetangganya mengotori pikiran kedua adiknya kalau sampe dia ga pulang ke rumah setiap malam.
__ADS_1
Bian terdiam mendengar perkataan Anya dan terlihat berpikir mencari solusi terbaik.
"Begini saja baby, gimana kalau adik kamu pindah ke apartment aku yang lain, jadi tidak akan ada orang yang akan bicara aneh-aneh" Bian memberikan solusi.
"Maksud kamu?" Anya menarik dirinya dari pelukan Bian dan kembali duduk menatap serius ke arah Bian.
"Ya.. aku akan berikan satu apartment aku yang lain untuk adik kamu, so masalah selesai kan, ga akan ada yang ngomongin kamu sama adik kamu kalau kamu tidak pulang" Ujar Bian lebih detail.
"Terus rumah aku?" Tanya Anya tentang nasib rumah orangtuanya.
"Kamu jual aja, kan udah ada apartment" Ujar Bian lagi.
"Ga ga, aku ga akan pernah jual rumah peninggalan orangtua aku" Anya ga setuju dengan ide Bian yang menyuruh nya menjual rumahnya.
"Ya kalau gitu kamu sewakan ke orang, kan kamu bisa dapat duit dari situ untuk kamu pakai atau kamu tabung" Bian kembali memberikan solusi.
BERSAMBUNG
kira-kira Anya setuju apa ga dengan ide mister Alex (Bian)
__ADS_1